Jumat, 19 Desember 2025

Elegi di Atas Nada Yang Patah

Elegi Di Atas Nada Yang Patah
Karya : Andi Akbar Muzfa

Dentum piano ini mendadak sumbang dan kaku,
Saat aku berdiri di balik tirai panggung aula yang tua.
Udara terasa mencekik, mengunci setiap langkahku,
Membawa aroma pengkhianatan yang perlahan mulai menyapa.

Aku melihatmu di sana, di sudut gelap dekat ruang alat,
Tertawa begitu mesra dengan dia yang dulu kau sebut "sahabat".
Duniaku runtuh seketika, hancur dalam hitungan kilat,
Melihat bibirmu membisikkan janji pada jiwa yang jahat.

Seluruh tubuhku mendingin, seperti mayat yang membiru,
Napas yang kupacu terasa seperti menghirup serpihan kaca.
Kau yang kuanggap rumah, kini menjadi badai yang menderu,
Membakar seluruh istana mimpi yang selama ini aku jaga.

Di luar sana, teman-teman bersorak dalam pesta sekolah,
Tapi di sini, di dadaku, sebuah pemakaman sedang berlangsung.
Aku melihat kau memeluknya dengan begitu tenang dan betah,
Meninggalkan aku yang sekarat, di dalam luka yang kian menggunung.

Aku adalah piano dengan tuts yang kau cabut satu per satu,
Hingga melodi cintaku hanya menjadi kebisingan yang tak berarti.
Kau adalah tangan yang mencekik harapanku hingga membatu,
Membiarkan aku membusuk dalam sepi yang kian menyakiti.

Esok hari, aku harus kembali memakai seragam yang penuh luka,
Duduk di belakangmu, mencium sisa pengkhianatan di rambutmu.
Melihat kau mengirim pesan padanya dengan wajah tanpa duka,
Adalah neraka yang nyata yang harus kutelan di depan matamu.

Hanya terpisah satu meja, namun kau terasa di ujung semesta,
Aku bisa melihat tanganmu yang dulu selalu kugenggam erat.
Kini tangan itu menjadi milik orang lain dalam balutan kasta,
Menghancurkan setiap harga diriku hingga menjadi sekarat.

Setiap sudut sekolah ini kini berteriak tentang rasa malu,
Tentang bagaimana aku dicurangi di balik janji-janji manismu.
Dulu kita adalah cerita, kini aku hanyalah sebuah benalu,
Yang kau buang ke tempat sampah setelah kau temukan barumu.

Bahuku merosot, tak lagi sanggup menahan beban yang gila,
Mataku kosong, memandang papan tulis yang kian mengabur.
Aku ingin mati rasa saja, agar tak perlu merasakan gila,
Saat melihat kau dan dia berbagi tawa yang membuatku lebur.

Kuberikan segalanya, bahkan mimpiku kutitipkan di pundakmu,
Menjadikanmu alasan tunggal mengapa aku ingin lekas dewasa.
Ternyata kau hanyalah api yang membakar seluruh buku-bukuku,
Meninggalkanku abu yang beterbangan, tak lagi punya jasa.

Biarkan elegi ini menjadi akhir dari napas yang sia-sia,
Tentang seorang pria yang kau bunuh perlahan dengan cara yang keji.
Aku takkan lagi mencari cinta, karena cinta adalah bencana kimia,
Yang merusak seluruh jiwaku hingga tak ada lagi yang suci.

Tirai tertutup, namun lukaku tetap menganga di tengah aula,
Menyaksikan kau pulang dengannya, meninggalkan aku yang fana.
Aku akan membusuk di sini, dalam dendam yang kian menyala,
Menjadi siswa yang kau lupakan, di dalam duka yang takkan sirna.

Makassar 2023
Kategori : Musikalisasi Puisi (Modern)
Tema : Penghianatan Cinta Remaja SMA - Perselingkuhan

Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang seorang siswa laki-laki yang dunianya runtuh seketika saat ia memergoki pengkhianatan kekasihnya di tengah acara besar sekolah. Ia mengalami trauma hebat setelah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana wanita yang paling ia percayai menjalin kemesraan dengan orang terdekatnya di sebuah sudut gelap yang tersembunyi. Pengkhianatan ini terasa sangat dramatis dan menyakitkan karena terjadi di saat semua orang sedang merayakan kegembiraan, sementara ia justru harus menghadapi kenyataan bahwa seluruh janji setia yang pernah ia terima hanyalah kebohongan besar.

Ia merasakan kepedihan yang menyayat hati karena harus terus hadir di sekolah dan berhadapan dengan pelaku pengkhianatan tersebut setiap hari di dalam kelas. Keberadaannya seolah-olah dianggap tidak ada, dan ia terpaksa menghirup udara yang sama dengan orang yang telah menghancurkan harga diri serta masa depannya. Konflik batinnya memuncak saat ia menyadari bahwa ia bukan hanya kehilangan kekasih, tetapi juga kehilangan rasa percaya pada persahabatan dan cinta, menjadikannya sosok yang mati rasa di tengah riuhnya lingkungan putih abu-abu.

Pria ini merasa sangat terhina karena ketulusan yang ia berikan selama ini dibalas dengan tindakan yang sangat keji dan tanpa penyesalan sedikit pun. Ia merasa seperti sebuah instrumen musik yang dirusak secara sengaja, meninggalkan melodi hidupnya yang kini penuh dengan nada sumbang dan keputusasaan. Siksaan visual yang ia alami melihat sang gadis tertawa dan berbagi pesan dengan selingkuhannya menjadi belati yang terus menusuk lukanya yang belum sempat mengering, membuatnya merasa terjebak dalam neraka dunia yang tak ada ujungnya.

Pada akhirnya, kisah ini menggambarkan proses matinya perasaan seorang remaja yang telah dikhianati hingga ke dasar jiwanya. Ia memilih untuk menutup hatinya rapat-rapat dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kebencian serta duka yang mendalam sebagai mekanisme pertahanan diri. Ia menerima takdir sebagai sosok yang "terbuang" dan "terlupakan", menjadikan sisa masa SMA-nya sebagai sebuah elegi panjang tentang kegagalan sebuah ketulusan dan hancurnya sebuah harapan yang pernah ia rakit dengan sepenuh hati.

Tulis Komentar FB Anda Disini...