Judul Novel : Lapuza
- Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran 2030, terjebak di Dunia Penyihir
- Session : 1 (Negeri Penyihir)
- Episode : 3
- Tanggal Rilis : 28 Desember 2025
- Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
- Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
- Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
- Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Lapuza, seorang jenius dari tahun 2030 yang terasing dan kehilangan tempat di masyarakat modern, terseret ke Negeri Penyihir yang hancur setelah Badik Bintang Utara dicuri oleh Kavor Sang Raja Kegelapan, ia harus bertahan hidup tanpa sihir maupun teknologi, mengandalkan akal sehat, daya tahan mental, dan keberanian yang tumbuh perlahan, menyusuri perjalanan berbahaya bersama Lalena, pewaris takhta yang terlihat lugu namun mematikan, serta Miya Orina, panglima perang tanpa kompromi, menghadapi penyihir hitam, iblis, pengkhianatan, dan luka masa lalu ketika seorang guru berubah menjadi musuh, hingga mencapai pertempuran penentuan melawan penguasa kegelapan demi menyelamatkan dunia asing tersebut...
Putri Lalena adalah putri Kerajaan Negeri Penyihir sekaligus pewaris darah sihir murni dan co-MC utama. Ia dikenal ceria, spontan, dan ceroboh, dengan humor kocak yang kerap muncul justru di tengah situasi berbahaya. Emosional namun tulus, tanpa ia sadari sejak awal perjalanan, Lalena menaruh kepedulian yang mendalam pada Lapuza. Berambut panjang merah cerah dengan tubuh ramping yang indah dan lincah, ia sering terlihat membawa luka-luka kecil akibat teleportasi yang dilakukan secara ceroboh. Dalam pertempuran, ia mengenakan gaun sihir tempur ringan yang dipadukan dengan jubah pendek bercahaya serta aksesori kristal teleportasi. Sebagai pengguna sihir cahaya dengan reaksi ekstrem yang nyaris bersifat naluriah, Lalena menguasai teleportasi tingkat tinggi, mulai dari memindahkan diri dan objek, membelokkan ledakan sihir, mematahkan momentum serangan lawan, hingga kemampuan netralisasi mematikan melalui sentuhan yang mampu mematikan sihir musuh hanya dalam hitungan tiga detik.
P2. Buku Tua yang Tidak Pernah Dibuka Lagi
Sejarah yang Disembunyikan Cahaya
Malam turun pelan di Istana Cahaya Arcilune tanah Leluhur Bissuta.
Di balik dinding kristal yang berkilau dan menara sihir yang menjulang, terdapat sebuah lorong sempit yang tidak dilalui para bangsawan, prajurit, maupun penyihir muda. Lorong itu hanya terbuka bagi mereka yang memikul keputusan besar, keputusan yang bisa mengubah arah dunia.
Di ujungnya, tersembunyi perpustakaan terdalam istana.
Ruang itu tidak megah. Tidak ada jendela. Tidak ada cahaya alami. Rak-rak kayu hitam berjejer rapat, memuat buku-buku yang tidak lagi dibaca, bukan karena dilupakan, melainkan karena terlalu berbahaya untuk diingat.
Di sanalah seorang penyihir sepuh, rambutnya putih keperakan dan punggungnya membungkuk oleh usia serta rahasia, menyerahkan sebuah buku besar kepada Ratu Rheana.
Debu beterbangan saat buku itu berpindah tangan.
Sampulnya retak.
Kulitnya mengeras seperti kulit pohon tua.
Tulisan di punggungnya hampir lenyap, namun masih bisa dibaca oleh mereka yang tahu.
Buku Ramalan Cahaya Pertama.
Buku itu sudah ratusan tahun tidak dibuka. Bahkan di masa perang besar sekalipun, ia tetap terkunci. Di Negeri Penyihir, ada kepercayaan lama:
ramalan yang tidak pernah terwujud sering kali lebih berbahaya daripada ramalan yang keliru.
Ratu Rheana mengusap sampulnya sejenak, bukan sebagai ratu, melainkan sebagai penjaga sejarah.
Negeri Penyihir sendiri lahir jauh sebelum menara-menara kristal berdiri. Dahulu, dunia ini hanyalah daratan luas yang dihuni klan-klan sihir cahaya, air, angin, dan tanah. Mereka hidup dalam adat kuno: sihir tidak dipamerkan, kekuatan tidak diwariskan secara mutlak, dan raja dipilih bukan karena darah murni melainkan karena kebijaksanaan dan keseimbangan hati.
Kerajaan pertama dibangun di atas sumpah:
bahwa sihir ada untuk melindungi kehidupan, bukan menguasainya.
Selama berabad-abad, sumpah itu ditepati.
Hingga suatu hari… seseorang mempertanyakannya.
Bukan rakyat kecil.
Bukan penyihir lemah.
Melainkan sosok besar yang pernah berdiri di sisi cahaya yang memahami adat, sejarah, dan inti sihir lebih baik dari siapa pun.
Sejak malam pemberontakan itu, dunia terbelah.
Negeri Penyihir kehilangan kedamaiannya.
Dan bayangan kerajaan sihir hitam mulai tumbuh di luar peta resmi.
Nama pengkhianat itu tidak tertulis di buku ini.
Bukan karena lupa, melainkan karena sengaja dihapus.
Ratu membuka halaman pertama.
Tulisan kuno menyala samar, seperti merespons kehadiran seseorang yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
“Akan datang manusia dari dunia tanpa sihir.”
“Rambut gelap, mata jauh, tubuh membawa gema dunia lain.”
“Ia tidak tercatat, tidak terikat, dan tidak dipilih oleh dunia mana pun.”
Lapuza, yang sejak tadi berdiri sambil menahan kantuk, refleks berkedip.
“…Rambut gelap itu poin bonus atau cuma deskripsi?” gumamnya pelan.
Tidak ada yang menanggapi.
Ratu melanjutkan membaca.
“Dialah Penjaga Cahaya.”
Udara di ruangan itu terasa berubah.
Lalena menelan ludah, matanya membesar.
“…Dia,” ucapnya lirih, membaca ulang baris itu,
“tidak terdengar seperti orang jahat.”
Miya berdiri di sisi lain meja, memperhatikan halaman berikutnya dengan sorot mata prajurit yang membaca peta perang.
Tulisan itu berlanjut.
“Jika ia berjalan sendiri, ia akan hancur.”
“Jika ia ditinggalkan, dunia akan gelap.”
“Jika ia dilindungi… pusaka akan terbangun.”
Miya terdiam lama.
Kalimat itu terlalu jelas. Terlalu tepat.
Bukan ramalan samar seperti biasanya, ini lebih mirip peringatan.
“Putri,” katanya akhirnya, suaranya rendah,
“ramalan ini… terlalu spesifik untuk disebut kebetulan.”
Lalena menggenggam ujung lengan bajunya sendiri, antara takut dan penasaran.
Lapuza menggaruk pipinya, mencoba meringankan suasana atau mungkin melindungi dirinya sendiri dari tekanan yang mulai terasa nyata.
“Jadi…” katanya ragu,
“aku ini semacam karakter event terbatas? Datang sekali, bikin ribut, lalu...”
Ia berhenti ketika menyadari tidak ada satu pun yang tersenyum.
Keheningan menjawabnya.
Di antara rak-rak buku tua, sejarah Negeri Penyihir berdesir pelan, seolah dunia itu sendiri sedang mengingat sesuatu yang lama terkubur.
Dan tanpa disadari Lapuza,
namanya baru saja tertulis, bukan di arsip kerajaan,
melainkan di alur takdir yang pernah gagal menyelamatkan dunia ini.
P3. Reaksi Lapuza
P4. Bayangan yang Mulai Bergerak
P5. Keputusan yang Mengikat
Lapuza dan Garis Takdir Negeri Penyihir
Kembali di Istana Arcilune.
Angin malam berhembus lembut di balkon istana, menggerakkan tirai kristal yang berkilau seperti air. Langit ungu terlihat tenang namun ada sesuatu yang berbeda. Bukan gelap. Bukan badai. Melainkan kegelisahan samar, seperti langit yang baru saja mendengar kabar buruk dan belum tahu bagaimana bereaksi.
Ratu Rheana berdiri menghadap cakrawala, kedua tangannya terlipat di depan.
Lapuza berdiri beberapa langkah di belakangnya, canggung, seolah takut lantai istana akan menolaknya juga.
“Lapuza,” kata Ratu, tanpa menoleh.
“Sampai di sini, kau tidak terikat oleh apa pun.”
Ia berbalik perlahan mengamankan gunung kebarnya yang juga mengayun kenyal searah.
“Kau boleh memilih.”
“Pulang… atau berjalan bersama kami.”
Lapuza terdiam, entah fokus pada ucapan ratu atau terkejut melihat buah melon kembar sang ratu yang mengayun padat membius keimanannya.
Kata pulang terdengar aneh di telinganya.
Pulang ke kamar kos sempit.
Pulang ke email penolakan.
Pulang ke dunia yang menilai nilai seseorang dari kolom data dan koneksi.
Ia menatap langit asing itu.
Untuk pertama kalinya sejak 2030-
tidak ada layar hologram yang berkedip.
Tidak ada suara HR digital yang berbicara datar.
Tidak ada tatapan merendahkan yang berpura-pura sopan.
Hanya angin.
Dan pilihan.
“…Kalau aku tinggal,” ucapnya pelan,
“aku ingin tahu kenapa dunia ini memilihku…”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis jujur, nyaris getir.
“…padahal aku sendiri tidak pernah memilih diriku.”
Keheningan menyelimuti balkon.
Lalena yang sejak tadi menahan diri akhirnya berbisik ke Miya,
“Kalau dia pulang, berarti aku kehilangan orang pertama yang bikin istana heboh dalam satu hari.”
Miya menjawab tanpa menoleh,
“Dan aku harus menulis laporan setebal buku sejarah.”
Ia menghela napas.
“…Aku harap dia tinggal.” ucap Miya pelan malu-malu sembari merapikan kain yang menutupi gunung kembarnya merayu.
Lalena menoleh kaget.
“Eh? Kamu peduli?”
Miya menegang.
“Itu… demi stabilitas kerajaan.” berusaha menutupi perasaan
Ratu Rheana tersenyum kecil, senyum seorang penguasa yang tahu jawaban bahkan sebelum pilihan diucapkan.
Di saat yang sama-
di kejauhan, jauh di balik tembok istana,
sebuah cahaya biru samar muncul dari arah utara.
Bukan kilat.
Bukan sihir biasa.
Cahaya itu berdenyut pelan, seperti bintang yang jatuh lalu berhenti, seolah menunggu untuk diperhatikan.
Lalena merinding.
“Eh… kalian lihat itu juga, kan? Tolong bilang aku nggak halu.”
Miya menggenggam tongkatnya refleks.
“…Itu bukan fenomena alam.”
Lapuza memicingkan mata.
Entah kenapa-
dadanya terasa hangat.
Seperti ada sesuatu yang… mengenalinya.
Ratu Rheana menatap cahaya itu lama, lalu berkata pelan,
“Sepertinya… dunia ini sudah mulai menjawab pertanyaanmu.”
Dan tanpa seorang pun benar-benar menyadarinya-
jauh di utara, di tempat yang belum pernah Lapuza lihat,
sesuatu yang telah lama tertidur
akhirnya mulai terbangun.
Pusaka Pertama - Badik Bintang Utara.
Dan keputusan Lapuza-
baru saja mengikat lebih dari sekadar dirinya sendiri.
EPISODE 3
P1. Setelah Kristal Pecah
Lapuza Menjadi Topik Terlarang
Aula singgasana tidak langsung gempar.
Justru sebaliknya sunyi yang berat jatuh seperti tirai besi, menekan dada siapa pun yang berdiri di dalamnya.
Debu kristal masih melayang di udara, berkilau pelan seperti serpihan bintang yang mati sebelum sempat memberi harapan. Pantulan cahaya sihir di dinding kristal istana meredup, seolah bangunan itu sendiri ikut menahan napas.
Para penyihir istana saling berpandangan. Ada yang refleks meraih tongkat, ada yang justru mundur setengah langkah. Tidak satu pun berani berbicara. Mereka bukan takut pada Lapuza sebagai manusia, melainkan pada makna dari apa yang baru saja mereka saksikan.
Dalam sejarah Negeri Penyihir, Bola Kristal Identifikasi tidak pernah salah.
Ia bisa membaca darah naga, roh kuno, bahkan makhluk lintas dimensi.
Namun bola itu hanya pernah pecah satu kali dan catatan tentang peristiwa tersebut tidak pernah muncul di arsip resmi. Seolah dunia sepakat bahwa kejadian itu lebih baik dilupakan.
Dan sekarang… peristiwa itu terulang.
Lapuza berdiri kaku di tengah aula, tangannya masih terangkat setengah, jari-jarinya gemetar samar. Posisi itu mengingatkannya pada saat-saat di dunia lama ketika ia menunggu hasil wawancara, berharap ada senyum, dan justru mendapat penolakan dingin.
Ia menelan ludah sembari melihat pecahan bola kristal akibat gagal mengidentifikasi dirinya.
“Kalau…” katanya ragu, suaranya memantul lemah di aula luas,
“aku perlu ganti rugi… aku bisa cicil. Per bulan juga tidak apa-apa.”
Tidak ada yang tertawa.
Beberapa penyihir muda tampak bingung, seolah sedang mencoba memahami konsep cicilan.
Yang lebih senior justru semakin tegang, humor asing itu tidak mengurangi bahaya situasi, malah membuatnya terasa lebih tidak masuk akal.
Lalena, yang berdiri di sisi aula, refleks tertawa kecil.
“Heh… hehe…”
Tawanya berhenti di tengah jalan ketika ia menyadari tidak ada satu pun yang ikut tertawa.
“Uh… terlalu cepat ya?” gumamnya pelan.
Miya Orina melangkah maju tanpa sadar, berdiri setengah langkah di depan Lapuza. Tangannya menggenggam tongkat sihir erat, tubuhnya membentuk posisi defensif yang terlatih. Ia sendiri baru menyadari tindakannya setelah berdiri di sana.
Kenapa aku melindungi orang ini?
Pikirannya sempat berontak, namun kakinya tidak mundur.
Keheningan itu akhirnya dipatahkan oleh satu gerakan sederhana.
Ratu Rheana mengangkat tangannya.
Tidak ada dentuman, tidak ada sihir mencolok, namun seketika udara terasa membeku. Bisikan berhenti. Nafas tertahan. Bahkan cahaya kristal di langit-langit istana meredup sepersekian detik, seolah tunduk pada kehendaknya.
“Mulai saat ini,” ucap Ratu dengan suara lembut namun tak terbantahkan,
“kejadian di aula ini tidak dicatat dalam arsip terbuka kerajaan.”
Beberapa penyihir terkejut. Mata mereka membesar, jelas tidak menyangka keputusan seberat itu diambil secepat ini.
Yang lain justru menghela napas lega, mereka paham betul bahwa ada hal-hal yang terlalu berbahaya untuk diketahui banyak orang.
Lapuza mengedipkan mata, mencoba mencerna arti kalimat itu dengan logika dunia lamanya.
“…Jadi,” katanya pelan,
“aku barusan bikin masalah tingkat nasional?”
Beberapa penyihir tersentak mendengar istilah asing itu.
Ratu Rheana menatapnya lurus, sorot matanya tenang tidak menghakimi, tidak pula ramah.
“Kau tidak membuat masalah,” jawabnya.
“Kau menjadi masalah.”
Lapuza terdiam.
“Kau bukan tawanan,” lanjut Ratu,
“dan kau juga bukan tamu biasa.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada kata-katanya untuk meresap.
“Kau,” ucapnya akhirnya,
“baru saja menjadi rahasia negara.”
Untuk pertama kalinya sejak tahun 2030.
Lapuza tidak ditolak.
Tidak diusir.
Tidak diabaikan.
Ia tidak diterima sebagai bagian dari dunia ini…
tetapi diakui sebagai sesuatu yang terlalu penting untuk disingkirkan.
Dan entah kenapa,
itu terasa jauh lebih menakutkan daripada penolakan apa pun yang pernah ia alami didunia asalnya.
P1. Setelah Kristal Pecah
Lapuza Menjadi Topik Terlarang
Aula singgasana tidak langsung gempar.
Justru sebaliknya sunyi yang berat jatuh seperti tirai besi, menekan dada siapa pun yang berdiri di dalamnya.
Debu kristal masih melayang di udara, berkilau pelan seperti serpihan bintang yang mati sebelum sempat memberi harapan. Pantulan cahaya sihir di dinding kristal istana meredup, seolah bangunan itu sendiri ikut menahan napas.
Para penyihir istana saling berpandangan. Ada yang refleks meraih tongkat, ada yang justru mundur setengah langkah. Tidak satu pun berani berbicara. Mereka bukan takut pada Lapuza sebagai manusia, melainkan pada makna dari apa yang baru saja mereka saksikan.
Dalam sejarah Negeri Penyihir, Bola Kristal Identifikasi tidak pernah salah.
Ia bisa membaca darah naga, roh kuno, bahkan makhluk lintas dimensi.
Namun bola itu hanya pernah pecah satu kali dan catatan tentang peristiwa tersebut tidak pernah muncul di arsip resmi. Seolah dunia sepakat bahwa kejadian itu lebih baik dilupakan.
Dan sekarang… peristiwa itu terulang.
Lapuza berdiri kaku di tengah aula, tangannya masih terangkat setengah, jari-jarinya gemetar samar. Posisi itu mengingatkannya pada saat-saat di dunia lama ketika ia menunggu hasil wawancara, berharap ada senyum, dan justru mendapat penolakan dingin.
Ia menelan ludah sembari melihat pecahan bola kristal akibat gagal mengidentifikasi dirinya.
“Kalau…” katanya ragu, suaranya memantul lemah di aula luas,
“aku perlu ganti rugi… aku bisa cicil. Per bulan juga tidak apa-apa.”
Tidak ada yang tertawa.
Beberapa penyihir muda tampak bingung, seolah sedang mencoba memahami konsep cicilan.
Yang lebih senior justru semakin tegang, humor asing itu tidak mengurangi bahaya situasi, malah membuatnya terasa lebih tidak masuk akal.
Lalena, yang berdiri di sisi aula, refleks tertawa kecil.
“Heh… hehe…”
Tawanya berhenti di tengah jalan ketika ia menyadari tidak ada satu pun yang ikut tertawa.
“Uh… terlalu cepat ya?” gumamnya pelan.
Miya Orina melangkah maju tanpa sadar, berdiri setengah langkah di depan Lapuza. Tangannya menggenggam tongkat sihir erat, tubuhnya membentuk posisi defensif yang terlatih. Ia sendiri baru menyadari tindakannya setelah berdiri di sana.
Kenapa aku melindungi orang ini?
Pikirannya sempat berontak, namun kakinya tidak mundur.
Keheningan itu akhirnya dipatahkan oleh satu gerakan sederhana.
Ratu Rheana mengangkat tangannya.
Tidak ada dentuman, tidak ada sihir mencolok, namun seketika udara terasa membeku. Bisikan berhenti. Nafas tertahan. Bahkan cahaya kristal di langit-langit istana meredup sepersekian detik, seolah tunduk pada kehendaknya.
“Mulai saat ini,” ucap Ratu dengan suara lembut namun tak terbantahkan,
“kejadian di aula ini tidak dicatat dalam arsip terbuka kerajaan.”
Beberapa penyihir terkejut. Mata mereka membesar, jelas tidak menyangka keputusan seberat itu diambil secepat ini.
Yang lain justru menghela napas lega, mereka paham betul bahwa ada hal-hal yang terlalu berbahaya untuk diketahui banyak orang.
Lapuza mengedipkan mata, mencoba mencerna arti kalimat itu dengan logika dunia lamanya.
“…Jadi,” katanya pelan,
“aku barusan bikin masalah tingkat nasional?”
Beberapa penyihir tersentak mendengar istilah asing itu.
Ratu Rheana menatapnya lurus, sorot matanya tenang tidak menghakimi, tidak pula ramah.
“Kau tidak membuat masalah,” jawabnya.
“Kau menjadi masalah.”
Lapuza terdiam.
“Kau bukan tawanan,” lanjut Ratu,
“dan kau juga bukan tamu biasa.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada kata-katanya untuk meresap.
“Kau,” ucapnya akhirnya,
“baru saja menjadi rahasia negara.”
Untuk pertama kalinya sejak tahun 2030.
Lapuza tidak ditolak.
Tidak diusir.
Tidak diabaikan.
Ia tidak diterima sebagai bagian dari dunia ini…
tetapi diakui sebagai sesuatu yang terlalu penting untuk disingkirkan.
Dan entah kenapa,
itu terasa jauh lebih menakutkan daripada penolakan apa pun yang pernah ia alami didunia asalnya.
P2. Buku Tua yang Tidak Pernah Dibuka Lagi
Sejarah yang Disembunyikan Cahaya
Malam turun pelan di Istana Cahaya Arcilune tanah Leluhur Bissuta.
Di balik dinding kristal yang berkilau dan menara sihir yang menjulang, terdapat sebuah lorong sempit yang tidak dilalui para bangsawan, prajurit, maupun penyihir muda. Lorong itu hanya terbuka bagi mereka yang memikul keputusan besar, keputusan yang bisa mengubah arah dunia.
Di ujungnya, tersembunyi perpustakaan terdalam istana.
Ruang itu tidak megah. Tidak ada jendela. Tidak ada cahaya alami. Rak-rak kayu hitam berjejer rapat, memuat buku-buku yang tidak lagi dibaca, bukan karena dilupakan, melainkan karena terlalu berbahaya untuk diingat.
Di sanalah seorang penyihir sepuh, rambutnya putih keperakan dan punggungnya membungkuk oleh usia serta rahasia, menyerahkan sebuah buku besar kepada Ratu Rheana.
Debu beterbangan saat buku itu berpindah tangan.
Sampulnya retak.
Kulitnya mengeras seperti kulit pohon tua.
Tulisan di punggungnya hampir lenyap, namun masih bisa dibaca oleh mereka yang tahu.
Buku Ramalan Cahaya Pertama.
Buku itu sudah ratusan tahun tidak dibuka. Bahkan di masa perang besar sekalipun, ia tetap terkunci. Di Negeri Penyihir, ada kepercayaan lama:
ramalan yang tidak pernah terwujud sering kali lebih berbahaya daripada ramalan yang keliru.
Ratu Rheana mengusap sampulnya sejenak, bukan sebagai ratu, melainkan sebagai penjaga sejarah.
Negeri Penyihir sendiri lahir jauh sebelum menara-menara kristal berdiri. Dahulu, dunia ini hanyalah daratan luas yang dihuni klan-klan sihir cahaya, air, angin, dan tanah. Mereka hidup dalam adat kuno: sihir tidak dipamerkan, kekuatan tidak diwariskan secara mutlak, dan raja dipilih bukan karena darah murni melainkan karena kebijaksanaan dan keseimbangan hati.
Kerajaan pertama dibangun di atas sumpah:
bahwa sihir ada untuk melindungi kehidupan, bukan menguasainya.
Selama berabad-abad, sumpah itu ditepati.
Hingga suatu hari… seseorang mempertanyakannya.
Bukan rakyat kecil.
Bukan penyihir lemah.
Melainkan sosok besar yang pernah berdiri di sisi cahaya yang memahami adat, sejarah, dan inti sihir lebih baik dari siapa pun.
Sejak malam pemberontakan itu, dunia terbelah.
Negeri Penyihir kehilangan kedamaiannya.
Dan bayangan kerajaan sihir hitam mulai tumbuh di luar peta resmi.
Nama pengkhianat itu tidak tertulis di buku ini.
Bukan karena lupa, melainkan karena sengaja dihapus.
Ratu membuka halaman pertama.
Tulisan kuno menyala samar, seperti merespons kehadiran seseorang yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
“Akan datang manusia dari dunia tanpa sihir.”
“Rambut gelap, mata jauh, tubuh membawa gema dunia lain.”
“Ia tidak tercatat, tidak terikat, dan tidak dipilih oleh dunia mana pun.”
Lapuza, yang sejak tadi berdiri sambil menahan kantuk, refleks berkedip.
“…Rambut gelap itu poin bonus atau cuma deskripsi?” gumamnya pelan.
Tidak ada yang menanggapi.
Ratu melanjutkan membaca.
“Dialah Penjaga Cahaya.”
Udara di ruangan itu terasa berubah.
Lalena menelan ludah, matanya membesar.
“…Dia,” ucapnya lirih, membaca ulang baris itu,
“tidak terdengar seperti orang jahat.”
Miya berdiri di sisi lain meja, memperhatikan halaman berikutnya dengan sorot mata prajurit yang membaca peta perang.
Tulisan itu berlanjut.
“Jika ia berjalan sendiri, ia akan hancur.”
“Jika ia ditinggalkan, dunia akan gelap.”
“Jika ia dilindungi… pusaka akan terbangun.”
Miya terdiam lama.
Kalimat itu terlalu jelas. Terlalu tepat.
Bukan ramalan samar seperti biasanya, ini lebih mirip peringatan.
“Putri,” katanya akhirnya, suaranya rendah,
“ramalan ini… terlalu spesifik untuk disebut kebetulan.”
Lalena menggenggam ujung lengan bajunya sendiri, antara takut dan penasaran.
Lapuza menggaruk pipinya, mencoba meringankan suasana atau mungkin melindungi dirinya sendiri dari tekanan yang mulai terasa nyata.
“Jadi…” katanya ragu,
“aku ini semacam karakter event terbatas? Datang sekali, bikin ribut, lalu...”
Ia berhenti ketika menyadari tidak ada satu pun yang tersenyum.
Keheningan menjawabnya.
Di antara rak-rak buku tua, sejarah Negeri Penyihir berdesir pelan, seolah dunia itu sendiri sedang mengingat sesuatu yang lama terkubur.
Dan tanpa disadari Lapuza,
namanya baru saja tertulis, bukan di arsip kerajaan,
melainkan di alur takdir yang pernah gagal menyelamatkan dunia ini.
P3. Reaksi Lapuza
Takdir yang Tidak Diminta
Berbeda dari bayangan para penyihir, Lapuza tidak berdiri dengan dada membusung seperti pahlawan yang akhirnya diakui. Ia juga tidak gemetar seperti orang yang ketakutan menghadapi nubuat besar.
Ia justru duduk perlahan di kursi kayu perpustakaan, menundukkan kepala, dan memandangi kedua tangannya sendiri, tangan yang sama yang di dunia asalnya hanya dianggap tidak sesuai spesifikasi.
Di tahun 2030, tangan itu pernah menulis ratusan lamaran kerja.
Pernah memperbaiki berbagai macam mesin milik orang lain hingga sempurna, lalu ditinggal tanpa ucapan terima kasih.
Berbeda dari bayangan para penyihir, Lapuza tidak berdiri dengan dada membusung seperti pahlawan yang akhirnya diakui. Ia juga tidak gemetar seperti orang yang ketakutan menghadapi nubuat besar.
Ia justru duduk perlahan di kursi kayu perpustakaan, menundukkan kepala, dan memandangi kedua tangannya sendiri, tangan yang sama yang di dunia asalnya hanya dianggap tidak sesuai spesifikasi.
Di tahun 2030, tangan itu pernah menulis ratusan lamaran kerja.
Pernah memperbaiki berbagai macam mesin milik orang lain hingga sempurna, lalu ditinggal tanpa ucapan terima kasih.
Pernah gemetar menahan emosi saat orang-orang tersenyum sopan sambil berkata, “Kemampuan Anda mengesankan, tapi tidak cocok dengan sistem kami.”
Ia ingat tatapan ayahnya, dingin dan lelah, saat akhirnya berkata bahwa rumah itu bukan tempat bagi seseorang yang “tidak menghasilkan apa-apa.”
Ia ingat sahabat yang dulu sering memujinya jenius, lalu perlahan berhenti menghubungi karena “tidak ingin terseret kegagalan.”
Ia ingat seseorang yang pernah menggenggam tangannya dan berkata akan selalu percaya… sebelum pergi memilih masa depan yang lebih aman.
Dan sekarang...
Di dunia yang bahkan tidak ia minta,
ia kembali diberi label.
Berbahaya.
Anomali.
Takdir berjalan.
Lucu, pikirnya pahit.
Di mana pun aku berada, aku tetap tidak pas.
“Aku tidak minta ini,” ucapnya akhirnya. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja dinobatkan sebagai pusat ramalan dunia.
“Aku tidak datang untuk menyelamatkan dunia mana pun.”
Lalena, yang sejak tadi berdiri gelisah, refleks melangkah mendekat. Wajahnya serius… selama setengah detik.
“Eh... jujur aja,” katanya sambil mengangkat jari,
“kami juga tidak minta kamu datang, sih. Kamu jatuhnya tiba-tiba, bikin kristal pecah, bikin rapat darurat…”
Ia tersenyum lebar.
“…tapi sekarang sudah di sini.”
Miya langsung melirik Lalena dengan tajam.
“…Itu bukan kalimat penghiburan,” katanya dingin.
Lalena berkedip.
“Eh? Bukannya jujur itu bagus?”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, sudut bibir Lapuza bergerak naik.
Senyum kecil. Hampir tak terlihat.
Senyum seseorang yang sudah terlalu sering patah untuk tertawa lepas, tapi masih ingin mencoba.
“Aku hanya ingin tahu satu hal,” lanjutnya, menatap Ratu Rheana, Miya, dan Lalena secara bergantian.
“Kalau aku gagal…”
“…apa dunia ini akan membenciku seperti duniaku sebelumnya?”
Pertanyaan itu jatuh pelan namun berat.
Tidak ada sihir. Tidak ada ramalan. Hanya ketakutan manusia yang pernah ditolak terlalu sering.
Keheningan menyelimuti ruangan.
Lalena membuka mulut, menutupnya lagi, lalu tiba-tiba berkata,
“Kalau kamu gagal, aku mungkin akan kecewa.”
Ia mencondongkan badan sambil menggoyangkan kedua gunung kembarnya menggoda..
“Tapi membenci? Nggak. Aku terlalu sibuk untuk itu.”
Miya menghela napas pendek.
“Dan kalau dunia ini mulai menyalahkanmu,” katanya tegas,
“itu berarti mereka lupa bahwa kaulah yang mencoba lebih dulu.”
Miya menoleh sedikit.
“Dan aku tidak suka dunia yang lupa jasa orang.” tegas Miya tatapan tulus
Ratu Rheana akhirnya melangkah maju. Suaranya lembut, tapi kokoh seperti fondasi istana.
“Tidak,” ucapnya pelan.
“Kami tidak akan membencimu.”
“Kami akan mengingatmu… sebagai seseorang yang mencoba berjalan, meski tidak mudah.”
Bagi Lapuza.
kata-kata itu terasa asing.
Namun untuk pertama kalinya sejak tahun 2030,
ia tidak merasa harus membuktikan nilainya untuk diizinkan bernapas.
Dan mungkin-
hanya mungkin-
itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan.
Ia ingat tatapan ayahnya, dingin dan lelah, saat akhirnya berkata bahwa rumah itu bukan tempat bagi seseorang yang “tidak menghasilkan apa-apa.”
Ia ingat sahabat yang dulu sering memujinya jenius, lalu perlahan berhenti menghubungi karena “tidak ingin terseret kegagalan.”
Ia ingat seseorang yang pernah menggenggam tangannya dan berkata akan selalu percaya… sebelum pergi memilih masa depan yang lebih aman.
Dan sekarang...
Di dunia yang bahkan tidak ia minta,
ia kembali diberi label.
Berbahaya.
Anomali.
Takdir berjalan.
Lucu, pikirnya pahit.
Di mana pun aku berada, aku tetap tidak pas.
“Aku tidak minta ini,” ucapnya akhirnya. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja dinobatkan sebagai pusat ramalan dunia.
“Aku tidak datang untuk menyelamatkan dunia mana pun.”
Lalena, yang sejak tadi berdiri gelisah, refleks melangkah mendekat. Wajahnya serius… selama setengah detik.
“Eh... jujur aja,” katanya sambil mengangkat jari,
“kami juga tidak minta kamu datang, sih. Kamu jatuhnya tiba-tiba, bikin kristal pecah, bikin rapat darurat…”
Ia tersenyum lebar.
“…tapi sekarang sudah di sini.”
Miya langsung melirik Lalena dengan tajam.
“…Itu bukan kalimat penghiburan,” katanya dingin.
Lalena berkedip.
“Eh? Bukannya jujur itu bagus?”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, sudut bibir Lapuza bergerak naik.
Senyum kecil. Hampir tak terlihat.
Senyum seseorang yang sudah terlalu sering patah untuk tertawa lepas, tapi masih ingin mencoba.
“Aku hanya ingin tahu satu hal,” lanjutnya, menatap Ratu Rheana, Miya, dan Lalena secara bergantian.
“Kalau aku gagal…”
“…apa dunia ini akan membenciku seperti duniaku sebelumnya?”
Pertanyaan itu jatuh pelan namun berat.
Tidak ada sihir. Tidak ada ramalan. Hanya ketakutan manusia yang pernah ditolak terlalu sering.
Keheningan menyelimuti ruangan.
Lalena membuka mulut, menutupnya lagi, lalu tiba-tiba berkata,
“Kalau kamu gagal, aku mungkin akan kecewa.”
Ia mencondongkan badan sambil menggoyangkan kedua gunung kembarnya menggoda..
“Tapi membenci? Nggak. Aku terlalu sibuk untuk itu.”
Miya menghela napas pendek.
“Dan kalau dunia ini mulai menyalahkanmu,” katanya tegas,
“itu berarti mereka lupa bahwa kaulah yang mencoba lebih dulu.”
Miya menoleh sedikit.
“Dan aku tidak suka dunia yang lupa jasa orang.” tegas Miya tatapan tulus
Ratu Rheana akhirnya melangkah maju. Suaranya lembut, tapi kokoh seperti fondasi istana.
“Tidak,” ucapnya pelan.
“Kami tidak akan membencimu.”
“Kami akan mengingatmu… sebagai seseorang yang mencoba berjalan, meski tidak mudah.”
Bagi Lapuza.
kata-kata itu terasa asing.
Namun untuk pertama kalinya sejak tahun 2030,
ia tidak merasa harus membuktikan nilainya untuk diizinkan bernapas.
Dan mungkin-
hanya mungkin-
itu sudah cukup untuk membuatnya bertahan.
P4. Bayangan yang Mulai Bergerak
Kebangkitan Kavor - Wilayah Kerajaan Penyihir Hitam
Sementara itu...
jauh dari Istana Arcilune.
Jauh dari Negeri Penyihir yang masih bercahaya.
Di tempat yang tidak lagi diakui sebagai bagian dari dunia ini.-
wilayah terlarang yang namanya dihapus dari peta, arsip, dan doa,-
kabut hitam berdenyut.
Tidak ada bunga yang mekar.
Tidak ada aroma kedamaian.
Dan tidak ada satu pun yang mengetahui apa yang sedang terjadi.
Kabut itu bergerak perlahan, berputar di atas tanah hitam yang retak seperti bekas luka lama. Setiap denyutannya terasa berat, seolah dunia sedang menarik napas yang seharusnya tidak diambil lagi. Cahaya tidak masuk ke tempat itu, bukan karena gelap, tetapi karena cahaya menolak bertahan.
Di pusat wilayah itu, sebuah ruang luas terbentuk dari bayangan yang mengeras. Singgasana hitam berdiri di tengahnya, bukan dibangun, melainkan tumbuh dari kegelapan itu sendiri.
Di atasnya-
sebuah sosok tinggi duduk diam.
Selama ratusan tahun, tidak ada gerakan.
Tidak ada suara.
Tidak ada waktu.
Lalu-
mata merah menyala terbuka.
Kabut langsung bereaksi, bergejolak seperti makhluk hidup yang baru saja mengenali tuannya. Retakan energi gelap menjalar dari singgasana, menyusup ke tanah, membangunkan bayangan-bayangan yang tertanam di dalamnya.
Makhluk-makhluk itu bangkit satu per satu.
Tidak sepenuhnya berwujud.
Tidak sepenuhnya hidup.
Sosok itu berdiri.
Langkah pertamanya membuat tanah menghitam lebih dalam, seolah warna aslinya selama ini hanya ilusi.
“Kau akhirnya muncul,” gumamnya pelan-
bukan kepada siapa pun yang hadir,
melainkan kepada sesuatu yang ia rasakan dari kejauhan.
“Manusia Produk Gagal.” senyum tipisnya membelah keheningan
Nama itu membuat kabut berdenyut lebih keras.
Ia menoleh ke arah yang tidak menunjukkan apa pun-
namun jelas bukan ke arah istana.
“Dunia ini sudah terlalu lama tenang,” lanjutnya.
“Dan cahaya…”
“…selalu lupa bahwa kegelapan tidak pernah benar-benar mati.”
Makhluk-makhluk bayangan merunduk dipandu dua komandan penyihir legendaris yang wajahnya tertutup kabut hitam.
Sementara itu-
di Istana Arcilune,
Lapuza, Ratu Rheana, Lalena, dan Miya sama sekali tidak menyadari bahwa sesuatu telah terbangun.
Tidak ada tanda.
Tidak ada peringatan.
Hanya satu fakta yang mulai berlaku:
kedatangan Lapuza telah memicu sesuatu yang jauh lebih tua daripada ramalan mana pun.
Dan bayangan-
akhirnya mulai bergerak.
Sementara itu...
jauh dari Istana Arcilune.
Jauh dari Negeri Penyihir yang masih bercahaya.
Di tempat yang tidak lagi diakui sebagai bagian dari dunia ini.-
wilayah terlarang yang namanya dihapus dari peta, arsip, dan doa,-
kabut hitam berdenyut.
Tidak ada bunga yang mekar.
Tidak ada aroma kedamaian.
Dan tidak ada satu pun yang mengetahui apa yang sedang terjadi.
Kabut itu bergerak perlahan, berputar di atas tanah hitam yang retak seperti bekas luka lama. Setiap denyutannya terasa berat, seolah dunia sedang menarik napas yang seharusnya tidak diambil lagi. Cahaya tidak masuk ke tempat itu, bukan karena gelap, tetapi karena cahaya menolak bertahan.
Di pusat wilayah itu, sebuah ruang luas terbentuk dari bayangan yang mengeras. Singgasana hitam berdiri di tengahnya, bukan dibangun, melainkan tumbuh dari kegelapan itu sendiri.
Di atasnya-
sebuah sosok tinggi duduk diam.
Selama ratusan tahun, tidak ada gerakan.
Tidak ada suara.
Tidak ada waktu.
Lalu-
mata merah menyala terbuka.
Kabut langsung bereaksi, bergejolak seperti makhluk hidup yang baru saja mengenali tuannya. Retakan energi gelap menjalar dari singgasana, menyusup ke tanah, membangunkan bayangan-bayangan yang tertanam di dalamnya.
Makhluk-makhluk itu bangkit satu per satu.
Tidak sepenuhnya berwujud.
Tidak sepenuhnya hidup.
Sosok itu berdiri.
Langkah pertamanya membuat tanah menghitam lebih dalam, seolah warna aslinya selama ini hanya ilusi.
“Kau akhirnya muncul,” gumamnya pelan-
bukan kepada siapa pun yang hadir,
melainkan kepada sesuatu yang ia rasakan dari kejauhan.
“Manusia Produk Gagal.” senyum tipisnya membelah keheningan
Nama itu membuat kabut berdenyut lebih keras.
Ia menoleh ke arah yang tidak menunjukkan apa pun-
namun jelas bukan ke arah istana.
“Dunia ini sudah terlalu lama tenang,” lanjutnya.
“Dan cahaya…”
“…selalu lupa bahwa kegelapan tidak pernah benar-benar mati.”
Makhluk-makhluk bayangan merunduk dipandu dua komandan penyihir legendaris yang wajahnya tertutup kabut hitam.
Sementara itu-
di Istana Arcilune,
Lapuza, Ratu Rheana, Lalena, dan Miya sama sekali tidak menyadari bahwa sesuatu telah terbangun.
Tidak ada tanda.
Tidak ada peringatan.
Hanya satu fakta yang mulai berlaku:
kedatangan Lapuza telah memicu sesuatu yang jauh lebih tua daripada ramalan mana pun.
Dan bayangan-
akhirnya mulai bergerak.
P5. Keputusan yang Mengikat
Lapuza dan Garis Takdir Negeri Penyihir
Kembali di Istana Arcilune.
Angin malam berhembus lembut di balkon istana, menggerakkan tirai kristal yang berkilau seperti air. Langit ungu terlihat tenang namun ada sesuatu yang berbeda. Bukan gelap. Bukan badai. Melainkan kegelisahan samar, seperti langit yang baru saja mendengar kabar buruk dan belum tahu bagaimana bereaksi.
Ratu Rheana berdiri menghadap cakrawala, kedua tangannya terlipat di depan.
Lapuza berdiri beberapa langkah di belakangnya, canggung, seolah takut lantai istana akan menolaknya juga.
“Lapuza,” kata Ratu, tanpa menoleh.
“Sampai di sini, kau tidak terikat oleh apa pun.”
Ia berbalik perlahan mengamankan gunung kebarnya yang juga mengayun kenyal searah.
“Kau boleh memilih.”
“Pulang… atau berjalan bersama kami.”
Lapuza terdiam, entah fokus pada ucapan ratu atau terkejut melihat buah melon kembar sang ratu yang mengayun padat membius keimanannya.
Kata pulang terdengar aneh di telinganya.
Pulang ke kamar kos sempit.
Pulang ke email penolakan.
Pulang ke dunia yang menilai nilai seseorang dari kolom data dan koneksi.
Ia menatap langit asing itu.
Untuk pertama kalinya sejak 2030-
tidak ada layar hologram yang berkedip.
Tidak ada suara HR digital yang berbicara datar.
Tidak ada tatapan merendahkan yang berpura-pura sopan.
Hanya angin.
Dan pilihan.
“…Kalau aku tinggal,” ucapnya pelan,
“aku ingin tahu kenapa dunia ini memilihku…”
Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis jujur, nyaris getir.
“…padahal aku sendiri tidak pernah memilih diriku.”
Keheningan menyelimuti balkon.
Lalena yang sejak tadi menahan diri akhirnya berbisik ke Miya,
“Kalau dia pulang, berarti aku kehilangan orang pertama yang bikin istana heboh dalam satu hari.”
Miya menjawab tanpa menoleh,
“Dan aku harus menulis laporan setebal buku sejarah.”
Ia menghela napas.
“…Aku harap dia tinggal.” ucap Miya pelan malu-malu sembari merapikan kain yang menutupi gunung kembarnya merayu.
Lalena menoleh kaget.
“Eh? Kamu peduli?”
Miya menegang.
“Itu… demi stabilitas kerajaan.” berusaha menutupi perasaan
Ratu Rheana tersenyum kecil, senyum seorang penguasa yang tahu jawaban bahkan sebelum pilihan diucapkan.
Di saat yang sama-
di kejauhan, jauh di balik tembok istana,
sebuah cahaya biru samar muncul dari arah utara.
Bukan kilat.
Bukan sihir biasa.
Cahaya itu berdenyut pelan, seperti bintang yang jatuh lalu berhenti, seolah menunggu untuk diperhatikan.
Lalena merinding.
“Eh… kalian lihat itu juga, kan? Tolong bilang aku nggak halu.”
Miya menggenggam tongkatnya refleks.
“…Itu bukan fenomena alam.”
Lapuza memicingkan mata.
Entah kenapa-
dadanya terasa hangat.
Seperti ada sesuatu yang… mengenalinya.
Ratu Rheana menatap cahaya itu lama, lalu berkata pelan,
“Sepertinya… dunia ini sudah mulai menjawab pertanyaanmu.”
Dan tanpa seorang pun benar-benar menyadarinya-
jauh di utara, di tempat yang belum pernah Lapuza lihat,
sesuatu yang telah lama tertidur
akhirnya mulai terbangun.
Pusaka Pertama - Badik Bintang Utara.
Dan keputusan Lapuza-
baru saja mengikat lebih dari sekadar dirinya sendiri.
.jpg)
