Rabu, 17 Desember 2025

Keranda Cinta di Sudut Kelas

Keranda Cinta di Sudut Kelas
Karya : Andi Akbar Muzfa

Aku menyeret langkah menuju gerbang yang kian menghimpit,
Melihat duniamu yang kini berkilau tanpa ada aku di sana.
Dulu aku adalah tempatmu pulang saat harimu terasa pahit,
Sekarang aku hanyalah debu yang kau sapu tanpa sisa warna.

Di kelas ini, aroma rambutmu masih betah memenjara indra,
Menusuk relung paru-paruku hingga aku lupa cara bernapas.
Kau tertawa di barisan depan, bercerita tentang dunia yang ceria,
Seolah memori tentang kita hanyalah noda yang baru saja kau lepas.

Aku melihatmu di kantin, duduk dengan begitu tenang dan anggun,
Membicarakan masa depan yang dulu pernah kita rakit bersama.
Namun kini namaku telah kau hapus dari setiap bait dan pantun,
Menjadikan aku mayat hidup yang tak lagi memiliki arti nama.

Saat matamu tak sengaja menatapku, hanya ada kekosongan yang dingin,
Tak ada benci, tak ada rindu, hanya kehampaan yang luar biasa kejam.
Aku merasa kerdil, hancur berkeping ditiup kerasnya angin,
Tenggelam dalam luka yang kian membusuk dan terasa sangat dalam.

Aku hanyalah catatan kaki yang kau coret karena tak lagi berguna,
Halaman usang yang kau robek agar bukumu kembali terlihat suci.
Kau adalah badai yang menghancurkan seluruh rencana yang ada,
Meninggalkan aku sekarat dalam kesetiaan yang sangat aku benci.

Hanya terpisah beberapa meja, tapi rasanya seperti ribuan makam,
Aku bisa melihatmu bernapas, tapi tak bisa lagi menyentuh hatimu.
Kedekatan ini adalah cara Tuhan membuat hidupku kian kelam,
Menyaksikanmu bahagia tanpa ada sedikit pun jejak bayangku.

Tanganku gemetar saat mencoba menulis rumus di papan tulis,
Dadaku berdegup kencang, menahan tangis yang hampir pecah.
Aku ingin berteriak bahwa mencintaimu adalah hal yang paling tragis,
Namun suaraku sudah mati, terkubur dalam takdir yang sangat lelah.

Setiap sudut sekolah ini berteriak memanggil nama kita yang dulu,
Tentang janji di balik perpustakaan dan tawa di pinggir lapangan.
Kini semua itu berubah menjadi belati yang mengiris hatiku,
Menyisakan perih yang takkan pernah menemukan akhir ketenangan.

Kuberikan seluruh masa mudaku hanya untuk memujamu seorang,
Menjadikan setiap mimpiku berporos pada senyummu yang indah.
Ternyata aku hanyalah mainan yang kau buang saat bosan datang,
Meninggalkanku hancur merangkak di atas tanah yang merah.

Biarkan meja kayu ini menjadi saksi betapa hancurnya seorang pria,
Yang menangis tanpa suara di sela riuhnya canda teman sebaya.
Aku akan tetap duduk di sini, membusuk dalam sepi yang setia,
Menjadi nisan bagi diriku sendiri yang telah kau anggap tiada.

Besok pagi, aku akan kembali melihatmu dengan binar mata yang baru,
Melangkah pergi menuju hidupmu yang kian jauh meninggalkan aku.
Aku akan tetap di sini, menjadi bangkai harapan yang membatu,
Mencintaimu sampai mati di dalam kelas yang membisu dan kaku.

Makassar 2023
Kategori : Musikalisasi Puisi Cinta SMA (Modern)
Tema : Puisi Patah Hati

Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang seorang siswa laki-laki yang harus menanggung penderitaan batin yang teramat dahsyat karena kehadirannya dianggap sama sekali tidak pernah ada oleh gadis yang ia cintai. Ia menjalani hari-hari di SMA sebagai seorang "mayat hidup" yang terpaksa menyaksikan orang yang paling ia puja melanjutkan hidup dengan sangat bahagia, seolah-olah hubungan mendalam yang pernah mereka jalin tidak meninggalkan bekas sedikit pun. Baginya, sekolah telah berubah menjadi sebuah penjara emosional yang kejam, di mana setiap bangku, lorong, dan aroma di udara terus-menerus menyiksa batinnya dengan kenangan yang kini terasa seperti racun.

Pria ini mengalami kehancuran harga diri yang luar biasa ketika ia menyadari bahwa ia bukan hanya ditinggalkan, tapi benar-benar dihapus dari memori sang gadis. Ia merasakan konflik internal yang menyakitkan saat harus berada di ruangan yang sama setiap hari, melihat gadis itu tertawa dan bernapas dengan tenang, sementara di dalam dadanya sendiri terdapat badai kesedihan yang membuatnya sulit untuk sekadar menghirup udara. Ia merasa seperti sampah memori, sebuah catatan kaki yang tidak penting yang telah dibuang agar hidup sang gadis terlihat lebih bersih dan sempurna tanpa bayang-bayang dirinya.

Pada akhirnya, kisah ini menggambarkan keputusasaan seorang remaja pria yang memilih untuk membusuk dalam kesetiaan yang sia-sia. Ia menjadikan meja belajarnya sebagai simbol nisan bagi jiwanya yang telah gugur, tempat di mana ia merenungi segala ketulusan yang akhirnya terinjak-injak oleh ketidakpedulian. Ia menyerah pada rasa sakitnya dan menerima takdir sebagai sosok yang mati rasa di tengah hiruk-pikuk dunia sekolah, membiarkan dirinya menjadi bangkai harapan yang tetap mencintai meskipun hatinya telah lama hancur dan tak lagi dianggap berharga oleh siapapun.

Tulis Komentar FB Anda Disini...