Luka Berselimut Sutra
Karya : Andi Akbar Muzfa
Kau adalah musim semi yang paling ranum di mataku,
Membawa aroma mawar yang membius seluruh logika.
Aku meminum setiap kata manismu seperti madu,
Tanpa sadar di dasarnya ada racun yang mulai bekerja.
Janji-janjimu sehalus kain sutra yang menyelimuti malam,
Memberiku rasa hangat yang membuatku terlena dan buta.
Namun perlahan kain itu melilit leherku dengan tajam,
Mencekik napasku di tengah mimpi-mimpi yang kau tata.
Aku melihatmu menari di bawah rembulan dengan dia,
Langkahmu anggun, seolah sedang merayakan kemenangan.
Kau berikan binar mata yang dulu adalah semestaku saja,
Kini kau taburkan pada jiwa lain di tengah keheningan.
Aku merasa seperti istana kaca yang dihantam badai salju,
Indah namun retak, berkilau namun hancur tak bersisa.
Melihat jemarimu menari di jemarinya adalah luka yang biru,
Sebuah mahakarya pedih yang kau lukis tanpa rasa berdosa.
Cintamu adalah embun pagi yang tampak begitu murni,
Namun ia membekukan setiap sel di dalam pembuluh darahku.
Kau adalah malaikat dengan sayap yang terbuat dari duri,
Memelukku erat hanya untuk menghujamkan lara di dadaku.
Suaramu masih terngiang seperti musik kotak lagu yang tua,
Merdu dan tenang, namun memutar kenangan yang menyiksa.
Betapa mahirnya kau bersandiwara dengan wajah tanpa dua,
Meninggalkan aku yang sekarat dalam indah yang tak kuasa.
Kita dipisahkan oleh wangi parfum yang masih kau tinggalkan,
Aroma melati yang kini berbau seperti anyir pengkhianatan.
Kau adalah senja yang paling cantik untuk diabadikan,
Sekaligus malam yang paling gelap untuk aku pertahankan.
Aku menunduk, melihat bayanganku sendiri yang kian rapuh,
Seperti kelopak bunga yang gugur sebelum sempat merekah.
Aku ingin membencimu, namun hatiku terlanjur luruh,
Tenggelam dalam sisa manis yang membuatku kian lelah.
Kuberikan hatiku dalam nampan emas yang paling murni,
Kau terima dengan senyum, lalu kau lempar ke dalam api.
Aku menyaksikan seluruh duniaku terbakar sunyi di sini,
Menjadi abu yang beterbangan di langit yang sepi.
Biarkan puisi ini menjadi lukisan terakhir di dinding hati,
Tentang seorang pria yang kau hancurkan dengan cara yang indah.
Aku akan memeluk luka ini sampai ragaku benar-benar mati,
Sebab mencintaimu adalah duka yang tak pernah salah.
Tak ada teriakan, hanya keheningan yang paling puitis,
Menyaksikan kau bahagia di atas reruntuhan harga diriku.
Aku adalah sajak yang kau tulis dengan tinta yang manis,
Namun kau akhiri dengan darah dari setiap sayatan di dadaku.
Matahari terbit, namun aku tetap tinggal di dalam kelam,
Menjadi reruntuhan cantik yang tak lagi memiliki nyawa.
Selamat tinggal, wahai luka yang membuatku karam,
Aku akan membatu dalam rindu yang penuh dengan kecewa.
Makassar 2023
Kategori : Musikalisasi Puisi (Modern)
Tema : Penghianatan Cinta Remaja SMA - Perselingkuhan
Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang seorang remaja laki-laki yang terjebak dalam sebuah "kebohongan yang indah." Ia adalah sosok yang mencintai pasangannya dengan sangat tulus, menganggap setiap kata dan tindakan pasangannya sebagai sesuatu yang suci dan manis seperti madu. Baginya, hubungan ini adalah sebuah karya seni yang sempurna, sehingga ia tidak pernah menyadari bahwa di balik kelembutan sikap pasangannya, terdapat rencana pengkhianatan yang telah dipersiapkan dengan sangat halus dan rapi.
Kehancuran hatinya terjadi bukan melalui pertengkaran hebat, melainkan melalui sebuah penemuan yang tenang namun mematikan. Ia harus menyaksikan orang yang paling ia puja memberikan "keindahan" yang sama tatapan mata, senyum, dan sentuhan kepada orang lain tepat di depan matanya. Pengkhianatan ini terasa sangat menyayat karena sang wanita melakukannya dengan begitu anggun dan tanpa rasa bersalah, seolah-olah menghancurkan hati sang pria adalah bagian dari sebuah tarian yang indah.
Pria ini mengalami konflik batin yang sangat tragis karena ia sulit untuk membenci sumber lukanya. Segala kenangan manis yang pernah mereka lalui terasa seperti kain sutra yang kini justru mencekik lehernya sendiri. Ia merasa seperti sebuah istana kaca yang indah namun hancur berkeping-keping; ia tetap terlihat tenang di luar, namun di dalamnya ia sedang mengalami pendarahan emosional yang hebat akibat "racun" pengkhianatan yang telah meresap hingga ke tulang sumsumnya.
Pada akhirnya, kisah ini menggambarkan proses matinya rasa percaya seorang remaja yang telah memberikan segalanya di atas "nampan emas." Ia memilih untuk menerima kehancurannya sebagai sebuah takdir puitis, menjadikan luka hatinya sebagai mahakarya terakhir dari sebuah ketulusan yang disia-siakan. Ia menutup diri dalam keheningan yang dalam, membiarkan dirinya membatu di tengah sisa-sisa kenangan manis yang kini telah berubah menjadi nisan bagi seluruh harapannya tentang cinta sejati.
Home
Musikalisasi Puisi
Puisi Cinta
Puisi Modern
Puisi Perselingkuhan
Puisi Perselingkuhan SMA
Puisi Putus Cinta
Luka Berselimut Sutra
Jumat, 19 Desember 2025
Luka Berselimut Sutra
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
