Jumat, 26 Desember 2025

LAPUZA Episode 2 - Istana Negeri Penyihir - Manusia Dari Dunia Lain

Judul Novel : Lapuza
  • Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran terjebak di Dunia Penyihir
  • Session : 1 (Negeri Penyihir)
  • Episode : 2
  • Tanggal Rilis : 26 Desember 2025
  • Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
  • Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
  • Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
  • Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Di tahun 2030, Lapuza adalah pemuda jenius yang hidup dalam keterasingan dan keputusasaan, karena kecerdasannya justru menjadikannya terbuang. Hingga suatu peristiwa misterius menyeretnya ke Negeri Penyihir yang sedang sekarat akibat dicurinya Badik Bintang Utara oleh Kavor, Raja Penyihir Kegelapan penguasa dimensi. Dipaksa bertahan hidup tanpa bakat sihir, Lapuza mengandalkan analisis rasional, strategi, dan sikap pantang menyerah. Ia berjuang bersama Putri Lalena yang ceria namun menyimpan kekuatan berbahaya, serta Miya Orina sang panglima tegas. Mereka menghadapi perang besar, konflik masa lalu, pengkhianatan, dan pertarungan epik untuk mengembalikan kestabilan di negeri penyihir tersebut.

RATU RHEANA :
Ratu Rheana merupakan Ratu Negeri Penyihir sekaligus ibu kandung Lalena, sosok pemimpin perempuan yang dihormati karena kebijaksanaan dan ketenangannya dalam setiap keadaan. Dalam situasi krisis yang mengancam kerajaan, ia selalu mampu berpikir jernih, mengambil keputusan tepat, dan berdiri sebagai pemimpin sejati yang melindungi rakyatnya. Aura wibawa alaminya terpancar kuat, bukan dari sikap keras, melainkan dari keteguhan hati dan kepercayaan diri yang matang. Tatapan matanya terlihat lembut, namun menyimpan kekuatan dan ketegasan yang mampu menundukkan siapa pun yang meremehkannya. Secara fisik, Ratu Rheana berambut ungu sebagai ciri khas bangsawan sihir murni, bertubuh tinggi, langsing, dan tampak anggun saat mengenakan mahkota ratu. Dalam hal kemampuan, ia menguasai sihir cahaya tingkat tinggi, memiliki kendali medan sihir yang luas dan presisi, serta kekuatan perlindungan kerajaan yang menjadikannya benteng utama dan simbol keseimbangan Negeri Penyihir.


EPISODE 2
MANUSIA YANG TIDAK TERDAFTAR

P1. Pantai Asing dan Tuduhan Pertama
Lapuza terbaring cukup lama di pasir, memastikan satu hal yang paling penting terlebih dahulu:
ia masih bernapas.

Ia mengangkat tangannya perlahan. Lima jari. Lengkap. Tidak transparan. Tidak tembus cahaya.
“Berarti… belum jadi arwah,” gumamnya pelan, setengah lega, setengah kecewa.

Ia duduk, memegang kepalanya sendiri, lalu menepuk pipinya dua kali.
Plak. Plak.

“Sakit. Oke. Jadi ini bukan surga.”
Ia menoleh ke laut berwarna biru-keperakan yang berkilau seperti logam cair. Langit ungu dengan tiga bulan menggantung tidak bergerak, seolah menatapnya balik.

“…atau mungkin neraka versi kreatif?”

Belum sempat ia menarik kesimpulan lebih jauh, suara siulan melengking memecah udara. Dari kejauhan, beberapa sosok meluncur cepat anak-anak muda mengenakan jubah pendek, sepatu tinggi, dan pakaian yang terlalu menggoda iman atau terlalu tidak praktis untuk dunia nyata.

Mereka terbang di atas sapu sihir.

Lapuza terdiam.

Otak rasionalnya mencoba bekerja.
Oke. Ada tiga kemungkinan.
Satu: aku bermimpi.
Dua: aku mati.
Tiga: ini event crossover game yang terlalu niat atau server wibu jepang!.


Salah satu penyihir berhenti mendadak di udara saat melihatnya.
“HEY! Ada orang aneh di pantai!”

“Orang aneh?” Lapuza menunjuk dirinya sendiri. “Aku lebih suka disebut ‘Pengungsi Rohingya’.”

Beberapa penyihir langsung membentuk formasi melingkar, tongkat sihir diarahkan padanya. Cahaya hijau dan ungu berdenyut di ujung tongkat.

“Dia tidak memakai lambang kerajaan mana pun!”
“Pakainya juga aneh!”
“Rambutnya gelap! Mata asing!”


Lapuza mengangkat kedua tangan refleks.
“Tunggu, tunggu. Kalau ini soal fashion, aku juga sadar aku kalah jauh.”

Tidak ada yang tertawa.

Salah satu penyihir berbisik tegang,
“Dia bisa jadi makhluk terlarang.”

Makhluk terlarang…
Lapuza terkejut sembari mengingat nasehat Pesulap Merah idolanya di tiktok.

P2. Terbang Menuju Istana Arcilune, Tanah Leluhur Bissuta
Tanpa sempat membela diri lebih jauh, Lapuza diborgol bukan oleh rantai besi, melainkan dua lingkar cahaya yang mengunci pergelangan tangannya. Dingin dan ringan, seolah udara memutuskan ikut campur dalam hidupnya.

“Wah,” gumamnya pelan.
“Teknologi penangkapan ramah lingkungan nih..” ekspresinya tersenyum sinis sembari membayangkan penangkapan polisi konoha yang membabi buta dengan puluhan tembakan hanya untuk menangkap maling ayam.

Ia dibawa naik ke sebuah kereta kristal yang melayang di udara. Transparan, berkilau, dan dengan percaya diri mengabaikan semua hukum fisika yang pernah ia pelajari. Begitu kakinya meninggalkan tanah, perutnya langsung bergejolak terasa tidak setuju, rasanya mirip pesawat merah berlogo singa yang pernah ia tumpangi.

Kereta melaju.

Di bawahnya, dunia berubah menjadi pemandangan yang membuat mulutnya menganga: hutan bercahaya, menara-menara yang melayang tanpa penyangga, dan sungai yang mengalir ke arah yang salah seolah itu hal paling wajar di dunia.

Lapuza menelan ludah.

“Kalau ini mimpi,” gumamnya,
“otakku pasti sedang bekerja terlalu keras.” gumamnya sabil membayangkan anggota dewan digedung parlemen.

Ia menoleh ke dalam kereta. Beberapa penyihir wanita duduk di seberangnya. Jubah mereka berkibar tertiup angin, terlalu tipis, terlalu terbuka, dan jelas tidak dibuat dengan mempertimbangkan keselamatan mental pria lajang.

“Sungguh pemandangan yang indah,” ucapnya dalam hati melihat dua bola lembek didada milik para penyihir wanita cantik itu yang mengayun kenyal membius iman.

Matanya refleks turun.

Berhenti.

Naik lagi dengan cepat.

Tenang. Hidupku sudah cukup rumit tanpa mati karena salah fokus.

“Ehm,” katanya berusaha terdengar santai, “kereta ini jalan pakai mesin apa?”

Salah satu penyihir menatapnya dengan ekspresi datar.
“Jalan? Mesin?”

“Iya,” Lapuza mengangguk. “Didorong apa? Mesin Airbus? Boeing? Tenaga sihir? Doa bersama? Atau cukup yakin saja?”

Hening.

Beberapa pasang mata menatapnya seolah ia baru saja bertanya kenapa Api itu Panas dan Salju itu dingin.

“Oh,” katanya pelan sambil mengangguk sendiri.
“Maaf. Pertanyaan dari dunia yang terlalu banyak teori minim aksi.”

Ia tersenyum kecil. Salah tempat bicara lagi.

Tiba-tiba kereta berguncang ringan.

Salah satu penyihir kehilangan keseimbangan, condong ke depan, dan...

DUM.

Wajah Lapuza langsung tertanam di sesuatu yang empuk, hangat, dan sama sekali tidak bersahabat bagi jantung manusia normal.

Dunia berhenti.

Pikiran kosong.

“…….”

“MAAF!” seru penyihir itu panik sambil mundur, wajahnya memerah total.

Lapuza terduduk, hidungnya merah, napasnya berat, seolah tersandung kasus berat namun nikmat.

Ia mengangkat tangan perlahan, seolah menyerah pada nasib.

“Aku tidak tahu ini ujian apa,” katanya lirih,
“tapi aku yakin aku tidak lulus… dengan bermartabat.”

Tawa meledak di dalam kereta. Beberapa penyihir sama sekali tidak berusaha menahan diri, bahkan membiarkan gunung kebar mereka bergoyang tanpa rasa bersalah.

Kereta kembali stabil.

Lapuza menyandarkan kepala ke dinding kristal, menatap langit ungu di luar.

Di balik borgol cahaya, situasi aneh, dan godaan berbahaya yang jelas tidak pernah ia minta, ada sesuatu yang bergetar di dadanya.

Bukan takut.

Melainkan rasa ingin tahu yang lama terkubur…
dan kini hidup kembali.

P3. Putri Lalena
Kekacauan Berwujud Manusia

Kereta kristal akhirnya melambat dan mendarat mulus di halaman Istana Arcilune. Borgol cahaya di tangan Lapuza masih terpasang, berkilau tenang seolah mengingatkannya bahwa ia belum resmi aman.

Ia menuruni kereta sambil menatap sekeliling.

Istana itu menjulang seperti pahatan cahaya menara kristal berkilau, taman luas dengan bunga bercahaya, dan udara yang terasa terlalu bersih untuk ukuran tempat penahanan.

“Wah,” gumamnya pelan.
“Penjara ini niat banget desainnya.”

Belum sempat ada yang menjawab...

BOOM!

Ledakan cahaya keemasan menyembur dari sisi taman, mengguncang udara dan membuat beberapa penyihir refleks mengangkat tongkat mereka.

“Awas!”
“Pelindung istana!”


Dari balik asap cahaya terdengar suara panik seorang gadis.

“MAAF! AKU KESELIP MANTRA LAGI!”

Lapuza membeku.

“…LAGI?”

Asap perlahan menipis, memperlihatkan seorang gadis berambut merah terang, bertubuh indah langsing dengan gunung kebar XL yang seakan menonjol padat berusaha keluar dari sarangnya . Gaunnya berkilau, pipinya sedikit kotor oleh sisa ledakan, tapi ekspresinya sama sekali tidak terlihat menyesal.

Justru… ceria.

Tanpa ragu, gadis itu melangkah cepat, terlalu cepat dan berhenti tepat di depan Lapuza.

Sangat dekat.
Terlalu dekat.
Hingga gunung kembarnya memantul pelan membungkam denyut jantungnya.

Ia menatap Lapuza tanpa berkedip.

Mendekat setengah langkah.

Lapuza refleks mundur setengah langkah juga, tapi borgol cahaya menahannya.

Oke. Ini jarak aman versi siapa?

“Wow,” ujar gadis itu dengan nada kagum tulus.
Ia mengangguk pelan, serius.
“Ibu! Aku nemu makhluk baru!”

Semua penyihir langsung tegang.

“PUTRI...”

“Wajah cukup lumayan, dapat poin enam” lanjutnya cepat.
“Rambutnya beda! Bajunya aneh!”

“Makhluk…?” Lapuza mengulang lemah.

Gadis itu bertepuk tangan, wajahnya bersinar.

“Dia pasti pangeran dari negeri jauh yang tersegel!”
Ia mencondongkan tubuh, matanya berbinar tepat di depan wajah Lapuza.
“Atau calon suamiku!”

Kekacauan langsung pecah.

“PUTRI LALENA! JAGA UCAPAN!”
“MOHON MENJAUH!”
“ITU TAHANAN!”


Lapuza melirik borgol di tangannya.

"Tahanan… tapi langsung lompat ke calon suami."
"Cepat juga budaya sini." 
gumam Lapuza sembari mengingat mahalnya uang panaik ditanah kelahirannya.

Lalena sama sekali tidak peduli. Ia berputar mengelilingi Lapuza, mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Posturnya aneh.”
Ia memiringkan kepala. “Tapi mukanya lumayan.”

“Hei,” Lapuza menyela. “Aku bisa dengar.”

“Oh bagus!” jawab Lalena ceria.
“Berarti bukan hewan.”

Terima kasih. Aku tersentuh.

Tanpa aba-aba, Lalena meraih tangan Lapuza tepat di atas borgol cahaya.

“PUTRI! ITU BERBAHAYA!”

“Tenang saja,” kata Lalena santai.
Ia menatap Lapuza lurus-lurus.
“Kamu orang jahat?”

Lapuza terdiam sejenak.

“…Aku lebih sering jahat ke diriku sendiri.”

Lalena membeku.

Lalu...

“WAH!”
Matanya makin bersinar.
“Jujur!”

Ia bertepuk tangan lagi. “Aku suka!”

Lapuza memalingkan wajah sedikit, berbicara dalam hati.

Oke.
Kereta terbang, borgol cahaya, penyihir meledak, lalu langsung dilamar.


Kalau aku mati…
…ini jelas bukan surga.


tapi ini kekacauan yang cukup menyenangkan.

Dan entah kenapa, ia punya firasat kuat...
bahwa gadis bernama Putri Lalena ini akan menjadi masalah terbesar dalam hidup barunya atau justru sebaliknya.

P4. Miya Orina
Ketegasan yang Mengintimidasi

Udara tiba-tiba berubah dingin.

Bukan karena sihir yang terlihat, melainkan karena kehadiran seseorang yang membuat semua suara mereda. Tawa para penyihir terhenti. Lalena yang masih bersemangat pun mendadak diam.

Langkah kaki terdengar mantap di atas lantai kristal.

Seorang wanita berseragam militer memakai topi penyihir berdiri di hadapan mereka. Rambutnya hitam keabu-abuan menjuntai seirama. Bahunya tegap dengan gunung kembar yang tak kalah berisi, tatapannya tajam, posturnya tegap lurus dengan lekukan pinggulnya melengkung indah bagai seluncuran surga, menatap tajam namun bukan jenis tatapan yang marah, melainkan tatapan yang sudah terlalu sering melihat kekacauan dan lelah menoleransinya.

Miya Orina.

Tanpa ekspresi, ia menatap Lapuza dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang menilai senjata asing yang berpotensi berbahaya.

“Putri,” katanya singkat.
“Menjauh.”

Lalena membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya kembali. Wajahnya manyun, tapi kakinya tetap melangkah mundur.

Wah. Ini levelnya beda, batin Lapuza.

Miya mengangkat tongkatnya sedikit, tidak mengancam, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ia bisa melenyapkannya dalam sekejap.

“Identitasmu.”

Lapuza menghela napas pelan.
“Namaku Lapuza.” ucap Lapuza sembari meraba kantong mencari KTP yang mungkin ikut terbawa.

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan jujur.
“Aku juga ingin tahu aku siapa di dunia ini.”

Miya menyipitkan mata.

“Jawaban yang mencurigakan.”

“Ya,”
Lapuza mengangguk kecil.
“Aku juga curiga sama hidupku sendiri.”

Tidak ada senyum.
Tidak ada tawa.

Hanya tatapan dingin yang menekan, menimbang setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Namun anehnya, tekanan itu terasa… familiar.

Seperti duduk di ruang wawancara kerja.
Seperti berdiri di hadapan orang-orang yang sejak awal memutuskan ia tidak layak.
Seperti dunia lama yang selalu menilainya dari luar.

Lapuza menegakkan bahunya sedikit.

Seperti biasa, ia tidak melawan.
Tidak juga mundur.

Ia hanya berdiri di sana,
menghadapi penilaian,
menunggu keputusan,
dan bersiap menerima apa pun yang datang.

P5. Aula Singgasana
Kristal yang Menolak Takdir
Tanpa memberi kesempatan untuk bantahan lebih jauh, Miya Orina menurunkan tongkatnya sedikit dan memberi isyarat singkat kepada para penyihir istana.

“Bawa dia.”

Borgol cahaya di tangan Lapuza kembali berkilau lembut, menuntunnya melangkah maju. Lalena hendak mendekat, namun satu tatapan Miya sudah cukup membuatnya berhenti.

“Putri, ikut.”

Lalena tersenyum lebar, seolah ini ajakan jalan-jalan.
“Baik!”

Istana Arcilune berdiri seperti makhluk hidup. Dinding kristalnya berdenyut pelan, memantulkan cahaya berwarna biru dan emas yang berubah setiap kali seseorang melangkah. Lapuza berjalan di antara para penyihir dengan perasaan campur aduk, takjub, gugup, dan geli pada dirinya sendiri.

Jadi beginilah rasanya jadi MC penting, pikirnya.
Datang tanpa tutorial, langsung dibawa ke bos terakhir.

Langit-langit aula menjulang tinggi, dipenuhi simbol sihir yang bergerak perlahan seperti konstelasi hidup. Pilar-pilar kristal berdiri kokoh, namun transparan, seolah istana ini menolak konsep “menyembunyikan apa pun”.

Di ujung aula, sebuah singgasana cahaya berdiri megah.

Di sanalah Ratu Rheana duduk.

Rambut ungu violet jatuh tenang menggulung di bahu, wajahnya anggun tanpa terlihat rapuh. Ia tidak perlu berdiri untuk membuat semua orang menunduk. Kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat udara terasa berat namun bukan menekan, melainkan menenangkan.

Lapuza berhenti beberapa langkah sebelum singgasana.

Ia refleks membungkuk… lalu berhenti setengah jalan.

“…Maaf,” gumamnya pelan, “kalau di dunia saya, posisi ini biasanya disertai soundtrack tegang.”

Lalena menoleh cepat.
“Sound… track?”

Miya mendesah pelan.
“Putri, abaikan. Makhluk ini berbicara dalam bahasa yang tidak jelas seperti nasibnya”

Ratu Rheana justru tersenyum tipis.
“Biarkan. Aku ingin mendengarnya.”

Oh tidak. Dia tertarik!.

Seorang penyihir maju membawa Bola Kristal Identifikasi, sebuah benda bulat bening dengan cahaya lembut berputar di dalamnya. Aura dari kristal itu terasa… cerdas, seolah sedang menilai dunia.

“Kami akan memeriksa asal, afiliasi, dan jejak takdirmu,” ujar Ratu Rheana lembut namun tegas.
“Sentuhlah.”

Lapuza menatap kristal itu cukup lama.

Oke. Tarik napas.
Kalau ini seperti fingerprint scanner, semoga dataku tidak corrupt.

Ia menoleh ke Lalena.
“Kalau ini meledak, tolong bilang aku orang baik.”

Lalena mengangguk serius.
“Aku janji! Aku bahkan akan menangis dramatis!”

Miya menambahkan dingin,
“Aku tidak.”

Lapuza tersenyum kecil, lalu menyentuhkan ujung jarinya ke kristal.

Awalnya, tidak terjadi apa-apa.

Lalu kristal itu menyala terang.

Cahaya di dalamnya berputar semakin cepat, tidak membentuk simbol, lambang kerajaan, atau warna afiliasi mana pun. Polanya kacau. Tidak konsisten. Seolah kristal itu… kebingungan.

Lapuza bisa merasakannya.

Seperti sistem yang mencoba membaca file dengan format yang tidak dikenal.

“Eh…?” Lalena condong ke depan.
“Biasanya langsung keluar warna.”

Miya menyipitkan mata.
“…Ini tidak normal.”

Kristal mulai bergetar.

Retakan halus muncul di permukaannya, tipis, seperti rambut, namun menyebar cepat.

Lapuza refleks menarik tangannya.
“Eh, eh, eh.. aku cuma pegang, bukan ngapa-ngapain!”

Detik berikutnya...

KRAAAAK!!!

Bola Kristal Identifikasi PECAH BERKILAU, pecahannya melayang di udara sebelum menguap menjadi cahaya.

Keheningan jatuh.

Tidak ada teriakan.
Tidak ada reaksi.

Semua penyihir membeku seolah waktu berhenti.

Lalena menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“…Aku belum pernah lihat itu.”

Miya berdiri kaku.
Tangannya refleks menggenggam tongkat.

Lapuza menatap telapak tangannya sendiri.

“…Oke,” katanya pelan, “ini jelas bukan fitur tambahan.”

Ratu Rheana bangkit perlahan dari singgasananya.

Setiap langkahnya membuat cahaya aula berdenyut.

Ia menatap Lapuza lama bukan dengan curiga, bukan dengan takut, melainkan dengan minat mendalam.

“Kau,” ucapnya akhirnya,
“…bukan berasal dari dunia ini.”

Lapuza menghela napas panjang.

“Syukurlah,” katanya jujur.
“Kirain tubuhku yang rusak.”

Lalena spontan menunjuknya.
“IBU! Dia mengakui dirinya rusak!”

Miya menggeleng.
“Entah kenapa… aku mulai paham.”

Ratu Rheana tersenyum lebih jelas sekarang.
Namun di balik senyum itu, matanya bersinar tajam seperti seseorang yang baru saja menemukan potongan puzzle yang hilang selama ratusan tahun.

“Kristal tidak pecah,” katanya pelan,
“kecuali jika ia dipaksa membaca sesuatu yang tidak tercatat oleh dunia.”

Ia menatap pecahan cahaya yang tersisa.

“Dunia ini… tidak mengenalmu.”
“Dan itu berarti...”


Ratu berhenti sejenak.

Seluruh aula menahan napas.

“...kau bisa menjadi anugerah.”
“Atau malapetaka.”


Lapuza menelan ludah, namun tetap tersenyum kecil.

“…Kalau boleh memilih,” katanya,
“aku ingin jadi orang berguna. Sekali saja.” ucap Lapuza pelan membayangkan ratusan penolakan lamaran kerjanya didunia nyata.

Lalena menatapnya, ekspresinya tiba-tiba serius.
Miya juga tidak berkata apa-apa.

Dan jauh di balik aula kristal itu...
di tempat yang tidak terlihat siapa pun...

sesuatu yang gelap bergerak.

Kabut hitam berdenyut pelan.

Seolah sebuah nama… baru saja dipanggil.

BERSAMBUNG KE EPISODE 3

Baca Kelanjutan Episode 3 disini... 

Tulis Komentar FB Anda Disini...