Jumat, 13 Februari 2026

LAPUZA Episode 12 End - Duel Penentu Masa Depan Negeri Penyihir

Judul Novel : Lapuza
  • Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari tahun 2030, terjebak di Dunia Penyihir
  • Session : 1 (Negeri Penyihir)
  • Episode : 12 end
  • Tanggal Rilis : 13 Februari 2026
  • Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
  • Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
  • Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
  • Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Pada tahun 2030, kecerdasan buatan, AI menguasai seluruh aspek kehidupan manusia. AI menentukan pekerjaan, mengatur emosi, bahkan memutuskan nilai hidup seseorang. Dunia menjadi dingin, teratur, dan tanpa ruang bagi kehendak bebas. Lapuza adalah salah satu yang tersingkir: kariernya dihentikan algoritma, mimpinya dipadamkan sistem, dan dirinya direduksi menjadi sekadar data. Saat hidupnya runtuh sepenuhnya, sebuah kejadian aneh menariknya keluar dari realitas dan melemparkannya ke Negeri Penyihir, dunia asing yang hidup oleh sihir kuno, artefak legendaris, serta perang abadi antara terang dan kegelapan. Di sana, Lapuza tak memiliki sihir. Namun kecerdasan, logika, dan nilai kemanusiaan dari dunia modern abad 21 menjadi senjata terkuatnya. Bersama Putri Lalena yang ceria dan Miya Orina, panglima penyihir yang dingin namun peduli, Lapuza terjebak dalam konflik besar, pusaran takdir, pengkhianatan, dan kesetiaan sebuah perjalanan yang akan menentukan nasib Negeri Penyihir.


LaKavor Raja Penyihir Kegelapan
LaKavor dikenal sebagai Raja Penyihir Kegelapan, penguasa mutlak Istana Kegelapan di Lembah Bintang Retak, sekaligus pemegang Badik Bintang Utara yang legendaris. Sosoknya lahir dari ambisi besar yang berbalut tragedi, seorang idealis yang keyakinannya melenceng jauh hingga menuntunnya pada dosa paling kelam, membunuh ayahnya sendiri demi merebut kekuasaan dan membuktikan visinya tentang tatanan dunia yang baru. Kekuasaan baginya bukan sekadar tahta, melainkan alat untuk memaksakan kebenaran versinya, meski harus mengorbankan darah dan nurani.

Secara fisik, LaKavor menjulang tinggi dengan rambut ungu panjang yang menjuntai, mengenakan jubah hitam berlapis dimensi seakan realitas di sekitarnya tak pernah stabil. Matanya tampak retak seperti cermin pecah, memantulkan kehampaan sekaligus ancaman, sementara tongkat sihir hitam selalu berada dalam genggamannya sebagai simbol kendali mutlak atas kegelapan. Dalam pertempuran, ia menguasai manipulasi dimensi dan patahan ruang, mampu merobek batas realitas sesuka hati. Saat Badik Bintang Utara digunakan, kekuatannya meningkat drastis, namun dengan konsekuensi fatal, konsumsi mana yang sangat boros, menjadikan setiap tebasan bukan hanya serangan, tetapi juga pertaruhan hidupnya sendiri.


UCAPAN TERIMAKASIH DARI PENULIS
Saya, Andi Akbar Muzfa, selaku penulis novel Lapuza 2030 - Negeri Penyihir, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pembaca yang setia menantikan dan mengikuti perjalanan Lapuza dalam novel ini. Season pertama Lapuza 2030 terdiri dari 12 episode atau part yang menjadi fondasi awal petualangan Lapuza di Negeri Penyihir. Kisah tersebut akan berlanjut ke season kedua, mencakup episode 13–24, yang membawa pembaca ke petualangan lanjutan di Negeri Seribu Pulau dengan latar dunia para bajak laut yang lebih liar, penuh konflik, dan tantangan baru.

Bagi pembaca yang lebih menyukai gaya penulisan dengan dialog minimal, kami juga akan merilis Lapuza 2030 - Negeri Penyihir dalam versi minim dialog atau Hybrid Narrative. Versi ini dirancang tanpa mengurangi esensi alur cerita, kedalaman karakter, maupun intensitas petualangan, sehingga pembaca tetap dapat menikmati dunia Lapuza dengan nuansa cerita yang lebih naratif namun tetap hidup dan berkesan.

EPISODE 12 END
RAJA YANG MEMAKSA LANGIT

P1. SINGGASANA KEGELAPAN - KEHADIRAN YANG MENEKAN
Ruang terakhir istana bukan aula.
Ia adalah retakan pada realitas, seolah dunia pernah pecah di sini, lalu lupa bagaimana cara menyatu kembali.

Lantai marmer hitam terbelah menjadi pecahan-pecahan raksasa yang melayang tanpa arah, namun tetap berputar perlahan, mengikuti irama yang tidak berasal dari waktu. Di bawahnya, langit terbuka—bukan biru, bukan malam, melainkan pusaran kosmik yang berdenyut, seakan menatap balik siapa pun yang berani berdiri di atasnya.

Pilar-pilar istana tidak lagi menopang apa pun. Mereka mengambang, terikat oleh benang-benang sihir kegelapan murni, seperti tulang-tulang raksasa yang disusun ulang oleh kehendak yang salah.

Dan di pusat segalanya,
altar Badik Bintang Utara.

Cahaya bilah pusaka itu tidak bersinar terang. Ia menyerap cahaya, menelan kilau sekelilingnya, seolah bintang utara itu sendiri sedang menahan napas.

Di depan altar itu, berdiri satu sosok.

Kavor.

Tidak ada jubah berkibar. Tidak ada pose mengancam.
Ia hanya berdiri tegak, tenang namun keberadaannya saja sudah cukup untuk membuat dunia berlutut.

Miya Orina merasakan lututnya menghantam lantai lebih cepat dari pikirannya sendiri.

Bukan karena takut, ia sadar.
Ini… tekanan.

Seperti berdiri di bawah gunung yang tiba-tiba memutuskan untuk jatuh.

Lalena terhuyung, mencoba bertahan dengan kedua kakinya yang memar, namun diatas pijakannya bergetar hebat, sihirnya meronta seperti anak kecil yang panik. Ia terjatuh ke satu lutut, napasnya tercekik, mata membesar.

“Ini… ini bukan sihir biasa…” gumamnya, suaranya pecah. “Rasanya seperti… dunia menyuruh kita… jangan ada di sini…”

Miya menggertakkan gigi, telapak tangannya menekan lantai yang terasa semakin berat setiap detik. Otot-ototnya berteriak, tapi yang paling menyakitkan justru harga dirinya sebagai panglima.

Ia memaksa kepalanya terangkat.

Kavor menoleh, perlahan, gerakannya halus, hampir sopan.

“Selamat datang,” ucapnya dengan suara datar, tenang.
Tidak menggema. Tidak meninggi.
Namun setiap kata jatuh seperti palu di dada mereka.

“Ke pusat keputusan dunia.”

Udara bergetar. Langit di bawah lantai berdenyut lebih cepat, seakan merespons kalimat itu.

Miya menahan napas, lalu memuntahkan kemarahannya.

“Semua kekacauan ini…” suaranya bergetar, antara marah dan tertahan tekanan,
“istana hancur, negeri hampir runtuh, semua ini… demi apa?!”

Untuk sesaat, Kavor diam.

Lalu ia menoleh sepenuhnya, menatap Miya, bukan dengan kebencian, bukan dengan ejekan, melainkan dengan keletihan yang dalam, seperti seseorang yang sudah terlalu lama membawa beban yang tak pernah diminta.

“Demi kebebasan,” jawabnya pelan.

Satu kata itu terasa lebih berat daripada seluruh sihir di ruangan itu.

Lalena menelan ludah.
Menatap Kavor dengan kepedihan mendalam.
“Kebebasan… Kebebasan siapa…?” tanyanya lirih, hampir tidak berani berharap.

Kavor tidak langsung menjawab.

Matanya melirik altar.
Ke Badik.
Ke langit yang terbelah.

“Demi mereka yang tidak pernah diberi pilihan,” katanya akhirnya.
“Dan demi diriku… yang menolak mati sebagai bidak.”

Mendengar kata "Kebebasan" dan jawaban pilu dari Kavor, Lapuza seketika terdiam dan teringat dunia asalnya 2030 yang selama ini merenggut kebebasannya, kreatifitas yang tidak dianggap, nilai-nilai kemanusiaan ditenggelamkan oleh sistem dan kecerdasan buatan yang memaksa manusia tunduk dibawah kendali.

Perasaan dilematis itu menjalar, membongkar seluruh luka dalam hati dan pikiran Lapuza.

“Sepertinya kita memiliki kemiripan,” ujar Lapuza dengan kepala tertunduk bimbang.
“Mimpi kita sama, tapi jalannya yang berbeda.” Sambung Lapuza tegas, mengingat tumpukan mayat korban perang ambisi yang berjatuhan.

Dan sekarang, mereka mengerti,
ini bukan sekadar pertempuran.

Ini adalah penghakiman atas dunia itu sendiri.


P2. MIYA ORINA - KEJATUHAN PANGLIMA
Tekanan itu belum berubah.
Namun Miya Orina memaksa tubuhnya bergerak.

Lututnya bergetar. Tulangnya seolah ditarik ke bawah oleh tangan tak kasat mata. Darah mengalir tipis dari sudut bibirnya akibat tekanan sihir yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

Tapi ia berdiri.
Perlahan. Tegak.

Karena satu hal yang tak pernah bisa ditekan oleh gravitasi mana pun adalah tanggung jawab.

Seribu medan tempur telah mengajarinya satu hukum sederhana:
jika raja tidak bisa disentuh, maka dunia akan jatuh lebih dulu.

Dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.

“PASUKAN PUTIH NEGERI PENYIHIR TIDAK AKAN MUNDUR!”

Suaranya mengoyak ruang retakan itu.
Langit kosmik di bawah mereka bergetar.

Lalena tersentak. Bahkan Kavor sedikit memiringkan kepala.

Miya mengangkat kedua tangannya.
Cahaya putih menyala dari tubuhnya, bukan lembut, bukan suci, melainkan terang yang keras seperti baja ditempa api.

“Bosi Loppo Mattunue.”

Nama itu bukan sekadar mantra.
Itu adalah janji leluhur Pasukan Putih.

Dua puluh lingkaran sihir muncul satu per satu di belakangnya, berputar, saling bertaut, membentuk formasi taktis yang sempurna. Setiap lingkaran memuat simbol perang, pertahanan, dan pengorbanan.

Udara berubah panas.
Langit yang terbelah mendidih.
Api muncul bukan sebagai kobaran biasa, melainkan sebagai massa raksasa sebesar gunung, padat, terkompresi, mengandung tekanan ribuan tombak sihir dalam satu inti.

Miya mengayunkan tangannya ke depan.
Api itu melesat.
Bukan jatuh.
Melainkan menghukum.

Seluruh ruang retakan dipenuhi cahaya membara. Pilar-pilar yang melayang bergetar keras. Langit kosmik di bawah mereka memantulkan kobaran itu seperti cermin neraka.

Lalena menutup wajahnya.

“Dia… dia benar-benar serius…”

Api sebesar bongkahan gunung itu menghantam tepat ke arah Kavor.

Namun, 

Kavor mengangkat satu jari.

Tidak ada mantra.
Tidak ada lingkaran sihir.
Tidak ada cahaya balasan.

Hanya satu gerakan kecil.

Api itu berhenti.
Seolah waktu membeku di sekelilingnya.

Lalu,
Ia lenyap.

Bukan terbelah.
Bukan dipadamkan.
Bukan ditekan.

Ia… tidak pernah ada.
Seperti ide yang dihapus sebelum sempat dipikirkan.

Ruang kembali gelap.
Hening.

Lingkaran-lingkaran sihir Miya retak satu per satu seperti kaca tipis.

Mata Miya membelalak.

“Mustahil!”

Suaranya pecah.
Ia bahkan tidak sempat melihat Kavor bergerak.

Satu detik ia berdiri di altar.
Detik berikutnya,
Kavor sudah berada tepat di depannya.

Tidak tergesa.
Tidak marah.
Hanya sedekat itu.

“Kau prajurit yang luar biasa, mirip... seperti ayahmu...” ujar Kavor pelan, mencoba mengungkit masalalu.

Telapak tangannya terangkat.
Kosong.
Tidak ada sihir menyala.
Justru itulah yang mengerikan.

Telapak itu menyentuh dada Miya.
Ledakan terjadi,

Tanpa suara.
Tanpa cahaya.
Tanpa efek dramatis.

Namun seluruh ruang retakan berguncang.

Udara terhisap ke dalam satu titik. Pilar-pilar melenting. Langit kosmik beriak seperti air dilempar batu raksasa.

Tubuh Miya terpental.

Ia menghantam salah satu pilar melayang. Batu sihir retak. Darah menyembur dari mulutnya, memercik merah di atas marmer hitam yang pecah.

Tubuhnya jatuh.
Tidak anggun.
Tidak heroik.
Hanya berat.

Dan untuk beberapa detik, ia tidak bergerak.

Lalena menjerit.

“MIYA!”

Namun Miya masih sadar.
Samar.

Penglihatannya kabur. Dunia terdengar jauh. Tulangnya seperti hancur dari dalam.

Tapi bibirnya, masih mampu tersenyum tipis.
Bukan senyum kemenangan.
Bukan pula keputusasaan.

Melainkan senyum seorang panglima yang tahu tugasnya bukan untuk menang,
melainkan membuka jalan.

“…Aku sudah membuka…” napasnya berat, darah mengalir di pipinya,
“…jalannya…”

Matanya menoleh samar ke arah pintu retakan.
Ke arah seseorang yang belum masuk sepenuhnya ke arena.

Kavor menatapnya tanpa ekspresi.

“Ya,” katanya tenang.
“Dan itu sebabnya kau berbahaya.”

Miya akhirnya kehilangan kesadaran.

Namun lingkaran sihir yang tadi pecah,
meninggalkan satu celah tipis di tekanan gravitasi sihir Kavor.

Celah yang hampir tak terlihat.
Namun cukup,
untuk seseorang seperti Lapuza.


P3. LALENA - PUTRI YANG MENANTANG RAJA

“MIYA!”

Jeritan Lalena tidak terdengar seperti suara bangsawan.
Itu suara seseorang yang baru saja kehilangan sandaran.

Sihirnya meledak.

Bukan menyala,
meledak.

Cahaya teleportasi merah-keemasan pecah dari tubuhnya seperti pecahan kaca. Ruang di sekitar altar bergetar hebat. Udara terlipat, terpelintir, retakan kosmik di bawah mereka beriak liar.

Lalena mengangkat tangannya, namun kendali sudah tidak utuh.

Ia menghilang.
Muncul di atas Kavor.

Ledakan sihir dilepaskan.
Menghilang lagi.

Muncul di belakangnya.
Serangan cahaya beruntun menghantam.

Lalu di kanan.
Lalu di kiri.

Lalu sepuluh Lalena berdiri bersamaan.
Dua puluh.
Tiga puluh.

Ilusi? Klon? Distorsi ruang?
Bahkan realitas pun tampak bingung menentukan mana yang asli.

“Berhenti diam saja!” teriak salah satu Lalena.

“Balas!” teriak yang lain.

Ledakan sihir menghantam dari segala arah. Pilar melayang pecah. Marmer beterbangan. Ruang terlipat seperti kain diremas.

Untuk pertama kalinya,
Kavor menggeser langkahnya.

Setengah langkah.

Kecil.
Namun nyata.

Matanya menyipit tipis.
"Menarik."

Satu Lalena muncul tepat di depannya, jarak hanya satu lengan.
Dengan wajah memerah, mata basah amarah, ia menembakkan sihir jarak nol.

“Kau tidak berhak menyentuh mereka!”

Ledakan itu menghantam tepat ke dada Kavor.

Debu kosmik berhamburan.
Dan ketika debu itu menghilang,

Kavor masih berdiri.
Jubahnya robek sedikit di bahu.

Ia menatap Lalena yang terengah-engah di hadapannya.

“Kau cukup berisik,” katanya dingin.

Tidak marah.
Tidak berteriak.
Hanya pernyataan fakta.

Ia mengepalkan tangan.
Ruang di sekitar Lalena berbunyi retak.

Bukan retakan biasa,
melainkan seperti kunci yang diputar.

Semua titik teleportasi Lalena padam serempak.
Ia mencoba berpindah.

Gagal.
Mencoba lagi.
Gagal.

“Eh…?”
Panik mulai merayap ke wajahnya.
Ruang telah dikunci.

Teleportasi, kemampuan yang selama ini menjadi napasnya, tidak lagi menjawab.

Kavor berjalan mendekat satu langkah.

“Putri Lalena, Keponakanku...” ucapnya tenang.

Nada suaranya tidak menghina.
Justru terlalu tenang.

“Kau bertarung demi orang lain.”

Lalena menggertakkan gigi.
“Memangnya kenapa?!”

Kavor mengangkat tangannya lalu menghantamkan kepalan itu ke tanah.

Tidak keras.
Namun dunia merespons.

Ledakan gravitasi menyebar dalam lingkaran sempurna.

Lalena terpukul ke bawah seperti boneka kain. Tubuhnya menghantam marmer hitam dengan suara retakan tulang yang mengerikan. Udara terhisap dari paru-parunya. Darah mengalir tipis dari bibirnya.

Ia mencoba bangkit.
Tangan gemetar.
Gagal.

Kavor berdiri di atasnya, bayangannya menutup cahaya altar.

“Orang yang bertarung demi orang lain,” lanjutnya,
“biasanya mati lebih dulu.”

Lalena terbatuk.
Darah menetes ke lantai.

Namun,
Ia tertawa.
Lemah. Serak. Tidak elegan sama sekali.

“Bagus…”

Kavor mengerutkan kening tipis.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah sedikit saja.

Lalena memaksa kepalanya terangkat. Matanya mencari satu sosok.

Menemukannya.

Lapuza.

“…Kalau begitu,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar,
“dia memang harapan terakhir.”

Ia tersenyum, bukan senyum putri kerajaan.

Senyum nakal.
Senyum percaya.

Dengan sisa tenaga terakhir, ia berteriak:

“JANGAN MATI, BODOH!”

Suaranya menggema, memantul di retakan langit kosmik.
Lalu tubuhnya jatuh lemas.
Tak sadarkan diri.

Ruang kembali sunyi.
Miya tumbang.
Lalena tumbang.

Dan kini.

Kavor menoleh perlahan ke arah satu-satunya yang masih berdiri.

Tekanan sihir di ruangan itu berubah arah.

Mengunci.

Menunggu.


P4. KAVOR - WAJAH ASLI RAJA KEGELAPAN

Kini tinggal mereka berdua.

Miya tak bergerak.
Lalena terbaring diam.

Kavor melangkah ke altar tanpa tergesa. Ia menggenggam Badik Bintang Utara dan saat bilah itu tercabut, langit meraung panjang.

“Dengar itu?” katanya pelan. “Dunia selalu ribut kalau aku menyentuh milikku sendiri.”

Badik bergetar liar. Cahaya bilahnya menyayat telapak tangan Kavor. Darah hitam menetes.

Lapuza menyeringai lemah.
“Kalau itu milikmu… kenapa dia menolakmu?”

Tatapan Kavor menajam.

“Karena dunia ini munafik.”

Ia mengangkat badik itu tinggi.

“Ayahku bilang aku terlalu keras dan terobsesi dengan hal yang tidak seharusnya”
“Ia bilang seorang raja harus dicintai.”
“Lalu ia memilih adikku.”


Senyumnya retak.

“Hanya karena dia ‘lebih lembut’.”
“Hanya karena dia ‘patuh pada sistem dan batasan’.”

Badik kembali bergetar. Cahaya dan kegelapan berbenturan di bilahnya.

“Aku membunuh ayahku demi ini,” lanjut Kavor, suaranya meninggi.
“Aku merobohkan takhta yang membesarkanku.”
“Aku membuang nama keluargaku.”
“Dan tetap saja, dunia menolak.”

Ia terdiam sejenak lalu menatap ke langit-langit istana.
“Padahal aku hanya ingin penyihir dan bangsa iblis hidup berdampingan.”
“Tidak ada perbedaan, sekat, jarak dan tingkatan yang menjadi benteng kebencian.” tegas Kavor peduli.

Lapuza berdiri goyah, darah menetes dari pelipisnya.

“Jadi… ini cuma soal saudara kandung dan keinginan yang tidak masuk akal?” katanya serak.
“Kau menghancurkan negeri karena cemburu dan merasa tidak adil?”

Mata Kavor menyala.

“Kau pikir ini hanya persoalan cemburu?!”

Ia mengayunkan badik, melancarkan serangan dan seketika,
Ruang di depan Lapuza robek. Bukan hancur, melainkan aturan tentang jarak dihapus. Lapuza terpental, tulangnya berbunyi retak.

Ia jatuh.
Bangkit.

Kavor sudah di depannya.

“Aku tidak cemburu!” tegas Kavor.
“Aku menolak sistem yang memilih kelembutan di atas ketegasan!”
“Aku menolak dunia yang menilai raja dari senyumnya, bukan dari keberaniannya mengambil keputusan!”
“Aku menolak diskriminasi dan batasan yang menjadi alibi kewajaran!”  

Tebasan kedua.

Langit terbalik sesaat. Lapuza terseret, darah muncrat dari bahunya.

Ia jatuh lagi.
Bangkit lagi.

“Berhenti berdiri! kau bukan lawanku.” bentak Kavor.

Tebasan ketiga.
Marmer meledak menjadi debu. Luka terbuka di perut Lapuza.

Ia terlempar.
Diam.
Beberapa detik.

Lalu, ia tertawa kecil.

“Serius?” gumamnya. “Itu pidatomu?”

Kavor membeku.

Lapuza memaksa dirinya berdiri lagi. Kakinya gemetar hebat.

“Kau bilang dunia salah memilih?”
“Kau bilang ayahmu salah?”
“Kau bilang semuanya tidak adil?”


Ia menyeka darah di bibirnya.

“Selamat datang di kehidupan.”

Kavor menggertakkan gigi.
“Kau tidak tahu apa-apa tentang takhta!”

“Benar,” jawab Lapuza cepat.
“Aku bahkan tidak bisa mengurus hidupku sendiri.”

Ia melangkah maju satu langkah.

“Aku gagal dalam karir.”
“Gagal di keluarga dan percintaan.”
“Gagal jadi apa pun.”


Langkah lagi.

“Tapi aku tidak membunuh siapa pun karena itu.”

Tekanan sihir melonjak. Pilar-pilar bergetar.

“Kenapa kau tidak menyerah?!” teriak Kavor.

“Aku sudah bilang,” jawab Lapuza, terengah.
“Aku terbiasa gagal.”

Ia tertawa berdarah.

“Orang yang sering gagal itu unik, Kavor.”
“Kami tidak mudah berhenti.”
“Karena jatuh itu sudah rutinitas.”


Badik di tangan Kavor bergetar semakin keras.

Kavor menatapnya, marah.

“Diam!”
“Kau tidak pantas mengomentari pilihanku!”
“Aku membangun kekuatan ini dengan darahku sendiri!”


“Dan sekarang?” Lapuza menatap tajam.
“Kau mau apa? Pengakuan?”
“Validasi?”
“Ucapan ‘maaf kami salah pilih’ dari dunia?”


Wajah Kavor menegang.
Untuk sesaat, tidak ada jawaban.

Lapuza tersenyum miring.
“Badik itu bukan menolakmu karena kau keras dan ambisius.”
“Ia menolakmu karena kau ingin diakui tapi dengan cara yang keliru.”


Badik berdenyut.

Cahayanya tidak lagi sepenuhnya tunduk pada kegelapan.

Kavor menggenggamnya lebih kuat.
“Aku akan memaksa dunia mengakuiku.”

“Silakan,”
jawab Lapuza pelan.
“Tapi jangan pakai alasan kebebasan kalau ini cuma soal luka masa kecil.”
“Keadilan yang kau maksud hanya untuk menguasai dan memonopoli.”

Sunyi.

Langit di bawah mereka berputar liar.

Badik bergetar.

Dan untuk pertama kalinya,
Kavor terlihat ragu.

Sedikit saja.
Cukup untuk membuat dunia menahan napas.


P5. PERTARUNGAN TERAKHIR - RAJA YANG TERJEBAK DIMENSINYA SENDIRI
Kavor berdiri tegak di tengah ruang retak.
Badik Bintang Utara berdenyut di tangannya, cahaya dan kegelapan saling menggigit dalam satu bilah. Dimensi di sekelilingnya terlipat, terbelah, lalu menyatu kembali seperti napas raksasa dunia yang sesak.

Di hadapannya,
Lapuza masih berdiri.
Sempoyongan.

Baju robek.
Darah mengalir dari pelipis.
Satu lengannya hampir tak bisa diangkat.

Namun matanya,
belum mati.

Kavor mendecih pelan.
“Berapa kali lagi kau akan bangkit dan bertahan?”
“Ketahuilah batasamu wahai anak muda!”

Lapuza mengangkat bahu sedikit, lalu meringis karena nyeri.
“Entahlah.”
“Tapi bukan kamu yang menentukan.”


Badik bergetar.

Kavor memiringkan kepala.
“Kau pikir ini soal kehendak?”
“Kau pikir dunia ini peduli pada tekad manusia kecil?”


Ia mengangkat badik sedikit.
Ruang di belakang Lapuza terlipat, membentuk dinding tak kasat mata.

“Kau berdiri karena aku mengizinkanmu berdiri.”

Lapuza tertawa kecil.

“Wah, jadi sekarang aku hidup karena belas kasihanmu?”
“Terima kasih ya, Raja Kegelapan.”


Mata Kavor menyipit.
“Jangan remehkan Otoritasku.”

“Tidak,” jawab Lapuza cepat.
“Aku justru menganggapnya terlalu tinggi.”

Kavor terdiam sepersekian detik.

Lapuza melanjutkan, napasnya berat.
“Kau bilang ingin kebebasan.”
“Kau bilang dunia salah memilih.”
“Tapi lihat sekelilingmu.”


Ia menggerakkan dagunya ke arah dimensi yang berputar liar.

“Kau bahkan tidak bisa mengendalikan ruangmu sendiri.”

Seolah tersinggung oleh kata-kata itu, dimensi kembali bergetar keras. Pilar-pilar retak. Langit kosmik beriak tak stabil.

Kavor mengepalkan tangan.
“Aku mengendalikan segalanya di sini!”

“Benarkah?” Lapuza menatapnya lurus.
“Kalau kau benar-benar mengendalikan ini… kenapa Badik itu masih melawan?”

Badik berdenyut lebih keras.
Cahaya di bilahnya menusuk ke telapak tangan Kavor lagi.

Darah hitam menetes.

Kavor menggertakkan gigi.
“Ini hanya proses penyesuaian.”

“Tidak,” sahut Lapuza pelan.
“Itu penolakan.”

Sunyi.

Kavor mengangkat badik tinggi-tinggi.
“Dimensi ini adalah kehendakku!”
“Di sini, hukum tunduk padaku!”
“Di sini, aku raja!”


Ia menurunkan badik dengan keras.
Realitas bergetar.

Namun,
bukan Lapuza yang roboh.

Sebaliknya, ruang di belakang Kavor retak lebih dalam. Lipatan dimensi tak lagi mengikuti ritmenya. Retakan menyebar seperti kaca yang dipukul dari dalam.

Kavor membeku.

“Apa…?”

Lapuza menyeringai tipis.
“Kau terlalu memaksakan diri.”

Ia terhuyung satu langkah maju.
“Dimensi ini bukan tunduk padamu.”
“Ia menahanmu.”


Badik kembali bergetar, kali ini bukan menolak, melainkan seperti mencoba lepas.

Kavor berusaha memperkuat cengkeramannya.
“Aku tidak terjebak!” bentaknya.
“Aku yang menciptakan ruang ini!”

“Ya,” jawab Lapuza lirih.
“Dan sekarang ruang ini menciptakanmu.”

Dimensi berdenyut tak sinkron.
Setiap kali Kavor memaksa Otoritasnya, retakan justru bertambah liar. Seolah kekuatan yang ia bangun untuk menguasai dunia kini menuntut harga.

Kavor menatap tangannya sendiri.
Darah hitam terus menetes.

“Diam…” gumamnya.
“Aku tidak mungkin kalah oleh… kemungkinan.”

Lapuza tertawa kecil lagi, batuk darah setelahnya.

“Masalahnya, Kavor…”
“kamu menghapus kemungkinan orang lain.”


Ia menatap Badik itu.
“Tapi kau lupa satu hal.”

Kavor mengangkat wajahnya.
“Apa Maksudmu?”

Lapuza tersenyum, lelah namun tajam.
“Kemungkinan untuk gagal.”

Dimensi bergetar keras.
Badik memancarkan cahaya yang tidak lagi sepenuhnya selaras dengan kegelapan.

Dan untuk pertama kalinya,
Kavor terlihat bukan seperti raja yang menguasai ruangnya.
Melainkan seperti seseorang yang berdiri di tengah istana yang mulai runtuh… oleh kehendaknya sendiri.


P6. LAPUZA - SERANGAN YANG TERUS GAGAL 
Lapuza menarik napas dalam.
Dadanya terasa seperti dihimpit batu.
Namun tangannya tetap terangkat.

Lingkaran sihir muncul kasar, terburu-buru, garisnya tak seanggun milik penyihir istana. Simbol-simbolnya menyala merah-oranye, bergetar karena suplai mana yang tidak stabil.

Ia mengucap pelan, nyaris seperti mengingat pelajaran yang pernah ia hafal setengah hati.

“Api Loppo Mallumpae.”

Lingkaran itu menyempit.
Tekanan terkumpul di satu titik.
Lalu,

Satu garis api lurus melesat.
Bukan ledakan liar.
Bukan kobaran besar.

Melainkan tembakan bertekanan tinggi, padat, presisi, seperti tombak cahaya yang menembus udara tanpa membuang energi.

Udara terbelah di jalurnya.
Kavor mengangkat Badik Bintang Utara.
Satu ayunan ringan.
Dimensi di depannya teriris.

Api Loppo Mallumpae itu terpotong bersih, lalu jatuh ke patahan ruang seperti cahaya yang kehilangan alamatnya.

Lenyap.

“Teknik efisien,” ujar Kavor datar.
“Tapi efisiensi tidak berarti apa-apa di ruang yang aku kuasai.”

Lapuza tidak menjawab.
Ia sudah membentuk lingkaran kedua.

“Api Loppo Mallumpae.”

Tembakan kedua.
Kali ini sedikit lebih rendah.

Kavor mengayun lagi.
Terhapus.

Lapuza melangkah maju, meski kakinya hampir goyah.

“Api Loppo Mallumpae.”

Ketiga.
Keempat.
Kelima.

Setiap tembakan adalah garis lurus bertekanan tinggi, menghantam titik berbeda di sekitar tubuh Kavor, bahu, lutut, sisi kanan, sisi kiri.

Semua dipotong.
Semua dijatuhkan ke celah dimensi.

Gelombang balik menghantam Lapuza setiap kali retakan ruang menutup kembali. Tubuhnya terpental, bahunya terkilir semakin parah.

Ia jatuh berlutut.
Bangkit lagi.

“Kau mengulang teknik yang sama?” Kavor mengerutkan kening.
“Apakah kemampuanmu hanya sampai disitu? Beri aku sedikit hiburan!”

Lapuza tersenyum tipis.

“Untuk saat ini? Iya.”
“Untuk hiburan yang kau minta....”  Lanjut Lapuza.
“... Silahkan instal Apk Tiktok atau Youtube, tapi jangan berharap banyak pengunjung kalau kontenmu tidak kontroversi....”  Tegas Lapuza mengingat sisi gelap kreator di dunia asalnya.

Kavor mengerutkan kening berusaha mencerna ucapan Lapuza yang tak ada didunia penyihir.

“Sepertinya dunia asalmu cukup menarik...” Kavor tersenyum sinis.

Memperbaiki pijakan,
Lapuza kembali mengangkat tangan.
Lingkaran sihir muncul lebih cepat dari sebelumnya.

“Api Loppo Mallumpae.”

Tembakan kali ini tidak diarahkan ke tubuh Kavor.
Melainkan ke ruang kosong di belakangnya.

Kavor tetap mengayun.
Dimensi terpotong.
Api itu lenyap.

Namun retakan di belakang altar melebar sedikit.
Sangat tipis.

Kavor menyadarinya.

“Kau meleset.”

“Mungkin,” jawab Lapuza terengah.

Ia menembak lagi.

“Api Loppo Mallumpae.”

Dan lagi.

“Api Loppo Mallumpae.”

Dan lagi.

Garis-garis api bertekanan tinggi itu seperti hujan jarum cahaya. Tidak satu pun mengenai tubuh Kavor.

Namun setiap kali Badik menghapusnya, ruang di sekitar Kavor semakin terlipat tak stabil. Patahan dimensi tidak menutup sempurna.

Kavor mengayunkan Badik lebih keras.

“Kau tidak akan pernah menyentuhku!”

“Sepertinya kamu belum menyadinya pak tua!” Lapuza balas cepat.

Ia membentuk tiga lingkaran sekaligus, tidak rapi, tapi cukup stabil.

“Api Loppo Mallumpae.”

Tiga tembakan lurus melesat dalam sudut berbeda.
Kavor memotong semuanya.

Namun kali ini,
retakan di bawah kakinya bergetar lebih dalam.

Marmer melayang sedikit bergeser.
Badik berdenyut.

Kavor menyipitkan mata.

“Kau sengaja memaksaku terus menghapus.”

Lapuza tertawa pendek, lalu batuk darah.

“Pengamatan yang baik.” gumam Lapuza

Ia berdiri lebih tegak, meski kakinya gemetar.

“Baiklah kesimpulan pertama aksi dan reaksi.”

Lingkaran sihir terakhir menyala di tangannya.

Lebih kecil.
Lebih padat.

“Api Loppo Mallumpae.”

Tembakan itu melesat bukan ke tubuh Kavor,
melainkan tepat ke retakan dimensi yang baru saja ia buka sendiri.

Kavor mengayun untuk menghapusnya.
Terlambat sepersekian detik.
Retakan itu beresonansi.

Ruang bergetar.
Badik memancarkan cahaya yang tidak sinkron.
Dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai,
Kavor tidak sepenuhnya mengendalikan potongan dimensi yang ia ciptakan.

Ia menatap Lapuza dengan tajam.

“Kau…”

Lapuza tersenyum lelah.

“S.T.O.P"... 
“...Sit down,” 
“...Think,” 
“...Observe” 
“...dan Plan .”

“Tenang, Berfikir, Amati dan Susun Rencana .”  
“Itu kata senior Mapala dikampusku.”  
ucap Lapuza penuh semangat.

Ia mengangkat tangan gemetar itu sekali lagi.
Untuk memastikan hasil uji pengamatannya...  

"Baiklah, aku mengakui kecerdikan dan semangatmu..." 
“Tapi sayang, itu masih jauh dari kata cukup....” Balas Kavor dengan tatapan tegas.

Lapuza kembali melancarkan serangan dengan skala besar...


P7. HARGA BADIK - SERANGAN TANPA HENTI
Badik Bintang Utara berdenyut semakin cepat.
Bukan seperti cahaya yang stabil,
melainkan seperti jantung yang dipaksa berdetak di luar ritme alaminya.

Setiap kali Kavor mengayunkannya, udara teriris.
Retakan cahaya tipis muncul, garis-garis halus di ruang kosong, seperti bekas goresan pada kaca tak terlihat.

Mana di sekitar altar tersedot paksa.
Lingkaran sihir yang tersisa dari pertempuran sebelumnya mulai redup. Bahkan pilar melayang kehilangan sebagian cahayanya.

Kavor mengayunkan Badik lagi, lebih keras.
Satu potongan besar dimensi terbelah.

“Berhenti! Ketahui batasmu anak muda” bentaknya.
“Kau hanya mempercepat kematianmu!”

Lapuza terpental lagi, menghantam lantai retak. Punggungnya terasa seperti patah menjadi dua.

Namun,
ia tertawa.
Pelan.
Lalu semakin lebar.
Matanya menyipit tajam, berbeda dari sebelumnya. Bukan lagi sekadar bertahan.

“…Begitu.”

Kavor terdiam sepersekian detik.

“Apa?”

Lapuza bangkit perlahan, meski tangannya gemetar.

“Setiap kali kamu memotong dimensi,” ujarnya terengah,
“ruang itu tidak hilang.”

Ia mengangkat tangan, menunjuk udara yang tampak kosong.
Namun di sana, jika diperhatikan lebih lama, terlihat gelombang tipis. Getaran samar. Bekas irisan yang belum sepenuhnya menyatu.

“Ia tertinggal,” lanjut Lapuza.
“Sebagai luka.”

Kavor menyeringai tipis.

“Ruang selalu menyembuhkan dirinya.”

“Tidak secepat itu,”
balas Lapuza.

Ia membentuk lingkaran sihir lagi.

Simbolnya masih kasar. Masih tidak elegan.

“Api Loppo Mallumpae.”

Tembakan lurus bertekanan tinggi melesat, bukan ke tubuh Kavor, bukan pula ke altar, melainkan tepat ke salah satu retakan tipis yang ditinggalkan oleh ayunan Badik sebelumnya.

Kavor mengayun untuk menghapusnya.
Terlambat sepersekian napas.

Api itu menghantam “luka” dimensi tersebut.

Retakan bergetar.
Bukan menutup,
melainkan melebar.

Badik berdenyut lebih keras di tangan Kavor.

“Berhenti mengincar ruangku!” bentaknya.

“Kenapa?” Lapuza tersenyum miring.
“Takut ruangnya menjadi liar?”

Kavor mengayun lagi.
Potongan dimensi baru tercipta.

Lapuza langsung menembak lagi.

“Api Loppo Mallumpae!”

Serangan itu menabrak retakan baru.
Ruang bergetar lebih hebat.

Getaran mulai tidak sinkron. Seolah setiap irisan yang diciptakan Kavor kini saling beresonansi satu sama lain.

Kavor mulai menyadari polanya.

“Kau memaksaku terus menggunakan Badik.”

“Ya,”
jawab Lapuza cepat.

“Dan kau memaksanya terus memotong.”

Kavor menggertakkan gigi.

Badik di tangannya memanas. Darah hitam kembali mengalir dari sela jarinya.

“Kau pikir ini ada harganya?”

“Semua kekuatan ada harganya,” sahut Lapuza.
“Bedanya, aku terbiasa bayar cicilan.” tambah Lapuza, mengingat betapa beratnya beban cicilan di dunia asalnya.

Ia menyerang lagi.

“Api Loppo Mallumpae!”

Kali ini tiga kali berturut-turut.
Garis-garis api presisi itu menghantam tiga retakan berbeda.
Retakan-retakan itu beresonansi.
Suara tipis, seperti kaca yang hampir pecah, terdengar dari udara kosong.

Dimensi di sekitar altar mulai tidak stabil. Langit kosmik di bawah mereka berputar lebih lambat, seperti tersendat.

Kavor mengangkat Badik tinggi-tinggi.

“Dimensi ini milikku!”

Ia menebas kuat.
Namun kali ini,
potongan ruang yang tercipta tidak rapi.

Garisnya bergetar.
Tidak sempurna.

Lapuza menyeringai.

“Lihat?”

Ia berdiri lebih tegak, meski lututnya hampir menyerah.

“Semakin sering kau potong…”

Ia membentuk satu lingkaran sihir terakhir.

“…semakin banyak luka dimensi yang kau tinggalkan.”

“Api Loppo Mallumpae.”

Tembakan itu melesat ke pusat resonansi retakan-retakan sebelumnya.

Udara bergetar hebat.
Retakan-retakan cahaya saling terhubung, membentuk pola seperti jaring tipis di sekitar Kavor.

Bukan penjara.
Belum.
Tapi cukup untuk memperlambat aliran dimensi yang ia kendalikan.

Kavor menatap sekelilingnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung menyerang.

Badik berdenyut liar di tangannya.

“Manusia sialan…” gumamnya.

Lapuza tersenyum lelah.

Ruang di sekitar mereka mengeluarkan suara retak yang semakin jelas.
Dan kini,
yang terjebak dalam dimensi itu…
mungkin bukan hanya Lapuza.


P8. PATAHAN DIMENSI - SIHIR BERGERAK LIAR
Retakan-retakan tipis masih menggantung di udara.
Bekas tebasan Badik.
Tak terlihat jelas, kecuali jika mana disentuh. Maka ia akan bergetar, seperti luka yang belum menutup.

Lapuza terengah.
Tangannya terangkat lagi.

Kavor menyeringai tipis.

“Api lurus itu lagi?” ejeknya.
“Berapa kali kau ingin mencoba hal yang sama?”

Api Loppo Mallumpae memang seperti itu.
Lurus. Cepat. Menekan seperti tombak panas yang ditembakkan tanpa ragu.
Namun kali ini,

Mana di sekitar Lapuza tidak mengumpul di satu titik.
Ia menyebar.
Terurai.
Seperti percikan yang tidak ingin menjadi satu.

Kavor berhenti tersenyum.

“…Apa yang kau lakukan?”

Lapuza menarik napas panjang, meski dadanya terasa seperti terbakar dari dalam.

“Api Biccu Mallellunge.”

Tidak ada ledakan.
Tidak ada garis api yang melesat lurus.
Sebaliknya,

Muncul titik-titik kecil cahaya di sekelilingnya.
Satu.
Lima.
Sepuluh.
Dan terus bertambah.
Mereka melayang pelan. Berputar. Seolah hidup.

Kavor mengernyit.

“Itu bahkan tidak cukup besar untuk melukaiku.”

“Memang bukan untuk itu,”
jawab Lapuza.

Satu api kecil bergerak.
Tidak lurus.
Ia berbelok, melingkar, lalu menyentuh retakan ruang di sisi kiri medan.

Retakan itu bergetar.

Api kedua tidak mengikuti jalur pertama. Ia memilih retakan lain.
Api ketiga menyusuri udara, seperti sedang mencari sesuatu.

Satu retakan bereaksi.
Dua.
Lima.

Kavor mundur setengah langkah.

“Kau tidak menyerangku.”

“Aku tahu,” Lapuza tersenyum tipis.
“Aku gagal kalau langsung mengarah padamu.”

Api-api kecil itu kini bergerak lebih cepat. Tidak serempak. Tidak seragam. Masing-masing seperti membaca medan dengan caranya sendiri.

"Konsep ini aku pelajari dari Paman Putin presiden Rusia," 
"jika sihir sebelumnya hanya mengandalkan presisi layaknya rudal balistik," 
"maka sihir kedua kali ini mirip dengan konsep rudal jelajah hipersonik yang mampu bermanuver diudara." ungkap Lapuza memcoba menjelaskan betapa bahayanya ketegangan geopolitik barat dan timur tengah didunia asalnya.

“Intinya, disempurnakan dengan konsistensi.”
“Jadi aku menyerang… yang kau tinggalkan.”

Wajah Kavor menegang.
Istilah asing yang diucapkan Lapuza membuatnya semakin cemas dalam kebingungan,
Dalam diamnya,
Untuk pertama kalinya Kavor merasa menemukan lawan secerdik dan sehebat ini, yang tidak ia temukan didunia penyihir.

Disisi lain,
Retakan-retakan dimensi itu mulai menyala lebih terang.
Bukan karena dipukul keras.
Melainkan karena disentuh berkali-kali.

Dibangunkan.
Dihubungkan.

Lapuza melangkah maju, hampir tersandung.

“Setiap kali kau memotong dimensi…” napasnya tersendat,
“kau meninggalkan perbedaan tekanan.”

Api kecil lain menembus retakan terbesar tepat di belakang Kavor.

Udara mulai bergetar.
Garis cahaya tipis merambat dari satu retakan ke retakan lain.

Tidak meledak.
Tidak mewah.
Namun terasa salah.

Badik di tangan Kavor terus bergetar.

Ia bisa merasakannya sekarang.
Sihir tingkat satu menabrak.
Sihir tingkat dua… menyusup.

Mengikat.
Membuat sesuatu tumbuh.

“Kau menaikkan levelnya…” gumam Kavor.

Lapuza menatapnya, wajahnya pucat, tapi matanya tetap tajam.

Retakan-retakan itu kini saling tarik-menarik.
Udara meraung, bukan karena satu ledakan besar, melainkan karena terlalu banyak getaran kecil yang terjadi bersamaan.

Dan untuk pertama kalinya,
Kavor tidak berdiri di atas medan yang ia kuasai.
Medan itu… mulai bergerak sendiri.


P9. BADIK - KEKUATAN YANG BERBALIK ARAH
Retakan-retakan itu tidak lagi diam.
Mereka saling terhubung seperti urat cahaya yang tersulut paksa. Berdenyut. Bergetar. Saling menarik.

Medan perang tidak stabil.
Dan Kavor menyadarinya.

Ia mengangkat Badik Bintang Utara tinggi-tinggi, wajahnya mulai kehilangan ketenangan dinginnya.

“CUKUP!”

Mana di sekitarnya melonjak liar.

“MENGHILANG!”

Ia menebas.
Bukan satu garis tipis.
Bukan potongan presisi.

Ia membelah ruang besar-besaran.

Udara terbelah seperti kain raksasa disobek paksa. Gelombang tekanan menyapu tanah. Batu-batu terangkat. Angin terhisap.

Namun,

Retakan-retakan kecil yang telah dihidupkan Lapuza tidak tunduk.
Mereka tidak terpotong.
Mereka justru beresonansi.

Satu patahan menyala.
Yang lain menjawab.

Dimensi yang biasanya menurut pada tebasan Badik kini bergetar seperti makhluk yang menolak dijinakkan.

Kavor membelalak.

“Kenapa tidak terbelah?!”

Badik di tangannya bergetar keras.

Lapuza berdiri goyah di kejauhan, napasnya berat, tetapi ia tetap menatap lurus.

“Kau tidak memotong ruang kosong lagi…” katanya pelan.
“Kau memotong ruang yang sudah terhubung.”

Kavor menggertakkan gigi.

“DIAM!”

Ia mengangkat Badik lagi.

“Aku rajanya!”

Tebasan kedua.
Lebih keras.
Lebih dalam.

Mana disedot habis-habisan dari sekelilingnya. Tanah retak. Udara menjerit.
Namun yang terjadi,
Bukan pembelahan.
Melainkan lipatan.

Retakan-retakan kecil menyatu mendadak, membentuk pusaran cahaya tipis.

Berputar.
Liar.

“Tidak...” suara Kavor goyah.

“Aku RAJANYA!”

Ia memaksa.
Badik memancarkan cahaya tajam.

Dan di situlah,
kesalahan fatal terjadi.

Satu patahan dimensi yang beresonansi terlalu kuat memantul.
Bukan ke arah Lapuza.
Melainkan ke sumber tekanan terbesar.

Ke Kavor sendiri.

Udara di sekitarnya melipat ke dalam.
Gravitasi mendadak terbalik.

Langit terasa turun. Tanah terasa naik.

“Apa..?!”

Ruang di bawah kakinya melengkung seperti mangkuk yang terbalik.
Tubuh Kavor tersedot setengah langkah, lalu terhempas keras oleh distorsi yang ia ciptakan sendiri.

Ledakan gema terdengar.
Badik terlepas dari genggamannya.
Bilah itu terputar di udara, tanpa kendali.

Melihat Kavor tanpa badik ditangan serta kekuatan sihirnya yang sudah mulai tidak terkendali,
Lapuza memanfaatkan momentum kekacauan untuk melancarkan serangan terakhir .

Lingkaran sihir menyala ditangannya seolah menyerap energi sihir disekitarnya,
dengan tatapan percaya diri,
Lapuza berlari, melesat, menghantamkan satu pukulan sihir api tepat di kristal ungu dada sang raja kegelapan dan membuatnya terhempas, menghantam dan menghancurkan dinding istana

Dan untuk pertama kalinya,
Kavor jatuh.

Bukan karena kekuatan sihir.
Bukan karena ambisi yang tinggi.
Melainkan kecerdikan Lapuza dalam memahami kekuatan dan kelemahan lawannya.

"Analisis SWOT... Berhasil diterapkan" Ucap Lapuza dengan senyum kelelahan.


P10. KAVOR – KEJATUHAN SANG RAJA
Debu mana perlahan turun seperti hujan cahaya yang kelelahan.
Retakan-retakan yang tadi mengamuk kini saling menutup, menyisakan gema tipis di udara.

Di tengah pusaran yang melemah itu,

Kavor jatuh berlutut.

Dimensi di sekitarnya melengkung, lalu mengeras seperti dinding transparan. Bukan karena ia mengendalikannya.
Melainkan karena ruang itu sendiri menstabilkan luka yang terlalu dalam.

Ia terengah.
Darah menetes dari sudut bibirnya.

Badik sudah terlepas dari tangannya.

“…Aku…” suaranya serak.
“…kalah…?”

Tak ada amarah lagi di nada itu.
Hanya ketidakpercayaan.

Beberapa langkah di depannya, Lapuza hampir roboh. Lututnya gemetar. Pandangannya berkunang-kunang.

Namun ia tetap berdiri.

“Kamu tidak kalah karena lemah,” katanya pelan.

Kavor tertawa pendek, pahit.

“Jangan menghiburku.”

Lapuza menggeleng.

“Kamu kalah karena… ingin mengendalikan segalanya.”

Hening.

Dimensi di sekitar Kavor berdenyut sekali, lalu meredup.

“Aku memotong ruang.”
“Aku membentuknya.”
“Aku yang memahaminya!”
ucap Kavor, meski suaranya tak lagi kuat.

“Tidak,” jawab Lapuza pelan.
“Kamu memaksanya.”

Ia melangkah mendekat.
Setiap langkah terasa berat, seolah tanah menahannya.

Badik Bintang Utara tergeletak tak jauh dari Kavor.
Tak bergetar lagi.
Tak meraung.
Tenang.

Lapuza membungkuk, menggenggamnya.
Dingin.
Aura berat.
Namun tidak menolak.

“Dunia ini tidak butuh raja yang memaksa ruang untuk tunduk,” ucapnya lirih.

Kavor menatapnya dari bawah, napasnya tak teratur.

“Lalu apa?” bisiknya.

“Hanya penjaga keseimbangan…” Lapuza menatap bilah badik yang memantulkan cahaya redup langit.
“…yang mau mendengarnya.”

Kavor terdiam.
Lalu tertawa lirih.

Medan perang itu akhirnya sunyi.
Retakan mana yang tadi mengguncang langit kini hanya menyisakan getaran halus seperti gema badai yang menjauh. Tanah hangus, udara berat, dan di tengah kehancuran itu Kavor berdiri dengan tubuh yang hampir roboh. Darah mengalir dari sudut bibirnya, menetes perlahan ke tanah yang dahulu ia janjikan akan ia kuasai.

Ia tertawa kecil. Tawanya serak dan kosong, bukan tawa kemenangan, melainkan tawa seseorang yang akhirnya menyadari bahwa penantiannya telah selesai.

Di hadapannya, Lapuza berdiri dengan napas masih memburu. Pedang cahaya di tangannya mulai memudar. Ia menatap Kavor dengan campuran amarah, kebingungan, dan sesuatu yang belum bisa ia beri nama.

“…Lapuza.”

Nama itu keluar pelan dari bibir Kavor.

Lapuza mengernyit. “Kenapa kau menyebut namaku seperti itu?”

Kavor menatapnya lama, seakan ingin memastikan bahwa ia prediksinya tidak meleset.

“Kau kembali…”

“Apa maksudmu?” suara Lapuza mengeras. “Aku bukan siapa pun selain diriku sendiri.”

Kavor tersenyum tipis, lemah.

“Kau adalah dia. Jiwa yang sama… hanya tubuh yang berbeda.”

Lapuza menggenggam tangannya lebih erat. “Berhenti bicara seolah kau mengenalku.”

Namun di saat ia mengucapkan itu, sesuatu di dalam dirinya bergetar. Bukan karena kata-kata Kavor saja, tetapi karena ada rasa aneh yang muncul ketika menatap mata lelaki itu. Rasa yang tidak cocok dengan kebencian.

Kavor menarik napas panjang yang terasa menyakitkan.

“Ratusan tahun lalu… aku pernah memanggil nama itu dengan cara yang sama.”

Dan saat ia mengatakannya, kenangan yang ia tekan selama berabad-abad mulai bangkit. Suaranya melemah, tetapi tatapannya tidak pernah lepas dari Lapuza, seakan ia takut kehilangan sosok itu untuk kedua kalinya.

P9a. Reflekis Kenangan Masalalu
Kisah Persahabatan yang Tak Direncanakan

“Dulu… aku bukan seperti ini,” ucap Kavor lirih.

Lapuza tidak menjawab, 

“Aku hanya remaja yang ingin diakui.”

Kata-kata itu bukan pembelaan. Bukan pembenaran. Hanya pengakuan.

Ratusan tahun lalu, Kavor adalah putra mahkota yang hidup dalam bayang-bayang ekspektasi. Ia berbakat, tetapi tidak pernah merasa cukup. Ia berlatih sendirian di hutan, mempelajari mantra dari kitab tersegel yang seharusnya tidak disentuh. Ia ingin membuktikan dirinya lebih dari sekadar anak raja yang dibandingkan dengan adiknya.

Suatu sore, dalam emosi yang tak terkendali, ia melakukan ujicoba ritual sihir terlarang. Lingkaran sihirnya bergetar, langit terbelah cahaya biru, dan dimensi retak di hadapannya.

“Apa yang telah kulakukan…” gumamnya saat itu.

Dari pusaran itu, seorang pemuda terlempar keluar dan jatuh keras ke tanah.

Pemuda itu terbatuk, menatap sekeliling dengan wajah pucat.

“Di mana ini…?”

Namanya Lapuza.

Bukan penyihir. Bukan bangsawan. Hanya pemuda biasa dari dunia lain yang terseret oleh celah dimensi yang Kavor buka. Karena takut dihukum, Kavor menyembunyikannya di pondok tua di ujung hutan.

“Aku tidak tahu bagaimana mengembalikanmu,” kata Kavor saat itu dengan dingin.

“Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di sini,” jawab Lapuza, masih kebingungan.

Hari-hari pertama diisi dengan kecurigaan. Namun perlahan, mereka mulai berbicara lebih banyak. Lapuza tidak memiliki sihir, tetapi ia memiliki cara berpikir yang berbeda. Ia mengamati setiap lingkaran mantra yang dibuat Kavor dengan mata kritis.

“Kau terlalu memaksanya,” kata Lapuza suatu hari setelah mantra Kavor hampir meledak.

“Emosi adalah sumber kekuatan,” balas Kavor.

“Kalau begitu kenapa hampir melukaimu sendiri?”

“Kau bahkan tidak bisa menggunakan sihir.”


“Benar. Tapi justru itu aku bisa melihat kesalahanmu tanpa terbawa emosi.”

Kavor tidak pernah punya seseorang yang berbicara seperti itu padanya. Tidak ada rasa takut. Tidak ada kepentingan. Hanya kejujuran.

Mereka mulai berlatih bersama. Kavor merapal mantra, Lapuza mengamati dan memberi saran.

“Ubah sudutnya sedikit.”

“Kau yakin?”

“Kalau gagal, salahkan aku.”


Mantra itu berhasil dengan stabil. Dan Kavor tertawa, tawa yang ringan, bukan karena ambisi, tetapi karena kebersamaan.

Lima tahun mereka habiskan dalam rahasia. Lima tahun berbagi makanan sederhana, perdebatan panjang tentang takdir, dan tawa kecil di pondok kayu yang sepi. Untuk pertama kalinya, Kavor merasa dilihat bukan sebagai putra mahkota, bukan sebagai simbol kekuasaan, melainkan sebagai manusia dalam ikatan persahabatan.

Dan di medan perang masa kini, 
Lapuza merasakan sesuatu yang aneh saat kisah itu mengalir dari bibir Kavor. Gambar-gambar samar muncul di benaknya, hutan, pondok kayu, lingkaran sihir di tanah. Ia menggenggam kepalanya sejenak.

“Apa… ini…?”

Kavor menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kau merasakannya, bukan?”

Lapuza terdiam.
Jantungnya berdegup tidak teratur. Kenangan itu bukan miliknya… tetapi terasa terlalu nyata untuk disebut ilusi.

“Kau adalah reinkarnasinya,” bisik Kavor. “Jiwa yang sama… yang pernah tertawa bersamaku.”

Dan untuk pertama kalinya, Lapuza tidak bisa langsung membantah.

P9b. Api yang Tak Terkendali
Amarah berujung Penyesalan Mendalam  
Kenangan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam.

Kavor menunduk sesaat sebelum melanjutkan. Suaranya tidak lagi sekadar lirih, ada bara lama yang kembali menyala di dalamnya.

“Kedamaian itu tidak pernah bertahan lama…”

Keputusan istana diumumkan pada musim gugur yang dingin. Aula kerajaan dipenuhi bangsawan dan penyihir tingkat tinggi. Dan di hadapan semua orang, ayahnya menyatakan bahwa takhta akan diwariskan kepada Rheana.

Bukan kepada Kavor.

Semua latihan. Semua luka. Semua ambisi untuk menjadi sempurna.
Seolah tidak pernah cukup.

Di pondok hutan, ia melempar kitab sihir ke dinding hingga kayunya retak.

“Aku yang lebih kuat!” teriaknya, suaranya menggema di antara pepohonan.

Lapuza berdiri di depannya, tetap tenang meski getaran mana Kavor membuat udara bergetar.

“Kekuatan bukan satu-satunya yang dibutuhkan,” jawabnya pelan.

“Mereka tidak pernah melihatku!” ucap Kavor kecewa.

“Kau tidak kehilangan segalanya hanya karena takhta.” balas Lapuza meyakinkan.

Namun bagi Kavor, itu bukan sekadar mahkota. Itu adalah pengakuan. Bukti bahwa ia tidak hidup dalam bayang-bayang siapa pun.

Lapuza mencoba mendekatinya.
“Kalau kau memaksakan diri dengan kebencian, kau hanya akan menghancurkan dirimu sendiri.”

“Kau tidak mengerti,” balas Kavor dingin. 

“Aku memang bukan bangsawan. Tapi aku tahu bagaimana rasanya merasa tidak cukup.” sambung Lapuza menasehati lembut.

Kavor terdiam sesaat. Namun diam itu bukan penerimaan, melainkan retakan terakhir sebelum runtuh.

Ia kembali mempelajari sihir hitam. Bukan lagi sekadar eksperimen, melainkan obsesi. Mantra-mantra yang dulu ia ragu gunakan kini ia pelajari tanpa batas. Amarahnya tumbuh lebih cepat daripada logikanya.

Malam itu, ia melangkah menuju istana dengan lingkaran sihir gelap menyala di bawah kakinya.

Di gerbang hutan, Lapuza berdiri menghadangnya.

“Kalau kau pergi sekarang, kau tidak akan bisa kembali.”

“Menjauh.”

“Tidak.”


Angin berhenti. Hutan terasa membeku.

“Kau bukan orang jahat, jangan mengotori tanganmu dengan darah kebencian” kata Lapuza, lebih pelan. “Kau hanya terluka.”

“Jangan sok mengerti aku!”

Satu dorongan.
Satu emosi yang lepas kendali.
Mantra yang seharusnya hanya untuk mendorong, berubah menjadi tombak bayangan.

Ia tidak sempat menariknya kembali.
Tombak itu menembus dada Lapuza.

Dunia berhenti.

Di medan perang masa kini, Lapuza menggenggam dadanya sendiri. Rasa nyeri samar muncul, seperti bayangan luka lama yang tak pernah ia alami.

“Tidak…” bisiknya tanpa sadar.

Kavor menatapnya, dan untuk pertama kalinya, suaranya benar-benar retak.

“Aku tidak bermaksud melukaimu…”

Tubuh Lapuza masa lalu jatuh ke pelukannya. Darah hangat mengalir di antara jari-jarinya. Mata yang selalu menatapnya dengan jujur mulai kehilangan cahaya.

“...Kavor…”

Itu kata terakhirnya.

Bukan kutukan. Bukan kebencian.

Hanya namanya.

Dan sesuatu di dalam diri Kavor hancur untuk selamanya.
 
P9c. Pemberontakan dan Penantian
Hingga Kavor Memilih Jalan Kegelapan  

“Aku seharusnya berhenti saat itu,” ucap Kavor pelan di medan perang kini. “Aku seharusnya menyerahkan diri.”

Lapuza menatapnya, napasnya berat. Ada emosi yang tak bisa ia jelaskan, marah, sedih, dan entah kenapa… kehilangan.

“Tapi kau tidak melakukannya,” katanya akhirnya.

Kavor tersenyum tipis. “Tidak.”

Ia tidak menangis lama. Kesedihannya berubah menjadi kebencian, namun bukan pada dirinya sendiri. Ia menyalahkan aturan. Ia menyalahkan dunia yang membatasi sihir. Ia menyalahkan ayahnya yang memilih Rheana.

Jika dunia bisa merebut satu-satunya orang yang melihatnya sebagai manusia, maka dunia itu tidak layak dipertahankan.

Dalam campuran duka dan kegilaan, ia memberontak. Ia memanggil iblis dari jurang terdalam. Ia membangkitkan mayat hidup dari makam kuno. Istana yang dulu ia lindungi kini ia serang tanpa ragu.

Ia menumpahkan darah ayahnya sendiri.
Ia merebut kekuasaan.
Namun jauh di dalam hatinya, semua itu bukan hanya tentang takhta.

Ia menunggu.

Ia meneliti kembali ritual pembuka dimensi. Ia mencari pola retakan langit yang sama seperti malam saat Lapuza pertama kali jatuh ke dunia ini, ia terus menoba dan mencoba berharap Lapuza dapat kembali dari dunia lain, namun semua gagal.

Ia kemudian memperpanjang hidupnya dengan sihir terlarang. Mengikat jiwanya pada inti kegelapan agar waktu tidak bisa mengambilnya.

Ratusan tahun berlalu.
Kerajaan bangkit dan runtuh.

Menunggu.

“Dimensi selalu retak ketika keseimbangan terguncang,” gumamnya dulu dalam ruang ritualnya yang sunyi. “Jika dunia kembali goyah… mungkin kau akan kembali.”

Ia menunggu bukan sebagai orang asing. 
Tetapi sebagai seseorang yang ingin satu kesempatan lagi.

Sebagai reinkarnasi.
Sebagai kesempatan kedua.
Sebagai penebusan.

Di medan perang yang hancur, Kavor menatap Lapuza sekarang, jiwa yang sama, berdiri sebagai Penjaga Cahaya.

“Aku sebenarnya tidak ingin semua kekacauan ini terjadi,” bisiknya. “Aku hanya ingin bertemu denganmu sekali lagi dan mengatakan bahwa terimakasih telah menjadi sahabatku.”

Dan untuk pertama kalinya sejak pertempuran itu dimulai, Lapuza tidak tahu apakah yang ia rasakan adalah kemarahan… atau duka yang diwariskan dari jiwa yang sama.

P9d. Perpisahan yang Terlambat
Akhir Cerita Kedua Sahabat Masalalu  
Kini harapan itu berdiri di hadapannya namun sebagai orang yang menghentikannya.
Retakan dimensi mulai menyelimuti tubuh Kavor. Cahaya di sekelilingnya pecah seperti kaca tipis.

Ia tersenyum.
Bukan senyum penguasa.
Bukan senyum penjahat.

Tetapi senyum seorang sahabat yang akhirnya bertemu kembali.

“Terima kasih… sudah menghentikanku.”

Napasnya berat.

“Aku senang bisa melihatmu lagi.”

Matanya bergetar pelan.

“Kau masih sama. Keras kepala… dan terlalu baik.”

Air mata tipis mengalir di pipinya.

“Maafkan aku… sahabatku.”

Tubuhnya mulai hancur menjadi serpihan cahaya.

“Rahasia ini… cukup untuk kita berdua.”

Dan ia pun lenyap.

Di sisi lain, kepala Lapuza dipenuhi kenangan yang bukan miliknya, tetapi terasa begitu nyata. Hutan itu. Pondok kayu itu. Tawa dua remaja yang tak tahu akhir cerita mereka. Rasa sakit di dada. Pelukan terakhir yang penuh darah.

“Apa… ini…?”

Air matanya jatuh.

“Maaf… Kavor… aku terlambat menyadarinya...”

Ia tidak tahu apakah ia menangisi musuhnya atau sahabatnya. Kakinya melemah. Dunia berputar pelan. Dan akhirnya ia roboh di tanah yang kini sunyi.

Angin berhenti berembus.
Langit meredup.

Seolah dunia pun ikut berduka atas persahabatan yang lahir dari kesalahan, tumbuh dalam rahasia, dan berakhir dalam penebusan yang terlalu terlambat.


P11. ISTANA KEGELAPAN - KEHENINGAN SETELAH BADAI
Tidak ada ledakan kemenangan.
Tidak ada sorak.
Hanya keheningan.

Patahan dimensi menutup satu per satu, seperti luka yang akhirnya berhenti berdarah.
Langit yang tadi meraung kini diam.
Angin kembali berani berhembus.

Lapuza berdiri sendirian di tengah reruntuhan medan.
Badik Bintang Utara masih di tangannya.

Bukan sebagai penguasa.
Bukan sebagai penakluk.
Sebagai seseorang yang kebetulan masih berdiri.

Ia menatap langit yang perlahan kembali utuh.
Tangannya gemetar.

“…Aku benci…” gumamnya pelan.

Ia menghela napas panjang.

“…berdiri sendiri.”

Tak ada yang menjawab.
Tubuhnya akhirnya menyerah.
Ia jatuh terduduk.

Badik tetap ia genggam.
Debu beterbangan pelan di sekelilingnya.
Pertempuran berakhir.
Namun gema dimensi yang tadi berontak,
masih terasa jauh di dalam udara.

Dan mungkin…
di dalam dirinya juga.


P12. NEGERI PENYIHIR - KESEIMBANGAN YANG KEMBALI
Aula Cahaya Istana Negeri Penyihir kembali dipenuhi sinar lembut.
Bukan cahaya yang megah.
Bukan cahaya kemenangan.
Melainkan cahaya yang tenang seperti napas panjang setelah lama ditahan.

Di tengah ruangan, di atas altar kuno berukir lingkaran sihir tua, Badik Bintang Utara diletakkan kembali.

Begitu bilahnya menyentuh batu altar,
udara bergetar halus.

Cahaya tipis memancar dari ukiran-ukiran kuno. Tidak menyilaukan. Tidak menggelegar.
Hanya… menenangkan.

Retakan-retakan sihir yang tersisa di langit-langit aula perlahan menutup. 
Langit yang berwarna ungu kehitaman kembali kewarna asalnya biru muda yang indah. 
Aliran mana yang sebelumnya kacau kini perlahan mengalir rapi, seperti sungai yang menemukan muaranya.

Para penyihir berdiri dalam diam.
Tidak ada yang bersorak.
Tidak ada yang menangis histeris.
Hanya napas lega yang terdengar di antara mereka.

“Rasanya berbeda…” bisik salah satu penyihir muda.
“Seperti… istana ini bernapas lagi.”

Di depan altar, Ratu Rheana melangkah maju. Jubahnya menyentuh lantai batu yang kini tak lagi bergetar.

Ia menunduk pelan pada pusaka itu.

“Keseimbangan… telah kembali.”

Suaranya lembut.
Namun semua orang mendengarnya dengan jelas.

Miya Orina berdiri tegap di sisi aula, meski lengannya masih dibalut perban.

“Korban sudah dievakuasi,” lapornya pelan.
“Kara Kavor dan pengikutnya telah ditahan di ruang pemurnian bawah tanah istana.”

Ratu mengangguk.

“Kita tidak merayakan ini,” lanjutnya tenang.
“Kita mengingatnya.”

Hening menyelimuti ruangan.
Karena semua tahu,
harga yang dibayar terlalu mahal untuk dirayakan dengan riuh.

Di sisi lain aula, agak jauh dari altar,
Lapuza berdiri bersandar pada pilar.

Lengannya diperban kasar. Bahunya masih bergetar sisa kelelahan. Tubuhnya penuh bekas luka tipis akibat distorsi ruang.

Putri Lalena berdiri di sampingnya, menatapnya dengan mata yang belum sepenuhnya kering.

“Kau hampir mati,” katanya pelan sembari merapatkan kedua gunung kembarnya yang bulat empuk dan padat itu didada kiri Lapuza seperti biasa.

Lapuza menyeringai tipis.
“Hampir bukan berarti jadi.”
“Tapi, tolong jangan terlalu rapat, sisi kelaki-lakianku bisa bergejolak menahan sensai empuk itu.” Balas Lapuza dengan raut wajah tak terkontrol

Lalena memukul lengannya pelan.

“Bodoh.”

Ia tidak membalas.

Pandangan Lapuza kembali ke altar.

Badik itu tampak berbeda sekarang.
Tenang.
Diam.
Tidak lagi berdenyut liar.

Ia mendorong tubuhnya menjauh dari pilar dan melangkah mendekat. Setiap langkah masih terasa berat, tapi ia memaksakan diri.

Ia menatap bilah itu lama.

“Jadi…” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri.
“…tugasku selesai.”

Cahaya di permukaan badik berkilau sekali.
Lembut.
Singkat.
Seolah mengangguk.

Lapuza menghela napas panjang.

“Bagus,” katanya pelan.
“Aku tidak mau menghitung dimensi lagi.”

Lalena menatapnya bingung.
“Menghitung apa?”

“Matematika ruang,”
jawabnya lelah.

Untuk pertama kalinya sejak pertempuran,
beberapa penyihir tersenyum kecil.

Bukan karena lucu.
Melainkan karena mereka tahu,
anak muda yang berdiri di sana bukan raja.
Bukan penakluk.
Hanya seseorang yang menolak membiarkan dunia retak sendirian.

Dan untuk saat ini,
itu sudah cukup.

P13. PERPISAHAN YANG TIDAK INGIN DIUCAPKAN
Halaman istana sunyi ketika lingkaran pemanggilan kembali menyala.
Cahaya putih kebiruan membentuk simbol-simbol kuno di atas tanah batu. Angin berhembus pelan, tidak kencang namun cukup untuk membuat ujung jubah bergetar.

Udara terasa berbeda.
Bukan seperti sebelum pertempuran.
Bukan seperti setelahnya.
Melainkan seperti sesuatu yang memang harus berakhir.

Lapuza berdiri di tengah lingkaran itu.
Tangannya santai di saku, seolah ini hanya perjalanan biasa.

Di depannya, Lalena menunduk sedikit.
Di sampingnya, Miya berdiri tegap, terlalu tegap.

Tidak ada yang langsung bicara.
Hanya suara angin dan dengung halus sihir pemanggilan.

Lalena menggenggam ujung jubahnya sendiri.

“Jadi…” suaranya kecil.
“Kamu benar-benar pulang.”

Lapuza menggaruk pipinya, mencoba tersenyum ringan.

“Sepertinya begitu.”
“Dunia asalku nggak bisa ditinggal kelamaan.”

Lalena mengangkat wajahnya cepat.
“Dan dunia ini bisa?”

Ia terdiam.
Lalu tersenyum lebih lembut.

“Dunia ini kuat.”
“Kalian kuat.”


Miya akhirnya berbicara tanpa menoleh.

“Kau bertarung dengan baik.”

Nada suaranya datar. Terlalu datar.

“Itu… perintah panglima untuk menyampaikan penghargaan.”

Lapuza tertawa kecil.

“Cara kamu bilang ‘terima kasih’ masih terdengar menakutkan, Miya.”

Miya tidak menjawab.
Namun jemarinya mengepal lebih erat.

Sunyi kembali turun.
Cahaya lingkaran mulai naik perlahan, menyentuh kaki Lapuza.

Lalena menggigit bibirnya, lalu tiba-tiba melangkah maju.
Tanpa peringatan,
ia memeluk Lapuza.
Kuat.
Terlalu kuat.

Seolah jika ia melepasnya, cahaya itu akan mencurinya lebih cepat.

“Jangan lupa kami,” bisiknya, suaranya bergetar.
“Sungguh… jangan.”

Lapuza terdiam sesaat.
Tangannya yang tadi canggung akhirnya terangkat, membalas pelukan itu pelan.

“…Kalau aku lupa,” gumamnya ringan,
“…berarti aku bukan Lapuza.”

Lalena tertawa kecil di antara tangisnya.

“Bodoh.”

Cahaya kini mencapai dadanya.

Miya melangkah satu langkah mendekat.

“Kau masih punya hutang,” katanya singkat.

“Hutang apa?”

“Kau belum pernah menang duel sihir melawanku.”


Lapuza menyeringai.

“Ah, itu sengaja. Aku menjaga harga dirimu.”

Miya mendecak pelan.
“Pembohong.”

Namun matanya… sedikit berkaca.

Cahaya mulai menyelimuti tubuh Lapuza sepenuhnya.

Ia menatap mereka berdua.

Lalena yang tak lagi menahan air mata.
Miya yang berdiri tegak meski napasnya berat.

“Terima kasih,” katanya pelan.
“Karena sudah mempercayaiku… orang aneh dari dunia lain.”

Lingkaran sihir berpendar lebih terang.
Angin berputar sekali.
Dan dengan kilatan lembut,
Lapuza menghilang.

Cahaya padam.
Halaman kembali sunyi.

Lalena masih berdiri di tempatnya.
Tangannya kosong.

Miya memalingkan wajahnya ke langit.

“Penjaga Cahaya,” gumamnya lirih.

Dan untuk pertama kalinya,
Istana Negeri Penyihir terasa… terlalu luas.


P14. TAHUN 2030 - ATAU HANYA SEBUAH MIMPI

Gelap.

Tidak ada gema dimensi.
Tidak ada bau mana terbakar.

Hanya,

DUK.

Tubuh Lapuza terhempas ke kasur sempit kamar kost-nya.

Pegasnya berbunyi protes.
Langit-langit kusam menyambut pandangannya. Cat mengelupas di sudut. Kipas angin tua berderit pelan, berputar malas.

Bzzzzt.

Ponsel di meja kecil bergetar.
Alarm pagi.
Ia terengah.
Duduk mendadak.

“…Hah?”

Napasnya cepat, seolah baru saja berlari menembus badai dimensi.
Namun yang ada hanya kamar 3x3 meter dengan bau kopi instan semalam.

Ia menoleh ke kiri.
Tumpukan buku.
Laptop tua.
Jemuran handuk yang belum kering.

Semuanya sama.
Terlalu normal.

Lapuza mengusap wajahnya kasar.
Lalu tertawa pendek.

“Serius…”

Ia melihat jam di ponsel.

“Kayaknya aku stres karena lama nganggur.”

Ia berdiri, meregangkan badan. Punggungnya berbunyi kecil. Dunia terasa berat, tapi bukan karena mana.
Karena kenyataan.

Ia melangkah ke arah cermin kecil di dinding.
Berhenti.
Matanya tertuju pada lengannya.

Di sana,
bekas luka bakar kecil.
Tipis.

Memanjang samar.
Tidak besar.

Tapi jelas bukan goresan biasa.
Tangannya terangkat perlahan, menyentuh bekas itu.

Ingatan melintas.
Percikan api kecil yang salah arah.
Teriakan Lalena.
Suara Miya yang dingin memaksanya bangkit.

Sunyi memenuhi kamar.
Kipas angin masih berderit.

Alarm sudah berhenti.
Namun jantungnya kembali berdetak lebih berat.

“…Ini kebetulan yang sangat nyata,” gumamnya pelan.

Ia menurunkan tangannya.
Tertawa kecil lagi, kali ini tanpa suara.

“Kalau itu mimpi…” bisiknya,
“…mimpiku terlalu detail untuk dikatakan mimpi.”

Ia duduk di tepi kasur.
Memandang jendela kecil tempat cahaya pagi mulai masuk.

Senyumnya tipis.
Bukan senyum bahagia.
Bukan sedih.

Melainkan senyum seseorang yang tahu,
apa pun namanya,
mimpi,
halusinasi,
atau takdir,

ia pernah berdiri di tengah badai dimensi.
Ia pernah menggenggam pusaka.
Ia pernah dipanggil Penjaga Cahaya.

Dan dunia lain itu…
bukan sekadar bayangan.
Ia bangkit, mengambil jaketnya.

Sebelum membuka pintu kamar, ia berhenti sebentar.

“…Kalau memang cuma mimpi,” katanya pelan,
“kenapa rasanya masih belum selesai?”

Angin pagi masuk dari celah jendela.
Hening.
Jauh, sangat jauh,
seakan ada gema halus yang tidak berasal dari dunia ini.

Dan tanpa ia sadari,
di sudut lengannya,
bekas luka itu berkilau sepersekian detik.

Lalu kembali biasa.

Tahun 2030 berjalan seperti biasa.

Namun bagi Lapuza,
realitas tidak lagi sesederhana dulu.

Lapuza Season 1 - Negeri Penyihir berakhir.

Dan sesuatu dari kejauhan… telah menunggu.



Baca Kelanjutan Season 2 disini... 

Minggu, 08 Februari 2026

LAPUZA Episode 11 - Perang Dimulai, Istana Kegelapan dan Benturan Hebat

Judul Novel : Lapuza
  • Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari tahun 2030, terjebak di Dunia Penyihir
  • Session : 1 (Negeri Penyihir)
  • Episode : 11
  • Tanggal Rilis : 9 Februari 2026
  • Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
  • Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
  • Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
  • Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Pada tahun 2030, ketika kecerdasan buatan sepenuhnya mengambil alih nalar manusia, dunia menjelma menjadi peradaban dingin yang tak lagi memberi ruang bagi kehendak dan makna hidup. Di tengah arus itu, hidup Lapuza runtuh, kariernya terhenti, mimpinya sirna, dan identitasnya tergerus oleh sistem yang memosisikan manusia sekadar pelengkap mesin. Saat ia berada di titik nadir, sebuah peristiwa tak terjelaskan mencabutnya dari realitas dan melemparkannya ke Negeri Penyihir, dimensi asing yang berdiri di atas sihir kuno, artefak legendaris, serta konflik abadi antara terang dan gelap. Terjebak di dunia yang penuh ancaman dan intrik, Lapuza bertahan bukan melalui sihir semata, melainkan kecerdasan, strategi, dan nilai kemanusiaan yang ia bawa dari abad ke-21. Dalam perjalanannya, ia ditemani Putri Lalena yang ceria dan tulus, serta Miya Orina, panglima penyihir berhati dingin dengan empati yang tersembunyi. Bersama mereka, Lapuza terseret ke dalam pusaran takdir, pengkhianatan, dan kesetiaan sebuah perjalanan yang akan menentukan nasib Negeri Penyihir.


Istana Kegelapan - Lembah Bintang Retak
Istana Kegelapan milik Kavor di Lembah Bintang Retak bukan sekadar bangunan, melainkan manifestasi kehendak sihir hitam yang menolak tunduk pada hukum dunia. Menara-menara hitamnya menjulang tajam, seolah dipelintir oleh kebencian yang membeku, sementara dinding-dindingnya berdenyut pelan seperti urat hidup yang mengalirkan energi gelap tanpa henti. Setiap batu disatukan bukan oleh semen, melainkan oleh sumpah, pengorbanan, dan jiwa-jiwa yang gagal kembali. Bayangan iblis merayap di permukaannya, berubah bentuk tanpa suara, menandakan bahwa istana itu tidak pernah benar-benar tidur. Dari celah-celah fondasinya, cahaya kegelapan merembes, menyatu dengan retakan Lembah Bintang Retak, seolah istana dan lembah berbagi satu jantung yang sama. Siapa pun yang menatapnya terlalu lama akan merasakan tekanan di dada, peringatan sunyi bahwa tempat ini bukan untuk ditaklukkan, melainkan jalan pintas menuju kematian instan.


EPISODE 11
Perang Lembah Bintang Retak
Langit di atas Lembah Bintang Retak tidak sekadar menggelap,
ia terbelah.

Bukan oleh petir.
Bukan oleh badai.

Celah raksasa terbuka di antara awan hitam yang berlapis-lapis, berputar lambat seperti pusaran luka lama yang kembali menganga. Cahaya matahari tidak padam begitu saja—ia ditekan, diperas, hingga tersisa bayangan kelabu yang menggantung rapuh di udara. Langit tampak seolah sedang runtuh… namun terlalu takut untuk benar-benar jatuh.

Angin berhenti.

Daun-daun membeku di udara. Debu tak lagi bergerak. Bahkan gema langkah kaki pun seakan enggan terdengar. Dunia menahan napasnya sendiri, seolah sadar bahwa apa pun yang terjadi setelah ini tidak bisa ditarik kembali.

Keheningan itu terasa berat.
Bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang menunggu kesalahan pertama.

Di hadapan mereka, Istana Kegelapan Kavor berdiri.

Ia tidak tampak seperti bangunan.
Ia tampak seperti bekas luka yang menolak sembuh.

Menara-menara hitamnya menjulang tidak mengikuti logika arsitektur, melainkan logika kebencian, menusuk tajam, seolah dipelintir oleh tangan tak kasatmata. Dindingnya berdenyut perlahan, bukan oleh kehidupan, melainkan oleh sihir gelap yang terus berputar di dalamnya, seperti darah hitam yang tak pernah berhenti mengalir.

Istana itu… terjaga.

Bayangan iblis merayap di sepanjang tembok dan tanah, memanjang lalu menyusut tanpa sumber cahaya yang jelas. Mereka tidak mengaum. Tidak menyerang. Tidak bergerak terburu-buru. Mereka hanya ada untuk mengisi setiap sudut pandang, setiap celah perhatian, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang lupa bahwa
tempat ini bukan milik manusia.

Tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar.

Awalnya pelan. Hampir terasa seperti imajinasi.
Lalu retakan-retakan halus muncul, menjalar di permukaan lembah seperti urat-urat yang bangkit ke permukaan kulit. Dari celah itu memancar cahaya merah keunguan redup, berdenyut perlahan, seirama dengan sesuatu yang bersembunyi jauh di bawah tanah.

Seolah Lembah Bintang Retak bernapas.

Seolah ia sedang menarik keberanian, ketakutan, dan niat membunuh menjadi satu,
lalu menunggu saat yang tepat untuk memuntahkannya kembali.

Tidak ada terompet perang.
Tidak ada teriakan komandan.
Tidak ada kalimat heroik yang bisa dijadikan pegangan.

Semua rencana terasa rapuh di tempat ini.
Semua keyakinan terdengar terlalu keras untuk diucapkan.

Yang tersisa hanyalah jarak pendek di depan mereka,
dan satu batas tak terlihat, tempat dunia berhenti berpura-pura ramah.

Satu langkah diambil.

Tidak serentak.
Tidak dramatis.
Hanya satu langkah… terlalu kecil untuk disebut keputusan, terlalu besar untuk ditarik kembali.

Saat kaki itu melampaui batas Lembah Bintang Retak,

langit meraung, seolah akhirnya diberi izin untuk runtuh.
Sihir meledak dari dalam tanah, menyapu udara seperti gelombang amarah yang lama dipendam.
Bayangan-bayangan iblis bangkit bersamaan, bukan karena perintah, melainkan karena kesepakatan lama yang akhirnya terpenuhi.

Kegelapan tidak lagi menunggu.
Ia menyambut.

Dan tanpa aba-aba, tanpa kehormatan, tanpa kesempatan berpikir ulang,
perang pun dimulai.


LOKASI 1
GERBANG ISTANA KEGELAPAN
Miya Orina vs Pasukan Iblis & Penyihir Hitam
Ledakan sihir menjadi salam pembuka perang.
Tanah di depan gerbang Istana Kegelapan terbelah saat seribu penyihir putih muncul dalam formasi tempur rapi, lingkaran demi lingkaran, barisan demi barisan. Tidak ada teriakan pembakar semangat. Tidak ada pidato kepahlawanan.

Di garis terdepan berdiri Miya Orina.

Wajahnya datar. Mata tajam. Aura panglima yang membuat siapa pun lupa caranya bernapas.

Miya mengangkat satu tangan.

Langit menjawab.

Satu lingkaran sihir raksasa terbentuk di atas gerbang, berputar pelan seperti mata dewa yang terbangun.

Lalu,
lingkaran itu berlipat.

Dua.
Lima.
Sepuluh.

Langit bergetar, seakan tak sanggup menanggungnya.

Salah satu penyihir putih menelan ludah.
“…Panglima, itu langit atau pajak alam semesta?”

Miya tidak menoleh.

“Bosi Loppo Mattunue,” ucapnya tenang,
“tingkat dua.”

Sepuluh lingkaran sihir menyala bersamaan.

Hujan bola api jatuh seperti badai kiamat yang tersusun rapi.

Iblis menjerit terbakar.
Penyihir hitam terpental dari tembok.
Gerbang istana meledak setengah runtuh, batu dan api beterbangan.

Namun musuh tidak berhenti.

Dari balik asap, pasukan iblis menerjang.
Penyihir elit Kavor maju, membentuk pertahanan sihir berlapis-lapis.

“PERTAHANAN DEPAN!” teriak salah satu komandan putih.
“Jangan terpecah!”

Miya sudah melangkah maju, pedangnya menyala dilapisi api pekat.

“Dorong,” katanya singkat.
“Aku buka jalannya.”

“SEPERTI BIASA?!”
“YANG BIASA ITU KAMU HAMPIR MATI, PANGLIMA!”


Miya melirik sekilas.
“Hampir mati itu tidak dihitung.”

Pertempuran pun menjalar masuk ke gerbang.

Ledakan demi ledakan mengguncang tanah.
Benturan sihir tingkat tinggi membuat udara berderak.
Iblis jatuh, bangkit, jatuh lagi.

Miya berhadapan langsung dengan beberapa penyihir elit sekaligus. Serangan datang bertubi-tubi, memaksanya bertahan dan menyerang dalam ritme brutal, blok, tebas, bakar, maju satu langkah lagi.

Darah mulai mengalir di lengannya.

Salah satu penyihir putih berteriak panik,
“PANGLIMA, ANDA TERLUKA!”

Miya mengibaskan darah dari tongkat sihirnya yang membentuk sihir pedang.
“Catatan nanti.”

Ia menatap gerbang yang hampir runtuh, api berkobar di sekelilingnya.

“Sekarang,” lanjutnya dingin,
“kita pastikan mereka tidak bangkit lagi.”

Dan dengan langkah berat namun tegap,
Panglima Miya Orina terus maju.
disamput mayat yang bergeletakan tak beraturan.


LOKASI 2
AULA DEPAN ISTANA
Lalena vs Nur Diana (Pertemuan Kedua)
Di luar istana, pertempuran penyihir hitam dan putih meletus dramatis.
Sementara diarea dalam istana kegelapan, lorong-lorong istana tampak sunyi, terlalu sunyi untuk momentum perang.

Lalena dan Lapuza melaju cepat melalui jalur dalam, melewati pilar-pilar hitam yang berdenyut pelan seperti jantung raksasa. Aura gelap menempel di kulit, membuat napas terasa berat.

Lalu,
langkah mereka terhenti bersamaan.

Aula depan terbuka lebar.

Dan di tengahnya, seseorang sudah menunggu.

Nur Diana berdiri tegak, jubah hitamnya menjuntai seperti bayangan yang hidup. Aura gelapnya pekat, menekan, membuat lantai berderit halus. Tatapannya dingin namun kali ini, tanpa senyum meremehkan.

“Putri Lalena,” ucapnya pelan, suaranya menggema di aula kosong.
“Kita bertemu lagi.”

Lapuza refleks melompat pendek bergeser setengah langkah ke belakang Lalena.
“…Oke, insting bertahan hidupku aktif.”
Ia mencondongkan badan.
“Kita lewat mana?”

Lalena maju satu langkah, cahayanya perlahan menyala.
“Kamu lanjut.”
“Yang ini… tugasku.”


“Apa? Hei...” Lapuza menunjuk dirinya sendiri.
“Aku ini rapuh secara emosional dan fisik, lho!”
“Aku masih perjaka... Berjalan sendiri ditempat sunyi dan gelap itu tidak baik untuk kesehatan mental pria” ucap Lapuza berusaha membela diri meski terkesan apologi.

Lalena menoleh, senyum kecil muncul tenang, tapi tegas.
“Kalau kamu mati di dalam,” katanya ringan,
“aku nggak punya bahan bercanda lagi.”
“cepat maju....”  

Lapuza terdiam sesaat.
“…Itu alasan yang buruk,”
lalu ia mengangguk kecil,
“sepertinya nasib lelaki memang ditakdirkan menderita.”
“untung didunia ini uang bukan segalanya.”

Nur Diana mengangkat alis tipis.
“Masih sempat bercanda.”
“Menarik.”


Lapuza mundur, lalu berhenti sejenak.
“Jangan kalah, apalagi kehilangan nyawa” katanya cepat.
“Aku nggak tertarik balas dendam.”

“Aku juga nggak tertarik kalah,” sahut Lalena.

Mereka berpisah.

Detik berikutnya,
pertempuran meledak.

Sihir gelap Nur Diana menghantam seperti badai yang dipadatkan, menghancurkan lantai, merobek pilar, menyapu udara dengan tekanan mematikan.

Lalena menghilang,
muncul,
menghilang lagi.

Teleportasinya berkilat patah-patah, muncul di sudut yang mustahil, nyaris terlambat setiap kali.

“KAU TIDAK BELAJAR DARI TERAKHIR KALI?!” teriak Nur Diana.

“Aku belajar!” Lalena membalas sambil menghindari semburan sihir hitam.
“Hanya saja,” bam!
“materinya makin susah!”

Ledakan menghantam sisi aula. Atap runtuh sebagian. Batu besar jatuh, pecah oleh cahaya Lalena di detik terakhir.

Nur Diana meluncur maju, sihirnya berubah bentuk lebih tajam, lebih fokus.

“Kau meningkat,” katanya dingin.
“Tapi belum cukup.”

Lalena terhuyung saat pertahanan cahayanya retak. Ia berteleportasi rendah, berguling, napasnya tersengal.

“Kata semua guru,” gumamnya.
“Setiap. Ujian.”

Dua kekuatan bertabrakan lagi,
cahaya dan kegelapan mengoyak aula, meninggalkan bekas hangus di dinding hitam.

Ledakan besar memisahkan mereka.

Keduanya terpental ke sisi berlawanan.

Debu turun perlahan.
Napas terengah.
Keringat bercampur darah.

Lalena menahan nyeri di bahunya, tersenyum tipis.
“Masih hidup.”

Nur Diana berdiri, jubahnya robek di satu sisi.
“Masih berdiri.”

Meski terlihat seimbang.
Lalena sudah terlihat kewalahan dan mengaktifkan mode darurat tempurnya

Dan di aula yang setengah runtuh itu,
pertarungan kedua mereka baru saja benar-benar dimulai.


LOKASI 3
TENGAH ISTANA
Lapuza vs Rahma Chan
Di jantung Istana Kegelapan, udara terasa lebih padat, seolah sihir di sini tak mengalir, melainkan menekan.

Panglima imut Rahma Chan berdiri santai di tengah aula bundar, tubuh kecilnya diselimuti bayangan tebal yang berdenyut pelan. Tongkatnya menyentuh lantai batu, namun tak ada sikap siap tempur, lebih mirip tuan rumah yang menunggu tamu yang terlambat.

“Akhirnya,” katanya ringan, nyaris ceria.
“Manusia dunia lain.”

Lapuza melangkah masuk, napasnya masih berat berusaha meyakinkan diri bahwa hantu dan iblis tidak semyeramkan apa yang dikatakan live tiktok dan konten youtube. 

Melihat Rahma yang memancarkan aura kebencian seorang wanita yang dibalut senyum tipis,
tanpa meremehkan lawan, Ia kemudian mengangkat tangan, lingkaran sihir muncul otomatis, stabil, rapi, tanpa mantra panjang.

“Kita lewati basa-basi?” katanya sambil melirik sekeliling.
“Aku capek hari ini.”
“Dan jujur saja, istanamu terlalu muram untuk manusia normal.”
“Kalau didunia asalku ini disebut tempat uka-uka!.”

Rahma terkekeh kecil.
“Lucu.”
“Biasanya orang terakhir yang berdiri di sini akan segera menghadap alam baka.”


“ihh wow,... tapi Maaf... bagian itu aku tidak tertarik untuk direkomendasikan.” balas Lapuza cepat dengan posisi siaga tempur.

Detik berikutnya,
pertempuran meledak tanpa aba-aba.

Sihir tingkat tinggi bertabrakan di udara.
Api terkompresi.
Tekanan ruang.
Gelombang panas memantul di dinding istana.

Lapuza melompat, berputar, mendarat dengan satu tangan, lingkaran sihir lain muncul di bawah kakinya, meledak mendorong tubuhnya ke belakang sebelum serangan Rahma menghantam.

“Whoa!”
“Catatan kecil,”
teriak Lapuza sambil menghindar,
“kau cepat sekali untuk ukuran...”

Rahma sudah muncul di belakangnya.

“...anak kecil,” lanjut Lapuza cepat sambil menjatuhkan diri ke lantai.
Api hitam menyapu di atas kepalanya, nyaris mematahkan lehernya.

Rahma melayang mundur, wajahnya tetap tenang.
“Tubuh kecil,” katanya santai,
“bukan berarti kemampuan kecil.”

Serangan berikutnya datang bertubi-tubi.

Akrobatik sihir.
Tipuan jarak.
Serangan presisi tanpa pemborosan.

Lapuza bertahan mati-matian, perisainya retak, terbentuk lagi, retak lagi. Namun di balik napas terengahnya, matanya tajam.

Rahma cepat.
Terlalu cepat.

Namun…
terlalu konsisten.

Lapuza meluncur ke samping, membentuk api kecil untuk menutup pandangan, lalu berbisik dalam hati sambil menghitung langkah Rahma.

“…Kau masih menghindar dengan pola,” gumamnya.
“Bukan refleks…”
“tapi penghematan energi seperti pertarungan kita sebelumnya, namun kali ini celahnya lebih tipis.”

Ia menghindari satu serangan lagi, nyaris terlambat dan tersenyum tipis meski keringat dingin mengalir.

“Setiap gerakan,” lanjutnya dalam benak,
“punya jarak aman tetap.”
“Tidak ada improvisasi.”


Rahma berhenti sejenak, berdiri di atas lingkaran bayangan yang tenang. Senyum tipis muncul di wajahnya bukan mengejek, melainkan tertarik.

“Kau memperhatikan hal yang menarik,” katanya.
“Jarang ada yang bertahan cukup lama untuk melihatnya.”

Lapuza terengah, menegakkan tubuhnya.
“Di duniaku,” katanya sambil mengusap darah di sudut bibir,
“yang paling berbahaya bukan yang paling kuat.”
“Tapi yang paling efisien.”


Ia mengangkat tangan lagi. Lingkaran sihir kali ini lebih kecil dan lebih rapat.

Rahma memiringkan kepala.
“Oh?”

Lapuza tersenyum miring.
“Dan efisiensi…”
“…biasanya punya batas.”


Aura di aula mengencang.
Bayangan Rahma bergetar tipis.

Pertempuran belum selesai.
Namun untuk pertama kalinya,
arahnya mulai berubah.

Duel hebat itu memaksa Lapuza untuk terus bertahan dari serangan Rahma Chan meski tubuhnya kini mulai terluka menghantam dinding istana.

Penyihir Hitam Istana Kegelapan
Berbeda dengan Penyihir Elit Kegelapan Rahma Chan yang terdiri dari pasukan Iblis, Penyihir Hitam yang dipimpin oleh Penyihir Utama Nur Diana merupakan arsip hidup dari dosa dan kejayaan masa lalu yang dipaksa bangkit kembali. Mereka berasal dari mayat-mayat penyihir hebat yang telah lama mati dan legenda masalalu yang jasadnya dibangkitkan melalui sihir terlarang tingkat tertinggi. Kebangkitan itu tidak mengembalikan jiwa mereka sepenuhnya, melainkan menyisakan kesadaran terpotong yang dikunci oleh perintah dan kutukan. Mata mereka kosong, namun sihir yang mengalir di tubuh retak mereka tetap murni dan mematikan, seolah bakat masa lalu menolak lenyap. Di bawah komando Nur Diana, ribuan penyihir kegelapan ini disusun rapi menjaga setiap sudut Istana Kegelapan, berpatroli tanpa lelah, tanpa tidur, tanpa rasa takut. Mereka juga menjadi pasukan tempur utama Kavor baris depan, dilepaskan ke medan perang seperti badai sunyi, menghancurkan musuh dengan teknik sihir kuno yang mematikan.


KEMBALI KE LOKASI 1
GERBANG PORAK-PORANDA
Miya Orina dan Harga Sebuah Kemenangan

Gerbang Istana Kegelapan tidak runtuh.
Ia dilenyapkan.

Ledakan sihir bertingkat menghantamnya dari tiga arah berbeda, merobek eksistensi batu, mantra pelindung, dan segel kuno sekaligus. Cahaya putih dan hitam bertabrakan, memekakkan langit. Ketika gema itu mereda, yang tersisa hanyalah kawah raksasa berasap, tanah meleleh, dinding hitam ambruk ke dalam, dan retakan merah menyala menjalar seperti urat nadi yang dipaksa terbuka.

Medan depan berubah menjadi neraka.

Mayat penyihir putih dan hitam berserakan, bercampur dengan tubuh iblis yang hangus dan terpotong. Darah mengalir di sela batu, mendesis saat bersentuhan dengan tanah panas. Penyihir hitam tidak lari, mereka melawan dengan kegilaan sunyi, melepaskan kutukan terakhir bahkan saat tubuh mereka runtuh. Setiap langkah maju dibayar mahal; satu mantra dibalas tiga, satu celah ditutup oleh ledakan balasan.

Ratusan penyihir putih masih berdiri.

Jumlah mereka berkurang drastis.
Formasi koyak.
Luka berat di mana-mana.

Namun mereka tidak mundur.

Di garis depan, Miya Orina melangkah lalu tubuhnya goyah. Zirahnya retak, lapisan sihir pelindung robek, darah menetes dari lengan dan rusuknya. Napasnya berat, pandangannya sesaat kabur.

“P-Panglima!” teriak seseorang panik.
“Luka Anda sudah menembus pertahanan!”

Miya menancapkan tongkat sihirnya ke tanah dengan dentang keras, menjadikannya penopang. Ia menunduk sepersekian detik lalu mengangkat kepala, tatapannya tetap dingin, tetap utuh.

“Aku masih bisa berdiri,” katanya datar.
“Itu cukup.”

“Namun musuh masih!”

“Mundur?” Miya memotong, melirik tajam.
“Setelah kita memaksa neraka membuka pintunya?”

Ia berdiri tegak dengan paksa, menyeka darah di dagunya.
“Kalau aku jatuh sekarang,” katanya tenang,
“barisan ini ikut jatuh.”

Keheningan singkat, lalu tekad menyala kembali di wajah pasukannya.

“Sesuai dugaan,” gumam seseorang lirih.
“Panglima kita tidak kenal kata menyerah.”

“Bukan,” jawab Miya tanpa menoleh.
“Ini harga kemenangan.”

Ledakan kembali mengguncang sisi dalam istana. Miya mengangkat pedangnya, memberi isyarat terakhir.

“Formasi bertahan.”
“Kita menang di sini.”


Gerbang telah jebol.
Jalur telah terbuka.

Namun setiap napas Miya Orina kini bukan lagi milik kekuatan,
melainkan hasil dari kehendak yang menolak tumbang.


KEMBALI KE LOKASI 2
AULA DEPAN ISTANA
Lalena Menemukan Celah

Aula depan istana hampir tak lagi menyerupai aula.
Tiang-tiang runtuh setengah, lantai retak membentuk pola sihir kacau, dan udara dipenuhi sisa panas ledakan yang belum sempat mendingin. Setiap tarikan napas terasa berat, bukan hanya oleh asap, tapi oleh tekanan dua kekuatan besar yang terus saling bertabrakan.

Lalena terengah, keringat bercampur darah di pelipisnya. Teleportasinya makin jarang, jedanya makin panjang.
Di seberangnya, Nur Diana berdiri dengan napas teratur, namun sorot matanya mulai kehilangan ketenangan.

“Kau melambat,” ujar Nur Diana dingin.
“Tubuhmu tak sekuat niatmu, Putri.”

Lalena menyeringai tipis.
“Biasanya orang yang ngomong begitu… lagi panik.”
“Itu yang kupelajari dari seorang guru masalalu yang membuatku bertahan dan berjuang sejauh ini.”

Serangan datang lagi, gelombang sihir gelap memaksa Lalena mendekat, bukan menghindar. Langkahnya goyah, tapi justru di situlah ia tidak mundur.

Untuk pertama kalinya, Lalena tidak berteleportasi.

Ia menerobos.

Nur Diana sempat terkejut, cukup lama.

Sentuhan itu terjadi.

Jari Lalena menyentuh lengan Nur Diana.

“Tiga detik,” bisiknya pelan.

Udara seperti tersedak.

Lingkaran sihir Nur Diana padam, bukan hancur, tapi terputus, seperti lampu yang dicabut dari sumber listriknya.

“Apa...?!” Nur Diana tersentak.

Lalena mengangkat tangan, napasnya gemetar tapi matanya fokus.

Teleportasi aktif.

Namun kali ini,
bukan tubuh.

Ledakan sihir Nur Diana sendiri, yang baru saja ia siapkan, lenyap, lalu muncul kembali di belakangnya.

Dalam sepersekian detik, Nur Diana menyadari kesalahannya.

“Tidak...!”

BOOOOM!


Aula meledak dari arah berlawanan. Dinding belakang runtuh total, debu dan cahaya menelan segalanya.

Saat debu mengendap, Nur Diana berlutut di lantai retak, satu tangan menahan tubuhnya, napasnya tersengal. Jubahnya hangus di beberapa bagian, bukan fatal, tapi cukup untuk menandai akhir.

Lalena berdiri terhuyung di depannya.

“Catatan kecil,” ucap Lalena sambil terengah,
“aku bisa memindahkan ledakan,...”
“...dan menetralkan sihir dalam 3 detik.”


Nur Diana tersenyum kecil, batuk di tengahnya.

“Kau menang…” katanya lirih,
“…dengan caramu sendiri.”

Lalena menatapnya, ekspresinya melembut.
“Aku tidak ingin membencimu.”

Nur Diana mengangkat wajahnya perlahan, senyum tipis, bukan sinis, bukan pahit.

Hanya tatapan murni dari seorang Guru.

Refleksi - Kenangan yang Tak Pernah Pergi
(Pikiran Nur Diana, sesaat sebelum ia jatuh)

Gelap.

Bukan gelap karena luka,
melainkan karena ingatan yang tiba-tiba membuka pintu lama yang tak pernah benar-benar tertutup.

Nur Diana teringat lorong istana lama, jauh sebelum api hitam, sebelum Kavor, sebelum kebencian.

Seorang gadis kecil berambut merah terang berlari tanpa arah, hampir menabrak tiang marmer.

“Putri!”
“Berjalanlah dengan benar!”


Suara itu,
adalah suaranya sendiri.

Lalena kecil berhenti, menoleh dengan mata bulat, lalu tersenyum lebar seolah baru saja menemukan dunia.

“Kalau aku jalan pelan,” kata Lalena kecil polos,
“aku telat belajar sihir, kan?”

Nur Diana muda mendesah, lalu berlutut agar sejajar dengan tinggi anak itu.

“Belajar sihir bukan soal cepat,” ucapnya tegas.
“Tapi soal kendali.”

Lalena kecil mengerutkan dahi.
“Kendali itu apa?”

Nur Diana terdiam sejenak… lalu meletakkan tangan di dada Lalena.

“Ini,” katanya pelan.
“Kalau hatimu kacau, sihirmu akan berbahaya.”
“Bagi dirimu… dan orang lain.”


Kenangan berganti.

Halaman latihan istana.
Lalena kecil berkali-kali gagal memanggil cahaya.

Lingkaran sihir pecah.
Tangannya gemetar.

“Aku bodoh…” bisik Lalena kecil.

Nur Diana menghardik keras,
namun matanya lembut.

“Jangan pernah mengatakan itu.”
“Kau hanya… terlalu ingin menyenangkan semua orang.”


Ia berdiri di belakang Lalena kecil, membimbing posisi tangan.

“Tarik napas.”
“Dunia tidak akan runtuh jika kau gagal hari ini.”


Cahaya akhirnya muncul, kecil, tapi stabil.

Lalena kecil menoleh, matanya berbinar.
“Guru lihat?!”

Nur Diana tersenyum, senyum yang lama tak ia rasakan lagi.

“Aku selalu melihatmu.”

Kenangan itu retak.

Waktu berjalan.

Lalena tumbuh.
Sihirnya berkembang.
Dan jarak pun terbentuk.

Istana berubah.
Dewan berubah.
Dan Nur Diana… mulai merasa tak lagi punya tempat.

Namun satu hal tak pernah berubah:

Setiap kali Lalena takut,
ia tetap menggunakan sihir yang diajarkan Nur Diana.

Bukan yang paling kuat.
Bukan yang paling mematikan.

Yang paling terkendali.

Nur Diana tersadar.

Serangan terakhir Lalena tadi,
bukan didorong amarah.

Bukan dendam.

Itu…
adalah keputusan.

“Ah…”
Nur Diana tersenyum pahit dalam pikirannya.

“Jadi kau tumbuh seperti ini, Putri.”

Ia mengingat kata-katanya sendiri dulu:

"Jika hatimu tenang, sihirmu akan menemukan jalannya."

Dan kini,
Lalena telah melampauinya.

Cahaya menyelimuti kesadarannya.

Bukan api hitam.
Bukan kebencian.

Melainkan satu pemikiran terakhir yang jujur:

"Aku gagal sebagai penjaga negeri…"
"... tapi aku berhasil sebagai gurumu."


Dan dengan kenangan itu,
Nur Diana jatuh,
bukan sebagai penyihir hitam,
melainkan sebagai guru yang akhirnya merelakan muridnya berjalan lebih jauh.


KEMBALI KE LOKASI 3
TENGAH ISTANA
Kekalahan Rahma Chan - Pola yang Pecah

Lapuza kini benar-benar yakin.
Bukan keyakinan emosional.
Bukan keberanian nekat.

Melainkan kepastian,
seperti saat sebuah persamaan akhirnya menemukan solusi yang tepat.

Ia berdiri terengah, darah menetes dari dagu, bahu kirinya nyaris mati rasa. Namun matanya tajam, terkunci pada Rahma Chan yang masih melayang rendah, tubuh kecilnya diselimuti aura gelap yang mulai bergetar tidak stabil.

“Selama ini…” gumam Lapuza pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri,
“kau tidak bertarung dengan kekuatan.”
“Tapi dengan efisiensi.”


Rahma memiringkan kepala, senyum tipisnya masih bertahan, namun kini lebih hati-hati.

“Oh?”
“Dan itu salah?”


“Tidak,” jawab Lapuza jujur.
“Itu jenius.”

Ia mengangkat tangan kanannya.

Lingkaran sihir merah gelap terbentuk, tidak besar, tidak megah.
Namun rapat.
Padat.
Seperti sistem yang dirancang untuk satu tujuan saja.

“Api Biccu Mallellunge.”

Tidak ada ledakan tunggal.

Puluhan api kecil keluar, seakan menjadi serangan terakhir untuk menyudahi pertempuran,
bukan liar, bukan acak.

Mereka berpikir.

Api-api itu berbelok di udara, menyesuaikan sudut, kecepatan, jarak,
mengejar pola gerak Rahma, bukan tubuhnya.

Rahma tersentak.

Ia menghindar ke kiri,
api berbelok.

Ke kanan,
api menyesuaikan.

Ke atas,
api membagi diri.

“Menarik…” bisiknya, namun nada suaranya mulai tegang.

Satu api menghantam tanah di dekat kakinya.

Tidak melukainya.

Namun menandai.

Api kedua menghantam titik yang sama.
Api ketiga.
Keempat.

Retakan halus muncul di lantai batu,
lalu menjalar ke aura gelap di sekeliling Rahma.

“Ah…”
Rahma akhirnya menyadari.

“Jadi begitu.”

Ia mencoba memusatkan kembali kendali,
namun satu api kecil menghantam titik inti di dadanya.

Bukan keras.

Tepat.

Pola runtuh.

Aura gelap berantakan seperti benang kusut yang dipotong tiba-tiba.

Ledakan-ledakan kecil menyusul, berantai, presisi, tanpa amarah.

Rahma terhempas ke lantai aula.

Debu naik perlahan.

Saat mengendap, Rahma terlihat berlutut, tongkatnya terlepas, napasnya terengah. Tubuh kecil itu gemetar, bukan karena takut, tapi karena sistem yang ia bangun seumur hidupnya… akhirnya gagal.

“…Luar biasa,” ucapnya lirih, jujur, tanpa kebencian.
“Kau tidak mencoba mengalahkanku.”
“Kau memecah caraku berpikir.”


Lapuza menurunkan tangannya, tubuhnya sendiri hampir roboh.

“Aku cuma…”
“…terbiasa memperbaiki sistem yang rusak.”


Rahma tersenyum, senyum yang bukan lagi senyum panglima, melainkan seseorang yang akhirnya menerima hasil akhir.

“Kau belajar cepat.”
“Terlalu cepat.”


Tubuh kecil itu akhirnya tumbang ke lantai batu.

Ledakan-ledakan kecil itu berhenti.

Bukan karena kehabisan daya,
melainkan karena tujuannya sudah tercapai.

Rahma Chan berlutut di lantai aula, satu tangan menahan dada. Aura gelap yang biasanya rapi dan tenang kini retak, terputus-putus seperti aliran mana yang kehilangan jalurnya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tersenyum.

Lapuza berdiri beberapa langkah darinya, napas berat, tubuh nyaris menyerah, namun matanya tetap terkunci.

“Kau kalah bukan karena kekurangan kekuatan,” ucap Lapuza pelan.
“Dan bukan karena tubuhmu.”

Rahma mendongak, tatapannya redup namun masih tajam.

“…Lalu kenapa?”

“Karena kau tidak pernah mengubah fondasi,”
lanjut Lapuza.
“Kau menyempurnakan sistem lama.”
“Padahal… sistem itu dibuat untuk tubuh yang sehat.”


Ia menunjuk lingkaran sihir merah gelap yang perlahan memudar.

“Tubuhmu kecil. Aliran manamu dibatasi.”
“Jadi kau menghemat.”
“Menyamakan setiap gerakan.”
“Mengulang jalur yang sama agar tidak bocor.”


Rahma terdiam.

Api kecil terakhir dari Api Biccu Mallellunge masih menyala samar di udara,
tepat di titik yang sama yang terus dihantam berulang kali.

“Dan itu kelemahanmu,” kata Lapuza lembut namun pasti.
“Karena setiap sistem efisien…”
“…akan runtuh jika satu titiknya dipukul terus-menerus.”


Rahma tertawa kecil, tertahan, nyaris pahit.

“…Ah.”

Tubuhnya melemas.

Dan saat kesadarannya mulai surut...

REFLEKSI RAHMA
ISTANA PENYIHIR, PULUHAN TAHUN LALU
Langit istana cerah.
Seorang gadis kecil, lebih kecil dari anak-anak seusianya, berdiri di tengah lingkaran latihan. Nafasnya terengah, tubuhnya gemetar, namun matanya bersinar tajam.

“Ulangi,” suara seorang wanita dewasa terdengar tegas namun hangat.

Sri Rahayu berdiri di tepi lingkaran, tongkat di tangan, tatapannya penuh penilaian.

“Aku… sudah melakukannya dengan benar,” kata Rahma kecil, terengah.

“Benar,” jawab Sri Rahayu.
“Tapi kau mengulang jalur yang sama.”

Rahma kecil mengangkat kepala.
“Itu paling aman.”

Sri Rahayu berlutut di hadapannya, sejajar dengan mata Rahma.

“Benar untuk bertahan,” katanya lembut.
“Tapi tidak untuk melawan dunia.”

Ia menyentuh dada Rahma kecil.

“Tubuhmu rapuh.”
“Itu kenyataan.”
“Tapi jika kau membiarkan ketakutan menentukan caramu bertarung...”


Sri Rahayu tersenyum tipis.

“...kau akan menjadi sangat kuat.”
“Namun juga… mudah dibaca.”


Rahma kecil terdiam.

Di kejauhan, penyihir-penyihir lain berbisik.

“Dia cacat.”
“Tubuhnya tidak normal.”
“Tak pantas di Dewan.”


Rahma kecil menunduk.

Dan di sanalah,
jalan itu mulai bercabang.

KEMBALI KE SAAT INI

Rahma membuka mata perlahan.

Langit-langit aula retak terlihat samar.

“…Guru,” bisiknya lirih.
“Aku memang… tidak pernah mengubah caraku.”

Lapuza berdiri terdiam, tak berkata apa-apa.

Rahma menarik napas panjang, napas yang berat, namun tenang.

“Aku memilih efisiensi sihir.”
“Karena dunia tidak pernah memberiku ruang untuk gagal.”


Ia menoleh ke Lapuza, senyum tipis kembali muncul, kali ini tanpa kesombongan.

“Dan kau…”
“…memberiku lawan yang memukul tepat di tempat yang selalu aku lindungi.”


Tubuh kecil itu akhirnya rebah sepenuhnya.

Bukan karena kebencian.
Bukan karena keputusasaan.

Melainkan karena,
ia kalah oleh seseorang yang berani melakukan apa yang dulu disarankan gurunya:
berubah, meski berisiko.

Aura gelap Rahma Chan pun benar-benar padam.

Dan di jantung Istana Kegelapan,
sebuah pola lama akhirnya berakhir.


PERTEMUAN
LORONG MENUJU RUANG TERAKHIR
Lorong batu itu panjang dan sunyi.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada ledakan.

Hanya suara langkah kaki yang tertahan,
dan napas yang belum pulih.

Miya Orina muncul dari sisi kiri lorong, baju zirahnya hangus di beberapa bagian. Darah mengalir dari bahunya, menetes ke lantai batu, membentuk jejak merah gelap. Namun punggungnya tetap tegak.

Beberapa langkah kemudian, dari arah berlawanan, Lalena hampir tersandung sebelum berhenti. Rambutnya acak-acakan, mantel sihirnya robek, matanya masih menyala namun napasnya berat.

Lapuza menyusul dari belakangnya, satu tangan menekan dada, tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan kelelahan yang akhirnya mengejar.

Mereka berhenti.

Saling menatap.

Sesaat, tidak ada yang bicara.

Lalu Lapuza terkekeh pelan, suara tawanya serak.

“…Kalau ada yang lihat kita sekarang,” katanya, mengusap wajahnya,
“mungkin mereka kira kita rombongan korban perang.”

Lalena mengangkat alis, lalu menyeringai meski wajahnya pucat.
“Orang kalah biasanya sudah tumbang.”
“Dan aku masih bisa berdiri. Itu prestasi.”


Miya menarik napas dalam, menahan nyeri di bahunya.
Ia mengangguk satu kali, pendek, tegas.

“Kalian bertahan.”
“Itu sudah cukup baik.”
“terutama manusia otak lendir itu.” lirik Miya ke arah Lapuza

Lapuza tersenyum tipis,
“Setidaknya gunung kembar kalian masih aman, semangatku tidak akan hilang .” Balas Lapuza sembari memandang haru ke arah gunung kembar Miya dan Lalena yang masih terlihat bulat padat dan kenyal.

“Kalau Lapuza masih sempat bercanda seperti itu berarti semuanya masih baik-baik saja.” Ucap Lalena dengan senyum bersahabat.

Mereka kemudian menoleh ke depan lorong.

Di ujung sana,
pintu besar dengan ukiran sihir kuno terbuka setengah.

Aura yang keluar bukan lagi hiruk-pikuk perang.

Melainkan kehadiran.

Tekanan yang membuat udara terasa berat di paru-paru.

Lapuza berhenti tertawa.

“…Kurasa,” katanya pelan,
“pemilik rumah akhirnya menunggu.”

Lalena menggenggam tangannya sendiri, berusaha menstabilkan mana.
“Jangan bilang kita pulang sekarang.”

Miya melangkah satu langkah ke depan, darah masih menetes, namun suaranya mantap.

“Tidak.”
“Perang ini belum selesai.”


Mereka berdiri sejajar.

Terluka.
Lelah.
Namun belum tumbang.

Dan di hadapan mereka,
jalan menuju Kavor terbuka sepenuhnya.

Langkah berikutnya akan menentukan segalanya.

Baca Kelanjutan Episode 12 disini...