Di Balik Rintik Hujan
Karya : Andi Akbar Muzfa
Saat musim membeku dan jemarimu mulai lara,
Kujahit hangat dari sisa napas di dadaku.
Meski tubuhku sendiri menggigil dalam bara,
Aku merasa aman, asal nyaman itu milikmu.
Ketika matahari membakar dan langit kian garang,
Kusaring angin agar keringatmu tak sempat jatuh.
Meski dahagaku mencekik dan raga kian gersang,
Aku merasa penuh, saat teduhmu tegak utuh.
Pahamilah jejakku yang telah lama di sini,
Menjadi bayang yang menjagamu dari patah hati.
Sebelum lara sempat menyentuh pelupuk matamu yang murni,
Aku telah berdiri, memastikan dukamu lekas mati.
Dekap aku, sebelum hujan membasahi bumi hatimu,
Membawa payung kasih sebelum mendung sempat menyapa.
Apa pun yang kau butuh, telah kusiapkan di balik pintumu,
Agar kau tak perlu cemas pada dunia yang penuh alpa.
Mungkin kau akan mengitari samudera dan daratan,
Mencari sosok yang sanggup mencintaimu setotal ini.
Namun takkan kau temukan pelukan setulus ingatan,
Yang rela menjadi alas bagi langkahmu yang sunyi.
Akulah yang menyiapkan bekalmu menuju peperangan,
Memastikan zirahmu kuat sebelum kau beradu nyawa.
Meski aku tak ikut dalam sorak kemenangan,
Melihatmu pulang dengan selamat adalah puncak segala doa.
Jika timbangan cinta kita tak pernah setara di mata,
Kumaafkan jarak itu dengan jemari yang terbuka.
Memang sebegitunya aku, hamba dari satu kasta:
Kasta yang hanya mengenal cara mencintaimu tanpa luka.
Pikiranku bukan lagi milikku, ia telah berpindah tuan,
Ada namamu yang berdenyut di setiap pembuluh nadi.
Ke mana pun kau melangkah mencari sebuah tujuan,
Ke situlah kompas sukmaku akan selalu mengabdi.
Ini adalah sumpah yang kutitipkan pada semesta,
Untuk tetap hadir di hari baik atau burukmu nanti.
Tak peduli dunia sedang tertawa atau penuh sengketa,
Aku adalah rumah yang takkan pernah mengkhianati hati.
Soal cinta, aku telah jatuh ke dasar yang paling dalam,
Ke tempat di mana ego dan pamrih tak lagi memiliki suara.
Aku hanya ingin menjadi cahaya di tengah malammu yang kelam,
Menjadi penawar bagi setiap jengkal rasa yang membara.
Biar hujan turun dengan segala gemuruh dan amarahnya,
Sebab aku telah bersiap menjadi payung bagi jiwamu.
Aku adalah kesediaan yang tak pernah bertanya harganya,
Cukup dengan melihat kau bahagia, itu sudah menjadi upahku.
Dekap hatiku sebelum hujan, Raih ragaku sebagai penawar,
Pengabdian yang takkan layu oleh musim yang berganti.
Hingga waktu berhenti dan kita hanya tinggal kenangan,
Kau akan selalu aman di dalam pelukku yang abadi.
Kategori : Musikalisasi Puisi (Puisi Cinta)
Tema : Puisi Cinta, Puisi Percintaan
Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang filosofi pengabdian total yang dilakukan oleh seseorang yang telah menanggalkan seluruh egonya demi kebahagiaan orang lain. Ia memposisikan dirinya sebagai antisipasi atau "Aku dibalik Rintik Hujan", sebuah kesadaran bahwa dunia ini penuh dengan ketidakpastian dan luka, sehingga ia merasa berkewajiban untuk menjadi perisai pertama yang menahan hantaman nasib bagi orang yang dicintainya. Pengabdian ini tidak bersifat reaktif, melainkan proaktif; ia selalu selangkah lebih maju dalam memikirkan kenyamanan pasangannya, bahkan sebelum pasangan tersebut menyadari kebutuhannya sendiri.
Dalam dinamika ini, terdapat pertukaran energi yang mengharukan, di mana kebahagiaan sang pencinta sangat bergantung pada kondisi orang yang dicintainya. Ia rela menelan penderitaan fisik seperti kedinginan atau kepanasan, asalkan orang yang ia jaga tetap berada dalam kondisi yang ideal, karena baginya, rasa aman sang kekasih adalah satu-satunya obat bagi jiwanya yang juga lelah. Ini adalah potret cinta yang sangat protektif, yang melihat persiapan (bekal peperangan) sebagai bahasa kasih yang paling nyata dibandingkan sekadar kata-kata manis yang sering kali kosong.
Kisah ini juga menyentuh kerelaan hati untuk menerima ketidakseimbangan dalam sebuah hubungan, di mana tokoh utamanya mengakui bahwa cintanya mungkin tidak mendapatkan balasan yang setara. Alih-alih merasa kecewa atau menuntut hak yang sama, ia justru memberikan maaf secara cuma-cuma atas ketimpangan tersebut, menunjukkan martabat cinta yang sangat tinggi. Ia membiarkan pikirannya dikendalikan oleh satu nama, menjadikan orang tersebut sebagai arah mata angin bagi setiap tindakan dan keputusannya, yang menunjukkan betapa ia telah menyerahkan kedaulatan dirinya secara sukarela.
Pada akhirnya, puisi ini merupakan sebuah janji kesetiaan yang melampaui segala kondisi cuaca kehidupan, baik dalam suka maupun duka. Tokoh dalam cerita ini memahami bahwa cinta yang sejati diuji bukan saat matahari bersinar terang, melainkan saat mendung mulai menggantung dan hujan badai bersiap untuk turun. Ia memilih untuk tetap menjadi "stok" kekuatan yang tak terbatas bagi pasangannya, memastikan bahwa ke mana pun orang tersebut pergi, ia akan selalu memiliki tempat untuk kembali dan seseorang yang selalu siap sedia menanggung beban bersamanya.
Sabtu, 10 Januari 2026
Di Balik Rintik Hujan
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
