Sabtu, 10 Januari 2026

Perisai Termanis

Perisai Termanis
Karya : Andi Akbar Muzfa

Ketika musim merampas hangat dari tulangmu,
Kuberikan sisa api di nadiku agar kau tak membatu.
Meski aku sendiri gemetar di pelataran waktu yang semu,
Napasmu yang tenang adalah satu-satunya rumah bagiku.

Saat surya menikam bumi dengan panas yang kian jalang,
Kujadikan jiwaku rimbun daun agar teduhmu tak hilang.
Biarlah aku kerontang di bawah terik yang memanggang,
Sebab dalam damaimu, rasa hausku lunas terbayang.

Sudahkah kau maknai diamku yang telah berkarat di sini?
Menjadi dinding yang menahan retak agar hatimu tak mati.
Aku adalah penjaga pintu yang menolak untuk pergi,
Memastikan tak ada duka yang sanggup mencuri mimpi.

Disini ada aku, sebelum langit menumpahkan tangis yang lebat,
Menyiapkan bernaung sebelum kau sempat merasa penat.
Apa pun yang kau butuh, telah kupahat menjadi amanat,
Agar langkahmu tak goyah saat dunia mulai terasa berat.

Carilah di seluruh penjuru rasi yang paling benderang,
Takkan kau temukan pelukan yang sanggup menahan karang.
Hanya aku yang rela menjadi sunyi di tengah terang,
Demi memastikan langkahmu tak pernah merasa terlarang.

Akulah yang menyiapkan bekalmu sebelum terjun ke palagan,
Menata zirahmu dengan doa agar kau tak kehilangan arah jalan.
Meski aku hanya bayang di balik riuhnya kemenangan,
Keselamatanmu adalah satu-satunya mahkota yang kutitipkan.

Jika timbangan rasa ini tak pernah menemukan titik setara,
Kulepaskan maaf sebelum kau sempat menyadari ada lara.
Memang sebegitunya aku, hamba dari sebuah asmara,
Yang rela menjadi dasar agar kau bisa menyentuh cakrawala.

Pikiranku telah karam di dalam samudera namamu yang suci,
Tak ada lagi kemudi, hanya detakmu yang menjadi kunci.
Ke mana pun kau berjalan menjauhi segala benci,
Ke situlah nalar dan arah langkahku akan selalu mengunci.

Ini adalah janji yang kutuliskan di atas nisan egoku,
Untuk hadir sebagai saksi saat harimu baik maupun kaku.
Mencintaimu di puncak tawa atau di kedalaman ragu,
Adalah satu-satunya tugas yang takkan pernah membuatku jemu.

Soal cinta, aku telah jatuh hingga ke muara yang paling sunyi,
Di mana pamrih telah mati dan yang tersisa hanyalah bakti.
Aku tak butuh tempat di atas panggung yang penuh bunyi,
Cukup menjadi akar yang menjagamu agar tetap berdiri tegak hati.

Biarlah badai datang memecahkan segala kaca di jendela,
Selama kau masih bisa memejamkan mata tanpa ada cela.
Aku adalah kesediaan yang tak pernah mengenal lelah,
Menerima setiap hantaman nasib tanpa pernah merasa kalah.

Ada aku sebelum duka, Hanya aku dalam keabadian,
Menjadi tempatmu pulang saat dunia menawarkan penolakan.
Hingga napas terakhirku hanya menjadi sebuah kenangan,
Kau akan selalu aman di dalam dekapan yang penuh perlindungan.

Kategori : Musikalisasi Puisi (Puisi Cinta)
Tema : Puisi Cinta, Puisi Percintaan


Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang manifestasi cinta yang telah mencapai tingkat asketisme, di mana seseorang telah sepenuhnya meniadakan kepentingan pribadinya demi keselamatan batin orang lain. "Prisai Manis" bukan lagi sekadar metafora kesiapan, melainkan sebuah bentuk eksistensi di mana seluruh hidup tokoh ini didedikasikan untuk menjadi penyangga bagi kerapuhan pasangannya. Ia memposisikan dirinya sebagai perisai proaktif yang sudah menyiapkan segala perlindungan jauh sebelum tantangan hidup yang diibaratkan sebagai hujan atau peperangan menyentuh permukaan kulit orang yang ia cintai.

Kisah ini menonjolkan keikhlasan yang bersifat absolut, terutama saat menghadapi realitas bahwa cinta yang ia berikan mungkin tidak akan pernah mendapatkan balasan yang sebanding atau "setara". Alih-alih merasa terzalimi, ia justru memberikan maaf secara prematur sebagai bentuk pembebasan bagi pasangannya agar tidak merasa terbebani oleh besarnya pengabdian tersebut. Baginya, rasa "aman" pasangannya adalah bahan bakar utama yang membuatnya tetap tegak berdiri meski ia sendiri sedang mengalami penderitaan fisik maupun mental, seperti kedinginan atau kelelahan yang ekstrem.

Sentral dari narasi ini adalah konsep "bekal peperangan", yang menggambarkan hidup sebagai medan tempur yang keras di mana pasangan tersebut harus berjuang. Tokoh dalam puisi ini memilih peran sebagai orang di balik layar yang memastikan pasangannya tidak kekurangan satu pun alat untuk bertahan hidup, meskipun ia sendiri tidak akan pernah mendapatkan sorotan dari kemenangan yang diraih. Ini adalah cinta yang tidak butuh validasi atau tepuk tangan, melainkan cinta yang menemukan kemuliaannya dalam kesunyian pengorbanan dan ketepatan persiapan sebelum krisis terjadi.

Pada akhirnya, puisi ini merupakan sebuah elegi tentang penyerahan diri yang total kepada sebuah nama yang telah menjadi arah mata angin bagi jiwanya. Ia telah menjatuhkan dirinya ke dalam samudera kasih sayang yang begitu dalam sehingga ego pribadinya telah tenggelam dan mati. Kisah ini merayakan keteguhan jiwa yang memilih untuk menjadi rumah, dermaga, dan perisai secara bersamaan, memastikan bahwa selama ia masih bernapas, orang yang ia cintai tidak akan pernah dibiarkan kedinginan di bawah hujan atau sendirian di tengah peperangan dunia yang kejam.

Tulis Komentar FB Anda Disini...