Selasa, 16 Desember 2025

Cahaya Yang Tak Kukenal

Cahaya Yang Tak Kukenal
Karya : Andi Akbar Muzfa

Di sudut kota yang dingin, aku berdiri menantang takdir,
Beban dunia memelukku, seakan takkan berakhir.
Setiap langkah adalah duri yang menyergap,
Jiwa muda ini belajar arti selimut pilu nan gelap.

Badai datang silih berganti, tak terhitung,
Melilit hati yang lelah, terus merenung.
Tangan menggenggam debu, harapan memudar,
Hidup ini tanah lapang tanpa penunjuk arah dan samar.

Tawa dan tangis, sandiwara yang usang,
Mimpi pecah berkeping, tak dapat terulang.
Aku bertahan, meski jiwa terlukis pilu,
Menjelajah makna di setiap waktu.

Hingga suatu hari, langkahku terdampar,
Di sebuah tempat di mana cahaya berpendar.
Wajah-wajah damai, mata yang terang,
Mereka berenang di lautan yang lapang.

Ini cahaya, ku tahu, secerca dari masa lalu,
Namun kini ia hadir dengan warna baru.
Terang benderang, membius, memukau,
Namun ada jarak, tak bisa kuraup utuh bisu.

Ada kehangatan, namun terasa asing,
Bukan nyala yang dulu pernah kuiring.
Ku kenal serpihannya, namun bukan seluruh,
Cahaya ini, bagiku, adalah sebuah keluh.

Aku hanya mampu memandang dari jauh,
Menjadikannya lentera, tanpa harus berteduh.
Ia menerangi jalanku yang gontai,
Namun tak bisa masuk, ke dalam sunyi.

Hatiku terlalu pekat, pikiranku terlalu kalut,
Untuk disinari terang yang begitu murni.
Aku adalah bayang, tak layak dijemput,
Oleh cahaya yang bersih, tak bernoda ini.

Maka perlahan, cahaya itu pun meredup,
Bukan karena padam, namun karena perlahan kututup.
Ia menari menjauh, kembali ke tempatnya,
Meninggalkan aku dalam sunyi yang nyata.

Aku kembali berjalan di jalan yang sepi,
Ditemani kegelapan yang telah mendampingi.
Bukan menyerah, hanya menunggu lagi,
Cahaya yang benar-benar melebur di hati.

Kuberharap suatu hari nanti, di ujung sana,
Akan kutemukan cahaya yang selaras merona.
Bukan hanya penerang, tapi juga penawar,
Yang mampu menembus hatiku, tanpa gentar.

Hingga saat itu tiba, aku kan terus melangkah mengelana,
Di bawah langit gelap, dengan satu asa.
Menanti fajar yang tulus, tanpa cela,
Cahaya yang sejati, yang dapat merajut segala rasa.

Makassar 2025
Kategori : Puisi Naratif Deskriptif (Modern)

Kisah di Balik Puisi :
Puisi ini mengisahkan tentang perjalanan spiritual dan emosional seorang pemuda yang telah lama hidup dalam penderitaan dan cobaan (diwakili oleh "kegelapan" dan "badai"). Kegelapan ini bukan hanya kondisi fisik, tetapi juga akumulasi luka batin, keraguan, dan keputusasaan yang membuatnya merasa dirinya telah tercemar ("Hatiku terlalu pekat"). Puisi ini menangkap realitas bahwa seseorang yang terluka parah seringkali merasa tidak layak menerima kebaikan atau pencerahan yang datang tiba-tiba.

Latar belakang kisah berpusat pada momen ketika pemuda tersebut, secara tidak terduga, menemukan sebuah komunitas atau tempat di mana orang-orangnya hidup dalam kedamaian dan "cahaya" (mungkin berupa spiritualitas, optimisme, atau lingkungan yang sangat positif). Ini adalah momen kontras yang tajam antara dunia kelamnya dan dunia terang mereka. Meskipun ia sedikit mengenali esensi kebaikan tersebut (Bait 6), ia merasa cahaya itu kini hadir dengan "warna baru," yang terlalu murni dan asing bagi dirinya yang sudah terlalu gelap.

Inti narasi dari puisi ini adalah adanya keraguan diri dan rasa ketidakcocokan (disharmoni). Pemuda tersebut tidak menolak cahaya itu, bahkan ia menjadikannya "lentera" untuk menerangi jalannya dari jauh. Namun, ia tidak berani mendekat dan berbaur. Ada tembok penghalang yang dibangun oleh trauma masa lalu, membuatnya yakin bahwa dirinya adalah "bayang, tak layak dijemput" oleh cahaya yang begitu bersih. Keputusan untuk membiarkan cahaya itu berlalu (Bait 9) adalah tindakan yang menyakitkan namun jujur, didasari oleh keyakinan bahwa ia akan merusak kemurnian cahaya tersebut jika ia mendekat.

Pesan utama kisah ini adalah mengenai harapan yang realistis dan kesabaran dalam mencari jati diri. Pemuda tersebut tidak menyerah pada kegelapan, melainkan kembali ke perjalanan solonya dengan sebuah harapan baru (Bait 11). Ia tidak mencari sembarang cahaya, melainkan "cahaya yang selaras" dan "tulus" yang mampu menembus hatinya, yang berarti ia mencari kedamaian yang sesuai dengan kondisinya. Ini adalah kisah tentang penantian akan waktu dan pencerahan yang tepat.

Tulis Komentar FB Anda Disini...