Selasa, 16 Desember 2025

Jeda di Layar Ponsel

Jeda di Layar Ponsel
Karya : Andi Akbar Muzfa

Layar ponselku memancarkan cahaya biru,
Menyentuh wajah yang lelah menunggu.
Jendela chat yang sunyi, tanpa kata baru,
Mengapa rindu ini terasa mengganggu?

Di bangku kantin, kita berbagi janji,
Tawa kita selalu diiringi kue coklat.
Kau bilang sebentar, takkan ada yang rugi,
Namun jeda ini terasa terlalu erat.

Ku lihat statusmu yang baru kau unggah,
Senyummu terlihat bebas, tanpa beban.
Aku senang, namun hatiku terasa gundah,
Sebab senyum itu tak tertuju padaku dan terabaikan.

Aku tahu kau sibuk dengan urusanmu,
Namun satu pesan singkat saja cukup.
Jari ini terus menyentuh tombol scroll meramu,
Berharap nama kontakmu segera hidup.

Rindu ini bukan hanya ingin bertemu,
Tapi takut akan jarak yang tak terucap.
Mungkinkah hatimu telah bergeser waktu?
Pertanyaan remaja yang tak pernah tertegap.

Waktu liburan adalah ulangan yang sulit,
Menguji seberapa kuat janji yang kita tanam.
Aku mencoba fokus pada buku yang terlipat,
Namun bayangmu terlalu dalam dan kelam.

Aku rindu pada jaketmu yang hangat itu,
Yang selalu kau pinjamkan di hari hujan.
Kini, kamarku hanya diisi oleh suara buku,
Tanpa pelukan yang menjadi penahanan.

Ku buka album digital, melihat foto kita,
Saat wajah kita masih terlihat lugu dan malu.
Senyum itu kini terasa sangat berharga,
Bekal penantian untuk esok yang baru.

Kuharap hari ini berlalu tanpa lambat,
Agar layar ponselku tak lagi jadi saksi.
Bertemu langsung, tanpa harus chatting singkat,
Menghapus semua kegelisahan di hati.

Maka kuletakkan ponsel, ku coba istirahat,
Menanti pagi yang akan membawa harapan.
Agar rindu ini mendapat pengobat,
Saat kita bertemu lagi, di depan kelasmu, Sayang.

Makassar 2025
Kategori : Musikalisasi Puisi Cinta SMA (Modern)
Tema : Puisi tentang Rindu

Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang rindu di era modern remaja, di mana tokoh wanita menghadapi kegelisahan yang diperburuk oleh komunikasi digital. Fokus utama adalah pada layar ponsel yang menjadi penghubung sekaligus pemisah. Jeda komunikasi terasa menyiksa dan memicu keraguan.

Latar belakang kisah menyoroti kontradiksi teknologi. Ia dapat melihat kehidupan kekasihnya melalui "status yang baru kau unggah," namun hal itu justru menimbulkan kegundahan karena ia merasa terasing dari kebahagiaan itu. Rindu ini bukan hanya ingin bertemu, tetapi didominasi oleh ketakutan akan ketidakpastian dan "jarak yang tak terucap."

Inti narasi berputar pada kegiatan obsesif remaja yang menunggu pesan ("Jari ini terus menyentuh tombol scroll") dan menganalisis emosi ("Mungkinkah hatimu telah bergeser waktu?"). Tokoh utama memandang waktu liburan sebagai "ulangan yang sulit" yang menguji janji mereka. Penanggulangan kegelisahan dilakukan dengan kembali pada kenangan fisik ("jaketmu yang hangat") dan visual ("album digital"). Kisah ini berakhir dengan harapan yang kuat untuk kembali ke pertemuan tatap muka, agar "layar ponselku tak lagi jadi saksi" kegelisahan rindu.

Tulis Komentar FB Anda Disini...