Selasa, 16 Desember 2025

Perjalanan Menebus Cahaya

Perjalanan Menebus Cahaya
Karya : Andi Akbar Muzfa

Rantai besi melilit di pinggang pagi,
Bukan emas, namun beban yang tak terperi.
Jarum jam berdetak bagai cambuk perih meniti,
Menagih janji, menagih sisa rezeki.

Meja makan sunyi, tanpa hidangan,
Pandangan tetangga terasa menghujam.
Harga diri jatuh, terkikis perlahan,
Di antara tagihan dan kesunyian malam.

Pikiran meronta, mencari celah sempit,
Kekuatan menipis di setiap jengkal peluh.
Mencoba tegar, agar jiwa tak menjerit,
Mencegah gila yang siap merenggut utuh.

Ia pun beranjak, meninggalkan rumah batu,
Mencari obat yang mampu membungkam waktu.
Bukan harta, bukan lagi kemenangan,
Hanya jeda, dari palung keputusasaan.

Di tengah redup, ia temukan cahaya kecil,
Bukan lampu kota, bukan pula gemerlap.
Kehangatan yang datang tanpa dipanggil,
Menyentuh sudut hati yang lama senyap.

Cahaya itu bukan solusi instan,
Ia bukan uang, bukan pula jaminan.
Ia adalah penenang dari segala kecamuk perjalanan,
Pelipur lara, yang mampu menenangkan.

Ia hanyalah jeda di tengah peperangan,
Penawar yang meredam amarah dan ketakutan.
Membisikkan damai dalam kelelahan,
Namun tak mampu bayar sewa dan hutang dibalut tekanan.

Hati terasa ringan, namun bahu tetap berat,
Cahaya ini hanya menunda kiamat.
Masalah ekonomi, sosial, masih melekat,
Terpampang jelas di depan pintu yang rapat.

Akankah kisah ini menemukan kebebasan?
Akankah beban terangkat, sirna tanpa sisa?
Akankah cahaya ini menjadi penuntun jalan?
Menuju takdir yang lebih manusia.

Ia hanya bisa menatap langit yang luas,
Berbekal hati yang sedikit lebih puas.
Menghirup udara dan berkata dengan tegas,
Jawaban itu ada di tangan sang waktu dan sisa nafas.

Makassar 2025
Kategori : Puisi Naratif Deskriptif (Modern)
Tema : Puisi Untuk Sahabat

Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang kondisi ekstrem seorang pria dewasa yang terjebak dalam lingkaran kesulitan ekonomi dan sosial. Tokoh utama bukan hanya menghadapi kemiskinan materiil ("Rantai besi melilit di pinggang pagi" dan "Meja makan sunyi"), tetapi juga tekanan sosial ("Pandangan tetangga terasa menghujam" dan "Harga diri jatuh"). Kisah ini berfokus pada titik di mana tekanan tersebut mencapai batas psikologis, membuatnya mencari solusi untuk mencegah kegilaan ("Mencegah gila yang siap merenggut utuh").

Latar belakang kisah adalah perjuangan yang tak terlihat. Pria ini telah berusaha keras, namun kondisi sekitarnya ("cambuk perih" waktu dan hutang) terus menindasnya. Momen krusial dalam puisi ini adalah ketika ia menyadari bahwa solusi fisik atau material sudah tidak mampu ia raih, sehingga ia mengalihkan pencariannya ke ranah batin dan spiritual (Bait 4).

Inti narasi adalah penemuan "cahaya" (Bait 5). Cahaya di sini adalah metafora yang terbuka: bisa berupa spiritualitas, seni, persahabatan sejati, atau kesadaran batin mendalam yang memberikan ketenangan sementara. Poin pentingnya adalah fungsi dan batasan cahaya itu. Ia adalah "Penawar yang meredam amarah dan ketakutan" dan "Pelipur lara," namun ia secara tegas diakui bukan sebagai solusi materiil ("Ia bukan uang, bukan pula jaminan"). Ini mencerminkan realitas bahwa kedamaian batin tidak serta merta menghilangkan masalah duniawi (Bait 8).

Pesan utama kisah ini adalah mengenai penerimaan dan penyerahan yang dewasa. Tokoh utama menyadari bahwa meskipun ia menemukan kedamaian hati, masalah utamanya ("Masalah ekonomi, sosial, masih melekat") belum selesai. Alih-alih jatuh ke dalam keputusasaan total, ia memilih sikap pasrah yang kuat: ia menatap langit, mengambil napas, dan menyerahkan jawaban nasibnya kepada waktu ("Jawaban itu ada di tangan sang waktu"). Kisah ini berakhir dengan harapan yang digantungkan, bukan pada mukjizat, tetapi pada proses waktu dan ketahanan diri.


Tulis Komentar FB Anda Disini...