Notasi di Buku Pelajaran
Karya : Andi Akbar Muzfa
Kau duduk di sana, di baris ketiga,
Jeda di antara rumitnya rumus Fisika.
Setiap gerakan pena, setiap lirikan mata,
Mencuri fokusku dari segala ambisi yang ada.
Wangi parfummu samar, saat kau lewat cepat,
Seolah lorong sekolah menjadi panggung.
Aku menghafal letak jepit di rambutmu, rapat,
Rasa ini tumbuh, tak mampu lagi kubendung.
Aku punya ribuan kata untuk kuucapkan,
Namun lidahku kaku, membeku di tempat.
Keberanian ini selalu jatuh di halaman,
Terkalahkan oleh debar yang teramat hebat.
Di saat kau tertawa, aku merasa tenang,
Seolah badai di hati mendadak mereda.
Senyummu adalah klimaks yang kunanti datang,
Titik terang di tengah pelajaran yang beku.
Rasa ini adalah bab yang tak pernah selesai,
Selalu kuulang, tanpa perlu kutuliskan.
Kau adalah jawaban di tengah soal yang gersai,
Penyelesaian terbaik dari semua keraguan.
Bangku ini adalah jarak yang paling kubenci,
Hanya sejengkal, namun terasa seluas kota.
Aku ingin menyentuh, menghilangkan sepi,
Tapi takut, kau anggap aku tak punya tata.
Di imajinasi, kita sudah pulang bersama,
Berbagi cerita tentang guru yang lucu.
Namun realitanya, aku hanya pemuja rahasia,
Yang menanti esok, di bangku yang sama itu.
Bila kau tahu, detak jantungku berirama,
Setiap kali namaku kau sebut lirih.
Mungkin mataku telah mengungkapkan semua,
Sebab raga ini tak mampu lagi bersembunyi.
Aku berjuang keras melawan rasa malu,
Mencari celah di antara tawa teman sebaya.
Berharap ada jeda, di tengah waktu berlalu,
Untuk menyampaikan pesan cinta yang sederhana.
Ini bukan hanya soal genggaman tangan sesaat,
Atau janji manis yang mudah terucap.
Ini tentang masa depan yang ingin kuukir kuat,
Bersamamu, di setiap langkah yang kuharap.
Maka ku tuliskan notasi di buku pelajaran,
Tentang sepasang mata yang tak bisa kuingkari.
Menjadi kode rahasia, di setiap lembaran,
Cintaku padamu, yang takkan pernah mati.
Besok pagi, aku akan coba lagi berbicara,
Mengumpulkan sisa keberanian yang ada.
Semoga hari itu, kau membalas sapa,
Mengakhiri sepi, memulai cerita kita.
Makassar 2024
Kategori : Musikalisasi Puisi Cinta SMA (Modern)
Tema : Puisi Romantis Remaja SMA
Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang seorang siswa pria yang menjalani hari-hari sekolah dengan obsesi tunggal: mengamati gadis yang ia sukai, yang duduk tepat di depannya. Gadis itu adalah pusat dari seluruh perhatiannya, mengalihkan fokusnya dari rumitnya rumus Fisika. Setiap detail dari aroma parfum yang samar hingga tawa kecilnya telah menjadi "notasi" yang terukir di benaknya. Pengamatan ini memberinya energi sekaligus siksaan karena ia tidak berani berbuat lebih.
Pria ini mengalami konflik batin yang besar. Ia punya ribuan kata cinta yang siap diucapkan, tetapi lidahnya selalu membeku karena rasa malu dan takut penolakan. Keberaniannya hanya sebatas menulis nama gadis itu di buku catatan, menjadikannya kode rahasia yang tak seorang pun tahu. Ia merasa dirinya hanyalah pemuja yang berdiri dari kejauhan, menanti momen keajaiban di mana ia tidak lagi kaku. Momen terbesarnya adalah ketika gadis itu tanpa sengaja menoleh dan tersenyum, cukup untuk mengobati kerinduannya.
Meskipun dalam posisi pasif, ia menyimpan janji tulus yang mendalam. Cinta ini memotivasinya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih berani. Ia berjanji akan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya agar esok hari, ia bisa berbicara langsung dan mengakhiri penantian sepihak ini, berharap dapat memulai kisah nyata yang ia dambakan di lorong sekolah.
Rabu, 17 Desember 2025
Notasi di Buku Pelajaran
Lampu Senja di Lorong Sekolah
Lampu Senja di Lorong Sekolah
Karya : Andi Akbar Muzfa
Di bangku pojok, kau selalu terlihat tenang,
Saat aku sibuk mengukir namamu yang melekang.
Kaus kaki putihmu, yang selalu bersih terawat,
Menciptakan pesona yang tak pernah terlewat.
Aku suka caramu memegang buku yang tebal,
Seolah semua ilmu dunia ada dalam genggaman.
Senyum tipismu membuatku terkejut, terbal,
Menghapus semua keraguan dan kegamangan.
Rasa ini meluap, ingin segera kusapa,
Namun bibirku terkunci, takut kau menghilang.
Aku hanya berani mencuri pandang sesaat,
Menyimpan namamu di setiap harapan.
Tangan kita tak sengaja bersentuhan pelan,
Saat kita berebut tempat di depan papan tulis.
Getaran itu menjanjikan ikatan tak terputus,
Kehangatan itu adalah yang paling kurindukan.
Kau adalah jawaban yang tak perlu kucari,
Hadir di tengah-tengah pelajaran yang rumit.
Seperti nada akhir dari musik harmoni,
Cahaya yang membuat segalanya menjadi indah.
Kutulis namamu di lembar buku planner,
Menjadi kode rahasia yang tak boleh terbaca.
Aku merangkai mimpi tentang waktu yang benar,
Tentang kita berdua, yang selalu bersama.
Kuharap bel pulang berbunyi lebih lambat,
Agar aku bisa melihatmu lebih lama berdiri.
Menyaksikan kau tertawa di dekat gerbang rapat,
Mengisi kekosongan yang ada di hati ini.
Bila kau dekati, pipiku terasa membakar,
Aku pura-pura fokus membenarkan tas.
Padahal seluruh hatiku menjerit, bergetar,
Ingin memelukmu, tanpa ada batas.
Aku berjanji akan lebih sering tersenyum,
Agar kau tahu, aku tak segan untuk didekati.
Melawan rasa malu, yang sering membuatku diam,
Menciptakan momen yang takkan terhenti.
Ini bukan hanya soal pandangan di lorong,
Ini tentang ketenangan yang kau berikan padaku.
Rasa damai yang kubawa, hingga pagi menjelang,
Menjadi energi, untuk hari yang baru.
Maka ku simpan semua perasaan di sudut hati,
Menjadi rahasia yang paling kupercayai.
Menunggu waktu yang tepat untuk terjadi,
Cintaku padamu, yang takkan pernah mati.
Besok, aku akan mencoba bicara lebih berani,
Mengucapkan selamat pagi dengan senyum tulus.
Semoga hari itu, kau membalas janji,
Membuat cerita kita menjadi semakin mulus.
Makassar 2024
Kategori : Musikalisasi Puisi Cinta SMA (Modern)
Tema : Puisi Romantis Remaja SMA
Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang seorang siswi wanita yang diliputi perasaan kekaguman yang sangat intens dan puitis terhadap seorang siswa pria. Ia terpesona pada hal-hal kecil, seperti sikap tenang pria itu di bangku pojok atau kaus kakinya yang bersih terawat. Perasaan ini begitu mendalam, melampaui logika, sehingga ia menghabiskan waktu di kelas dengan menuliskan nama pria itu, melambangkannya sebagai cinta yang "melekang" atau abadi. Kekaguman ini adalah sumber energi dan motivasi baginya.
Di balik kekaguman itu, terdapat perjuangan melawan rasa malu yang besar. Ia sangat mudah tersipu; setiap kali pria itu mendekat atau menyapa, pipinya akan memerah, memaksanya berpura-pura sibuk membenarkan tas atau buku. Namun, ia mendapat sedikit kebahagiaan dari momen-momen intim tak sengaja, seperti saat tangan mereka bersentuhan. Getaran kecil itu sudah cukup untuk meyakinkannya bahwa perasaannya nyata dan ia harus terus berjuang. Fantasi tentang kisah mereka selalu menghiasi pikirannya, meskipun ia tahu ia masih harus menjaga jarak.
Siswi ini bertekad mengubah keadaan. Ia ingin menjadi lebih berani, lebih sering tersenyum, dan mencari celah agar pria itu mau mendekat. Ia menyadari bahwa cinta ini, meskipun masih dalam tahap kekaguman, memberinya ketenangan dan rasa damai yang ia bawa hingga pagi. Oleh karena itu, penantiannya terasa berharga. Ia menyimpan semua perasaannya sebagai rahasia paling dipercayai, berharap di hari yang ditentukan, ia akan memiliki keberanian penuh untuk menyambut cinta sejati.
Di Balik Jaket Sekolah
Di Balik Jaket Sekolah
Karya : Andi Akbar Muzfa
Aku menunggumu di lorong setelah bel pulang,
Sengaja berdiri di bawah papan pengumuman.
Kau datang berlari, dengan senyum yang lapang,
Melempar tas punggung, tanpa sedikit penahanan.
Kita berbagi bekal yang selalu kau siapkan,
Mengabaikan tatapan teman yang menonton.
Aku suka caramu makan, dengan penuh kehangatan,
Detail kecil yang membuat jiwaku tertolong.
Di balik tawa dan canda yang kita bagi,
Aku tahu, cinta ini bukan lagi mainan.
Kau adalah rumah, tempat hatiku kembali,
Penyelesaian terbaik dari setiap keraguan.
Saat tangan kita bertemu di sela bangku,
Listrik itu menjalar, membakar perlahan.
Sentuhanmu adalah jangkar yang menahan laju,
Sebuah ikatan yang tak butuh lagi sumpah janji.
Kau adalah jawaban di buku Latihan Matematika,
Selalu pasti, tanpa perlu ada rumus lain.
Aku adalah jaketmu, yang selalu ada,
Melindungi hangatmu dari angin yang dingin.
Kita tak bicara soal pernikahan yang jauh,
Kita hanya bicara tentang film dan tugas Biologi.
Namun di matamu, aku melihat waktu yang utuh,
Sebuah masa depan yang tak perlu dirugi.
Jalanan pulang ini adalah waktu yang terpenting,
Di mana kita bebas dari aturan sekolah.
Aku menikmati setiap cerita yang kau pancing,
Menggenggam erat tanganmu, tanpa pernah lelah.
Kehadiranmu membuatku berani bicara tegas,
Menghadapi tantangan yang sering kuelakkan.
Cintamu adalah energi, yang tak pernah lepas,
Mendorong semangat, tanpa sedikit tekanan.
Di malam hari, aku sering memikirkan kembali,
Betapa beruntungnya aku menemukan hatimu.
Kau mengisi kekosongan, menghapus sepi,
Menjadi alasan untuk selalu menunggumu.
Ini adalah cinta yang tumbuh dari pertemanan,
Bukan sekadar perasaan yang datang dan pergi.
Kau mengajarkanku arti dari sebuah kebenaran,
Membuatku tahu cara mencintai sejati.
Aku tak butuh lagi kata-kata yang terlalu dalam,
Cukup melihat senyummu saat kita bertemu lagi.
Itulah kepastian, dari pagi hingga malam,
Cintaku padamu, yang takkan pernah mati.
Besok pagi, aku akan kembali menunggumu,
Membawa jaket ini, yang selalu kita bagi.
Sebab setiap detik yang kulewati bersamamu,
Adalah alasan terkuat untuk hidup kembali.
Makassar 2024
Kategori : Musikalisasi Puisi Cinta SMA (Modern)
Tema : Puisi Romantis Remaja SMA
Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang seorang siswa pria yang tengah menjalani hubungan romantis yang stabil, hangat, dan intim dengan kekasihnya di masa SMA. Cerita ini berfokus pada keakraban yang terjadi setelah jam pelajaran berakhir. Pria itu selalu setia menunggu kekasihnya di lorong, dan saat mereka bertemu, keintiman langsung tercipta. Momen harian mereka terasa nyata: berbagi bekal, tertawa, dan berpegangan tangan saat berjalan pulang, sebuah rutinitas yang sangat dihargai olehnya.
Pria ini menggunakan metafora yang kuat untuk menggambarkan rasa cintanya. Ia melihat dirinya sebagai "jaket" yang melindungi kekasihnya dari dingin, melambangkan perlindungan dan rasa aman. Sementara itu, kekasihnya adalah "jawaban pasti" dari segala keraguan hidup. Baginya, cinta ini bukan sekadar mainan, melainkan fondasi yang tumbuh dari pertemanan dan ketulusan. Sentuhan atau tawa kekasihnya sudah cukup menjadi "energi" yang mendorongnya untuk lebih berani menghadapi berbagai tantangan.
Hubungan mereka tidak bergantung pada janji-janji masa depan yang terlalu jauh. Kepastian bagi pria ini didapat dari hal-hal sederhana: melihat senyum kekasihnya, berbagi kehangatan jaket, dan menikmati waktu yang terisolasi dari aturan sekolah saat berjalan pulang. Ia menyadari bahwa setiap detik yang dihabiskan bersama kekasihnya adalah alasan terkuat untuk hidup bahagia dan kembali menanti pertemuan di esok hari.
Melodi di Balik Pintu Kelas
Melodi di Balik Pintu Kelas
Karya : Andi Akbar Muzfa
Setiap pagi, aku mencuri langkah pelan,
Berharap bertemu sebelum bel berbunyi.
Melihatmu tersenyum, di sudut ruangan,
Mengawali hari, mengusir semua sepi.
Aku suka caramu membalik halaman buku,
Urat jari-jarimu yang tegas, seolah menari di sana.
Tatapanmu adalah puisi yang tak pernah ku tahu,
Namun nadanya merdu, terukir dalam jiwa.
Ribuan kata indah tak mampu kuucapkan,
Hanya kagum yang membisik di dalam hati.
Engkau adalah rima yang tak pernah ku ragukan,
Kesempurnaan yang tak perlu lagi dicari.
Saat kau sengaja duduk di dekat bangku,
Menanyakan tugas dengan suara berbisik.
Kehadiranmu adalah keajaiban yang ku tunggu,
Membuat pipiku merona, tak mampu dielak.
Kau adalah melodi yang mengalun perlahan,
Menghapus semua bising di koridor panjang.
Aku adalah liriknya, yang menunggu penemuan,
Sebuah kisah yang takkan pernah menghilang.
Kita tak perlu janji di bawah bintang terang,
Cukup saling berbagi pensil dan penghapus.
Aku merasa utuh, tak ada yang hilang,
Cinta ini nyata, tak perlu lagi dikupas.
Saat kita diam, di bawah pohon rindang,
Keheningan itu justru terasa begitu padu.
Aku menikmati waktu yang terbentang lapang,
Sebab bersamamu, tak ada lagi kata ragu.
Caramu menatap, membuatku merasa aman,
Seolah semua ketakutan kini sudah mati.
Engkau menenangkanku dari segala kecemasan,
Menjadi pelabuhan di tengah badai sepi.
Aku bertanya pada diriku, setiap malam,
Bisakah cinta ini abadi tanpa celah?
Jawabannya adalah senyummu yang kurindukan,
Cukup bagiku, meluruhkan semua gundah.
Ini adalah cinta yang lembut, seperti sutra,
Tumbuh dari tatapan dan sapaan yang sederhana.
Setiap detik bersamamu adalah mantra,
Membuat hari-hari sekolah terasa berharga.
Maka ku simpan rasa ini di dalam dada,
Menjadi denyut yang tak pernah ku sesali.
Menunggumu berdiri di depan kelas yang sama,
Cintaku padamu, yang takkan pernah mati.
Besok pagi, aku akan berdiri lebih dulu di sana,
Menyambutmu dengan mata yang penuh cahaya.
Semoga hari itu, cinta kita punya irama,
Menjadi lagu indah, di sepanjang usia.
Makassar 2024
Kategori : Musikalisasi Puisi Cinta SMA (Modern)
Tema : Puisi Romantis Remaja SMA
Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang seorang siswi wanita yang mengekspresikan cintanya dengan diksi yang sangat puitis dan halus. Ia melihat kekasihnya sebagai sosok yang memberikan kedamaian absolut. Baginya, kekasihnya adalah "melodi yang mengalun" dan "nada yang merdu" yang menghilangkan semua kebisingan dan kekacauan masa remaja. Ia mencintai detail dari kekasihnya, meyakini bahwa kekasihnya adalah "puisi" yang sempurna.
Siswi ini mengalami rasa kagum yang murni, di mana kehadiran kekasihnya saja sudah merupakan keajaiban yang ditunggu. Meskipun ia merona saat didekati, ia menemukan kekuatan dan rasa aman dalam tatapan kekasihnya. Ia percaya bahwa keheningan saat mereka bersama di bawah pohon rindang justru menciptakan harmoni yang paling padu. Cinta ini adalah "mantra" yang membuat hari-hari sekolahnya terasa berharga, meluruhkan semua gundah dan kecemasan.
Di akhir kisah, ia menunjukkan kedewasaan: ia tidak membutuhkan janji-janji besar, melainkan hanya kepastian yang didapat dari senyum kekasihnya setiap pagi. Ia menyimpan cinta ini sebagai denyut yang tak pernah ia sesali, berharap kisah mereka terus memiliki "irama" yang indah dan mengalun sempurna di sepanjang waktu, menjadikannya lagu abadi di masa SMA.
Sabtu, 06 Desember 2025
Ada Rasa di Balik Bola Basket
Ada Rasa di Balik Bola Basket
Karya : Andi Akbar Muzfa
Sepulang sekolah, di saat senja tiba,
Aku selalu berdiri, di tepi lapangan ini,
Menatapmu berlatih, tanpa banyak kata,
Mengulang gerakan, tanpa pernah berhenti.
Kau Kakak Kelas, dengan seragam kelas dua belas,
Serius berlatih, peluh membasahi kaos,
Tidak banyak gaya, hanya fokus yang jelas,
Membuat hatiku kagum, dengan rasa tulus.
Kau ramah menyapa, setiap adik kelas lewat,
Wajahmu tegas, namun senyummu hangat,
Bukan sekadar permainan, tapi pembawaan yang tepat,
Sikap yang membuatku, percaya tanpa cemas.
Rasa ini datang, perlahan dan teratur,
Bukan karena tampilan, tapi sosok yang terpercaya,
Ia tumbuh subur, tanpa pernah kuukur,
Mengubah kagumku, menjadi hasrat yang nyata.
Saat kau rehat, mengambil air di sisi,
Kita berjarak, hanya beberapa langkah saja,
Aku menunduk cepat, jantungku mencuri sepi,
Tak berani menyapa, takut dianggap sok akrab.
Bola oranye itu, menjadi pemisah antara kita,
Ia menyatukanmu dengan lapangan, namun memisahkan,
Aku hanya mampu mengagumi, tanpa suara,
Menjadikanmu alasan, untuk selalu bertahan.
Aku hafal benar, setiap gerakanmu di sana,
Dribel tangan kiri, lompatan yang sempurna,
Mengumpulkan semua detail, sebagai makna,
Mengisi hari-hari, dengan getaran cinta.
Lapangan ini saksi, atas diam yang kupilih,
Sinar senja kemerahan, menjadi selimut malu,
Hanya suara bola, dan pantulan yang pelan,
Di antara aku dan kamu, yang tak pernah bicara.
Aku kelas sepuluh, dan kau akan segera lulus,
Waktu terus berjalan, terasa sangat cepat,
Haruskah ku sapa? Atau kurelakan rasa ini putus?
Sebuah pertanyaan, yang selalu membuatku resah.
Perasaan ini murni, tak dibuat-buat,
Ia lahir dari kagum, pada sikap yang baik,
Sosok yang tak pernah, terlihat tertekan,
Tempat hatiku, ingin mencari tenang.
Aku hanya bisa berdiri, di batas tak terlihat,
Mengirim doa kecil, saat kau lelah berlari,
Semoga semua mimpimu, segera terwujud cepat,
Dan kelak kau tahu, siapa yang menanti.
Di balik bola basket, ada rasa yang tersimpan,
Kekaguman seorang adik, pada Kakak Kelasnya,
Ia adalah awal, dari semua harapan,
Cinta sederhana, yang kubawa selamanya.
Makassar 2024
Kategori : Puisi Cinta SMA
Tema : Puisi Cinta Awal Pertemuan
Kisah dibalik Puisi ...
Kisah ini berpusat pada Seorang Siswi SMA (Kelas 10) yang diam-diam menyukai Kakak Kelas laki-laki (Kelas 12). Siswi ini bukanlah tipe yang berani mendekat. Ia selalu mengamati dari jauh, biasanya di tepi lapangan basket sepulang sekolah, saat Kakak Kelas itu sedang latihan.
Sumber utama cintanya bukan pada penampilan, melainkan pada sikap Kakak Kelas tersebut. Siswi ini sangat kagum karena Kakak Kelas itu selalu serius saat berlatih, tidak sombong atau banyak gaya, dan yang paling penting, tetap ramah saat menyapa adik kelas. Hal ini membuat Siswi merasa bahwa Kakak Kelas ini adalah sosok yang baik dan dapat dipercaya.
Konflik utamanya adalah pertarungan batin antara rasa kagum yang besar dengan rasa takut. Siswi ini takut jika ia mencoba menyapa atau mendekat, ia akan dianggap lancang atau "sok akrab" oleh Kakak Kelas itu. Karena itu, ia memilih bersembunyi di batas lapangan, menjadikan bola basket dan jarak sebagai pemisah antara mereka.
Puncak emosi Siswi terjadi saat Kakak Kelas mengambil jeda minum air, membuat jarak mereka sangat dekat, namun Siswi justru semakin menunduk karena gugup. Meskipun sadar waktu Kakak Kelasnya hampir habis karena akan lulus, Siswi ini memutuskan untuk menjaga rasa itu. Ia menutup puisi dengan harapan sederhana: semoga suatu hari Kakak Kelas itu tahu bahwa ada seseorang yang mengagumi dan mendoakannya dari kejauhan.
Debar Pertama di Balik Jendela Kelas
Debar Pertama di Balik Jendela Kelas
Karya : Andi Akbar Muzfa
Jendela kaca buram, penuh debu tipis,
Lapang di luar, panasnya tak terperi,
Suara pantulan bola, terdengar tipis-tipis,
Mengiringi debar hati, yang tak berhenti.
Aku melihatmu, bergerak cepat di sana,
Bayangmu lincah, mengejar bola yang memantul,
Kau berlari, penuh semangat dan rencana,
Membuat hatiku mendadak, terasa memukul.
Meskipun di dalam, sejuk dan teduh terasa,
Namun hatiku mendadak, terasa membara,
Padahal udara kelas, sunyi tanpa suara,
Kau membawa energi, mengikis semua lara.
Haruskah ku usap, kaca yang buram ini?
Agar wajahmu terlihat, tanpa penghalang lagi?
Namun aku takut, kau melihatku menanti,
Menyimpan rahasia, di tempat yang sunyi.
Saat kau berhasil, memasukkan bola itu,
Tawa riangmu terdengar, menembus kaca,
Jantungku bergetar, secepat bola yang melaju,
Kau adalah alasan, semua ini kurasa.
Jendela ini diam, ia tahu siapa yang kucari,
Membiarkan bayanganmu, melompat perlahan,
Ia menjadi filter, bagi rasa yang murni,
Menjaga rahasiaku, dari keramaian.
Gerak tubuhmu, gesit dan sangat terarah,
Melompat, berputar, tanpa perlu berhenti,
Seolah kau ciptakan, irama yang penuh gairah,
Mengisi kehampaan, di dalam hati.
Tubuhku di sini, terkurung di meja belajar,
Tapi pikiranku, mengejar bola di sana,
Mendekatimu, tanpa perlu terujar,
Membawa semua harap, yang penuh makna.
Aku tak pernah tahu, jatuh cinta sebegini,
Sederhana saja, hanya lewat pandangan jauh,
Kau mengubah hari, kau mengubah diriku ini,
Menjadi seorang pengejar, yang takkan mengeluh.
Bayanganmu di kaca, terlihat begitu sempurna,
Meskipun tak nyata, namun ia berarti,
Ia adalah janji, sebuah rencana,
Tentang cinta yang harus kubawa nanti.
Esok lusa, aku akan berani tuk melihat,
Bukan dari balik kaca, namun di hadapanmu,
Mengucapkan sapa, yang kini sudah erat,
Menggenggam semua rasa, yang menungguku.
Biarlah debar ini, menjadi awal cerita,
Yang lahir di balik jendela, penuh misteri,
Kau adalah bayangan, yang kini jadi nyata,
Harapan SMA, yang takkan pernah mati.
Makassar 2024
Kategori : Puisi Cinta SMA
Tema : Puisi Cinta Awal Pertemuan
Kisah dibalik Puisi ...
Kisah ini tentang Seorang Siswa SMA yang sedang berada di dalam kelasnya yang sejuk, sementara di luar cuaca sangat terik. Perhatian Siswa ini teralihkan sepenuhnya ke lapangan di mana Seorang Siswi SMA sedang asyik bermain bola basket. Siswa ini tidak bisa melihat wajah Siswi itu dengan jelas karena jendelanya buram, hanya bayangan dan gerak lincahnya saja.
Meskipun penglihatannya terhalang, Siswa ini langsung merasakan cinta. Debar jantungnya terasa cepat, seolah meniru irama pantulan bola basket di luar. Di dalam, ia merasa sejuk, tapi hatinya mendadak "membara" karena energi dan semangat dari Siswi yang ia lihat.
Konflik utamanya adalah rasa takut dan ragu. Siswa ini ingin sekali mengusap debu di jendela agar bisa melihat wajah Siswi itu jelas, tetapi ia takut ketahuan sedang mengamati. Ia memilih untuk menyimpan perasaannya dan membiarkan jendela buram itu menjadi penjaga rahasianya.
Puncak emosi terjadi saat Siswi itu berhasil memasukkan bola dan tertawa. Suara tawa itu menembus kaca, membuat Siswa ini yakin bahwa perasaan ini nyata. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi. Akhirnya, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan mengumpulkan keberanian untuk mendekati Siswi itu di luar kelas, mengubah bayangan di jendela menjadi kisah cinta yang nyata.
Tatap Hangat di Pintu Kelas
Tatap Hangat di Pintu Kelas
Karya : Andi Akbar Muzfa
Pintu kelas terbuka, hanya setengah saja,
Angin sejuk berhembus, masuk dari halaman,
Suara guru samar, berbisik seperti nada,
Membuat hatiku semakin tak karuan.
Aku duduk di bangku, mencoba tuk bertahan,
Namun pandangan mataku, terus ke arah sana,
Menanti bayangmu, tanpa ada kepastian,
Mencari sepotong kisah, dari sebuah makna.
Kau pun melintas, di antara celah pintu itu,
Secepat kilat, namun terasa lambat sekali,
Wajahmu cerah, menghapus semua ragu,
Mengubah duniaku, dalam satu kali.
Mataku terkunci, tak sempat tuk berpaling,
Tepat di matamu, yang menatapku singkat,
Ada kehangatan tiba, di tengah hati yang hening,
Sebuah kejutan yang terasa sangat memikat.
Seketika aku terdiam, lidahku membeku,
Jantung berdebar, nadanya begitu cepat,
Suara guru kembali, memanggil namaku,
Aku tergugu, tak mampu lekas tanggap.
Aku bertanya: Tatapan apa yang kulihat?
Apakah sapaan, atau hanya kebetulan murni?
Kehangatan itu terasa sangatlah erat,
Membuatku ingin mengulang momen ini.
Pintu kelas itu, kini jadi jendela harap,
Mengurai semua mimpiku, yang tak pernah kukira,
Di balik celahnya, ada senyum yang kuserap,
Mengubah hari-hari menjadi lebih bersuara.
Haruskah aku berdiri, berjalan dan menyapa?
Mencari alasan, 'tuk bicara denganmu kini?
Ketakutan muncul, ia datang membawa lara,
Menarik langkahku, agar tetap di sini.
Aku tak peduli, pada rumus dan hafalan,
Pikiranku penuh, oleh bayangan matamu,
Kau datang sebentar, tanpa ada penyesalan,
Namun kau telah merenggut semua waktuku.
Aku putuskan, aku akan menyimpan rasa,
Menjadikannya semangat, di setiap hari sekolah,
Karena tatapanmu, memiliki kuasa,
Mendorongku maju, walau penuh lelah.
Esok lusa, aku akan menanti lagi,
Di tempat yang sama, dekat dengan pintu itu,
Berharap kau datang, menemui hati ini,
Mengulang kembali, momen yang kurindu.
Sebuah tatapan, telah merangkai cerita,
Di antara hembusan angin, dan suara yang samar,
Kau adalah hangatku, kau adalah nyata,
Awal kisah SMA, yang takkan pernah pudar.
Makassar 2024
Kategori : Puisi Cinta SMA
Tema : Puisi Cinta Awal Pertemuan
Kisah dibalik Puisi ...
Kisah ini diceritakan dari sudut pandang Seorang Siswa SMA yang sedang bosan di dalam kelas. Saat guru sedang bicara samar-samar, perhatian Siswa ini teralihkan ke pintu kelas yang terbuka sedikit. Di situlah momen penting terjadi: ia menunggu dan berharap melihat sesuatu yang menarik.
Puncak cerita ini terjadi saat Seorang Siswi SMA melintas cepat di celah pintu itu. Meskipun pertemuannya sangat singkat dan tersembunyi, mata mereka sempat bertemu sebentar. Bagi Siswa, momen ini seperti kejutan besar. Meskipun suhu ruangan sejuk, pandangan mata Siswi itu justru membawa kehangatan yang mendadak ke hatinya.
Setelah Siswi itu berlalu, Siswa ini langsung dilanda konflik internal. Ia jadi bingung apakah pandangan mata itu sengaja atau hanya kebetulan. Jantungnya berdebar kencang, dan ia bahkan tidak bisa menjawab saat guru memanggil namanya. Keberadaan Siswi ini tiba-tiba menjadi hal yang paling penting, mengalahkan semua pelajaran sekolah.
Akhirnya, Siswa ini memutuskan untuk mengubah rasa canggung itu menjadi harapan dan semangat. Ia tidak jadi menyapa karena terlalu takut, tetapi ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa esok hari ia akan kembali menanti di tempat yang sama. Puisi ini ditutup dengan kesadaran bahwa hanya satu pandangan saja sudah cukup untuk memulai kisah cinta SMA yang tulus dan berkesan.




.jpg)
.jpg)
.jpg)