Selasa, 16 Desember 2025

Catatan di Buku Sketsa

Catatan di Buku Sketsa
Karya : Andi Akbar Muzfa

Lampu kamar hanya seperempat terang,
Di antara buku-buku yang tak kubaca.
Malam minggu ini terasa terbentang,
Rindu ini berat, tak tahu ke mana arahnya.

Teringat tatapanmu saat pelajaran Kimia,
Saat kau pura-pura marah, matamu tersenyum.
Kursi kayuku kini terasa dingin tanpa daya,
Menyimpan sisa tawa yang kini senyap.

Ku ambil pensil dan buku sketsa usang,
Mencoba melukis siluet wajahmu.
Garis-garis kasar, selalu tak kunjung pas,
Sebab ingatanku lebih detail dari gambarku.

Ku putar ulang rekaman suara iseng,
Saat kita tertawa di perpustakaan.
Suaramu memecah sunyi yang lengang,
Namun menambah sakit di lubuk ingatan.

Kujelajahi media sosial tanpa henti,
Melihat fotomu yang diunggah minggu lalu.
Berharap kau tahu, di malam sepi ini,
Aku di sini, merangkai setiap kata rindu.

Rindu ini adalah rumus yang tak terpecah,
Semakin dicari, semakin sulit jawabnya.
Membuat pikiranku lari dan terpecah,
Terperangkap di antara 'ada' dan 'tiada'.

Kemeja putih sekolahku tergantung rapi,
Menanti hari esok, penuh harapan.
Baunya samar, teringat sentuhanmu tadi,
Menjadi jimat penenang dari kesepian.

Aku rindu sentuhanmu di bahuku,
Saat kau menunjuk soal yang tak kumengerti.
Kehangatan singkat yang kini kucari,
Di malam yang hanya diisi oleh keluh.

Kuharap jam tidur segera habis,
Agar aku bisa berdiri di depan kelasmu.
Melihat senyum pertama yang manis,
Dan mengakhiri malam yang memilukan ini.

Maka kuletakkan pensil, ku tutup sketsa,
Menyimpan bayangmu di sudut relung dada.
Menanti cahaya matahari di jendela,
Menjemput kembali kekasih di hari sekolah.

Makassar 2025
Kategori : Musikalisasi Puisi Cinta SMA (Modern)
Tema : Puisi tentang Rindu

Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang rindu seorang pelajar laki-laki yang mengalami isolasi saat malam minggu. Kisah ini mengeksplorasi bagaimana ia menggunakan kreativitas dan teknologi (buku sketsa, rekaman suara) sebagai sarana untuk menghadapi kesepian. Latar kamarnya yang "seperempat terang" mencerminkan suasana hatinya yang suram namun masih ada secercah harapan.

Latar belakang kisah adalah perjuangan antara ingatan detail (tatapan saat pelajaran Kimia) dengan ketidakmampuan untuk merealisasikannya (melukis siluet yang selalu tak sempurna). Penggunaan "rekaman suara iseng" menjadi cara yang menyakitkan namun efektif untuk menghidupkan kembali kehadiran kekasihnya.

Inti narasi adalah rindu yang menjadi "rumus yang tak terpecah" dan mengganggu pikiran. Tokoh utama mencari kenyamanan melalui objek fisik yang terkait dengan kekasihnya, seperti kemeja putih sekolahnya yang tergantung rapi dan terasa menyimpan sentuhan kekasihnya—sebuah "jimat penenang." Kisah ini berakhir dengan penyerahan diri pada penantian, di mana ia menyimpan bayangan kekasihnya di dalam hati, menunggu hari sekolah datang.

Tulis Komentar FB Anda Disini...