Judul Novel : Lapuza
- Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari tahun 2030, terjebak di Dunia Penyihir
- Session : 1 (Negeri Penyihir)
- Episode : 11
- Tanggal Rilis : 9 Februari 2026
- Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
- Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
- Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
- Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Pada tahun 2030, ketika kecerdasan buatan sepenuhnya mengambil alih nalar manusia, dunia menjelma menjadi peradaban dingin yang tak lagi memberi ruang bagi kehendak dan makna hidup. Di tengah arus itu, hidup Lapuza runtuh, kariernya terhenti, mimpinya sirna, dan identitasnya tergerus oleh sistem yang memosisikan manusia sekadar pelengkap mesin. Saat ia berada di titik nadir, sebuah peristiwa tak terjelaskan mencabutnya dari realitas dan melemparkannya ke Negeri Penyihir, dimensi asing yang berdiri di atas sihir kuno, artefak legendaris, serta konflik abadi antara terang dan gelap. Terjebak di dunia yang penuh ancaman dan intrik, Lapuza bertahan bukan melalui sihir semata, melainkan kecerdasan, strategi, dan nilai kemanusiaan yang ia bawa dari abad ke-21. Dalam perjalanannya, ia ditemani Putri Lalena yang ceria dan tulus, serta Miya Orina, panglima penyihir berhati dingin dengan empati yang tersembunyi. Bersama mereka, Lapuza terseret ke dalam pusaran takdir, pengkhianatan, dan kesetiaan sebuah perjalanan yang akan menentukan nasib Negeri Penyihir.Istana Kegelapan - Lembah Bintang Retak
Istana Kegelapan milik Kavor di Lembah Bintang Retak bukan sekadar bangunan, melainkan manifestasi kehendak sihir hitam yang menolak tunduk pada hukum dunia. Menara-menara hitamnya menjulang tajam, seolah dipelintir oleh kebencian yang membeku, sementara dinding-dindingnya berdenyut pelan seperti urat hidup yang mengalirkan energi gelap tanpa henti. Setiap batu disatukan bukan oleh semen, melainkan oleh sumpah, pengorbanan, dan jiwa-jiwa yang gagal kembali. Bayangan iblis merayap di permukaannya, berubah bentuk tanpa suara, menandakan bahwa istana itu tidak pernah benar-benar tidur. Dari celah-celah fondasinya, cahaya kegelapan merembes, menyatu dengan retakan Lembah Bintang Retak, seolah istana dan lembah berbagi satu jantung yang sama. Siapa pun yang menatapnya terlalu lama akan merasakan tekanan di dada, peringatan sunyi bahwa tempat ini bukan untuk ditaklukkan, melainkan jalan pintas menuju kematian instan.
EPISODE 11
Istana Kegelapan milik Kavor di Lembah Bintang Retak bukan sekadar bangunan, melainkan manifestasi kehendak sihir hitam yang menolak tunduk pada hukum dunia. Menara-menara hitamnya menjulang tajam, seolah dipelintir oleh kebencian yang membeku, sementara dinding-dindingnya berdenyut pelan seperti urat hidup yang mengalirkan energi gelap tanpa henti. Setiap batu disatukan bukan oleh semen, melainkan oleh sumpah, pengorbanan, dan jiwa-jiwa yang gagal kembali. Bayangan iblis merayap di permukaannya, berubah bentuk tanpa suara, menandakan bahwa istana itu tidak pernah benar-benar tidur. Dari celah-celah fondasinya, cahaya kegelapan merembes, menyatu dengan retakan Lembah Bintang Retak, seolah istana dan lembah berbagi satu jantung yang sama. Siapa pun yang menatapnya terlalu lama akan merasakan tekanan di dada, peringatan sunyi bahwa tempat ini bukan untuk ditaklukkan, melainkan jalan pintas menuju kematian instan.
EPISODE 11
Perang Lembah Bintang Retak
Langit di atas Lembah Bintang Retak tidak sekadar menggelap,
ia terbelah.
Bukan oleh petir.
Bukan oleh badai.
Celah raksasa terbuka di antara awan hitam yang berlapis-lapis, berputar lambat seperti pusaran luka lama yang kembali menganga. Cahaya matahari tidak padam begitu saja—ia ditekan, diperas, hingga tersisa bayangan kelabu yang menggantung rapuh di udara. Langit tampak seolah sedang runtuh… namun terlalu takut untuk benar-benar jatuh.
Angin berhenti.
Daun-daun membeku di udara. Debu tak lagi bergerak. Bahkan gema langkah kaki pun seakan enggan terdengar. Dunia menahan napasnya sendiri, seolah sadar bahwa apa pun yang terjadi setelah ini tidak bisa ditarik kembali.
Keheningan itu terasa berat.
Bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang menunggu kesalahan pertama.
Di hadapan mereka, Istana Kegelapan Kavor berdiri.
Ia tidak tampak seperti bangunan.
Ia tampak seperti bekas luka yang menolak sembuh.
Menara-menara hitamnya menjulang tidak mengikuti logika arsitektur, melainkan logika kebencian, menusuk tajam, seolah dipelintir oleh tangan tak kasatmata. Dindingnya berdenyut perlahan, bukan oleh kehidupan, melainkan oleh sihir gelap yang terus berputar di dalamnya, seperti darah hitam yang tak pernah berhenti mengalir.
Istana itu… terjaga.
Bayangan iblis merayap di sepanjang tembok dan tanah, memanjang lalu menyusut tanpa sumber cahaya yang jelas. Mereka tidak mengaum. Tidak menyerang. Tidak bergerak terburu-buru. Mereka hanya ada untuk mengisi setiap sudut pandang, setiap celah perhatian, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang lupa bahwa
tempat ini bukan milik manusia.
Tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar.
Awalnya pelan. Hampir terasa seperti imajinasi.
Lalu retakan-retakan halus muncul, menjalar di permukaan lembah seperti urat-urat yang bangkit ke permukaan kulit. Dari celah itu memancar cahaya merah keunguan redup, berdenyut perlahan, seirama dengan sesuatu yang bersembunyi jauh di bawah tanah.
Seolah Lembah Bintang Retak bernapas.
Seolah ia sedang menarik keberanian, ketakutan, dan niat membunuh menjadi satu,
lalu menunggu saat yang tepat untuk memuntahkannya kembali.
Tidak ada terompet perang.
Tidak ada teriakan komandan.
Tidak ada kalimat heroik yang bisa dijadikan pegangan.
Semua rencana terasa rapuh di tempat ini.
Semua keyakinan terdengar terlalu keras untuk diucapkan.
Yang tersisa hanyalah jarak pendek di depan mereka,
dan satu batas tak terlihat, tempat dunia berhenti berpura-pura ramah.
Satu langkah diambil.
Tidak serentak.
Tidak dramatis.
Hanya satu langkah… terlalu kecil untuk disebut keputusan, terlalu besar untuk ditarik kembali.
Saat kaki itu melampaui batas Lembah Bintang Retak,
langit meraung, seolah akhirnya diberi izin untuk runtuh.
Sihir meledak dari dalam tanah, menyapu udara seperti gelombang amarah yang lama dipendam.
Bayangan-bayangan iblis bangkit bersamaan, bukan karena perintah, melainkan karena kesepakatan lama yang akhirnya terpenuhi.
Kegelapan tidak lagi menunggu.
Ia menyambut.
Dan tanpa aba-aba, tanpa kehormatan, tanpa kesempatan berpikir ulang,
perang pun dimulai.
Langit di atas Lembah Bintang Retak tidak sekadar menggelap,
ia terbelah.
Bukan oleh petir.
Bukan oleh badai.
Celah raksasa terbuka di antara awan hitam yang berlapis-lapis, berputar lambat seperti pusaran luka lama yang kembali menganga. Cahaya matahari tidak padam begitu saja—ia ditekan, diperas, hingga tersisa bayangan kelabu yang menggantung rapuh di udara. Langit tampak seolah sedang runtuh… namun terlalu takut untuk benar-benar jatuh.
Angin berhenti.
Daun-daun membeku di udara. Debu tak lagi bergerak. Bahkan gema langkah kaki pun seakan enggan terdengar. Dunia menahan napasnya sendiri, seolah sadar bahwa apa pun yang terjadi setelah ini tidak bisa ditarik kembali.
Keheningan itu terasa berat.
Bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang menunggu kesalahan pertama.
Di hadapan mereka, Istana Kegelapan Kavor berdiri.
Ia tidak tampak seperti bangunan.
Ia tampak seperti bekas luka yang menolak sembuh.
Menara-menara hitamnya menjulang tidak mengikuti logika arsitektur, melainkan logika kebencian, menusuk tajam, seolah dipelintir oleh tangan tak kasatmata. Dindingnya berdenyut perlahan, bukan oleh kehidupan, melainkan oleh sihir gelap yang terus berputar di dalamnya, seperti darah hitam yang tak pernah berhenti mengalir.
Istana itu… terjaga.
Bayangan iblis merayap di sepanjang tembok dan tanah, memanjang lalu menyusut tanpa sumber cahaya yang jelas. Mereka tidak mengaum. Tidak menyerang. Tidak bergerak terburu-buru. Mereka hanya ada untuk mengisi setiap sudut pandang, setiap celah perhatian, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang lupa bahwa
tempat ini bukan milik manusia.
Tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar.
Awalnya pelan. Hampir terasa seperti imajinasi.
Lalu retakan-retakan halus muncul, menjalar di permukaan lembah seperti urat-urat yang bangkit ke permukaan kulit. Dari celah itu memancar cahaya merah keunguan redup, berdenyut perlahan, seirama dengan sesuatu yang bersembunyi jauh di bawah tanah.
Seolah Lembah Bintang Retak bernapas.
Seolah ia sedang menarik keberanian, ketakutan, dan niat membunuh menjadi satu,
lalu menunggu saat yang tepat untuk memuntahkannya kembali.
Tidak ada terompet perang.
Tidak ada teriakan komandan.
Tidak ada kalimat heroik yang bisa dijadikan pegangan.
Semua rencana terasa rapuh di tempat ini.
Semua keyakinan terdengar terlalu keras untuk diucapkan.
Yang tersisa hanyalah jarak pendek di depan mereka,
dan satu batas tak terlihat, tempat dunia berhenti berpura-pura ramah.
Satu langkah diambil.
Tidak serentak.
Tidak dramatis.
Hanya satu langkah… terlalu kecil untuk disebut keputusan, terlalu besar untuk ditarik kembali.
Saat kaki itu melampaui batas Lembah Bintang Retak,
langit meraung, seolah akhirnya diberi izin untuk runtuh.
Sihir meledak dari dalam tanah, menyapu udara seperti gelombang amarah yang lama dipendam.
Bayangan-bayangan iblis bangkit bersamaan, bukan karena perintah, melainkan karena kesepakatan lama yang akhirnya terpenuhi.
Kegelapan tidak lagi menunggu.
Ia menyambut.
Dan tanpa aba-aba, tanpa kehormatan, tanpa kesempatan berpikir ulang,
perang pun dimulai.
LOKASI 1
GERBANG ISTANA KEGELAPAN
Miya Orina vs Pasukan Iblis & Penyihir Hitam
Ledakan sihir menjadi salam pembuka perang.
Tanah di depan gerbang Istana Kegelapan terbelah saat seribu penyihir putih muncul dalam formasi tempur rapi, lingkaran demi lingkaran, barisan demi barisan. Tidak ada teriakan pembakar semangat. Tidak ada pidato kepahlawanan.
Di garis terdepan berdiri Miya Orina.
Wajahnya datar. Mata tajam. Aura panglima yang membuat siapa pun lupa caranya bernapas.
Miya mengangkat satu tangan.
Langit menjawab.
Satu lingkaran sihir raksasa terbentuk di atas gerbang, berputar pelan seperti mata dewa yang terbangun.
Lalu,
lingkaran itu berlipat.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Langit bergetar, seakan tak sanggup menanggungnya.
Salah satu penyihir putih menelan ludah.
“…Panglima, itu langit atau pajak alam semesta?”
Miya tidak menoleh.
“Bosi Loppo Mattunue,” ucapnya tenang,
“tingkat dua.”
Sepuluh lingkaran sihir menyala bersamaan.
Hujan bola api jatuh seperti badai kiamat yang tersusun rapi.
Iblis menjerit terbakar.
Penyihir hitam terpental dari tembok.
Gerbang istana meledak setengah runtuh, batu dan api beterbangan.
Namun musuh tidak berhenti.
Dari balik asap, pasukan iblis menerjang.
Penyihir elit Kavor maju, membentuk pertahanan sihir berlapis-lapis.
“PERTAHANAN DEPAN!” teriak salah satu komandan putih.
“Jangan terpecah!”
Miya sudah melangkah maju, pedangnya menyala dilapisi api pekat.
“Dorong,” katanya singkat.
“Aku buka jalannya.”
“SEPERTI BIASA?!”
“YANG BIASA ITU KAMU HAMPIR MATI, PANGLIMA!”
Miya melirik sekilas.
“Hampir mati itu tidak dihitung.”
Pertempuran pun menjalar masuk ke gerbang.
Ledakan demi ledakan mengguncang tanah.
Benturan sihir tingkat tinggi membuat udara berderak.
Iblis jatuh, bangkit, jatuh lagi.
Miya berhadapan langsung dengan beberapa penyihir elit sekaligus. Serangan datang bertubi-tubi, memaksanya bertahan dan menyerang dalam ritme brutal, blok, tebas, bakar, maju satu langkah lagi.
Darah mulai mengalir di lengannya.
Salah satu penyihir putih berteriak panik,
“PANGLIMA, ANDA TERLUKA!”
Miya mengibaskan darah dari tongkat sihirnya yang membentuk sihir pedang.
“Catatan nanti.”
Ia menatap gerbang yang hampir runtuh, api berkobar di sekelilingnya.
“Sekarang,” lanjutnya dingin,
“kita pastikan mereka tidak bangkit lagi.”
Dan dengan langkah berat namun tegap,
Panglima Miya Orina terus maju.
Ledakan sihir menjadi salam pembuka perang.
Tanah di depan gerbang Istana Kegelapan terbelah saat seribu penyihir putih muncul dalam formasi tempur rapi, lingkaran demi lingkaran, barisan demi barisan. Tidak ada teriakan pembakar semangat. Tidak ada pidato kepahlawanan.
Di garis terdepan berdiri Miya Orina.
Wajahnya datar. Mata tajam. Aura panglima yang membuat siapa pun lupa caranya bernapas.
Miya mengangkat satu tangan.
Langit menjawab.
Satu lingkaran sihir raksasa terbentuk di atas gerbang, berputar pelan seperti mata dewa yang terbangun.
Lalu,
lingkaran itu berlipat.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Langit bergetar, seakan tak sanggup menanggungnya.
Salah satu penyihir putih menelan ludah.
“…Panglima, itu langit atau pajak alam semesta?”
Miya tidak menoleh.
“Bosi Loppo Mattunue,” ucapnya tenang,
“tingkat dua.”
Sepuluh lingkaran sihir menyala bersamaan.
Hujan bola api jatuh seperti badai kiamat yang tersusun rapi.
Iblis menjerit terbakar.
Penyihir hitam terpental dari tembok.
Gerbang istana meledak setengah runtuh, batu dan api beterbangan.
Namun musuh tidak berhenti.
Dari balik asap, pasukan iblis menerjang.
Penyihir elit Kavor maju, membentuk pertahanan sihir berlapis-lapis.
“PERTAHANAN DEPAN!” teriak salah satu komandan putih.
“Jangan terpecah!”
Miya sudah melangkah maju, pedangnya menyala dilapisi api pekat.
“Dorong,” katanya singkat.
“Aku buka jalannya.”
“SEPERTI BIASA?!”
“YANG BIASA ITU KAMU HAMPIR MATI, PANGLIMA!”
Miya melirik sekilas.
“Hampir mati itu tidak dihitung.”
Pertempuran pun menjalar masuk ke gerbang.
Ledakan demi ledakan mengguncang tanah.
Benturan sihir tingkat tinggi membuat udara berderak.
Iblis jatuh, bangkit, jatuh lagi.
Miya berhadapan langsung dengan beberapa penyihir elit sekaligus. Serangan datang bertubi-tubi, memaksanya bertahan dan menyerang dalam ritme brutal, blok, tebas, bakar, maju satu langkah lagi.
Darah mulai mengalir di lengannya.
Salah satu penyihir putih berteriak panik,
“PANGLIMA, ANDA TERLUKA!”
Miya mengibaskan darah dari tongkat sihirnya yang membentuk sihir pedang.
“Catatan nanti.”
Ia menatap gerbang yang hampir runtuh, api berkobar di sekelilingnya.
“Sekarang,” lanjutnya dingin,
“kita pastikan mereka tidak bangkit lagi.”
Dan dengan langkah berat namun tegap,
Panglima Miya Orina terus maju.
disamput mayat yang bergeletakan tak beraturan.
LOKASI 2
AULA DEPAN ISTANA
Lalena vs Nur Diana (Pertemuan Kedua)
Di luar istana, pertempuran penyihir hitam dan putih meletus dramatis.
Sementara diarea dalam istana kegelapan, lorong-lorong istana tampak sunyi, terlalu sunyi untuk momentum perang.
Lalena dan Lapuza melaju cepat melalui jalur dalam, melewati pilar-pilar hitam yang berdenyut pelan seperti jantung raksasa. Aura gelap menempel di kulit, membuat napas terasa berat.
Lalu,
langkah mereka terhenti bersamaan.
Aula depan terbuka lebar.
Dan di tengahnya, seseorang sudah menunggu.
Nur Diana berdiri tegak, jubah hitamnya menjuntai seperti bayangan yang hidup. Aura gelapnya pekat, menekan, membuat lantai berderit halus. Tatapannya dingin namun kali ini, tanpa senyum meremehkan.
“Putri Lalena,” ucapnya pelan, suaranya menggema di aula kosong.
“Kita bertemu lagi.”
Lapuza refleks melompat pendek bergeser setengah langkah ke belakang Lalena.
“…Oke, insting bertahan hidupku aktif.”
Ia mencondongkan badan.
“Kita lewat mana?”
Lalena maju satu langkah, cahayanya perlahan menyala.
“Kamu lanjut.”
“Yang ini… tugasku.”
“Apa? Hei...” Lapuza menunjuk dirinya sendiri.
“Aku ini rapuh secara emosional dan fisik, lho!”
Di luar istana, pertempuran penyihir hitam dan putih meletus dramatis.
Sementara diarea dalam istana kegelapan, lorong-lorong istana tampak sunyi, terlalu sunyi untuk momentum perang.
Lalena dan Lapuza melaju cepat melalui jalur dalam, melewati pilar-pilar hitam yang berdenyut pelan seperti jantung raksasa. Aura gelap menempel di kulit, membuat napas terasa berat.
Lalu,
langkah mereka terhenti bersamaan.
Aula depan terbuka lebar.
Dan di tengahnya, seseorang sudah menunggu.
Nur Diana berdiri tegak, jubah hitamnya menjuntai seperti bayangan yang hidup. Aura gelapnya pekat, menekan, membuat lantai berderit halus. Tatapannya dingin namun kali ini, tanpa senyum meremehkan.
“Putri Lalena,” ucapnya pelan, suaranya menggema di aula kosong.
“Kita bertemu lagi.”
Lapuza refleks melompat pendek bergeser setengah langkah ke belakang Lalena.
“…Oke, insting bertahan hidupku aktif.”
Ia mencondongkan badan.
“Kita lewat mana?”
Lalena maju satu langkah, cahayanya perlahan menyala.
“Kamu lanjut.”
“Yang ini… tugasku.”
“Apa? Hei...” Lapuza menunjuk dirinya sendiri.
“Aku ini rapuh secara emosional dan fisik, lho!”
“Aku masih perjaka... Berjalan sendiri ditempat sunyi dan gelap itu tidak baik untuk kesehatan mental pria” ucap Lapuza berusaha membela diri meski terkesan apologi.
Lalena menoleh, senyum kecil muncul tenang, tapi tegas.
“Kalau kamu mati di dalam,” katanya ringan,
“aku nggak punya bahan bercanda lagi.”
Lalena menoleh, senyum kecil muncul tenang, tapi tegas.
“Kalau kamu mati di dalam,” katanya ringan,
“aku nggak punya bahan bercanda lagi.”
“cepat maju....”
Lapuza terdiam sesaat.
“…Itu alasan yang buruk,”
lalu ia mengangguk kecil,
“sepertinya nasib lelaki memang ditakdirkan menderita.”
“untung didunia ini uang bukan segalanya.”
Lapuza terdiam sesaat.
“…Itu alasan yang buruk,”
lalu ia mengangguk kecil,
“sepertinya nasib lelaki memang ditakdirkan menderita.”
“untung didunia ini uang bukan segalanya.”
Nur Diana mengangkat alis tipis.
“Masih sempat bercanda.”
“Menarik.”
Lapuza mundur, lalu berhenti sejenak.
“Jangan kalah, apalagi kehilangan nyawa” katanya cepat.
“Aku nggak tertarik balas dendam.”
“Aku juga nggak tertarik kalah,” sahut Lalena.
Mereka berpisah.
Detik berikutnya,
pertempuran meledak.
Sihir gelap Nur Diana menghantam seperti badai yang dipadatkan, menghancurkan lantai, merobek pilar, menyapu udara dengan tekanan mematikan.
Lalena menghilang,
muncul,
menghilang lagi.
Teleportasinya berkilat patah-patah, muncul di sudut yang mustahil, nyaris terlambat setiap kali.
“KAU TIDAK BELAJAR DARI TERAKHIR KALI?!” teriak Nur Diana.
“Aku belajar!” Lalena membalas sambil menghindari semburan sihir hitam.
“Hanya saja,” bam!
“materinya makin susah!”
Ledakan menghantam sisi aula. Atap runtuh sebagian. Batu besar jatuh, pecah oleh cahaya Lalena di detik terakhir.
Nur Diana meluncur maju, sihirnya berubah bentuk lebih tajam, lebih fokus.
“Kau meningkat,” katanya dingin.
“Tapi belum cukup.”
Lalena terhuyung saat pertahanan cahayanya retak. Ia berteleportasi rendah, berguling, napasnya tersengal.
“Kata semua guru,” gumamnya.
“Setiap. Ujian.”
Dua kekuatan bertabrakan lagi,
cahaya dan kegelapan mengoyak aula, meninggalkan bekas hangus di dinding hitam.
Ledakan besar memisahkan mereka.
Keduanya terpental ke sisi berlawanan.
Debu turun perlahan.
Napas terengah.
Keringat bercampur darah.
Lalena menahan nyeri di bahunya, tersenyum tipis.
“Masih hidup.”
Nur Diana berdiri, jubahnya robek di satu sisi.
“Masih berdiri.”
Meski terlihat seimbang.
Lalena sudah terlihat kewalahan dan mengaktifkan mode darurat tempurnya
Dan di aula yang setengah runtuh itu,
pertarungan kedua mereka baru saja benar-benar dimulai.
LOKASI 3
TENGAH ISTANA
Lapuza vs Rahma Chan
Di jantung Istana Kegelapan, udara terasa lebih padat, seolah sihir di sini tak mengalir, melainkan menekan.
Panglima imut Rahma Chan berdiri santai di tengah aula bundar, tubuh kecilnya diselimuti bayangan tebal yang berdenyut pelan. Tongkatnya menyentuh lantai batu, namun tak ada sikap siap tempur, lebih mirip tuan rumah yang menunggu tamu yang terlambat.
“Akhirnya,” katanya ringan, nyaris ceria.
“Manusia dunia lain.”
Lapuza melangkah masuk, napasnya masih berat berusaha meyakinkan diri bahwa hantu dan iblis tidak semyeramkan apa yang dikatakan live tiktok dan konten youtube.
Di jantung Istana Kegelapan, udara terasa lebih padat, seolah sihir di sini tak mengalir, melainkan menekan.
Panglima imut Rahma Chan berdiri santai di tengah aula bundar, tubuh kecilnya diselimuti bayangan tebal yang berdenyut pelan. Tongkatnya menyentuh lantai batu, namun tak ada sikap siap tempur, lebih mirip tuan rumah yang menunggu tamu yang terlambat.
“Akhirnya,” katanya ringan, nyaris ceria.
“Manusia dunia lain.”
Lapuza melangkah masuk, napasnya masih berat berusaha meyakinkan diri bahwa hantu dan iblis tidak semyeramkan apa yang dikatakan live tiktok dan konten youtube.
Melihat Rahma yang memancarkan aura kebencian seorang wanita yang dibalut senyum tipis,
tanpa meremehkan lawan, Ia kemudian mengangkat tangan, lingkaran sihir muncul otomatis, stabil, rapi, tanpa mantra panjang.
“Kita lewati basa-basi?” katanya sambil melirik sekeliling.
“Aku capek hari ini.”
“Dan jujur saja, istanamu terlalu muram untuk manusia normal.”
“Kita lewati basa-basi?” katanya sambil melirik sekeliling.
“Aku capek hari ini.”
“Dan jujur saja, istanamu terlalu muram untuk manusia normal.”
“Kalau didunia asalku ini disebut tempat uka-uka!.”
Rahma terkekeh kecil.
“Lucu.”
“Biasanya orang terakhir yang berdiri di sini akan segera menghadap alam baka.”
“ihh wow,... tapi Maaf... bagian itu aku tidak tertarik untuk direkomendasikan.” balas Lapuza cepat dengan posisi siaga tempur.
Rahma terkekeh kecil.
“Lucu.”
“Biasanya orang terakhir yang berdiri di sini akan segera menghadap alam baka.”
“ihh wow,... tapi Maaf... bagian itu aku tidak tertarik untuk direkomendasikan.” balas Lapuza cepat dengan posisi siaga tempur.
Detik berikutnya,
pertempuran meledak tanpa aba-aba.
Sihir tingkat tinggi bertabrakan di udara.
Api terkompresi.
Tekanan ruang.
Gelombang panas memantul di dinding istana.
Lapuza melompat, berputar, mendarat dengan satu tangan, lingkaran sihir lain muncul di bawah kakinya, meledak mendorong tubuhnya ke belakang sebelum serangan Rahma menghantam.
“Whoa!”
“Catatan kecil,” teriak Lapuza sambil menghindar,
“kau cepat sekali untuk ukuran...”
Rahma sudah muncul di belakangnya.
“...anak kecil,” lanjut Lapuza cepat sambil menjatuhkan diri ke lantai.
Api hitam menyapu di atas kepalanya, nyaris mematahkan lehernya.
Rahma melayang mundur, wajahnya tetap tenang.
“Tubuh kecil,” katanya santai,
“bukan berarti kemampuan kecil.”
Serangan berikutnya datang bertubi-tubi.
Akrobatik sihir.
Tipuan jarak.
Serangan presisi tanpa pemborosan.
Lapuza bertahan mati-matian, perisainya retak, terbentuk lagi, retak lagi. Namun di balik napas terengahnya, matanya tajam.
Rahma cepat.
Terlalu cepat.
Namun…
terlalu konsisten.
Lapuza meluncur ke samping, membentuk api kecil untuk menutup pandangan, lalu berbisik dalam hati sambil menghitung langkah Rahma.
“…Kau masih menghindar dengan pola,” gumamnya.
“Bukan refleks…”
“tapi penghematan energi seperti pertarungan kita sebelumnya, namun kali ini celahnya lebih tipis.”
Ia menghindari satu serangan lagi, nyaris terlambat dan tersenyum tipis meski keringat dingin mengalir.
“Setiap gerakan,” lanjutnya dalam benak,
“punya jarak aman tetap.”
“Tidak ada improvisasi.”
Rahma berhenti sejenak, berdiri di atas lingkaran bayangan yang tenang. Senyum tipis muncul di wajahnya bukan mengejek, melainkan tertarik.
“Kau memperhatikan hal yang menarik,” katanya.
“Jarang ada yang bertahan cukup lama untuk melihatnya.”
Lapuza terengah, menegakkan tubuhnya.
“Di duniaku,” katanya sambil mengusap darah di sudut bibir,
“yang paling berbahaya bukan yang paling kuat.”
“Tapi yang paling efisien.”
Ia mengangkat tangan lagi. Lingkaran sihir kali ini lebih kecil dan lebih rapat.
Rahma memiringkan kepala.
“Oh?”
Lapuza tersenyum miring.
“Dan efisiensi…”
“…biasanya punya batas.”
Aura di aula mengencang.
Bayangan Rahma bergetar tipis.
Pertempuran belum selesai.
Namun untuk pertama kalinya,
arahnya mulai berubah.
pertempuran meledak tanpa aba-aba.
Sihir tingkat tinggi bertabrakan di udara.
Api terkompresi.
Tekanan ruang.
Gelombang panas memantul di dinding istana.
Lapuza melompat, berputar, mendarat dengan satu tangan, lingkaran sihir lain muncul di bawah kakinya, meledak mendorong tubuhnya ke belakang sebelum serangan Rahma menghantam.
“Whoa!”
“Catatan kecil,” teriak Lapuza sambil menghindar,
“kau cepat sekali untuk ukuran...”
Rahma sudah muncul di belakangnya.
“...anak kecil,” lanjut Lapuza cepat sambil menjatuhkan diri ke lantai.
Api hitam menyapu di atas kepalanya, nyaris mematahkan lehernya.
Rahma melayang mundur, wajahnya tetap tenang.
“Tubuh kecil,” katanya santai,
“bukan berarti kemampuan kecil.”
Serangan berikutnya datang bertubi-tubi.
Akrobatik sihir.
Tipuan jarak.
Serangan presisi tanpa pemborosan.
Lapuza bertahan mati-matian, perisainya retak, terbentuk lagi, retak lagi. Namun di balik napas terengahnya, matanya tajam.
Rahma cepat.
Terlalu cepat.
Namun…
terlalu konsisten.
Lapuza meluncur ke samping, membentuk api kecil untuk menutup pandangan, lalu berbisik dalam hati sambil menghitung langkah Rahma.
“…Kau masih menghindar dengan pola,” gumamnya.
“Bukan refleks…”
“tapi penghematan energi seperti pertarungan kita sebelumnya, namun kali ini celahnya lebih tipis.”
Ia menghindari satu serangan lagi, nyaris terlambat dan tersenyum tipis meski keringat dingin mengalir.
“Setiap gerakan,” lanjutnya dalam benak,
“punya jarak aman tetap.”
“Tidak ada improvisasi.”
Rahma berhenti sejenak, berdiri di atas lingkaran bayangan yang tenang. Senyum tipis muncul di wajahnya bukan mengejek, melainkan tertarik.
“Kau memperhatikan hal yang menarik,” katanya.
“Jarang ada yang bertahan cukup lama untuk melihatnya.”
Lapuza terengah, menegakkan tubuhnya.
“Di duniaku,” katanya sambil mengusap darah di sudut bibir,
“yang paling berbahaya bukan yang paling kuat.”
“Tapi yang paling efisien.”
Ia mengangkat tangan lagi. Lingkaran sihir kali ini lebih kecil dan lebih rapat.
Rahma memiringkan kepala.
“Oh?”
Lapuza tersenyum miring.
“Dan efisiensi…”
“…biasanya punya batas.”
Aura di aula mengencang.
Bayangan Rahma bergetar tipis.
Pertempuran belum selesai.
Namun untuk pertama kalinya,
arahnya mulai berubah.
Duel hebat itu memaksa Lapuza untuk terus bertahan dari serangan Rahma Chan meski tubuhnya kini mulai terluka menghantam dinding istana.
Penyihir Hitam Istana Kegelapan
Berbeda dengan Penyihir Elit Kegelapan Rahma Chan yang terdiri dari pasukan Iblis, Penyihir Hitam yang dipimpin oleh Penyihir Utama Nur Diana merupakan arsip hidup dari dosa dan kejayaan masa lalu yang dipaksa bangkit kembali. Mereka berasal dari mayat-mayat penyihir hebat yang telah lama mati dan legenda masalalu yang jasadnya dibangkitkan melalui sihir terlarang tingkat tertinggi. Kebangkitan itu tidak mengembalikan jiwa mereka sepenuhnya, melainkan menyisakan kesadaran terpotong yang dikunci oleh perintah dan kutukan. Mata mereka kosong, namun sihir yang mengalir di tubuh retak mereka tetap murni dan mematikan, seolah bakat masa lalu menolak lenyap. Di bawah komando Nur Diana, ribuan penyihir kegelapan ini disusun rapi menjaga setiap sudut Istana Kegelapan, berpatroli tanpa lelah, tanpa tidur, tanpa rasa takut. Mereka juga menjadi pasukan tempur utama Kavor baris depan, dilepaskan ke medan perang seperti badai sunyi, menghancurkan musuh dengan teknik sihir kuno yang mematikan.
KEMBALI KE LOKASI 1
Ledakan sihir bertingkat menghantamnya dari tiga arah berbeda, merobek eksistensi batu, mantra pelindung, dan segel kuno sekaligus. Cahaya putih dan hitam bertabrakan, memekakkan langit. Ketika gema itu mereda, yang tersisa hanyalah kawah raksasa berasap, tanah meleleh, dinding hitam ambruk ke dalam, dan retakan merah menyala menjalar seperti urat nadi yang dipaksa terbuka.
Medan depan berubah menjadi neraka.
Mayat penyihir putih dan hitam berserakan, bercampur dengan tubuh iblis yang hangus dan terpotong. Darah mengalir di sela batu, mendesis saat bersentuhan dengan tanah panas. Penyihir hitam tidak lari, mereka melawan dengan kegilaan sunyi, melepaskan kutukan terakhir bahkan saat tubuh mereka runtuh. Setiap langkah maju dibayar mahal; satu mantra dibalas tiga, satu celah ditutup oleh ledakan balasan.
Ratusan penyihir putih masih berdiri.
Jumlah mereka berkurang drastis.
Formasi koyak.
Luka berat di mana-mana.
Namun mereka tidak mundur.
Di garis depan, Miya Orina melangkah lalu tubuhnya goyah. Zirahnya retak, lapisan sihir pelindung robek, darah menetes dari lengan dan rusuknya. Napasnya berat, pandangannya sesaat kabur.
“P-Panglima!” teriak seseorang panik.
“Luka Anda sudah menembus pertahanan!”
Miya menancapkan tongkat sihirnya ke tanah dengan dentang keras, menjadikannya penopang. Ia menunduk sepersekian detik lalu mengangkat kepala, tatapannya tetap dingin, tetap utuh.
“Aku masih bisa berdiri,” katanya datar.
“Itu cukup.”
“Namun musuh masih!”
“Mundur?” Miya memotong, melirik tajam.
“Setelah kita memaksa neraka membuka pintunya?”
Ia berdiri tegak dengan paksa, menyeka darah di dagunya.
“Kalau aku jatuh sekarang,” katanya tenang,
“barisan ini ikut jatuh.”
Keheningan singkat, lalu tekad menyala kembali di wajah pasukannya.
“Sesuai dugaan,” gumam seseorang lirih.
“Panglima kita tidak kenal kata menyerah.”
“Bukan,” jawab Miya tanpa menoleh.
“Ini harga kemenangan.”
Ledakan kembali mengguncang sisi dalam istana. Miya mengangkat pedangnya, memberi isyarat terakhir.
“Formasi bertahan.”
“Kita menang di sini.”
Gerbang telah jebol.
Jalur telah terbuka.
Namun setiap napas Miya Orina kini bukan lagi milik kekuatan,
melainkan hasil dari kehendak yang menolak tumbang.
KEMBALI KE LOKASI 2
KEMBALI KE LOKASI 3
REFLEKSI RAHMA
PERTEMUAN
Berbeda dengan Penyihir Elit Kegelapan Rahma Chan yang terdiri dari pasukan Iblis, Penyihir Hitam yang dipimpin oleh Penyihir Utama Nur Diana merupakan arsip hidup dari dosa dan kejayaan masa lalu yang dipaksa bangkit kembali. Mereka berasal dari mayat-mayat penyihir hebat yang telah lama mati dan legenda masalalu yang jasadnya dibangkitkan melalui sihir terlarang tingkat tertinggi. Kebangkitan itu tidak mengembalikan jiwa mereka sepenuhnya, melainkan menyisakan kesadaran terpotong yang dikunci oleh perintah dan kutukan. Mata mereka kosong, namun sihir yang mengalir di tubuh retak mereka tetap murni dan mematikan, seolah bakat masa lalu menolak lenyap. Di bawah komando Nur Diana, ribuan penyihir kegelapan ini disusun rapi menjaga setiap sudut Istana Kegelapan, berpatroli tanpa lelah, tanpa tidur, tanpa rasa takut. Mereka juga menjadi pasukan tempur utama Kavor baris depan, dilepaskan ke medan perang seperti badai sunyi, menghancurkan musuh dengan teknik sihir kuno yang mematikan.
KEMBALI KE LOKASI 1
GERBANG PORAK-PORANDA
Miya Orina dan Harga Sebuah Kemenangan
Gerbang Istana Kegelapan tidak runtuh.
Ia dilenyapkan.
Miya Orina dan Harga Sebuah Kemenangan
Gerbang Istana Kegelapan tidak runtuh.
Ia dilenyapkan.
Ledakan sihir bertingkat menghantamnya dari tiga arah berbeda, merobek eksistensi batu, mantra pelindung, dan segel kuno sekaligus. Cahaya putih dan hitam bertabrakan, memekakkan langit. Ketika gema itu mereda, yang tersisa hanyalah kawah raksasa berasap, tanah meleleh, dinding hitam ambruk ke dalam, dan retakan merah menyala menjalar seperti urat nadi yang dipaksa terbuka.
Medan depan berubah menjadi neraka.
Mayat penyihir putih dan hitam berserakan, bercampur dengan tubuh iblis yang hangus dan terpotong. Darah mengalir di sela batu, mendesis saat bersentuhan dengan tanah panas. Penyihir hitam tidak lari, mereka melawan dengan kegilaan sunyi, melepaskan kutukan terakhir bahkan saat tubuh mereka runtuh. Setiap langkah maju dibayar mahal; satu mantra dibalas tiga, satu celah ditutup oleh ledakan balasan.
Ratusan penyihir putih masih berdiri.
Jumlah mereka berkurang drastis.
Formasi koyak.
Luka berat di mana-mana.
Namun mereka tidak mundur.
Di garis depan, Miya Orina melangkah lalu tubuhnya goyah. Zirahnya retak, lapisan sihir pelindung robek, darah menetes dari lengan dan rusuknya. Napasnya berat, pandangannya sesaat kabur.
“P-Panglima!” teriak seseorang panik.
“Luka Anda sudah menembus pertahanan!”
Miya menancapkan tongkat sihirnya ke tanah dengan dentang keras, menjadikannya penopang. Ia menunduk sepersekian detik lalu mengangkat kepala, tatapannya tetap dingin, tetap utuh.
“Aku masih bisa berdiri,” katanya datar.
“Itu cukup.”
“Namun musuh masih!”
“Mundur?” Miya memotong, melirik tajam.
“Setelah kita memaksa neraka membuka pintunya?”
Ia berdiri tegak dengan paksa, menyeka darah di dagunya.
“Kalau aku jatuh sekarang,” katanya tenang,
“barisan ini ikut jatuh.”
Keheningan singkat, lalu tekad menyala kembali di wajah pasukannya.
“Sesuai dugaan,” gumam seseorang lirih.
“Panglima kita tidak kenal kata menyerah.”
“Bukan,” jawab Miya tanpa menoleh.
“Ini harga kemenangan.”
Ledakan kembali mengguncang sisi dalam istana. Miya mengangkat pedangnya, memberi isyarat terakhir.
“Formasi bertahan.”
“Kita menang di sini.”
Gerbang telah jebol.
Jalur telah terbuka.
Namun setiap napas Miya Orina kini bukan lagi milik kekuatan,
melainkan hasil dari kehendak yang menolak tumbang.
KEMBALI KE LOKASI 2
AULA DEPAN ISTANA
Lalena Menemukan Celah
Aula depan istana hampir tak lagi menyerupai aula.
Tiang-tiang runtuh setengah, lantai retak membentuk pola sihir kacau, dan udara dipenuhi sisa panas ledakan yang belum sempat mendingin. Setiap tarikan napas terasa berat, bukan hanya oleh asap, tapi oleh tekanan dua kekuatan besar yang terus saling bertabrakan.
Lalena terengah, keringat bercampur darah di pelipisnya. Teleportasinya makin jarang, jedanya makin panjang.
Di seberangnya, Nur Diana berdiri dengan napas teratur, namun sorot matanya mulai kehilangan ketenangan.
“Kau melambat,” ujar Nur Diana dingin.
“Tubuhmu tak sekuat niatmu, Putri.”
Lalena menyeringai tipis.
“Biasanya orang yang ngomong begitu… lagi panik.”
Lalena Menemukan Celah
Aula depan istana hampir tak lagi menyerupai aula.
Tiang-tiang runtuh setengah, lantai retak membentuk pola sihir kacau, dan udara dipenuhi sisa panas ledakan yang belum sempat mendingin. Setiap tarikan napas terasa berat, bukan hanya oleh asap, tapi oleh tekanan dua kekuatan besar yang terus saling bertabrakan.
Lalena terengah, keringat bercampur darah di pelipisnya. Teleportasinya makin jarang, jedanya makin panjang.
Di seberangnya, Nur Diana berdiri dengan napas teratur, namun sorot matanya mulai kehilangan ketenangan.
“Kau melambat,” ujar Nur Diana dingin.
“Tubuhmu tak sekuat niatmu, Putri.”
Lalena menyeringai tipis.
“Biasanya orang yang ngomong begitu… lagi panik.”
“Itu yang kupelajari dari seorang guru masalalu yang membuatku bertahan dan berjuang sejauh ini.”
Serangan datang lagi, gelombang sihir gelap memaksa Lalena mendekat, bukan menghindar. Langkahnya goyah, tapi justru di situlah ia tidak mundur.
Untuk pertama kalinya, Lalena tidak berteleportasi.
Ia menerobos.
Nur Diana sempat terkejut, cukup lama.
Sentuhan itu terjadi.
Jari Lalena menyentuh lengan Nur Diana.
“Tiga detik,” bisiknya pelan.
Udara seperti tersedak.
Lingkaran sihir Nur Diana padam, bukan hancur, tapi terputus, seperti lampu yang dicabut dari sumber listriknya.
“Apa...?!” Nur Diana tersentak.
Lalena mengangkat tangan, napasnya gemetar tapi matanya fokus.
Teleportasi aktif.
Namun kali ini,
bukan tubuh.
Ledakan sihir Nur Diana sendiri, yang baru saja ia siapkan, lenyap, lalu muncul kembali di belakangnya.
Dalam sepersekian detik, Nur Diana menyadari kesalahannya.
“Tidak...!”
BOOOOM!
Aula meledak dari arah berlawanan. Dinding belakang runtuh total, debu dan cahaya menelan segalanya.
Saat debu mengendap, Nur Diana berlutut di lantai retak, satu tangan menahan tubuhnya, napasnya tersengal. Jubahnya hangus di beberapa bagian, bukan fatal, tapi cukup untuk menandai akhir.
Lalena berdiri terhuyung di depannya.
“Catatan kecil,” ucap Lalena sambil terengah,
“aku bisa memindahkan ledakan,...”
“...dan menetralkan sihir dalam 3 detik.”
Nur Diana tersenyum kecil, batuk di tengahnya.
“Kau menang…” katanya lirih,
“…dengan caramu sendiri.”
Lalena menatapnya, ekspresinya melembut.
“Aku tidak ingin membencimu.”
Nur Diana mengangkat wajahnya perlahan, senyum tipis, bukan sinis, bukan pahit.
Hanya tatapan murni dari seorang Guru.
Refleksi - Kenangan yang Tak Pernah Pergi
(Pikiran Nur Diana, sesaat sebelum ia jatuh)
Gelap.
Bukan gelap karena luka,
melainkan karena ingatan yang tiba-tiba membuka pintu lama yang tak pernah benar-benar tertutup.
Nur Diana teringat lorong istana lama, jauh sebelum api hitam, sebelum Kavor, sebelum kebencian.
Seorang gadis kecil berambut merah terang berlari tanpa arah, hampir menabrak tiang marmer.
“Putri!”
“Berjalanlah dengan benar!”
Suara itu,
adalah suaranya sendiri.
Lalena kecil berhenti, menoleh dengan mata bulat, lalu tersenyum lebar seolah baru saja menemukan dunia.
“Kalau aku jalan pelan,” kata Lalena kecil polos,
“aku telat belajar sihir, kan?”
Nur Diana muda mendesah, lalu berlutut agar sejajar dengan tinggi anak itu.
“Belajar sihir bukan soal cepat,” ucapnya tegas.
“Tapi soal kendali.”
Lalena kecil mengerutkan dahi.
“Kendali itu apa?”
Nur Diana terdiam sejenak… lalu meletakkan tangan di dada Lalena.
“Ini,” katanya pelan.
“Kalau hatimu kacau, sihirmu akan berbahaya.”
“Bagi dirimu… dan orang lain.”
Kenangan berganti.
Halaman latihan istana.
Lalena kecil berkali-kali gagal memanggil cahaya.
Lingkaran sihir pecah.
Tangannya gemetar.
“Aku bodoh…” bisik Lalena kecil.
Nur Diana menghardik keras,
namun matanya lembut.
“Jangan pernah mengatakan itu.”
“Kau hanya… terlalu ingin menyenangkan semua orang.”
Ia berdiri di belakang Lalena kecil, membimbing posisi tangan.
“Tarik napas.”
“Dunia tidak akan runtuh jika kau gagal hari ini.”
Cahaya akhirnya muncul, kecil, tapi stabil.
Lalena kecil menoleh, matanya berbinar.
“Guru lihat?!”
Nur Diana tersenyum, senyum yang lama tak ia rasakan lagi.
“Aku selalu melihatmu.”
Kenangan itu retak.
Waktu berjalan.
Lalena tumbuh.
Sihirnya berkembang.
Dan jarak pun terbentuk.
Istana berubah.
Dewan berubah.
Dan Nur Diana… mulai merasa tak lagi punya tempat.
Namun satu hal tak pernah berubah:
Setiap kali Lalena takut,
ia tetap menggunakan sihir yang diajarkan Nur Diana.
Bukan yang paling kuat.
Bukan yang paling mematikan.
Yang paling terkendali.
Nur Diana tersadar.
Serangan terakhir Lalena tadi,
bukan didorong amarah.
Bukan dendam.
Itu…
adalah keputusan.
“Ah…”
Nur Diana tersenyum pahit dalam pikirannya.
“Jadi kau tumbuh seperti ini, Putri.”
Ia mengingat kata-katanya sendiri dulu:
"Jika hatimu tenang, sihirmu akan menemukan jalannya."
Dan kini,
Lalena telah melampauinya.
Cahaya menyelimuti kesadarannya.
Bukan api hitam.
Bukan kebencian.
Melainkan satu pemikiran terakhir yang jujur:
"Aku gagal sebagai penjaga negeri…"
"... tapi aku berhasil sebagai gurumu."
Dan dengan kenangan itu,
Nur Diana jatuh,
bukan sebagai penyihir hitam,
melainkan sebagai guru yang akhirnya merelakan muridnya berjalan lebih jauh.
Serangan datang lagi, gelombang sihir gelap memaksa Lalena mendekat, bukan menghindar. Langkahnya goyah, tapi justru di situlah ia tidak mundur.
Untuk pertama kalinya, Lalena tidak berteleportasi.
Ia menerobos.
Nur Diana sempat terkejut, cukup lama.
Sentuhan itu terjadi.
Jari Lalena menyentuh lengan Nur Diana.
“Tiga detik,” bisiknya pelan.
Udara seperti tersedak.
Lingkaran sihir Nur Diana padam, bukan hancur, tapi terputus, seperti lampu yang dicabut dari sumber listriknya.
“Apa...?!” Nur Diana tersentak.
Lalena mengangkat tangan, napasnya gemetar tapi matanya fokus.
Teleportasi aktif.
Namun kali ini,
bukan tubuh.
Ledakan sihir Nur Diana sendiri, yang baru saja ia siapkan, lenyap, lalu muncul kembali di belakangnya.
Dalam sepersekian detik, Nur Diana menyadari kesalahannya.
“Tidak...!”
BOOOOM!
Aula meledak dari arah berlawanan. Dinding belakang runtuh total, debu dan cahaya menelan segalanya.
Saat debu mengendap, Nur Diana berlutut di lantai retak, satu tangan menahan tubuhnya, napasnya tersengal. Jubahnya hangus di beberapa bagian, bukan fatal, tapi cukup untuk menandai akhir.
Lalena berdiri terhuyung di depannya.
“Catatan kecil,” ucap Lalena sambil terengah,
“aku bisa memindahkan ledakan,...”
“...dan menetralkan sihir dalam 3 detik.”
Nur Diana tersenyum kecil, batuk di tengahnya.
“Kau menang…” katanya lirih,
“…dengan caramu sendiri.”
Lalena menatapnya, ekspresinya melembut.
“Aku tidak ingin membencimu.”
Nur Diana mengangkat wajahnya perlahan, senyum tipis, bukan sinis, bukan pahit.
Hanya tatapan murni dari seorang Guru.
Refleksi - Kenangan yang Tak Pernah Pergi
(Pikiran Nur Diana, sesaat sebelum ia jatuh)
Gelap.
Bukan gelap karena luka,
melainkan karena ingatan yang tiba-tiba membuka pintu lama yang tak pernah benar-benar tertutup.
Nur Diana teringat lorong istana lama, jauh sebelum api hitam, sebelum Kavor, sebelum kebencian.
Seorang gadis kecil berambut merah terang berlari tanpa arah, hampir menabrak tiang marmer.
“Putri!”
“Berjalanlah dengan benar!”
Suara itu,
adalah suaranya sendiri.
Lalena kecil berhenti, menoleh dengan mata bulat, lalu tersenyum lebar seolah baru saja menemukan dunia.
“Kalau aku jalan pelan,” kata Lalena kecil polos,
“aku telat belajar sihir, kan?”
Nur Diana muda mendesah, lalu berlutut agar sejajar dengan tinggi anak itu.
“Belajar sihir bukan soal cepat,” ucapnya tegas.
“Tapi soal kendali.”
Lalena kecil mengerutkan dahi.
“Kendali itu apa?”
Nur Diana terdiam sejenak… lalu meletakkan tangan di dada Lalena.
“Ini,” katanya pelan.
“Kalau hatimu kacau, sihirmu akan berbahaya.”
“Bagi dirimu… dan orang lain.”
Kenangan berganti.
Halaman latihan istana.
Lalena kecil berkali-kali gagal memanggil cahaya.
Lingkaran sihir pecah.
Tangannya gemetar.
“Aku bodoh…” bisik Lalena kecil.
Nur Diana menghardik keras,
namun matanya lembut.
“Jangan pernah mengatakan itu.”
“Kau hanya… terlalu ingin menyenangkan semua orang.”
Ia berdiri di belakang Lalena kecil, membimbing posisi tangan.
“Tarik napas.”
“Dunia tidak akan runtuh jika kau gagal hari ini.”
Cahaya akhirnya muncul, kecil, tapi stabil.
Lalena kecil menoleh, matanya berbinar.
“Guru lihat?!”
Nur Diana tersenyum, senyum yang lama tak ia rasakan lagi.
“Aku selalu melihatmu.”
Kenangan itu retak.
Waktu berjalan.
Lalena tumbuh.
Sihirnya berkembang.
Dan jarak pun terbentuk.
Istana berubah.
Dewan berubah.
Dan Nur Diana… mulai merasa tak lagi punya tempat.
Namun satu hal tak pernah berubah:
Setiap kali Lalena takut,
ia tetap menggunakan sihir yang diajarkan Nur Diana.
Bukan yang paling kuat.
Bukan yang paling mematikan.
Yang paling terkendali.
Nur Diana tersadar.
Serangan terakhir Lalena tadi,
bukan didorong amarah.
Bukan dendam.
Itu…
adalah keputusan.
“Ah…”
Nur Diana tersenyum pahit dalam pikirannya.
“Jadi kau tumbuh seperti ini, Putri.”
Ia mengingat kata-katanya sendiri dulu:
"Jika hatimu tenang, sihirmu akan menemukan jalannya."
Dan kini,
Lalena telah melampauinya.
Cahaya menyelimuti kesadarannya.
Bukan api hitam.
Bukan kebencian.
Melainkan satu pemikiran terakhir yang jujur:
"Aku gagal sebagai penjaga negeri…"
"... tapi aku berhasil sebagai gurumu."
Dan dengan kenangan itu,
Nur Diana jatuh,
bukan sebagai penyihir hitam,
melainkan sebagai guru yang akhirnya merelakan muridnya berjalan lebih jauh.
KEMBALI KE LOKASI 3
TENGAH ISTANA
Kekalahan Rahma Chan - Pola yang Pecah
Lapuza kini benar-benar yakin.
Bukan keyakinan emosional.
Bukan keberanian nekat.
Melainkan kepastian,
seperti saat sebuah persamaan akhirnya menemukan solusi yang tepat.
Ia berdiri terengah, darah menetes dari dagu, bahu kirinya nyaris mati rasa. Namun matanya tajam, terkunci pada Rahma Chan yang masih melayang rendah, tubuh kecilnya diselimuti aura gelap yang mulai bergetar tidak stabil.
“Selama ini…” gumam Lapuza pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri,
“kau tidak bertarung dengan kekuatan.”
“Tapi dengan efisiensi.”
Rahma memiringkan kepala, senyum tipisnya masih bertahan, namun kini lebih hati-hati.
“Oh?”
“Dan itu salah?”
“Tidak,” jawab Lapuza jujur.
“Itu jenius.”
Ia mengangkat tangan kanannya.
Lingkaran sihir merah gelap terbentuk, tidak besar, tidak megah.
Namun rapat.
Padat.
Seperti sistem yang dirancang untuk satu tujuan saja.
“Api Biccu Mallellunge.”
Tidak ada ledakan tunggal.
Puluhan api kecil keluar, seakan menjadi serangan terakhir untuk menyudahi pertempuran,
bukan liar, bukan acak.
Mereka berpikir.
Api-api itu berbelok di udara, menyesuaikan sudut, kecepatan, jarak,
mengejar pola gerak Rahma, bukan tubuhnya.
Rahma tersentak.
Ia menghindar ke kiri,
api berbelok.
Ke kanan,
api menyesuaikan.
Ke atas,
api membagi diri.
“Menarik…” bisiknya, namun nada suaranya mulai tegang.
Satu api menghantam tanah di dekat kakinya.
Tidak melukainya.
Namun menandai.
Api kedua menghantam titik yang sama.
Api ketiga.
Keempat.
Retakan halus muncul di lantai batu,
lalu menjalar ke aura gelap di sekeliling Rahma.
“Ah…”
Rahma akhirnya menyadari.
“Jadi begitu.”
Ia mencoba memusatkan kembali kendali,
namun satu api kecil menghantam titik inti di dadanya.
Bukan keras.
Tepat.
Pola runtuh.
Aura gelap berantakan seperti benang kusut yang dipotong tiba-tiba.
Ledakan-ledakan kecil menyusul, berantai, presisi, tanpa amarah.
Rahma terhempas ke lantai aula.
Debu naik perlahan.
Saat mengendap, Rahma terlihat berlutut, tongkatnya terlepas, napasnya terengah. Tubuh kecil itu gemetar, bukan karena takut, tapi karena sistem yang ia bangun seumur hidupnya… akhirnya gagal.
“…Luar biasa,” ucapnya lirih, jujur, tanpa kebencian.
“Kau tidak mencoba mengalahkanku.”
“Kau memecah caraku berpikir.”
Lapuza menurunkan tangannya, tubuhnya sendiri hampir roboh.
“Aku cuma…”
“…terbiasa memperbaiki sistem yang rusak.”
Rahma tersenyum, senyum yang bukan lagi senyum panglima, melainkan seseorang yang akhirnya menerima hasil akhir.
“Kau belajar cepat.”
“Terlalu cepat.”
Tubuh kecil itu akhirnya tumbang ke lantai batu.
Ledakan-ledakan kecil itu berhenti.
Bukan karena kehabisan daya,
melainkan karena tujuannya sudah tercapai.
Rahma Chan berlutut di lantai aula, satu tangan menahan dada. Aura gelap yang biasanya rapi dan tenang kini retak, terputus-putus seperti aliran mana yang kehilangan jalurnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tersenyum.
Lapuza berdiri beberapa langkah darinya, napas berat, tubuh nyaris menyerah, namun matanya tetap terkunci.
“Kau kalah bukan karena kekurangan kekuatan,” ucap Lapuza pelan.
“Dan bukan karena tubuhmu.”
Rahma mendongak, tatapannya redup namun masih tajam.
“…Lalu kenapa?”
“Karena kau tidak pernah mengubah fondasi,” lanjut Lapuza.
“Kau menyempurnakan sistem lama.”
“Padahal… sistem itu dibuat untuk tubuh yang sehat.”
Ia menunjuk lingkaran sihir merah gelap yang perlahan memudar.
“Tubuhmu kecil. Aliran manamu dibatasi.”
“Jadi kau menghemat.”
“Menyamakan setiap gerakan.”
“Mengulang jalur yang sama agar tidak bocor.”
Rahma terdiam.
Api kecil terakhir dari Api Biccu Mallellunge masih menyala samar di udara,
tepat di titik yang sama yang terus dihantam berulang kali.
“Dan itu kelemahanmu,” kata Lapuza lembut namun pasti.
“Karena setiap sistem efisien…”
“…akan runtuh jika satu titiknya dipukul terus-menerus.”
Rahma tertawa kecil, tertahan, nyaris pahit.
“…Ah.”
Tubuhnya melemas.
Dan saat kesadarannya mulai surut...
Kekalahan Rahma Chan - Pola yang Pecah
Lapuza kini benar-benar yakin.
Bukan keyakinan emosional.
Bukan keberanian nekat.
Melainkan kepastian,
seperti saat sebuah persamaan akhirnya menemukan solusi yang tepat.
Ia berdiri terengah, darah menetes dari dagu, bahu kirinya nyaris mati rasa. Namun matanya tajam, terkunci pada Rahma Chan yang masih melayang rendah, tubuh kecilnya diselimuti aura gelap yang mulai bergetar tidak stabil.
“Selama ini…” gumam Lapuza pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri,
“kau tidak bertarung dengan kekuatan.”
“Tapi dengan efisiensi.”
Rahma memiringkan kepala, senyum tipisnya masih bertahan, namun kini lebih hati-hati.
“Oh?”
“Dan itu salah?”
“Tidak,” jawab Lapuza jujur.
“Itu jenius.”
Ia mengangkat tangan kanannya.
Lingkaran sihir merah gelap terbentuk, tidak besar, tidak megah.
Namun rapat.
Padat.
Seperti sistem yang dirancang untuk satu tujuan saja.
“Api Biccu Mallellunge.”
Tidak ada ledakan tunggal.
Puluhan api kecil keluar, seakan menjadi serangan terakhir untuk menyudahi pertempuran,
bukan liar, bukan acak.
Mereka berpikir.
Api-api itu berbelok di udara, menyesuaikan sudut, kecepatan, jarak,
mengejar pola gerak Rahma, bukan tubuhnya.
Rahma tersentak.
Ia menghindar ke kiri,
api berbelok.
Ke kanan,
api menyesuaikan.
Ke atas,
api membagi diri.
“Menarik…” bisiknya, namun nada suaranya mulai tegang.
Satu api menghantam tanah di dekat kakinya.
Tidak melukainya.
Namun menandai.
Api kedua menghantam titik yang sama.
Api ketiga.
Keempat.
Retakan halus muncul di lantai batu,
lalu menjalar ke aura gelap di sekeliling Rahma.
“Ah…”
Rahma akhirnya menyadari.
“Jadi begitu.”
Ia mencoba memusatkan kembali kendali,
namun satu api kecil menghantam titik inti di dadanya.
Bukan keras.
Tepat.
Pola runtuh.
Aura gelap berantakan seperti benang kusut yang dipotong tiba-tiba.
Ledakan-ledakan kecil menyusul, berantai, presisi, tanpa amarah.
Rahma terhempas ke lantai aula.
Debu naik perlahan.
Saat mengendap, Rahma terlihat berlutut, tongkatnya terlepas, napasnya terengah. Tubuh kecil itu gemetar, bukan karena takut, tapi karena sistem yang ia bangun seumur hidupnya… akhirnya gagal.
“…Luar biasa,” ucapnya lirih, jujur, tanpa kebencian.
“Kau tidak mencoba mengalahkanku.”
“Kau memecah caraku berpikir.”
Lapuza menurunkan tangannya, tubuhnya sendiri hampir roboh.
“Aku cuma…”
“…terbiasa memperbaiki sistem yang rusak.”
Rahma tersenyum, senyum yang bukan lagi senyum panglima, melainkan seseorang yang akhirnya menerima hasil akhir.
“Kau belajar cepat.”
“Terlalu cepat.”
Tubuh kecil itu akhirnya tumbang ke lantai batu.
Ledakan-ledakan kecil itu berhenti.
Bukan karena kehabisan daya,
melainkan karena tujuannya sudah tercapai.
Rahma Chan berlutut di lantai aula, satu tangan menahan dada. Aura gelap yang biasanya rapi dan tenang kini retak, terputus-putus seperti aliran mana yang kehilangan jalurnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tersenyum.
Lapuza berdiri beberapa langkah darinya, napas berat, tubuh nyaris menyerah, namun matanya tetap terkunci.
“Kau kalah bukan karena kekurangan kekuatan,” ucap Lapuza pelan.
“Dan bukan karena tubuhmu.”
Rahma mendongak, tatapannya redup namun masih tajam.
“…Lalu kenapa?”
“Karena kau tidak pernah mengubah fondasi,” lanjut Lapuza.
“Kau menyempurnakan sistem lama.”
“Padahal… sistem itu dibuat untuk tubuh yang sehat.”
Ia menunjuk lingkaran sihir merah gelap yang perlahan memudar.
“Tubuhmu kecil. Aliran manamu dibatasi.”
“Jadi kau menghemat.”
“Menyamakan setiap gerakan.”
“Mengulang jalur yang sama agar tidak bocor.”
Rahma terdiam.
Api kecil terakhir dari Api Biccu Mallellunge masih menyala samar di udara,
tepat di titik yang sama yang terus dihantam berulang kali.
“Dan itu kelemahanmu,” kata Lapuza lembut namun pasti.
“Karena setiap sistem efisien…”
“…akan runtuh jika satu titiknya dipukul terus-menerus.”
Rahma tertawa kecil, tertahan, nyaris pahit.
“…Ah.”
Tubuhnya melemas.
Dan saat kesadarannya mulai surut...
REFLEKSI RAHMA
ISTANA PENYIHIR, PULUHAN TAHUN LALU
Langit istana cerah.
Seorang gadis kecil, lebih kecil dari anak-anak seusianya, berdiri di tengah lingkaran latihan. Nafasnya terengah, tubuhnya gemetar, namun matanya bersinar tajam.
“Ulangi,” suara seorang wanita dewasa terdengar tegas namun hangat.
Sri Rahayu berdiri di tepi lingkaran, tongkat di tangan, tatapannya penuh penilaian.
“Aku… sudah melakukannya dengan benar,” kata Rahma kecil, terengah.
“Benar,” jawab Sri Rahayu.
“Tapi kau mengulang jalur yang sama.”
Rahma kecil mengangkat kepala.
“Itu paling aman.”
Sri Rahayu berlutut di hadapannya, sejajar dengan mata Rahma.
“Benar untuk bertahan,” katanya lembut.
“Tapi tidak untuk melawan dunia.”
Ia menyentuh dada Rahma kecil.
“Tubuhmu rapuh.”
“Itu kenyataan.”
“Tapi jika kau membiarkan ketakutan menentukan caramu bertarung...”
Sri Rahayu tersenyum tipis.
“...kau akan menjadi sangat kuat.”
“Namun juga… mudah dibaca.”
Rahma kecil terdiam.
Di kejauhan, penyihir-penyihir lain berbisik.
“Dia cacat.”
“Tubuhnya tidak normal.”
“Tak pantas di Dewan.”
Rahma kecil menunduk.
Dan di sanalah,
jalan itu mulai bercabang.
KEMBALI KE SAAT INI
Rahma membuka mata perlahan.
Langit-langit aula retak terlihat samar.
“…Guru,” bisiknya lirih.
“Aku memang… tidak pernah mengubah caraku.”
Lapuza berdiri terdiam, tak berkata apa-apa.
Rahma menarik napas panjang, napas yang berat, namun tenang.
“Aku memilih efisiensi sihir.”
“Karena dunia tidak pernah memberiku ruang untuk gagal.”
Ia menoleh ke Lapuza, senyum tipis kembali muncul, kali ini tanpa kesombongan.
“Dan kau…”
“…memberiku lawan yang memukul tepat di tempat yang selalu aku lindungi.”
Tubuh kecil itu akhirnya rebah sepenuhnya.
Bukan karena kebencian.
Bukan karena keputusasaan.
Melainkan karena,
ia kalah oleh seseorang yang berani melakukan apa yang dulu disarankan gurunya:
berubah, meski berisiko.
Aura gelap Rahma Chan pun benar-benar padam.
Dan di jantung Istana Kegelapan,
sebuah pola lama akhirnya berakhir.
Langit istana cerah.
Seorang gadis kecil, lebih kecil dari anak-anak seusianya, berdiri di tengah lingkaran latihan. Nafasnya terengah, tubuhnya gemetar, namun matanya bersinar tajam.
“Ulangi,” suara seorang wanita dewasa terdengar tegas namun hangat.
Sri Rahayu berdiri di tepi lingkaran, tongkat di tangan, tatapannya penuh penilaian.
“Aku… sudah melakukannya dengan benar,” kata Rahma kecil, terengah.
“Benar,” jawab Sri Rahayu.
“Tapi kau mengulang jalur yang sama.”
Rahma kecil mengangkat kepala.
“Itu paling aman.”
Sri Rahayu berlutut di hadapannya, sejajar dengan mata Rahma.
“Benar untuk bertahan,” katanya lembut.
“Tapi tidak untuk melawan dunia.”
Ia menyentuh dada Rahma kecil.
“Tubuhmu rapuh.”
“Itu kenyataan.”
“Tapi jika kau membiarkan ketakutan menentukan caramu bertarung...”
Sri Rahayu tersenyum tipis.
“...kau akan menjadi sangat kuat.”
“Namun juga… mudah dibaca.”
Rahma kecil terdiam.
Di kejauhan, penyihir-penyihir lain berbisik.
“Dia cacat.”
“Tubuhnya tidak normal.”
“Tak pantas di Dewan.”
Rahma kecil menunduk.
Dan di sanalah,
jalan itu mulai bercabang.
KEMBALI KE SAAT INI
Rahma membuka mata perlahan.
Langit-langit aula retak terlihat samar.
“…Guru,” bisiknya lirih.
“Aku memang… tidak pernah mengubah caraku.”
Lapuza berdiri terdiam, tak berkata apa-apa.
Rahma menarik napas panjang, napas yang berat, namun tenang.
“Aku memilih efisiensi sihir.”
“Karena dunia tidak pernah memberiku ruang untuk gagal.”
Ia menoleh ke Lapuza, senyum tipis kembali muncul, kali ini tanpa kesombongan.
“Dan kau…”
“…memberiku lawan yang memukul tepat di tempat yang selalu aku lindungi.”
Tubuh kecil itu akhirnya rebah sepenuhnya.
Bukan karena kebencian.
Bukan karena keputusasaan.
Melainkan karena,
ia kalah oleh seseorang yang berani melakukan apa yang dulu disarankan gurunya:
berubah, meski berisiko.
Aura gelap Rahma Chan pun benar-benar padam.
Dan di jantung Istana Kegelapan,
sebuah pola lama akhirnya berakhir.
PERTEMUAN
LORONG MENUJU RUANG TERAKHIR
Lorong batu itu panjang dan sunyi.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada ledakan.
Hanya suara langkah kaki yang tertahan,
dan napas yang belum pulih.
Miya Orina muncul dari sisi kiri lorong, baju zirahnya hangus di beberapa bagian. Darah mengalir dari bahunya, menetes ke lantai batu, membentuk jejak merah gelap. Namun punggungnya tetap tegak.
Beberapa langkah kemudian, dari arah berlawanan, Lalena hampir tersandung sebelum berhenti. Rambutnya acak-acakan, mantel sihirnya robek, matanya masih menyala namun napasnya berat.
Lapuza menyusul dari belakangnya, satu tangan menekan dada, tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan kelelahan yang akhirnya mengejar.
Mereka berhenti.
Saling menatap.
Sesaat, tidak ada yang bicara.
Lalu Lapuza terkekeh pelan, suara tawanya serak.
“…Kalau ada yang lihat kita sekarang,” katanya, mengusap wajahnya,
“mungkin mereka kira kita rombongan korban perang.”
Lalena mengangkat alis, lalu menyeringai meski wajahnya pucat.
“Orang kalah biasanya sudah tumbang.”
“Dan aku masih bisa berdiri. Itu prestasi.”
Miya menarik napas dalam, menahan nyeri di bahunya.
Ia mengangguk satu kali, pendek, tegas.
“Kalian bertahan.”
“Itu sudah cukup baik.”
Lorong batu itu panjang dan sunyi.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada ledakan.
Hanya suara langkah kaki yang tertahan,
dan napas yang belum pulih.
Miya Orina muncul dari sisi kiri lorong, baju zirahnya hangus di beberapa bagian. Darah mengalir dari bahunya, menetes ke lantai batu, membentuk jejak merah gelap. Namun punggungnya tetap tegak.
Beberapa langkah kemudian, dari arah berlawanan, Lalena hampir tersandung sebelum berhenti. Rambutnya acak-acakan, mantel sihirnya robek, matanya masih menyala namun napasnya berat.
Lapuza menyusul dari belakangnya, satu tangan menekan dada, tubuhnya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan kelelahan yang akhirnya mengejar.
Mereka berhenti.
Saling menatap.
Sesaat, tidak ada yang bicara.
Lalu Lapuza terkekeh pelan, suara tawanya serak.
“…Kalau ada yang lihat kita sekarang,” katanya, mengusap wajahnya,
“mungkin mereka kira kita rombongan korban perang.”
Lalena mengangkat alis, lalu menyeringai meski wajahnya pucat.
“Orang kalah biasanya sudah tumbang.”
“Dan aku masih bisa berdiri. Itu prestasi.”
Miya menarik napas dalam, menahan nyeri di bahunya.
Ia mengangguk satu kali, pendek, tegas.
“Kalian bertahan.”
“Itu sudah cukup baik.”
“terutama manusia otak lendir itu.” lirik Miya ke arah Lapuza
Lapuza tersenyum tipis,
“Setidaknya gunung kembar kalian masih aman, semangatku tidak akan hilang .” Balas Lapuza sembari memandang haru ke arah gunung kembar Miya dan Lalena yang masih terlihat bulat padat dan kenyal.
“Kalau Lapuza masih sempat bercanda seperti itu berarti semuanya masih baik-baik saja.” Ucap Lalena dengan senyum bersahabat.
“Kalau Lapuza masih sempat bercanda seperti itu berarti semuanya masih baik-baik saja.” Ucap Lalena dengan senyum bersahabat.
Mereka kemudian menoleh ke depan lorong.
Di ujung sana,
pintu besar dengan ukiran sihir kuno terbuka setengah.
Aura yang keluar bukan lagi hiruk-pikuk perang.
Melainkan kehadiran.
Tekanan yang membuat udara terasa berat di paru-paru.
Lapuza berhenti tertawa.
“…Kurasa,” katanya pelan,
“pemilik rumah akhirnya menunggu.”
Lalena menggenggam tangannya sendiri, berusaha menstabilkan mana.
“Jangan bilang kita pulang sekarang.”
Miya melangkah satu langkah ke depan, darah masih menetes, namun suaranya mantap.
“Tidak.”
“Perang ini belum selesai.”
Mereka berdiri sejajar.
Terluka.
Lelah.
Namun belum tumbang.
Dan di hadapan mereka,
jalan menuju Kavor terbuka sepenuhnya.
Langkah berikutnya akan menentukan segalanya.
Di ujung sana,
pintu besar dengan ukiran sihir kuno terbuka setengah.
Aura yang keluar bukan lagi hiruk-pikuk perang.
Melainkan kehadiran.
Tekanan yang membuat udara terasa berat di paru-paru.
Lapuza berhenti tertawa.
“…Kurasa,” katanya pelan,
“pemilik rumah akhirnya menunggu.”
Lalena menggenggam tangannya sendiri, berusaha menstabilkan mana.
“Jangan bilang kita pulang sekarang.”
Miya melangkah satu langkah ke depan, darah masih menetes, namun suaranya mantap.
“Tidak.”
“Perang ini belum selesai.”
Mereka berdiri sejajar.
Terluka.
Lelah.
Namun belum tumbang.
Dan di hadapan mereka,
jalan menuju Kavor terbuka sepenuhnya.
Langkah berikutnya akan menentukan segalanya.
.jpg)
.jpg)
.jpg)