Judul Novel : Lapuza
- Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari tahun 2030, terjebak di Dunia Penyihir
- Session : 1 (Negeri Penyihir)
- Episode : 4
- Tanggal Rilis : 30 Desember 2025
- Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
- Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
- Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
- Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Pada tahun 2030, kehidupan Lapuza runtuh ketika kemajuan teknologi AI membuat kecerdasan manusianya tak lagi bernilai, menghancurkan karier, harapan, dan tempatnya di dunia modern, hingga pada titik terendah ia terseret secara misterius ke Negeri Penyihir, sebuah dunia lain yang bertumpu pada sihir, artefak kuno, dan konflik besar antara sihir terang dan gelap, di mana Lapuza harus bertahan menggunakan akal, strategi, dan tekad manusia dari tahun 2030 untuk menemukan makna baru hidupnya sekaligus menentukan nasib dunia penyihir yang terancam mengalami kehancuran. Ditemani dua co MC penyihir cantik dan seksi, Putri Lalena yang kocak namun tulis dan Miya Orina Panglima penyihir yang berkarakter dingin namun perhatian, membuat petualangan lapuza penuh drama, penghianatan, kesetiaan dan perjuangan.Ia adalah Panglima Pasukan Penyihir Putih Negeri Penyihir sekaligus CO-MC. Menjabat komandan utama yang mengomandoi lebih dari seribu penyihir di medan perang. Berkepribadian tegas, disiplin, dingin, logis, dan anti basa-basi. Peduli pada pasukan dengan cara keras yang sering disalahartikan. Jarang bercanda namun memiliki humor kering tanpa sadar. Bertubuh atletis, sering terluka tetapi pulih cepat. Tatapannya tajam dan intimidatif namun berhati baik. Mengenakan armor sihir ungu hitam, topi penyihir, serta mantel komando. Menguasai kepemimpinan tempur tingkat tinggi, sihir api skala besar, dan ketahanan terhadap serangan brutal.
P1. Perintah Ratu - Takdir yang Diformalisasi
Pagi itu, Istana Arcilune terasa lebih sunyi dari biasanya.
Cahaya matahari menembus kaca kristal tinggi, terpecah menjadi serpihan cahaya warna-warni yang menari di lantai marmer. Biasanya pemandangan ini akan terasa magis. Indah. Layak dijadikan latar lukisan.
Namun pagi ini, udara terasa… terlalu rapi.
Para penyihir berjalan lebih pelan, suara langkah mereka ditahan, seolah lantai istana adalah makhluk hidup yang bisa tersinggung jika diinjak terlalu keras. Bahkan bisikan pun terdengar seperti dosa kecil.
Lapuza berdiri di tengah aula singgasana.
Diapit pilar kristal raksasa, tubuhnya tampak menurut standar istana sangat tidak heroik.
Oke. Tarik napas. Ini cuma mirip ruang wawancara kerja, pikirnya.
Bedanya, kalau gagal di sini, aku mungkin tidak hanya ditolak… tapi juga dikutuk, dipenjara, atau dijadikan bahan eksperimen.
Bahunya menegang tanpa sadar refleks lama dari dunia 2030. Refleks seseorang yang terlalu sering duduk di depan meja pewawancara, mendengar kata “kami akan menghubungi Anda” yang artinya tidak pernah.
Di atas singgasana, Ratu Rheana berdiri dengan wibawa yang tidak perlu dipamerkan. Wajahnya tenang dan netral, jenis ketenangan yang biasanya dimiliki orang yang terbiasa memutuskan nasib ribuan orang sebelum sarapan.
“Lapuza,” ucapnya.
Suaranya lembut, tapi aula langsung sunyi total.
“Kau telah memilih untuk tinggal di Negeri Penyihir.”
Lapuza mengangguk kecil.
Ratu menatapnya sesaat. Tatapan yang cukup lama untuk membuat jantung seseorang melakukan audit internal.
“Jika perlu,” jawabnya tenang, “ya.” tegasnya sembari berusaha menahan rona pipinya yang memerah perlahan.
“…Oh.”
Nada itu keluar datar. Mati. Seperti seseorang yang baru sadar bahwa peluang langka telah berlalu.
Ratu lalu menoleh ke sisi aula.
“Dan untuk memastikan kau tidak menjadi ancaman atau korban, aku menunjuk dua orang.”
Langkah sepatu terdengar.
Tegas. Terukur. Tanpa ragu.
Miya Orina maju lebih dulu. Punggungnya tegak, langkahnya lurus, seolah lantai istana adalah jalur inspeksi militer. Tatapannya tajam, dingin, dan profesional.
Aura disiplin menyelubunginya begitu kuat hingga Lapuza refleks ikut berdiri lebih tegak.
Kenapa aku berdiri lebih lurus? Aku bahkan tidak tahu dia dari kesatuan mana.
Baca Kelanjutan Episode 5 disini... EPISODE 4
PERINTAH SINGGASANA
BAYANGAN TAKDIR DAN AWAL KEKACAUAN TERATUR
Cahaya biru itu tidak datang seperti bencana, juga tidak seperti keajaiban. Ia hadir dengan tenang, menggantung di langit malam Negeri Penyihir, seolah hanya ingin memastikan bahwa semua mata sedang mengarah ke tempat yang sama. Dari balkon istana, cahaya itu terlihat begitu dekat, begitu nyata, sampai Lapuza nyaris lupa bahwa beberapa hari lalu ia masih terkurung di kamar kos sempit dunia 2030, menatap langit-langit retak sambil mempertanyakan alasan hidupnya.
Angin malam menyapu jubah tipis yang kini ia kenakan, pakaian yang tidak ia pilih, tidak ia pahami, dan terasa seperti simbol bahwa hidupnya sekali lagi berjalan tanpa meminta persetujuannya. Di sisi kanan dan kirinya berdiri dua perempuan yang keberadaannya sendiri sudah cukup untuk membuat otaknya bekerja di luar kapasitas normal. Bukan karena nafsu atau sisi otak kotor yang lama terpendam, melainkan karena ironi. Di dunia asalnya, Lapuza nyaris tak pernah dipandang dan dianggap ada. Di dunia ini, ia berdiri terlalu dekat dengan figur yang di dunia lamanya hanya bisa ditemui di layar game atau ilustrasi fantasi. Otaknya mencoba menertawakan situasi itu, sementara jantungnya memilih pasrah dan terseret zona abstrak sembari menjernihkan mata dan perasaannya.
Ia menyadari satu hal yang membuatnya ingin tertawa getir: jika ini adalah permainan, maka ia jelas masuk ke jalur cerita yang salah. Tidak ada tutorial. Tidak ada penjelasan. Tidak ada peringatan bahaya. Hanya cahaya aneh di langit, dua sosok luar biasa di sisinya, dan seorang ratu bijaksana di belakangnya yang jelas-jelas sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar nasib seorang pemuda asing.
Pusaka yang belum terbangun itu bereaksi. Bukan dengan ledakan, bukan dengan suara, melainkan dengan getaran halus yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang peka terhadap perubahan. Bagi Lapuza, rasanya mirip seperti saat sebuah sistem yang terlalu lama tidur tiba-tiba menerima input baru, tidak langsung aktif, tetapi sudah pasti tidak bisa kembali diam. Ia, tanpa sadar, telah menjadi input itu.
Di dalam dirinya, muncul pikiran konyol yang bahkan ia sendiri tidak tahu kenapa bisa muncul di momen seperti itu. Tentang betapa absurdnya hidup. Tentang bagaimana seorang jenius terbuang dari dunia teknologi justru berdiri di pusat takdir dunia sihir. Tentang betapa tidak adilnya alam semesta yang baru sekarang memutuskan untuk “meliriknya”, tepat ketika ia sudah hampir menyerah.
Namun, di balik kekonyolan itu, ada ketegangan yang tidak bisa diabaikan. Cahaya biru di langit tidak menjanjikan kehangatan. Ia tidak menyapa. Ia hanya mengamati. Dan bagi seorang seperti Lapuza yang seumur hidup terbiasa diukur, dinilai, dan ditolak, perasaan sedang diamati itu jauh lebih menakutkan daripada bahaya terbuka.
Malam itu berakhir tanpa keputusan. Tanpa pengumuman. Tanpa vonis. Namun justru itulah yang membuatnya berat. Karena untuk pertama kalinya, nasib Lapuza tidak lagi ditentukan oleh email otomatis atau sistem dingin. Ia sedang dipertimbangkan oleh manusia dan oleh dunia itu sendiri. Dan entah mengapa, perasaan itu terasa jauh lebih mengikat.
Ketika mereka akhirnya meninggalkan balkon, cahaya biru itu tidak padam. Ia tetap menggantung, seolah menandai bahwa sesuatu telah dimulai, meski belum ada satu pun yang berani menyebutkannya dengan nama.
Lapuza tidak tahu bahwa pagi berikutnya, takdirnya akan diformalkan.
Ia tidak tahu bahwa latihan, konflik, dan keterikatan akan segera menyusul.
Ia hanya tahu satu hal:
hidupnya tidak lagi sederhana,
dan untuk pertama kalinya, dunia tidak sedang mencoba menyingkirkannya.
Ia sedang bersiap menggunakannya.
PERINTAH SINGGASANA
BAYANGAN TAKDIR DAN AWAL KEKACAUAN TERATUR
Cahaya biru itu tidak datang seperti bencana, juga tidak seperti keajaiban. Ia hadir dengan tenang, menggantung di langit malam Negeri Penyihir, seolah hanya ingin memastikan bahwa semua mata sedang mengarah ke tempat yang sama. Dari balkon istana, cahaya itu terlihat begitu dekat, begitu nyata, sampai Lapuza nyaris lupa bahwa beberapa hari lalu ia masih terkurung di kamar kos sempit dunia 2030, menatap langit-langit retak sambil mempertanyakan alasan hidupnya.
Angin malam menyapu jubah tipis yang kini ia kenakan, pakaian yang tidak ia pilih, tidak ia pahami, dan terasa seperti simbol bahwa hidupnya sekali lagi berjalan tanpa meminta persetujuannya. Di sisi kanan dan kirinya berdiri dua perempuan yang keberadaannya sendiri sudah cukup untuk membuat otaknya bekerja di luar kapasitas normal. Bukan karena nafsu atau sisi otak kotor yang lama terpendam, melainkan karena ironi. Di dunia asalnya, Lapuza nyaris tak pernah dipandang dan dianggap ada. Di dunia ini, ia berdiri terlalu dekat dengan figur yang di dunia lamanya hanya bisa ditemui di layar game atau ilustrasi fantasi. Otaknya mencoba menertawakan situasi itu, sementara jantungnya memilih pasrah dan terseret zona abstrak sembari menjernihkan mata dan perasaannya.
Ia menyadari satu hal yang membuatnya ingin tertawa getir: jika ini adalah permainan, maka ia jelas masuk ke jalur cerita yang salah. Tidak ada tutorial. Tidak ada penjelasan. Tidak ada peringatan bahaya. Hanya cahaya aneh di langit, dua sosok luar biasa di sisinya, dan seorang ratu bijaksana di belakangnya yang jelas-jelas sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar nasib seorang pemuda asing.
Pusaka yang belum terbangun itu bereaksi. Bukan dengan ledakan, bukan dengan suara, melainkan dengan getaran halus yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang peka terhadap perubahan. Bagi Lapuza, rasanya mirip seperti saat sebuah sistem yang terlalu lama tidur tiba-tiba menerima input baru, tidak langsung aktif, tetapi sudah pasti tidak bisa kembali diam. Ia, tanpa sadar, telah menjadi input itu.
Di dalam dirinya, muncul pikiran konyol yang bahkan ia sendiri tidak tahu kenapa bisa muncul di momen seperti itu. Tentang betapa absurdnya hidup. Tentang bagaimana seorang jenius terbuang dari dunia teknologi justru berdiri di pusat takdir dunia sihir. Tentang betapa tidak adilnya alam semesta yang baru sekarang memutuskan untuk “meliriknya”, tepat ketika ia sudah hampir menyerah.
Namun, di balik kekonyolan itu, ada ketegangan yang tidak bisa diabaikan. Cahaya biru di langit tidak menjanjikan kehangatan. Ia tidak menyapa. Ia hanya mengamati. Dan bagi seorang seperti Lapuza yang seumur hidup terbiasa diukur, dinilai, dan ditolak, perasaan sedang diamati itu jauh lebih menakutkan daripada bahaya terbuka.
Malam itu berakhir tanpa keputusan. Tanpa pengumuman. Tanpa vonis. Namun justru itulah yang membuatnya berat. Karena untuk pertama kalinya, nasib Lapuza tidak lagi ditentukan oleh email otomatis atau sistem dingin. Ia sedang dipertimbangkan oleh manusia dan oleh dunia itu sendiri. Dan entah mengapa, perasaan itu terasa jauh lebih mengikat.
Ketika mereka akhirnya meninggalkan balkon, cahaya biru itu tidak padam. Ia tetap menggantung, seolah menandai bahwa sesuatu telah dimulai, meski belum ada satu pun yang berani menyebutkannya dengan nama.
Lapuza tidak tahu bahwa pagi berikutnya, takdirnya akan diformalkan.
Ia tidak tahu bahwa latihan, konflik, dan keterikatan akan segera menyusul.
Ia hanya tahu satu hal:
hidupnya tidak lagi sederhana,
dan untuk pertama kalinya, dunia tidak sedang mencoba menyingkirkannya.
Ia sedang bersiap menggunakannya.
P1. Perintah Ratu - Takdir yang Diformalisasi
Pagi itu, Istana Arcilune terasa lebih sunyi dari biasanya.
Cahaya matahari menembus kaca kristal tinggi, terpecah menjadi serpihan cahaya warna-warni yang menari di lantai marmer. Biasanya pemandangan ini akan terasa magis. Indah. Layak dijadikan latar lukisan.
Namun pagi ini, udara terasa… terlalu rapi.
Para penyihir berjalan lebih pelan, suara langkah mereka ditahan, seolah lantai istana adalah makhluk hidup yang bisa tersinggung jika diinjak terlalu keras. Bahkan bisikan pun terdengar seperti dosa kecil.
Lapuza berdiri di tengah aula singgasana.
Diapit pilar kristal raksasa, tubuhnya tampak menurut standar istana sangat tidak heroik.
Oke. Tarik napas. Ini cuma mirip ruang wawancara kerja, pikirnya.
Bedanya, kalau gagal di sini, aku mungkin tidak hanya ditolak… tapi juga dikutuk, dipenjara, atau dijadikan bahan eksperimen.
Bahunya menegang tanpa sadar refleks lama dari dunia 2030. Refleks seseorang yang terlalu sering duduk di depan meja pewawancara, mendengar kata “kami akan menghubungi Anda” yang artinya tidak pernah.
Di atas singgasana, Ratu Rheana berdiri dengan wibawa yang tidak perlu dipamerkan. Wajahnya tenang dan netral, jenis ketenangan yang biasanya dimiliki orang yang terbiasa memutuskan nasib ribuan orang sebelum sarapan.
“Lapuza,” ucapnya.
Suaranya lembut, tapi aula langsung sunyi total.
“Kau telah memilih untuk tinggal di Negeri Penyihir.”
Lapuza mengangguk kecil.
Lalu, seperti kebiasaan buruk yang tak bisa ia tahan, bahunya terangkat setengah.
“Untuk sementara,” katanya jujur. “Saya belum tahu kontraknya seumur hidup atau sistem perpanjangan tahunan.”
Beberapa penyihir terbatuk. Ada yang saling melirik bingung.
Lalena yang berdiri agak ke belakang menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Jelas menahan tawa.
Miya Orina? Tidak bereaksi sama sekali. Bahkan berkedip pun tidak.
Ratu Rheana tidak tersenyum.
“Setiap pilihan,” katanya, “selalu membawa konsekuensi.”
“Untuk sementara,” katanya jujur. “Saya belum tahu kontraknya seumur hidup atau sistem perpanjangan tahunan.”
Beberapa penyihir terbatuk. Ada yang saling melirik bingung.
Lalena yang berdiri agak ke belakang menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Jelas menahan tawa.
Miya Orina? Tidak bereaksi sama sekali. Bahkan berkedip pun tidak.
Ratu Rheana tidak tersenyum.
“Setiap pilihan,” katanya, “selalu membawa konsekuensi.”
"Oke. Ini bagian dari ceramah. Aku kenal pola ini." Gumam lapuza ekspresi datar, mengingat ocehan berseri orang tuanya sebelum ia akhirnya meninggalkan rumah didunia asalnya 2030
Tak ada respon.
Tak ada respon.
Ratu mengangkat tongkat kerajaan. Cahaya tipis menyebar, seperti tirai halus yang menenangkan dan sekaligus mengingatkan siapa pemilik ruangan ini.
“Mulai hari ini,” lanjutnya, “kau berada di bawah perlindungan dan pengawasan Istana”
Gumaman pelan menyebar.
Perlindungan istana adalah kehormatan tertinggi.
Pengawasan istana… adalah cerita horor yang biasanya diceritakan sambil berbisik.
Lapuza menelan ludah.
“Pengawasan… yang seperti apa, Yang Mulia?” tanyanya hati-hati seakan-akan berbicara dengan hakim pengadilan didunia asalnya. “Saya perlu izin kalau mau melakukan sesuatu?” tanya Lapuza sembari memfokuskan tatapannya ke belahan gunung kembar sang ratu yang masih terlihat empuk untuk usianya.
“Mulai hari ini,” lanjutnya, “kau berada di bawah perlindungan dan pengawasan Istana”
Gumaman pelan menyebar.
Perlindungan istana adalah kehormatan tertinggi.
Pengawasan istana… adalah cerita horor yang biasanya diceritakan sambil berbisik.
Lapuza menelan ludah.
“Pengawasan… yang seperti apa, Yang Mulia?” tanyanya hati-hati seakan-akan berbicara dengan hakim pengadilan didunia asalnya. “Saya perlu izin kalau mau melakukan sesuatu?” tanya Lapuza sembari memfokuskan tatapannya ke belahan gunung kembar sang ratu yang masih terlihat empuk untuk usianya.
Ratu menatapnya sesaat. Tatapan yang cukup lama untuk membuat jantung seseorang melakukan audit internal.
“Jika perlu,” jawabnya tenang, “ya.” tegasnya sembari berusaha menahan rona pipinya yang memerah perlahan.
“…Oh.”
Nada itu keluar datar. Mati. Seperti seseorang yang baru sadar bahwa peluang langka telah berlalu.
Ratu lalu menoleh ke sisi aula.
“Dan untuk memastikan kau tidak menjadi ancaman atau korban, aku menunjuk dua orang.”
Langkah sepatu terdengar.
Tegas. Terukur. Tanpa ragu.
Miya Orina maju lebih dulu. Punggungnya tegak, langkahnya lurus, seolah lantai istana adalah jalur inspeksi militer. Tatapannya tajam, dingin, dan profesional.
Aura disiplin menyelubunginya begitu kuat hingga Lapuza refleks ikut berdiri lebih tegak.
Kenapa aku berdiri lebih lurus? Aku bahkan tidak tahu dia dari kesatuan mana.
Tubuh Lapuza spontan tegap kaku seperti sedang berada dipengawasan barak militer.
Sesaat kemudian, langkah lain menyusul.
Lebih cepat. Lebih ringan.
Dan hampir berakhir dengan tragedi kecil.
“...Aduh!”
Putri Lalena tersandung ujung karpet. Ia terhuyung setengah langkah, hampir jatuh, lalu berhasil menyeimbangkan diri dengan gerakan yang menguji keimanan… Gunung kembarnya bergoyang menukik tajam mengayun berulang membius mata Lapuza yang melirik tak ingin menghindar.
Ia menepuk-nepuk roknya, menunduk sengaja memamerkan kualitas sepasang buah melonnya yang bulat padat dan perlahan menegakkan badan.
“Ehem. Hadir.”
Keheningan sesaat.
Lapuza berkedip.
Sekali.
Dua kali. Berusaha mengabaikan adaegan langka sebelumnya.
"…kedua wanita aneh ini? Serius?"
Kontrasnya kejam.
Ratu Rheana melanjutkan tanpa ekspresi.
“Miya Orina, Panglima Penyihir Istana.”
“Putri Lalena, pewaris tahta Negeri Penyihir.”
Keduanya berdiri sejajar.
Satu seperti bilah pedang yang diasah sempurna.
Yang satu seperti… bunga api yang bisa meledak kapan saja.
“Kalian berdua,” kata Ratu, suaranya kini tegas, “akan bertanggung jawab melatih Lapuza.”
Kalimat itu jatuh seperti palu pengadilan.
“…Melatih?”
Nada Lapuza terdengar ragu. Seperti seseorang yang baru diberi tahu bahwa kehormatannya sedang dipertarukan.
Miya menoleh ke arahnya. Tatapannya menyapu dari kepala hingga kaki. Analitis. Cepat. Efisien.
“Dia terlihat rapuh.”
“Hei!” Lapuza refleks protes. “Saya hanya terlihat sedikit kurus. Tapi secara mental saya....”
“Rapuh,” ulang Miya, datar.
Tegasnya datar, serius. Tanpa niat menyakiti. Namun justru itu yang menyakitkan.
Lalena menyelipkan diri di antara mereka, mencondongkan badan ke arah Lapuza sembari memamerkan kedua gunung kembarnya yang kenyal padat dan cukup membungkam keimanan Lapuza. Matanya berbinar menggoda, terlalu dekat untuk standar sopan dunia 2030.
“Tenang saja!” katanya ceria. “Aku akan melatihmu dengan lembut… mungkin. Kalau aku ingat.”
Lapuza refleks mundur setengah langkah. Berusaha menetralkan sisi gelapnya sebagai lelaki normal.
“…Itu tidak meyakinkan sama sekali,” gumamnya.
Dan kenapa jaraknya sedekat ini? Dunia sihir tidak punya semacam Lembaga Sensor Film, ya?
Miya menoleh ke Lalena. “Putri. Jangan mendekat terlalu dekat. Dia belum terlatih.” Tegas Miya sembari mengamankan gunung kembarnya yang juga tak kalah padat berisi.
“Di duniaku yang seperti itu juga banyak, tapi harus login dan berbayar dulu!” bantah Lapuza cepat.
Lalu menyadari semua mata tertuju padanya.
“…Modal teraktir makan juga ada!.” sambung Lapuza pelan.
Ratu Rheana mengangkat tangan, menghentikan kekacauan kecil sebelum menjadi besar.
“Ini bukan hukuman,” katanya. “Ini persiapan.”
Ia menatap Lapuza lebih dalam.
“Dunia ini telah bereaksi terhadap kehadiranmu. Jika kau tetap lemah, kau tidak akan bertahan. Jika kau terlalu kuat tanpa kendali kau akan menghancurkan lebih dari yang kau sadari.” Tegas sang Ratu seolah-olah mengabaikan konsep "Modal teraktir makan itu apa"
Keheningan kembali turun.
Lapuza menarik napas panjang.
Menarik. Di dunia asal, aku ditolak karena terlalu berbeda.
Di dunia ini, aku dilatih karena terlalu berbahaya.
Lucu sekali hidupku. Konsisten gagal, tapi dengan tema berbeda.
“…Baik,” katanya akhirnya. “Tapi kalau aku mati saat latihan...”
“...Oh!” Lalena mengangkat tangan penuh semangat. “Aku bisa mengatur itu!” Ucap Lalena nada lembut sembari kembali mengayunkan gunung kembarnya menggoda.
“Tidak,” kata Miya tegas.
“Yah…”
Ratu Rheana memejamkan mata sejenak. Lalu membuka kembali, tenang seperti biasa.
“Mulai hari ini,” ucapnya, “takdirmu tidak lagi samar, Lapuza.”
Dan tanpa ia sadari...
Kehidupan yang selama ini menolaknya, akhirnya mulai mengikatnya dengan paksa.
Dengan kontrak tak tertulis.
Dengan dua pelatih yang sama sekali tidak seimbang.
Dan dengan masa depan yang, untuk pertama kalinya… tidak memberinya pilihan untuk lari.
Sesaat kemudian, langkah lain menyusul.
Lebih cepat. Lebih ringan.
Dan hampir berakhir dengan tragedi kecil.
“...Aduh!”
Putri Lalena tersandung ujung karpet. Ia terhuyung setengah langkah, hampir jatuh, lalu berhasil menyeimbangkan diri dengan gerakan yang menguji keimanan… Gunung kembarnya bergoyang menukik tajam mengayun berulang membius mata Lapuza yang melirik tak ingin menghindar.
Ia menepuk-nepuk roknya, menunduk sengaja memamerkan kualitas sepasang buah melonnya yang bulat padat dan perlahan menegakkan badan.
“Ehem. Hadir.”
Keheningan sesaat.
Lapuza berkedip.
Sekali.
Dua kali. Berusaha mengabaikan adaegan langka sebelumnya.
"…kedua wanita aneh ini? Serius?"
Kontrasnya kejam.
Ratu Rheana melanjutkan tanpa ekspresi.
“Miya Orina, Panglima Penyihir Istana.”
“Putri Lalena, pewaris tahta Negeri Penyihir.”
Keduanya berdiri sejajar.
Satu seperti bilah pedang yang diasah sempurna.
Yang satu seperti… bunga api yang bisa meledak kapan saja.
“Kalian berdua,” kata Ratu, suaranya kini tegas, “akan bertanggung jawab melatih Lapuza.”
Kalimat itu jatuh seperti palu pengadilan.
“…Melatih?”
Nada Lapuza terdengar ragu. Seperti seseorang yang baru diberi tahu bahwa kehormatannya sedang dipertarukan.
Miya menoleh ke arahnya. Tatapannya menyapu dari kepala hingga kaki. Analitis. Cepat. Efisien.
“Dia terlihat rapuh.”
“Hei!” Lapuza refleks protes. “Saya hanya terlihat sedikit kurus. Tapi secara mental saya....”
“Rapuh,” ulang Miya, datar.
Tegasnya datar, serius. Tanpa niat menyakiti. Namun justru itu yang menyakitkan.
Lalena menyelipkan diri di antara mereka, mencondongkan badan ke arah Lapuza sembari memamerkan kedua gunung kembarnya yang kenyal padat dan cukup membungkam keimanan Lapuza. Matanya berbinar menggoda, terlalu dekat untuk standar sopan dunia 2030.
“Tenang saja!” katanya ceria. “Aku akan melatihmu dengan lembut… mungkin. Kalau aku ingat.”
Lapuza refleks mundur setengah langkah. Berusaha menetralkan sisi gelapnya sebagai lelaki normal.
“…Itu tidak meyakinkan sama sekali,” gumamnya.
Dan kenapa jaraknya sedekat ini? Dunia sihir tidak punya semacam Lembaga Sensor Film, ya?
Miya menoleh ke Lalena. “Putri. Jangan mendekat terlalu dekat. Dia belum terlatih.” Tegas Miya sembari mengamankan gunung kembarnya yang juga tak kalah padat berisi.
“Di duniaku yang seperti itu juga banyak, tapi harus login dan berbayar dulu!” bantah Lapuza cepat.
Lalu menyadari semua mata tertuju padanya.
“…Modal teraktir makan juga ada!.” sambung Lapuza pelan.
Ratu Rheana mengangkat tangan, menghentikan kekacauan kecil sebelum menjadi besar.
“Ini bukan hukuman,” katanya. “Ini persiapan.”
Ia menatap Lapuza lebih dalam.
“Dunia ini telah bereaksi terhadap kehadiranmu. Jika kau tetap lemah, kau tidak akan bertahan. Jika kau terlalu kuat tanpa kendali kau akan menghancurkan lebih dari yang kau sadari.” Tegas sang Ratu seolah-olah mengabaikan konsep "Modal teraktir makan itu apa"
Keheningan kembali turun.
Lapuza menarik napas panjang.
Menarik. Di dunia asal, aku ditolak karena terlalu berbeda.
Di dunia ini, aku dilatih karena terlalu berbahaya.
Lucu sekali hidupku. Konsisten gagal, tapi dengan tema berbeda.
“…Baik,” katanya akhirnya. “Tapi kalau aku mati saat latihan...”
“...Oh!” Lalena mengangkat tangan penuh semangat. “Aku bisa mengatur itu!” Ucap Lalena nada lembut sembari kembali mengayunkan gunung kembarnya menggoda.
“Tidak,” kata Miya tegas.
“Yah…”
Ratu Rheana memejamkan mata sejenak. Lalu membuka kembali, tenang seperti biasa.
“Mulai hari ini,” ucapnya, “takdirmu tidak lagi samar, Lapuza.”
Dan tanpa ia sadari...
Kehidupan yang selama ini menolaknya, akhirnya mulai mengikatnya dengan paksa.
Dengan kontrak tak tertulis.
Dengan dua pelatih yang sama sekali tidak seimbang.
Dan dengan masa depan yang, untuk pertama kalinya… tidak memberinya pilihan untuk lari.
P2. Penolakan Halus - Lapuza Dalam Dilema
Aula singgasana pagi itu terasa terlalu sempurna.
Pilar kristal berdiri sejajar, lantai marmer berkilau tanpa noda, dan cahaya matahari jatuh pada sudut yang nyaris artistik. Segalanya rapi. Terlalu rapi. Seperti ruangan yang tidak memberi ruang bagi setiap kesalahan.
Lapuza berdiri di tengah aula.
Bimbang.
Cemas.
Dan, kalau ia jujur pada dirinya sendiri, sangat tidak pantas berada di sana.
Oke. Jangan panik. Tegasnya dalam hati.
Ini cuma istana. Bukan eksepsi dipengadilan, wawandara kerja apalagi razia gabungan.
Santai. Tarik napas. Semua akan berlalu.
Posturnya otomatis berubah ke mode tahun 2030: punggung lurus secukupnya, bahu tidak jatuh, ekspresi sopan. Postur orang yang ingin terlihat kompeten meski hidupnya berantakan.
Di hadapannya, Ratu Rheana berdiri tenang. Tidak duduk. Tidak perlu. Tatapannya stabil, seperti seseorang yang sudah terlalu sering memutuskan nasib orang lain.
Masalahnya, fokus Lapuza bocor ke samping.
Ke kanan Miya Orina. Tegap. Diam. Tatapan lurus ke depan, Aura militernya begitu kuat sampai Lapuza tanpa sadar ikut meluruskan punggung sambil terpukau dengan gunung kembar Miya yang juga ikut menegang lekukan bulat tegas.
Ke kiri, Putri Lalena.
Terlalu dekat.
Bukan dekat secara sopan.
Tapi dekat yang cukup menggetarkan iman.
Putri itu sedikit membungkuk ke arahnya hingga celengan empuk miliknya terlihat begitu jelas, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Oke. Jangan mikir aneh.
Ini istana bukan tempat jajanan malam. Dia putri. Fokus, Lapuza. Fokus. Tegasnya berusaha mengabaikan imajinasi liar di otaknya.
Lapuza berdeham. Lalu, tanpa sadar mengangkat tangan setengah.
Beberapa penyihir di belakangnya langsung tegang.
“Oh... maaf,” katanya cepat. “Refleks seorang mantan aktifis kampus.”
Ratu Rheana mengangguk tipis. Izin bicara diberikan.
“Intrupsi... Yang Mulia,” ucap Lapuza sopan,
“aku sungguh menghargai niat baik ini. Benar-benar. Tapi mungkin ada sedikit… kesalahan.”
Alis Ratu terangkat tipis. berusaha mendefinisikan kata "intrupsi"
“Kesalahan apa?” tanyanya.
Nada netral. Terlalu netral.
Lapuza menarik napas.
“Aku ini...”
berhenti,
lalu memutuskan untuk jujur sekalian.
“…tidak bisa sihir.”
“…tidak bisa bertarung.”
Ia berhenti lagi.
“…dan kalau kita bicara realistis tubuhku ini lebih cocok buat duduk lama dan begadang main game, bukan adu mekanik.”
Putri Lalena mengangguk cepat.
“Benar! Dia terlihat seperti orang yang pingsan kalau bergerak terlalu banyak.” Pangkas Lalena seolah memahami konsep main game dan adu mekanik.
“Putri,” kata Miya datar.
“Aku observatif,” jawab Lalena sambil menggoyangkan dua gunung kembarnya penasaran.
Lapuza melanjutkan, sudah terlanjur.
“Kalau bicara statistik,” katanya,
“peluang aku mati saat latihan… sangat besar.”
Keheningan turun.
Lalu Lapuza menambahkan, setengah bercanda:
“Dan sayangnya, aku sudah cek. Aku bukan orang kebal.”
Putri Lalena langsung mengangkat tangan.
“Aku bisa mengecek ulang!”
“Tidak,” kata Miya cepat.
Tegas.
Tepat.
Mematikan.
Lapuza menoleh ke Miya.
“Terima kasih,” katanya tulus, “sudah menyelamatkan hidupku secara teori.”
Miya tidak menanggapi dan tetap fokus menatap kedepan.
Lapuza kembali menghadap Ratu.
“Di duniaku,” katanya lebih pelan,
“aku sering dipaksa masuk sistem yang tidak cocok denganku.”
Ia menelan ludah.
“Bukan karena aku tidak mampu. Tapi karena aku… aneh.”
Tatapannya tanpa sadar bergeser ke Lalena.
Putri itu tersenyum lebar.
“Aneh itu bagus,” katanya ceria. “Aku juga aneh.”
“Itu bukan pembelaan,” kata Miya.
Lapuza tersenyum tipis.
"Oke. Trio ini berbahaya."
“Aku hanya tidak ingin,” lanjut Lapuza,
“mengulang kegagalan yang sama.”
Ia menarik napas.
“Apalagi… dengan risiko mati sungguhan.”
Aula hening.
Bukan karena dramatis.
Tapi karena kata-kata itu terlalu masuk akal.
Ratu Rheana menatap Lapuza lama.
Ini bagian di mana aku ditolak dengan sopan, pikirnya.
Akhirnya, Ratu berkata pelan,
“Justru karena itu.”
Lapuza berkedip.
“…Karena aku berisiko mati?”
“Karena kau jujur,” jawab Ratu.
“Dan karena kau sadar bahwa hidupmu rapuh.”
Ratu melanjutkan, “Orang yang merasa dirinya kuat sering mati paling cepat.”
Motivasi yang sangat menenangkan, pikir Lapuza.
Ia menarik napas, lalu tersenyum miring.
Aula singgasana pagi itu terasa terlalu sempurna.
Pilar kristal berdiri sejajar, lantai marmer berkilau tanpa noda, dan cahaya matahari jatuh pada sudut yang nyaris artistik. Segalanya rapi. Terlalu rapi. Seperti ruangan yang tidak memberi ruang bagi setiap kesalahan.
Lapuza berdiri di tengah aula.
Bimbang.
Cemas.
Dan, kalau ia jujur pada dirinya sendiri, sangat tidak pantas berada di sana.
Oke. Jangan panik. Tegasnya dalam hati.
Ini cuma istana. Bukan eksepsi dipengadilan, wawandara kerja apalagi razia gabungan.
Santai. Tarik napas. Semua akan berlalu.
Posturnya otomatis berubah ke mode tahun 2030: punggung lurus secukupnya, bahu tidak jatuh, ekspresi sopan. Postur orang yang ingin terlihat kompeten meski hidupnya berantakan.
Di hadapannya, Ratu Rheana berdiri tenang. Tidak duduk. Tidak perlu. Tatapannya stabil, seperti seseorang yang sudah terlalu sering memutuskan nasib orang lain.
Masalahnya, fokus Lapuza bocor ke samping.
Ke kanan Miya Orina. Tegap. Diam. Tatapan lurus ke depan, Aura militernya begitu kuat sampai Lapuza tanpa sadar ikut meluruskan punggung sambil terpukau dengan gunung kembar Miya yang juga ikut menegang lekukan bulat tegas.
Ke kiri, Putri Lalena.
Terlalu dekat.
Bukan dekat secara sopan.
Tapi dekat yang cukup menggetarkan iman.
Putri itu sedikit membungkuk ke arahnya hingga celengan empuk miliknya terlihat begitu jelas, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu.
Oke. Jangan mikir aneh.
Ini istana bukan tempat jajanan malam. Dia putri. Fokus, Lapuza. Fokus. Tegasnya berusaha mengabaikan imajinasi liar di otaknya.
Lapuza berdeham. Lalu, tanpa sadar mengangkat tangan setengah.
Beberapa penyihir di belakangnya langsung tegang.
“Oh... maaf,” katanya cepat. “Refleks seorang mantan aktifis kampus.”
Ratu Rheana mengangguk tipis. Izin bicara diberikan.
“Intrupsi... Yang Mulia,” ucap Lapuza sopan,
“aku sungguh menghargai niat baik ini. Benar-benar. Tapi mungkin ada sedikit… kesalahan.”
Alis Ratu terangkat tipis. berusaha mendefinisikan kata "intrupsi"
“Kesalahan apa?” tanyanya.
Nada netral. Terlalu netral.
Lapuza menarik napas.
“Aku ini...”
berhenti,
lalu memutuskan untuk jujur sekalian.
“…tidak bisa sihir.”
“…tidak bisa bertarung.”
Ia berhenti lagi.
“…dan kalau kita bicara realistis tubuhku ini lebih cocok buat duduk lama dan begadang main game, bukan adu mekanik.”
Putri Lalena mengangguk cepat.
“Benar! Dia terlihat seperti orang yang pingsan kalau bergerak terlalu banyak.” Pangkas Lalena seolah memahami konsep main game dan adu mekanik.
“Putri,” kata Miya datar.
“Aku observatif,” jawab Lalena sambil menggoyangkan dua gunung kembarnya penasaran.
Lapuza melanjutkan, sudah terlanjur.
“Kalau bicara statistik,” katanya,
“peluang aku mati saat latihan… sangat besar.”
Keheningan turun.
Lalu Lapuza menambahkan, setengah bercanda:
“Dan sayangnya, aku sudah cek. Aku bukan orang kebal.”
Putri Lalena langsung mengangkat tangan.
“Aku bisa mengecek ulang!”
“Tidak,” kata Miya cepat.
Tegas.
Tepat.
Mematikan.
Lapuza menoleh ke Miya.
“Terima kasih,” katanya tulus, “sudah menyelamatkan hidupku secara teori.”
Miya tidak menanggapi dan tetap fokus menatap kedepan.
Lapuza kembali menghadap Ratu.
“Di duniaku,” katanya lebih pelan,
“aku sering dipaksa masuk sistem yang tidak cocok denganku.”
Ia menelan ludah.
“Bukan karena aku tidak mampu. Tapi karena aku… aneh.”
Tatapannya tanpa sadar bergeser ke Lalena.
Putri itu tersenyum lebar.
“Aneh itu bagus,” katanya ceria. “Aku juga aneh.”
“Itu bukan pembelaan,” kata Miya.
Lapuza tersenyum tipis.
"Oke. Trio ini berbahaya."
“Aku hanya tidak ingin,” lanjut Lapuza,
“mengulang kegagalan yang sama.”
Ia menarik napas.
“Apalagi… dengan risiko mati sungguhan.”
Aula hening.
Bukan karena dramatis.
Tapi karena kata-kata itu terlalu masuk akal.
Ratu Rheana menatap Lapuza lama.
Ini bagian di mana aku ditolak dengan sopan, pikirnya.
Akhirnya, Ratu berkata pelan,
“Justru karena itu.”
Lapuza berkedip.
“…Karena aku berisiko mati?”
“Karena kau jujur,” jawab Ratu.
“Dan karena kau sadar bahwa hidupmu rapuh.”
Ratu melanjutkan, “Orang yang merasa dirinya kuat sering mati paling cepat.”
Motivasi yang sangat menenangkan, pikir Lapuza.
Ia menarik napas, lalu tersenyum miring.
Lapuza menatap langit-langit aula.
Dunia baru.
Takdir baru.
Dunia baru.
Takdir baru.
P3. Keputusan Negara, Bukan Keinginan Pribadi
Tidak ingin membuang waktu, Ratu melangkah satu langkah ke depan. Suaranya tetap lembut, tetapi maknanya membuat udara terasa lebih berat.
“Jika kau tidak dilatih,” katanya,
“maka untuk apa keberadaanmu disini.”
Lapuza menelan ludah.
“Dunia ini telah memilihmu,” lanjut Ratu,
“namun keputusan tetap ditanganmu"
Tidak ingin membuang waktu, Ratu melangkah satu langkah ke depan. Suaranya tetap lembut, tetapi maknanya membuat udara terasa lebih berat.
“Jika kau tidak dilatih,” katanya,
“maka untuk apa keberadaanmu disini.”
Lapuza menelan ludah.
“Dunia ini telah memilihmu,” lanjut Ratu,
“namun keputusan tetap ditanganmu"
"satu yang pasti negeri ini berharap padamu”
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada ancaman terbuka.
Untuk sesaat, Lapuza merasa kata berharap itu ditujukan bukan hanya pada tubuhnya tetapi pada jiwanya yang sudah lama letih. Ia membayangkan masa dimana didunianya ia hanya dianggap sebagai sampah yang tidak layak.
Ratu menoleh ke arah Miya.
“Panglima Orina.”
Miya langsung berlutut satu lutut, tangan di dada.
“Aku siap.”
“Latih dia,” perintah Ratu,
“keluarkan potensi terbaik yang ia punya.”
Miya mengangguk tegas.
“Kalau dia keras kepala, aku akan mematahkan kebiasaan itu terlebih dahulu.”
Lapuza bergumam,
“Entah kenapa kalimat itu terasa tidak menyenangkan.”
Ratu lalu menoleh pada Lalena.
“Dan kau, pastikan dia mampu mengendalikan kemampuannya.”
Lalena berkedip, lalu tersenyum canggung.
“…Itu tugas berat, Ibu.”
“Dia kelihatannya mudah stres.”
“Aku tahu,” jawab Ratu singkat.
Lapuza menghela napas panjang.
Di dunia tahun 2030, ia dibuang karena dianggap tidak cocok.
Di dunia ini, ia dipertahankan… karena dianggap terlalu berbahaya jika dibiarkan sendiri.
Ironis.
Namun kali ini, untuk pertama kalinya
ia tidak dihadapkan pada pintu keluar.
Ia sedang disiapkan untuk maju dan berjuang.
P5b. Negeri Penyihir Sebelum Retak
“Dulu,” Lalena mulai,
“Negeri Penyihir tidak terbagi menjadi putih dan hitam.”
Ia menatap langit, seolah melihat sesuatu di sana.
“Negeri ini dipimpin oleh satu raja. Namanya Raja Latanre Tippa. Bijaksana, adil, dan kata buku sejarah keras ia sosok kepala kalau soal moral sihir.”
Lapuza mengangguk pelan.
“Biasanya yang keras kepala soal moral… punya musuh besar.” Potong Lapuza mengingat tingkahlaku Ormas ala militer di dunia asalnya 2030.
Lalena tersenyum tipis.
“Benar.”
Raja Latanre membangun kerajaan yang makmur. Sihir digunakan untuk menumbuhkan tanah, menenangkan laut, dan menjaga keseimbangan alam. Tidak ada istilah sihir putih atau hitam hanya sihir yang selaras dan sihir yang melanggar.
“Hingga suatu hari,” lanjut Lalena,
“Istrinya melahirkan dua anak kembar emas.”
Lapuza terdiam.
“Anak pertama laki-laki,” kata Lalena.
“Namanya Lakavor.”
Ia menarik napas.
“Anak kedua perempuan.”
“…Ibuku. Rheana.”
P5e. Kenapa Lapuza?
Lapuza terdiam lama.
“Jadi,” katanya akhirnya,
“aku bukan dipanggil karena spesial.”
Ia tersenyum pahit.
“Aku dipanggil karena dunia ini… sudah kehabisan pilihan.” seketika Lapuza mengingat dunia asalnya yang justru membuang dirinya.
Lalena mengangguk.
“Iya.”
Lalu cepat-cepat menambahkan,
“Tapi itu tidak berarti kamu cuma alat!”
Ia berdiri, menatapnya serius lalu mendekat terlalu dekat, hingga tak terasa Gunung kembarnya mengentuh lengan kirinya, hangat dan empuk.
“Badik Bintang Utara bereaksi padamu.”
“Buku ramalan menyebutmu.”
“Itu bukan kebetulan.”
Lapuza menelan ludah. Berusaha membuang fokus dari gesekan dan sentuhan kedua buah melon Lalena yang lunak menyergap.
Jarak itu… tidak adil bagi kesehatan mentalnya.
“Aku cuma...”
“seorang pengangguran dari 2030,” katanya pelan.
Lalena tersenyum lembut.
“Dan aku cuma putri ceroboh yang sihirnya sering meledak tak terkendali.”
“Kita seimbang.”
Lapuza tertawa kecil.
“…Besok aku dilatih Miya, ya?”
Lalena mengangguk.
“Dan setelah itu… aku akan ceritakan lebih banyak.”
Ia melangkah pergi, lalu berhenti sejenak.
“Oh iya, Lapuza?”
“Hmm?”
“Kalau kamu mati saat latihan...”
“aku akan marah.”
“…Itu motivasi baru yang aneh.”
Lalena tertawa, lalu menghilang di balik koridor.
Lapuza menatap langit lagi.
Untuk pertama kalinya, ia mengerti:
ia tidak hanya bertarung melawan Kavor,-
tetapi melawan sejarah yang terlalu lama dibiarkan berdarah.
Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada ancaman terbuka.
Untuk sesaat, Lapuza merasa kata berharap itu ditujukan bukan hanya pada tubuhnya tetapi pada jiwanya yang sudah lama letih. Ia membayangkan masa dimana didunianya ia hanya dianggap sebagai sampah yang tidak layak.
Ratu menoleh ke arah Miya.
“Panglima Orina.”
Miya langsung berlutut satu lutut, tangan di dada.
“Aku siap.”
“Latih dia,” perintah Ratu,
“keluarkan potensi terbaik yang ia punya.”
Miya mengangguk tegas.
“Kalau dia keras kepala, aku akan mematahkan kebiasaan itu terlebih dahulu.”
Lapuza bergumam,
“Entah kenapa kalimat itu terasa tidak menyenangkan.”
Ratu lalu menoleh pada Lalena.
“Dan kau, pastikan dia mampu mengendalikan kemampuannya.”
Lalena berkedip, lalu tersenyum canggung.
“…Itu tugas berat, Ibu.”
“Dia kelihatannya mudah stres.”
“Aku tahu,” jawab Ratu singkat.
Lapuza menghela napas panjang.
Di dunia tahun 2030, ia dibuang karena dianggap tidak cocok.
Di dunia ini, ia dipertahankan… karena dianggap terlalu berbahaya jika dibiarkan sendiri.
Ironis.
Namun kali ini, untuk pertama kalinya
ia tidak dihadapkan pada pintu keluar.
Ia sedang disiapkan untuk maju dan berjuang.
P4. Keputusan Akhir - Menuju Pelatihan Keras
“Aku akan mencoba,” kata Lapuza akhirnya.
“Tapi bukan sebagai prajurit.”
Miya mengerutkan kening.
“Lalu sebagai apa?”
“Sebagai manusia yang belajar.”
“Dengan caraku sendiri.”
Lalena tersenyum lebar.
“Dia pakai cara aneh, Miya.”
“Kadang pakai rumus.”
Miya mendengus.
“Kalau dia tak terkendali”
“Aku yang menjamin,” potong Lalena cepat sembari merapatkan dada empuknya ke lengan Lapuza.
“...aku akan menyelamatkannya,”
“Aku akan mencoba,” kata Lapuza akhirnya.
“Tapi bukan sebagai prajurit.”
Miya mengerutkan kening.
“Lalu sebagai apa?”
“Sebagai manusia yang belajar.”
“Dengan caraku sendiri.”
Lalena tersenyum lebar.
“Dia pakai cara aneh, Miya.”
“Kadang pakai rumus.”
Miya mendengus.
“Kalau dia tak terkendali”
“Aku yang menjamin,” potong Lalena cepat sembari merapatkan dada empuknya ke lengan Lapuza.
“...aku akan menyelamatkannya,”
Lapuza tersenyum pasrah.
“Oke… itu cukup meyakinkan.”
Ratu Rheana mengangguk.
“Kalau begitu,” katanya,
“latihan dimulai besok.”
“Oke… itu cukup meyakinkan.”
Ratu Rheana mengangguk.
“Kalau begitu,” katanya,
“latihan dimulai besok.”
Saat mereka meninggalkan aula, Lapuza berjalan di antara dua wanita yang sama sekali berbeda.
Satu terlalu serius.
Satu terlalu ceroboh.
Dan di tengah mereka,
seorang pemuda dari tahun 2030,
yang sekali lagi dipaksa belajar cara berjuang di dunia yang tidak pernah ia pilih.
Namun kali ini-
ia tidak sendirian.
Satu terlalu serius.
Satu terlalu ceroboh.
Dan di tengah mereka,
seorang pemuda dari tahun 2030,
yang sekali lagi dipaksa belajar cara berjuang di dunia yang tidak pernah ia pilih.
Namun kali ini-
ia tidak sendirian.
P5a. Sejarah Kelam Kerajaan Penyihir
Dua Anak Emas dan Satu Dosa yang Tak Pernah Padam
Malam turun perlahan di Istana Arcilune. Menara kristal memantulkan cahaya bulan, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti retakan di tubuh istana itu sendiri. Di jam-jam seperti ini, istana terasa lebih jujur lebih dekat dengan masa lalunya daripada wajah megah yang ditampilkan siang hari.
Lapuza belum bisa tidur. Bukan karena kasur asing atau langit berwarna ungu yang masih belum sepenuhnya ia terima, melainkan karena satu hal sederhana: ia merasa terlalu penting untuk seseorang yang belum mengerti apa-apa.
Ketika ia sedang duduk di balkon kecil kamar tamu berusaha menghitung bintang yang jumlahnya tidak masuk akal suara langkah kaki kecil terdengar tergesa.
“Psst...Lapuza.”
Ia menoleh. Putri Lalena muncul dari balik pilar, mengenakan jubah tipis yang jelas bukan pakaian resmi istana. akaian jaring putih transparan memaksa pori-pori kulit mulusnya terekspos menggoda pandangan lengkap dengan sepasang buah melon bulat presisi yang siaga menerima godaan.
Dua Anak Emas dan Satu Dosa yang Tak Pernah Padam
Malam turun perlahan di Istana Arcilune. Menara kristal memantulkan cahaya bulan, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti retakan di tubuh istana itu sendiri. Di jam-jam seperti ini, istana terasa lebih jujur lebih dekat dengan masa lalunya daripada wajah megah yang ditampilkan siang hari.
Lapuza belum bisa tidur. Bukan karena kasur asing atau langit berwarna ungu yang masih belum sepenuhnya ia terima, melainkan karena satu hal sederhana: ia merasa terlalu penting untuk seseorang yang belum mengerti apa-apa.
Ketika ia sedang duduk di balkon kecil kamar tamu berusaha menghitung bintang yang jumlahnya tidak masuk akal suara langkah kaki kecil terdengar tergesa.
“Psst...Lapuza.”
Ia menoleh. Putri Lalena muncul dari balik pilar, mengenakan jubah tipis yang jelas bukan pakaian resmi istana. akaian jaring putih transparan memaksa pori-pori kulit mulusnya terekspos menggoda pandangan lengkap dengan sepasang buah melon bulat presisi yang siaga menerima godaan.
Lalena menyelinap masuk ke kamar Lapuza, Rambutnya sedikit acak, namun kali ini ai datang dengan membawa ekspresi wajahnya yang serius, jenis serius yang jarang ia perlihatkan.
“Kamu tahu ini jam tidur kerajaan, kan?” bisik Lapuza refleks terkejut berusaha menetralkan pikiran liarnya.
Lalena mengangguk cepat.
“Iya. Makanya aku nyelinap.”
“…Kenapa aku merasa itu bukan kalimat yang menenangkan.”
Lalena berjalan pelan dan duduk di pagar balkon, mengayunkan kaki pelan. Untuk beberapa detik, ia diam seperti sedang mengumpulkan keberanian.
“Lapuza,” katanya akhirnya, lebih pelan dari biasanya,
“sebelum kamu dilatih Miya besok… ada hal yang harus kamu tahu.”
Nada suaranya membuat Lapuza menegakkan punggung.
“Ini tentang… kenapa kamu ada di sini.” ucap Lalena menatap Lapuza hangat.
“Kamu tahu ini jam tidur kerajaan, kan?” bisik Lapuza refleks terkejut berusaha menetralkan pikiran liarnya.
Lalena mengangguk cepat.
“Iya. Makanya aku nyelinap.”
“…Kenapa aku merasa itu bukan kalimat yang menenangkan.”
Lalena berjalan pelan dan duduk di pagar balkon, mengayunkan kaki pelan. Untuk beberapa detik, ia diam seperti sedang mengumpulkan keberanian.
“Lapuza,” katanya akhirnya, lebih pelan dari biasanya,
“sebelum kamu dilatih Miya besok… ada hal yang harus kamu tahu.”
Nada suaranya membuat Lapuza menegakkan punggung.
“Ini tentang… kenapa kamu ada di sini.” ucap Lalena menatap Lapuza hangat.
P5b. Negeri Penyihir Sebelum Retak
“Dulu,” Lalena mulai,
“Negeri Penyihir tidak terbagi menjadi putih dan hitam.”
Ia menatap langit, seolah melihat sesuatu di sana.
“Negeri ini dipimpin oleh satu raja. Namanya Raja Latanre Tippa. Bijaksana, adil, dan kata buku sejarah keras ia sosok kepala kalau soal moral sihir.”
Lapuza mengangguk pelan.
“Biasanya yang keras kepala soal moral… punya musuh besar.” Potong Lapuza mengingat tingkahlaku Ormas ala militer di dunia asalnya 2030.
Lalena tersenyum tipis.
“Benar.”
Raja Latanre membangun kerajaan yang makmur. Sihir digunakan untuk menumbuhkan tanah, menenangkan laut, dan menjaga keseimbangan alam. Tidak ada istilah sihir putih atau hitam hanya sihir yang selaras dan sihir yang melanggar.
“Hingga suatu hari,” lanjut Lalena,
“Istrinya melahirkan dua anak kembar emas.”
Lapuza terdiam.
“Anak pertama laki-laki,” kata Lalena.
“Namanya Lakavor.”
Ia menarik napas.
“Anak kedua perempuan.”
“…Ibuku. Rheana.”
P5c. Anak yang Dipilih, dan Anak yang Menolak Dipilih
Lakavor adalah penyihir jenius. Bakat sihirnya luar biasa, ia bisa melipatgandakan kekuatan sihir, membuat satu mantra menjadi sepuluh, satu kutukan menjadi bencana. Namun kekuatan itu memiliki harga: ia bekerja sama dengan iblis.
“Lakavor percaya,” kata Lalena,
“bahwa hasil lebih penting daripada kemurnian. hingga ia terus bereksperimen lebih dalam”
Raja Latanre tidak setuju.
“Meski Lakavor adalah putra sulung,” lanjutnya,
“Latanre… tidak memilihnya sebagai penerus.”
Lapuza menghela napas pelan.
“Dan adik perempuannya yang dipilih.”
“Iya.”
Lalena menunduk.
“Lakavor tidak bisa menerima itu.”
“Bukan hanya karena takhta… tapi karena ia kalah oleh prinsip.”
Ia tersenyum getir.
“Dan juga karena yang dipilih… perempuan.”
Lakavor melepaskan gelar kerajaannya. La menghapus awalan ‘La’ dari namanya, simbol darah kerajaan dan sejak hari itu, ia menyebut dirinya:
"Kavor ... Kavor Riabbeang."
Lakavor adalah penyihir jenius. Bakat sihirnya luar biasa, ia bisa melipatgandakan kekuatan sihir, membuat satu mantra menjadi sepuluh, satu kutukan menjadi bencana. Namun kekuatan itu memiliki harga: ia bekerja sama dengan iblis.
“Lakavor percaya,” kata Lalena,
“bahwa hasil lebih penting daripada kemurnian. hingga ia terus bereksperimen lebih dalam”
Raja Latanre tidak setuju.
“Meski Lakavor adalah putra sulung,” lanjutnya,
“Latanre… tidak memilihnya sebagai penerus.”
Lapuza menghela napas pelan.
“Dan adik perempuannya yang dipilih.”
“Iya.”
Lalena menunduk.
“Lakavor tidak bisa menerima itu.”
“Bukan hanya karena takhta… tapi karena ia kalah oleh prinsip.”
Ia tersenyum getir.
“Dan juga karena yang dipilih… perempuan.”
Lakavor melepaskan gelar kerajaannya. La menghapus awalan ‘La’ dari namanya, simbol darah kerajaan dan sejak hari itu, ia menyebut dirinya:
"Kavor ... Kavor Riabbeang."
"Sebutan untuk anak yang terbuang." ucap Lalena dengan suara serak tertahan.
Entang mengapa Lapuza tiba-tiba teringat pada masalalunya saat diusir oleh orang taunya namun kali ini dalam versi yang berbeda.
P5d. Darah, Pusaka, dan Perang Panjang
“Pemberontakan terjadi cepat,” suara Lalena bergetar sedikit.
“Kavor membunuh ayahnya sendiri… dengan bantuan sihir gelap dan iblis.”
Lapuza mematung sesaat..
“Dan ibuku,” lanjut Lalena,
“menjadi ratu… di hari yang sama ia kehilangan ayah dan saudara.”
"Perang dikumandangkan. Negeri Penyihir terbelah."
"Saat terdesak, Kavor mencuri Badik Bintang Utara, pusaka murni peninggalan Raja Latanre, artefak yang selama ini menyeimbangkan sihir hitam dan putih."
“Sejak itu,” kata Lalena,
“keseimbangan dunia runtuh.”
P5d. Darah, Pusaka, dan Perang Panjang
“Pemberontakan terjadi cepat,” suara Lalena bergetar sedikit.
“Kavor membunuh ayahnya sendiri… dengan bantuan sihir gelap dan iblis.”
Lapuza mematung sesaat..
“Dan ibuku,” lanjut Lalena,
“menjadi ratu… di hari yang sama ia kehilangan ayah dan saudara.”
"Perang dikumandangkan. Negeri Penyihir terbelah."
"Saat terdesak, Kavor mencuri Badik Bintang Utara, pusaka murni peninggalan Raja Latanre, artefak yang selama ini menyeimbangkan sihir hitam dan putih."
“Sejak itu,” kata Lalena,
“keseimbangan dunia runtuh.”
"Badik Bintang Utara adalah pusaka kerajaan negeri penyihir peninggalan para leluhur Bissue"
"Para leluhur Bissue merupakan asal mula lahirnya ilmu sihir yang diciptakan untuk membantu kehidupan agar berjalan dengan baik dan teratur, namun..." lanjut Lalena pelan.
"Perkembangan sihir lebih dari sekedar itu, sihir hitam muncul sebagai penanding, maka Badik Bintang Utara sebagai solusi penertalisir agar sihir hitam dan pengaruh iblis dapat ditekan." jelas Lalena sembari menatap Lapuza dengan tatapan lemah.
Setelah Badik dicuri Kavor. Perang pecah dan berlangsung ratusan tahun. Ibunya menikah dengan Tomacora, ahli sihir jenius yang mampu menekan ketidak seimbangan sihir untuk sementara. Ia dipilih menjadi Panglima Perang sebagai benteng terakhir negeri penyihir.
“Dan ayahku gugur,” ucap Lalena pelan.
“Di tangan Kavor.”
Badik tak pernah kembali. Negeri Penyihir Putih melemah. Kekeringan, bencana alam, intimidasi pengikut Kavor semua terjadi selama hampir 150 tahun lebih.
Lalena menoleh pada Lapuza.
“Dan lalu… kamu muncul.”
Setelah Badik dicuri Kavor. Perang pecah dan berlangsung ratusan tahun. Ibunya menikah dengan Tomacora, ahli sihir jenius yang mampu menekan ketidak seimbangan sihir untuk sementara. Ia dipilih menjadi Panglima Perang sebagai benteng terakhir negeri penyihir.
“Dan ayahku gugur,” ucap Lalena pelan.
“Di tangan Kavor.”
Badik tak pernah kembali. Negeri Penyihir Putih melemah. Kekeringan, bencana alam, intimidasi pengikut Kavor semua terjadi selama hampir 150 tahun lebih.
Lalena menoleh pada Lapuza.
“Dan lalu… kamu muncul.”
P5e. Kenapa Lapuza?
Lapuza terdiam lama.
“Jadi,” katanya akhirnya,
“aku bukan dipanggil karena spesial.”
Ia tersenyum pahit.
“Aku dipanggil karena dunia ini… sudah kehabisan pilihan.” seketika Lapuza mengingat dunia asalnya yang justru membuang dirinya.
Lalena mengangguk.
“Iya.”
Lalu cepat-cepat menambahkan,
“Tapi itu tidak berarti kamu cuma alat!”
Ia berdiri, menatapnya serius lalu mendekat terlalu dekat, hingga tak terasa Gunung kembarnya mengentuh lengan kirinya, hangat dan empuk.
“Badik Bintang Utara bereaksi padamu.”
“Buku ramalan menyebutmu.”
“Itu bukan kebetulan.”
Lapuza menelan ludah. Berusaha membuang fokus dari gesekan dan sentuhan kedua buah melon Lalena yang lunak menyergap.
Jarak itu… tidak adil bagi kesehatan mentalnya.
“Aku cuma...”
“seorang pengangguran dari 2030,” katanya pelan.
Lalena tersenyum lembut.
“Dan aku cuma putri ceroboh yang sihirnya sering meledak tak terkendali.”
“Kita seimbang.”
Lapuza tertawa kecil.
“…Besok aku dilatih Miya, ya?”
Lalena mengangguk.
“Dan setelah itu… aku akan ceritakan lebih banyak.”
Ia melangkah pergi, lalu berhenti sejenak.
“Oh iya, Lapuza?”
“Hmm?”
“Kalau kamu mati saat latihan...”
“aku akan marah.”
“…Itu motivasi baru yang aneh.”
Lalena tertawa, lalu menghilang di balik koridor.
Lapuza menatap langit lagi.
Untuk pertama kalinya, ia mengerti:
ia tidak hanya bertarung melawan Kavor,-
tetapi melawan sejarah yang terlalu lama dibiarkan berdarah.
.jpg)

.jpg)
.jpg)