Minggu, 04 Januari 2026

LAPUZA Episode 5 - Miya Orina Pimpin Pelatihan Perdana Lapuza

Judul Novel : Lapuza
  • Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari tahun 2030, terjebak di Dunia Penyihir
  • Session : 1 (Negeri Penyihir)
  • Episode : 5
  • Tanggal Rilis : 5 Januari 2026
  • Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
  • Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
  • Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
  • Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Berlatar tahun 2030, hidup Lapuza hancur seketika ketika dominasi teknologi AI menyingkirkan nilai kecerdasan manusia, merenggut karier, mimpi, serta identitasnya di dunia modern, hingga pada saat ia benar-benar berada di titik nadir, sebuah peristiwa misterius menyeretnya ke Negeri Penyihir, dunia lain yang berdiri di atas kekuatan sihir, artefak kuno, dan pusaran konflik besar antara kekuatan terang dan kegelapan, memaksanya bertahan hidup bukan hanya mengandalkan sihir, melainkan dengan nalar, strategi, dan keteguhan manusia abad ke-21, demi menemukan kembali arti keberadaannya sekaligus menentukan masa depan dunia penyihir yang berada di ambang kehancuran; dalam perjalanan ini ia ditemani dua tokoh penting, Putri Lalena yang ceria, kocak, dan tulus meski ceroboh, serta Miya Orina, panglima penyihir berkepribadian dingin namun diam-diam penuh kepedulian, menjadikan petualangan Lapuza sarat drama, konflik batin, pengkhianatan, kesetiaan, dan perjuangan nasib.

Sekilas Tentang Negeri Penyihir...
Negeri Penyihir didirikan oleh Bissuta yang menurut catatan sejarah buku kuno Negeri Penyihir, Bissuta berasal dari dimensi kekal yang memiliki kemampuan sihir luar biasa, Bissuta kemudian membangun peradaban Negri Penyihir di atas prinsip keseimbangan antara rasio dan kekuatan sihir, menciptakan hukum, struktur kerajaan, serta artefak penopang dunia yang paling agung di antaranya adalah Badik Bintang Utara. Artefak ini berfungsi sebagai jangkar realitas, menstabilkan aliran mana dan mencegah runtuhnya dimensi. Sejak saat itu, Negeri Penyihir berkembang menjadi pusat pengetahuan, pelatihan sihir putih, dan penjaga keseimbangan antar dunia.

Namun kejayaan itu tidak pernah benar-benar tanpa retakan. Seiring berjalannya abad, perbedaan pandangan tentang kebebasan, kekuasaan, dan takdir mulai memecah tatanan istana. Bangkitnya faksi penyihir hitam menandai era baru konflik ideologis, di mana sihir tak lagi dipandang sebagai amanah, melainkan alat pembebasan dan dominasi. Puncaknya terjadi ketika Kavor, putra mahkota yang terbuang, mencuri Badik Bintang Utara dan membunuh ayahnya sendiri, memicu perang terbesar dalam sejarah negeri. Sejak saat itu, keseimbangan dunia sihir terguncang, batas dimensi melemah, dan Negeri Penyihir memasuki masa senja menunggu seseorang yang mampu mengembalikan harmoni, bukan dengan sihir semata, tetapi dengan pilihan dan pengorbanan.


EPISODE 5
Panglima Miya Orina Pimpin Pelatihan Perdana Lapuza.
Hutan Barombong - Api yang Lahir dari Ketulusan

P1. Pagi yang Tidak Sulit - 
Kebiasaan dari Tahun 2030
Pagi datang dengan tenang di Istana Arcilune negeri Leluhur Bissuta, disertai cahaya lembut yang menembus jendela kristal dan menyapu lantai marmer. Tidak ada teriakan, tidak ada alarm sihir, hanya keheningan yang terasa terlalu rapi bagi seseorang seperti Lapuza.

Bagi Lapuza, bangun pagi bukanlah sesuatu yang sulit bahkan cenderung otomatis, meskipun Lapuza tidak pernah bergantung pada siklus jam atau waktu, jika lapar makan, jika ngantuk tidur tapi jika ada janji pantang untuk tidak ditepati kapanpun itu.

Di tahun 2030, ia terbiasa hidup dengan tidur dua hingga empat jam saja. Bangun tepat waktu jika ada janji, bergerak cepat, berpikir tajam. Ia bisa bekerja dengan presisi nyaris mekanis tergantung kesanggupan tubuh, seperti mesin yang dipaksa berfungsi tanpa henti. Lalu pulang, menatap langit-langit kamar kos, dan tidur kembali, bukan hanya karena lelah, melainkan karena tidak ada lagi yang bisa diharapkan.

Bukan karena malas.
Justru karena terlalu sadar.

Ia tahu, sekeras apa pun ia berusaha, dunia itu tidak memberinya ruang. Maka satu-satunya hal yang masih bisa ia pegang hanyalah ketepatan waktu. Ironis, namun jujur.

“Kalau gagal,” gumamnya sambil merapikan pakaian istana yang masih terasa asing di tubuhnya,
“setidaknya jangan terlambat. Biar kelihatannya profesional saat gagal.”

Ia menghela napas, lalu membuka pintu kamar.

Dan hampir langsung menabrak seseorang.

Lapuza refleks mundur setengah langkah.

Di lorong berdiri Miya Orina, tegak, rapi, bersenjata lengkap, ekspresi serius seperti hendak memimpin pasukan ke medan perang. Rambut hitam peraknya diikat ketat, tatapannya lurus ke depan.

“Empat menit lebih cepat,” katanya datar, tanpa menoleh.

Lapuza berkedip dua kali.

“…Kamu berdiri di sini buat menghitung detik aku keluar kamar?”

Miya melirik jam kristalnya sekilas.
“Sudah lima belas menit.”

“Lima belas menit?”
Lapuza menoleh ke kiri dan kanan lorong yang kosong.
“…Kamu menunggu sendirian?”

“Ini tugasku.”

“Menunggu orang?”
Lapuza mengangguk kagum, membayangkan satpam kompek yang sering ditemuinya saat pagi hari didunia asalnya.
“Dedikasi tingkat dewa.”

Miya berdeham pelan dan memalingkan wajah. Telinganya sedikit memerah.

“Disiplin adalah dasar kekuatan,” katanya kaku.

Lapuza menatapnya beberapa detik lalu pandangannya tanpa sengaja turun sedikit, menyadari betapa pas dan rapi seragam Miya melekat di tubuhnya, terutama dibagian dada dan pinggul yang telihat cukup terbuka dengan kain ketat yang berusaha menopang sesuatu yang empuk dan besar.

Cantik juga… eh, fokus, fokus. masih pagi bro...

Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, berusaha mengamankan otak liarnya.

“…Oke, pertanyaan penting,” katanya sambil mengangkat tangan setengah.
“Kita belum perang, kan?”

Miya menoleh.
“Belum.”

“Oh, syukurlah.”
Lapuza menghela napas lega.
“Aku belum siap mati pagi-pagi.” ujar Lapuza sembari mengingat penanganan pasien BPJS di dunia asalnya.

“Kau terlalu santai.” tegur Miya

“Aku menyebutnya manajemen stres,” jawab Lapuza santai.
“Kalau aku tegang terus, nanti jadi susah mati, terutama yang dibawah.”

Miya mendengus pelan hampir tidak terdengar, berusaha mengabaikan.

“Hanya kau,” katanya, “yang bisa berbicara soal kematian sambil terlihat… santai.” balas Miya pura-pura gagal paham.

Lapuza tersenyum kecil.
“Pengalaman.” gumam Lapuza "efek jomblo stadium akhir"

Miya. Hening, sedikit tersinggung.

Sesaat, lorong kembali sunyi. Namun kali ini, sunyi itu tidak terasa canggung.

Tanpa mereka sadari, pagi itu menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar,
latihan, konflik, dan ikatan yang perlahan terbentuk.

Dan bagi Lapuza,
untuk pertama kalinya sejak tahun 2030,
bangun pagi tidak terasa hambar dan sia-sia.

P2. Perjalanan ke Desa - Awal Kedekatan yang Canggung
Rombongan kecil itu berangkat saat matahari baru saja naik dari balik perbukitan. Cahaya pagi menyapu jalan tanah yang membelah padang rumput, menciptakan bayangan panjang para pengawal kerajaan yang berjalan dengan formasi rapi. Meski dikawal pasukan elite, suasana perjalanan tidak terasa seperti misi militer.

Tidak ada terompet.
Tidak ada aba-aba keras.

Hanya suara langkah kaki, derap kuda, dan angin pagi yang membawa aroma tanah basah, aroma yang terasa sangat nyata bagi Lapuza. Terlalu nyata untuk dunia yang masih ia anggap mimpi.

Ia berjalan di samping Miya Orina, sedikit di belakang, sedikit di samping, posisi yang canggung, seperti dua orang yang belum sepakat apakah mereka teman, atasan-bawahan, atau sekadar rekan senasib.

Miya memandang ke depan, wajahnya tenang namun sorot matanya berubah saat sebuah desa kecil mulai terlihat di kejauhan.

“Desa itu,” katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasanya,
“tempat aku lahir.”

Lapuza menoleh, menatap deretan rumah kayu sederhana yang dikelilingi ladang dan pagar rendah.

“Oh.”
Ia mengangguk kecil.
“Jadi ini kampung halaman panglima legendaris.”

Miya berhenti melangkah.

“…Jangan panggil aku begitu.”

“Baik.”

Lapuza berpikir sejenak.
“Panglima Muka Datar.”

Sikut Miya hampir mengenai tulang rusuknya.

“Hampir,” katanya cepat.

“Hampir mati?”
Lapuza terkekeh.
“Catat itu sebagai kemajuan.”

Miya mendengus, lalu kembali berjalan. Namun beberapa detik kemudian, ia berbicara lagi tanpa menoleh.

“Aku bukan anak yang kuat.”

Nada suaranya berubah. Tidak lagi kaku, tidak lagi militeristik.

“Aku sering sakit. Sihirku lemah. Bahkan berjalan jauh saja membuatku pingsan saat kecil.”

Lapuza menahan diri untuk tidak bercanda.

Ia membiarkan Miya berbicara.

“Aku sering bersembunyi di belakang rumah saat anak-anak lain berlatih sihir.”
“Dan ketika perang besar pecah… aku masih anak yang tidak bisa apa-apa. Hanya bisa bersembunyi dan menyaksikan banyak nyawa melayang.”


Langkah Miya melambat.

“Kedua orang tuaku…”
ia terdiam sejenak,
“…gugur saat mencoba melindungi warga desa.”

Angin pagi berhembus lebih kencang.

Lapuza menatap jalan di bawah kakinya.

“…Maaf,” katanya singkat, jujur.

Miya mengangguk kecil.

“Aku ikut kompetisi sihir,” lanjutnya,
“bukan untuk jadi kuat.”
“Tapi karena aku tidak ingin melihat siapa pun berdiri sendirian… seperti mereka.”


Lapuza menghela napas pelan.

“Di duniaku,” katanya,
“orang dengan latar belakang seperti kamu biasanya jadi tokoh utama.”

Miya menoleh, alisnya sedikit berkerut.

“Lalu kau apa?”

Lapuza tersenyum miring.

“Figuran spekulatif.”
“Baru dipakai di season dua karena rating naik.”


Hening sesaat.

Lalu,
Miya tersenyum.

Bukan senyum panglima.
Bukan senyum resmi.

Senyum kecil, cepat, dan nyaris tak disadarinya sendiri.

Lapuza melihatnya.

Dan untuk sepersekian detik, pikirannya melayang ke arah yang tidak penting.

Wah… kalau dia senyum begini, bahaya juga.

Ia segera menggeleng kecil, mengusir pikirannya sendiri.

“Tenang,” gumamnya dalam hati, sembari mengusir pesona Miya yang mulai mengusik naluri lelakinya.
“fokus latihan. Jangan mati. Jangan jatuh cinta. Prioritas.”

Desa semakin dekat.

Dan tanpa mereka sadari,
perjalanan ini bukan hanya menuju tempat latihan,

melainkan awal dari ikatan yang akan diuji oleh darah, api, dan pilihan yang tidak dapat ditarik kembali.

P3. Desa Kelahiran - Hangat yang Hampir Terlupakan
Begitu rombongan memasuki gerbang desa, suasana berubah seketika.

Langkah para pengawal melambat. Suara percakapan terhenti. Lalu, seperti air yang menemukan jalannya, warga mulai berdatangan dari segala arah, orang tua dengan tongkat kayu, anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki, para pemburu yang baru kembali dari hutan dengan busur masih tergenggam.

“Panglima Miya!”
“Kau benar-benar pulang!”
“Kami dengar kau sekarang di istana!”


Sorakan kecil bercampur senyum dan tawa bahagia mengisi udara.

Miya Orina berhenti melangkah.

Tubuhnya yang biasanya tegap di medan perang kini kaku seperti prajurit yang lupa aba-aba. Tangannya terangkat setengah, lalu turun lagi, seolah tidak tahu harus melambaikan tangan atau memberi hormat.

“Ah...”
“Selamat pagi,”
katanya akhirnya, terlalu formal untuk desa sekecil ini.

Beberapa warga tertawa kecil.

Lapuza berdiri di sampingnya, menahan senyum.

Ia mencondongkan badan dan berbisik,
“Kamu kelihatan seperti mau kabur.”

“Aku lebih nyaman di medan perang,” jawab Miya pelan, tanpa menoleh.

“Oh.”
Lapuza mengangguk serius.
“Berarti ini zona bahaya yang sebenarnya.”

Miya meliriknya tajam.

“Jangan macam-macam.”

“Aku cuma observasi sosial.”
Ia menambahkan pelan,
“Dan kamu kelihatan… imut kalau gugup.”

Miya tersedak napasnya sendiri.

“J-jaga ucapanmu!”

Namun wajahnya memerah.

Beberapa warga kini menatap Lapuza dengan rasa ingin tahu. Tatapan mereka beralih dari rambutnya, ke pakaiannya, lalu ke ekspresinya yang terlalu santai untuk situasi ini.

“Dia siapa?” tanya seorang ibu setengah berbisik.

Miya menjawab terlalu cepat.
“Mu.. eh… tamu istana.”

“Tamu?”
Seorang pemburu berambut uban menyipitkan mata.
“Kelihatannya bukan penyihir.”

“Bukan juga prajurit,” tambah yang lain.

“Lebih seperti…”
“…tukang cabut rumput istana,”
gumam pemburu pertama.

Lapuza menoleh sambil tersenyum tipis.

“…Aku dengar itu.”

Beberapa orang terkejut.
Lalu tertawa.

“Dia lucu,” kata seorang anak kecil polos.

Miya menutup wajahnya dengan telapak tangan.

“Maafkan dia,” katanya cepat.
“Dia...”

“...produk gagal dunia lain,” potong Lapuza ringan.
“Tapi fungsinya masih diuji.”

Miya menghela napas.

“Kenapa aku ditugaskan melatih orang seperti ini…” gumamnya.

Lapuza mendekat sedikit, suaranya direndahkan.

“Karena kamu orang baik.”
“Atau karena semesta ingin menguji kesabaranmu.”


Miya menoleh, siap membalas,
namun mendapati Lapuza tersenyum tulus.

Ia memalingkan wajah.

“…Kita tidak lama di sini,” katanya akhirnya pada warga.
“Hanya singgah.”

Warga tersenyum hangat.

“Singgah atau tidak, kau selalu punya rumah di sini, Panglima.”

Miya terdiam.

Lapuza melihatnya.

Dan tanpa berpikir panjang, ia berkata ringan,
“Tenang saja. Kalau kamu malu disambut begini...”

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“...aku bisa pura-pura jadi pasanganmu biar mereka fokus ke gosip lain.”

SUARA RIUH MELEDAK.

Miya membeku.

“Apa...?!”
Ia langsung menarik kerah baju Lapuza.
“JANGAN bicara sembarangan!”

“Aduh...aku cuma strategi sosial!”
“Di duniaku ini efektif!”


Warga tertawa lebih keras.

Miya ingin menghilang.

Namun jauh di dalam hatinya,
di balik rasa malu dan kesal,

ada kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.

Dan itu membuat langkahnya ke depan terasa… sedikit lebih ringan.

P4. Hutan Barombong - Latihan yang Tidak Ramah
Hutan Barombong tidak menyambut siapa pun.
Pepohonan menjulang rapat, dedaunan tebal menutup cahaya matahari, dan udara terasa lebih berat, seolah setiap tarikan napas harus meminta izin terlebih dahulu. Tanahnya lembap, penuh jejak binatang, dan sunyinya bukan sunyi damai, melainkan sunyi yang mengamati.

Inilah tempat warga berburu.
Dan belakangan, tempat mereka mulai mati.

Miya berdiri di depan Lapuza, tongkatnya tertancap di tanah.

“Latihan dimulai di sini,” katanya tegas.
“Kalau kau bisa mengendalikan mana di tempat ini, kau bisa bertahan di mana pun.”

Lapuza menelan ludah.
“…Tidak ada lapangan rumput cerah dengan musik motivasi?”

“Tidak.”

“Tidak ada hitung mundur yang dramatis?”

“Tidak.”

“…Aku merasa tertipu.”


Miya menghela napas pendek.

“Mantra dasar. Fokus. Sirkulasi mana.”

Lapuza mengangguk serius.
Ia memejamkan mata, mengangkat tangan, dan mulai merasakan sesuatu yang asing seperti aliran hangat yang tidak mau diatur.

Di kepalanya, otak 2030 langsung bekerja.

Mana adalah energi.
Energi punya arus.
Arus butuh tekanan.
Tekanan memicu reaksi.
Reaksi menghasilkan output.


“Kalau begitu…” gumamnya,
“ini cuma sistem tertutup dengan variabel liar.”

Lingkaran sihir muncul di udara.

Miya membuka mata sedikit lebih lebar.
“Itu benar...”

BOF.

Lingkaran itu meledak kecil, menyisakan asap hitam dan bau gosong.

Lapuza terbatuk.

Ia mengibaskan tangan.
“Setidaknya ada reaksi.” ucapnya membayangkan kelistrikan motor didunia asalnya.

Miya menutup mata.
“Tarik napas.”
“Kau terlalu berpikir.”

“Aku literally hidup dari berpikir.”

“Itu masalahnya.”

Ia mencoba lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.

Kadang lingkarannya muncul miring.
Kadang warnanya salah.
Kadang hanya bunyi pop menyedihkan seperti balon bocor.

Namun… ada kemajuan.

Lingkaran itu kini bertahan lebih lama.
Ledakannya lebih kecil.
Asapnya… sedikit lebih wangi.

Miya memperhatikannya diam-diam.

“Mana-mu tidak liar,” katanya akhirnya.
“Hanya… mengabaikan perintah.”

Lapuza membuka mata.
“Mirip aku.”

Miya menoleh.
“…Hmph.”

Ia berdehem, lalu mendekat sedikit untuk membetulkan posisi tangan Lapuza.

“Pergelanganmu terlalu tegang.”

Tangannya menyentuh pergelangan Lapuza, dingin, pasti, dan profesional.

Namun Lapuza langsung kaku.

“…Ini bagian latihan, kan?” tanya Lapuza sambil berusaha memalingkan pandangan dari gunung kembar Miya yang putih mulus, empuk menggumpal padat dan menyengat iman.

“Iya.”


“Oke. Aku tanya karena...”
Ia melirik sekilas.
“...aku jarang disentuh perempuan cantik yang kelihatan bisa mematahkan tulang leherku.”

Miya langsung menarik tangan sembari mengamankan gunung kembarnya yang terlihat menganga.

“Fokus!”

Wajahnya memerah.

“Kalau kau mati karena tidak fokus, itu bukan kesalahanku!”

Lapuza tertawa kecil.
“Tenang. Aku justru termotivasi.”

Ia mencoba lagi.

Lingkaran sihir kali ini stabil… selama tiga detik penuh.

Miya mengangguk pelan.

“Kau belajar,” katanya.
“Pelan, tapi kau tidak menyerah.”

Lapuza terengah, keringat bercampur tanah di wajahnya.

“Di duniaku,” katanya sambil duduk di akar pohon,
“yang cepat belajar biasanya langsung dipakai.”
“Yang lambat… dibuang.”


Miya diam sejenak.

“Di sini,” katanya akhirnya,
“yang bertahan… dilatih.”

Lapuza tersenyum tipis.

Dan saat itulah,

DAAARRGHH!!

Teriakan pecah dari dalam hutan.

Seekor burung terbang panik.
Dedaunan berguncang.
Tanah bergetar pelan tidak wajar.

Miya langsung siaga.

“Itu bukan latihan,” katanya tajam.

Lapuza berdiri refleks.
“Kalau ini ujian dadakan, aku mau protes.”

Dari balik pepohonan,
tiga pemburu berlari terpincang-pincang.

“Panglima!”
“Serigala...!”
"Gerak-geriknya berbeda dari serigala pada umumnya..."

Satu dari mereka jatuh tersungkur.
Darah mengalir deras dari pahanya.

Lapuza membeku.

Ini bukan simulasi.
Ini bukan game.
Ini bukan dunia aman.

Ini… nyata.


Miya menghunus tongkatnya, aura pelindung langsung menyelimuti tubuhnya.

“Evakuasi yang terluka!”
“Pengawal, formasi!”


Lapuza menatap tangannya sendiri.

Masih gemetar.
Masih belum siap.

“…Aku baru belajar bikin asap,” gumamnya.

Namun langkahnya tetap maju.

Karena untuk pertama kalinya,
seseorang di depannya
tidak boleh ia biarkan berdiri sendirian.

P5. Kekacauan - Serigala Bermata Merah
Teriakan itu memecah hutan seperti kaca retak.

“SERIGALA...!!”

Tiga pemburu menerobos semak dengan wajah pucat, napas mereka terputus-putus. Mata mereka membelalak bukan karena takut semata, tapi karena tubuh mereka sudah hampir menyerah. Darah menetes di sepanjang jalur tanah yang mereka lewati.

Satu dari mereka tersandung akar pohon.

Tubuhnya terhempas keras.

Darah mengalir deras dari pahanya terkoyak, bukan tergigit biasa.

“Bawa dia!” teriak Miya.

Pengawal segera bergerak. Dua orang mengangkat tubuh pemburu itu, satu lagi berusaha menghentikan pendarahan dengan sihir dasar.

Namun…
terlambat.

Napas itu berhenti di tengah jalan.

Hutan kembali sunyi.

Sunyi yang menusuk.

Lapuza berdiri kaku, otaknya menolak menerima apa yang baru saja terjadi. Tangannya gemetar, bukan karena lelah tapi karena satu kesadaran sederhana yang baru menabraknya.

Ini bukan latihan.

“Ini…” suaranya pecah,
“…ujian awal semester kah?”

Miya tidak menoleh.

“Bukan,” jawabnya dingin.

Dan seolah dunia menunggu kalimat itu,

GERAMAN rendah menggema dari segala arah.

Dari balik pepohonan, mata-mata merah menyala satu per satu. Bukan satu. Bukan dua. Tapi banyak. Terlalu banyak untuk disebut kebetulan.

Serigala-serigala itu muncul perlahan, tubuh mereka lebih besar dari serigala biasa. Otot menegang tidak wajar. Bulu hitam mereka seperti diserap bayangan.

Lapuza mundur selangkah.

“…Oke,” gumamnya cepat,
“aku tarik semua komentar bercanda tadi.”

“Formasi bertahan!” perintah Miya.

Pengawal maju, perisai sihir terbentuk. Benturan pertama terjadi begitu cepat-cakar menghantam penghalang dengan kekuatan yang membuat tanah bergetar.

Satu pengawal terpental.

Yang lain jatuh berlutut.

Darah.

“Ini tidak normal!” teriak salah satu dari mereka.

Miya menggertakkan gigi.

“Kekuatan mereka tidak wajar,” katanya keras.
“Ini sihir hitam!”

Ia melompat ke depan, tongkatnya berpendar. Angin berputar, menghantam tiga serigala sekaligus dan melemparkan mereka ke batang pohon.

Namun dua serigala lain langsung menerobos celah.

Pengawal berteriak kesakitan.

Lapuza melihatnya.

Kakinya ingin lari.
Otaknya ingin bersembunyi.

Namun tubuhnya… membeku.

Di kepalanya, ingatan tahun 2030 berputar,
berita tentang orang-orang yang mati di jalan,
komentar dingin di kolom media,
kalimat yang selalu sama:

Bukan urusan kita.

“T-tunggu,” katanya gugup,
“ini bagian di mana aku seharusnya pingsan, kan?”

Tidak ada yang menjawab.

Miya berbalik ke arahnya.

“Lapuza!”
“Tetap fokus...!”


Terlambat.

Seekor serigala melompat langsung ke arah Lapuza.

Waktu terasa melambat.

Ia melihat mata merah itu.
Melihat taringnya.
Melihat bayangan kematian yang terlalu dekat.

“…Serius,” gumamnya panik,
“aku belum menikah dan ....”

BRAKK!!

Serigala itu terpental, Miya menghantamnya tepat waktu, tapi dampaknya membuat dirinya terseret dan menghantam tanah.

“Miya!” teriak Lapuza.

Ia melihat darah mengalir dari lengan Miya.
Melihat napasnya berat.
Melihat panglima yang selalu berdiri tegak… kini terhuyung.

Serigala-serigala itu tidak berhenti.

Mereka justru maju lebih rapat.

Lapuza menelan ludah.

Tangannya masih gemetar.
Namun langkahnya maju.

“Ini bodoh,” gumamnya.
“Ini sangat bodoh.”

Ia mengangkat tangan.

Mantra dasar.
Fokus.
Sirkulasi mana.


Kata-kata itu berputar di kepalanya, bertabrakan dengan rasa takut.

Lingkaran sihir muncul… lalu goyah.

“Jangan sekarang,” katanya hampir memohon.
“Sekali saja dengarkan aku.”

Serigala meraung.

Masih dalam posisi panik mematung.
Lingkaran sihir aneh terbetuk dari tangan Lapuza, dan...

ZUMMM!

ledakan sihir keluar berhamburan tak beraturan, membabibuta seisi hutan dan mengenai beberapa srigala.  

Para penyihir lainnya berusaha membantu dan mengimbangi, dan...

Hutan Barombong,
akhirnya benar-benar berubah menjadi medan perang.

P6. Desa Diserang - Mundur yang Terpaksa
Puluhan serigala telah tumbang.

Tubuh-tubuh hitam berserakan di tanah hutan, darah gelap meresap ke akar-akar pohon Barombong. Napas pasukan tersengal, tongkat sihir retak, dan beberapa pengawal terpaksa berlutut menahan luka.

Miya berdiri paling depan, bahunya berdarah, napasnya berat namun matanya tetap tajam.

“Cukup,” perintah Miya akhirnya.
“Kita mundur.”

Lapuza menoleh kaget.
“Mundur?”

“Ini bukan kemenangan,” tegas Miya.
“Ini jebakan.”

Seolah menjawab kata-katanya, lolongan panjang menggema dari dalam hutan.

Bukan satu.
Bukan dua.

Puluhan.

Ratusan dan terus bertambah.

Lapuza menelan ludah.
“…Aku mulai rindu hidup gagal tapi aman di 2030.”

Miya menoleh cepat.
“Lari. Sekarang.”

Mereka bergerak mundur ke desa, membawa yang terluka, membentuk formasi pelindung seadanya. Serigala-serigala tersisa tidak mengejar dengan liar, mereka mengikuti… teratur, seperti pasukan yang menunggu aba-aba.

Itu yang paling mengerikan.

Saat mereka tiba di desa, warga langsung panik melihat kondisi rombongan.

“Ada apa di hutan?!”

“Sihir hitam,” jawab Miya singkat.
“Semua orang bersiap bertahan.”

Barikade didirikan tergesa-gesa. Pintu dikunci. Anak-anak disembunyikan.

Lapuza membantu sebisanya, mengangkat kayu, menopang orang terluka, walau tangannya masih gemetar.

“Catatan penting,” gumamnya pada Miya,
“aku tidak pernah daftar jadi NPC korban invasi monster.”

“Diam,” balas Miya.
“Tapi… terima kasih sudah membantu.”

Ia menunduk sedikit malu, tapi tulus.

Lalu,

Tanah bergetar.

Dari balik pepohonan di tepi desa, gelombang hitam muncul.

Lebih banyak.

Jauh lebih banyak.

Serigala-serigala bermata merah menyerbu dari segala arah, lolongan mereka bercampur dengan jeritan warga. Barikade kayu hancur seketika.

“Bertahan di balai desa!” teriak Miya.
“Jangan biarkan mereka masuk ke tengah!”

Ia maju lagi.

Meski tubuhnya sudah kelelahan.

Meski pasukannya telah berkurang.

Dan di sanalah, di tengah kobaran api dan debu,

Miya Orina kembali bertarung seperti badai.

Hingga akhirnya…

Raja Serigala muncul.

Hingga Akhirnya… Raja Serigala Muncul

Tanah bergetar.

Dari balik asap, darah, dan reruntuhan rumah desa,
seekor bayangan raksasa melangkah keluar.

Raja Serigala.

Tubuhnya menjulang, hampir setinggi rumah warga.
Bulu hitamnya pekat, menyerap cahaya api di sekeliling.
Mata merahnya tidak liar,
melainkan dingin, sadar, dan penuh niat membunuh.

Simbol sihir hitam berdenyut di dahinya.

Miya menegang.

“Itu… pusatnya,” katanya singkat.
“Sumber kekuatan mereka.”

Tanpa menunggu korban berjatuhan dan tanpa ragu, Miya maju dan memulai serangan besar dengan menargetkan pusat sihir didahinya.

Benturan pertama mengguncang desa.

Lingkaran sihir beradu dengan cakar Raja Serigala.
Cahaya sihir putih menyala, memotong udara.
Tanah terbelah.
Atap rumah runtuh.

Untuk sesaat,
Miya menahan Raja Serigala.

Namun sesaat saja.

Cakar itu bergerak lebih cepat dari perkiraannya.
Satu tebasan menyusup di sela pertahanan.

Darah muncrat.

Tubuh Miya terlempar, menghantam tanah dengan suara berat.

“MIYA!”

Lapuza berteriak sebelum pikirannya sempat menyusul.

Miya terkapar.
Napasnya tersengal.
Luka cakar menganga di perutnya, darah mengalir tanpa henti.

Raja Serigala melangkah mendekat.

Satu langkah.
Dua langkah.

Para pengawal mencoba bergerak,
namun terlambat, terlalu jauh, terlalu lemah.

Lapusa yang melihat Miya terhempas dengan luka yang menganga, mencoba memaksakan langkah kakinya yang kaku menghampiri.

“Jangan…” Miya berbisik lemah.
“Lapuza… lari…”

Namun Lapuza sudah bergerak.

Ia tahu itu berbahaya.
Ia tahu dirinya tidak siap.
Ia tahu peluang hidupnya nyaris nol.

Namun di detik itu,
sesuatu dari tahun 2030 bangkit kembali.

Hari-hari ketika ia tetap datang tepat waktu
meski tahu tidak akan dihargai.
Malam-malam ketika ia terus mencoba
meski sistem selalu menolaknya.

Naluri yang tidak pernah menang,
tapi tidak pernah berhenti.

“Kali ini…,” gumamnya sambil berdiri di depan Miya,
“aku tidak akan mundur.”
"aku sudah terbisa dalam posisi berbahaya"

Kakinya gemetar.
Tangan dingin.
Jantung seperti mau meledak.

Raja Serigala menggeram.

Lapuza membuka tangan, berdiri dengan tubuh sendiri sebagai penghalang.

“Aku tidak tahu caranya,” katanya lirih,
“tapi… tolong.”

Ia mencoba melafalkan mantra.
Salah.
Napasnya tersedak.
Kata-kata berantakan.

Api kecil muncul, lalu padam.

Raja Serigala melompat.

Di saat itu...

Lapuza berteriak, bukan mantra,
melainkan keputusasaan yang jujur.

Lingkaran sihir menyala.

Tidak rapi.
Tidak sempurna.
Namun nyata.

Panas membanjiri udara.
Api menyembur keluar, liar, besar, tak terkendali.

Energi sihir yang luar biasa keluar tak terbendung, tanpa mantra melainkan dari titik akhir kepasrahan.

Semburan api bergelombang ukuran besar mengantam tubuh Raja Serigala hingga terpental menerjang rumah warga.

Serigala-serigala di sekitarnya terbakar seketika.

Raja Serigala tumbang dengan luka bakar disekujur tubuhnya hingga tak mampu bangkit lagi.

Lapuza terjatuh berlutut, napas terengah.

Miya menatapnya dari tanah,
mata terbuka lebar.

“…Kau…,” bisiknya,
“…tidak lari.”

Lapuza tersenyum lemah.
“Maaf… telat nyadar.”

Di atas mereka,
api masih membara.

Dan untuk pertama kalinya,
kekuatan Lapuza menjawab ketulusan, bukan kemampuan.

P7. Fakta yang Mengancam Dunia
Miya terbangun di balai penyihir desa saat senja hampir habis.

Aroma ramuan menyengat.
Cahaya sihir penyembuhan berpendar pelan di langit-langit kayu.

Tubuhnya terasa berat, setiap tarikan napas masih menyisakan nyeri.

Di samping ranjang,
Lapuza terduduk lemas, punggungnya bersandar ke dinding, mata setengah terpejam.
Bajunya masih bernoda darah dan jelaga.

Miya menggerakkan jarinya sedikit.

Lapuza langsung tersentak.

“Kau…,” suara Miya serak,
“…melakukannya.”

Lapuza menggaruk pipinya pelan.
“Aku cuma… panik.”
“Kayaknya otakku kepencet tombol darurat.”


Miya tidak tersenyum.

Ia menatap langit-langit, lalu berkata pelan namun tegas-

“Api itu… bukan kebetulan.”
“Lingkaran sihirmu tidak terbentuk seperti mantra biasa.”


Lapuza menoleh.
“Maksud kamu… aku salah baca tutorial?”

Miya menggeleng perlahan.

“Tidak.”
“Justru sebaliknya.”
ucap mia sambil tersenyum haru.

Ia memejamkan mata sesaat, seolah mengumpulkan keberanian.

“Serigala itu…”
“bukan sekadar makhluk yang dirasuki sihir hitam.”


Lapuza menahan napas.

“Itu bisa jadi bagian dari proyek perluasan wilayah.”
“Eksperimen lapangan.”


Nada suara Miya mengeras.

“Penyihir hitam…”
“dan para iblis…”
“dipimpin langsung oleh Kavor.”


Nama itu jatuh berat di ruangan.

“Desa ini,” lanjut Miya,
“hanya satu titik kecil.”
“Jika dibiarkan, seluruh Negeri Penyihir Putih akan dipenuhi makhluk seperti mereka.”


Lapuza menatap tangannya sendiri.
Masih terasa panas sisa api tadi.

“…Jadi,” katanya pelan,
“ini baru pembuka cerita.”

Ia tersenyum kecut.

“Aku nyaris ikut membuka perang.”

Miya menoleh padanya.
Tatapannya lembut namun penuh tekad.

“Tidak.”
“Kau berdiri ketika seharusnya lari.” 
bisik Miya lembut.

Ia kemudian menggenggam selimutnya.

“Dan karena itu…”
“Kavor mungkin tidak akan tinggal diam.”


Di luar balai penyihir,
angin malam berdesir tidak wajar.

Seolah sesuatu,
di tempat yang sangat jauh,

tersenyum.
mengamati.  

Latihan pertama telah selesai dan berpotensi menjadi awal perang yang sangat besar dan Dunia Penyihir mulai membahas kehadiran Lapuza.


Baca Kelanjutan Episode 6 disini... 

Tulis Komentar FB Anda Disini...