Kamis, 11 Desember 2025

Jantung di Dalam Bingkai Kayu

Jantung di Dalam Bingkai Kayu
Karya : Andi Akbar Muzfa

Cinta, sebuah jendela ganda di ruang dingin,
Dua pemandangan menuntut fokus mata.
Kepala menoleh, tubuh bergerak ingin,
Jiwa terbelah di antara dua rupa.

Jantung di dalam bingkai kayu terasa berat,
Menolak detak, membisu sejak sentuhanmu.
Waktu, pasir yang tumpah tak terawat,
Mengisi rongga di antara janji yang semu.

Wajahmu, lukisan abstrak penuh garis tegang,
Hanya terdiri dari lapisan bayangan lama.
Setiap bisikan meninggalkan jurang,
Menjadi makna absurd pada sebuah nama.

Luka, kertas kusut tersimpan rapi,
Disegel rapat di bawah tanah kenangan.
Tangan tak memilih, waktu segera sepi,
Hanya tersisa dilema tanpa pembenaran.

Sumpah setia: tiang listrik yang bengkok,
Menyangga kabel-kabel harapan palsu.
Bayangan gelap di balik sebuah pondok,
Meminta pengakuan dari hati yang beku.

Pilihan, labirin tanpa pintu masuk,
Semua jalan kembali pada titik awal.
Kaki melangkah, tubuh terasa remuk,
Di persimpangan yang tak pernah kekal.

Mata air garam membeku di ujung mata,
Dibekukan suhu yang datang tiba-tiba.
Keputusan terukir pada bingkai nyata,
Menyentuh satu, melepaskan yang lain raba.

Sentuhan tanpa suara, kini terasa kejam,
Kebenaran dingin menusuk tulang sunyi.
Dilema, simpul tali yang makin kelam,
Berdetak dalam sunyi yang takkan mati.

Makassar 2023
Kategori : Puisi Kontemporer - Surealisme Metaforis

Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang tekanan batin yang luar biasa saat seseorang harus membagi fokus dan hati di antara dua kekasih. Inspirasi puisi ini berasal dari perasaan bahwa hati telah menjadi kaku dan tertutup digambarkan sebagai "Jantung di dalam bingkai kayu" tidak bisa lagi berdetak bebas karena terbebani oleh janji dan rasa bersalah. Dilema ini dilihat sebagai dua pandangan yang saling bertentangan, seperti "jendela ganda."

Latar belakang kisah ini adalah kelelahan emosional yang mendalam. Tokoh utama merasa setiap usahanya untuk menyelesaikan masalah ini selalu gagal; setiap jalan yang ditempuh kembali ke titik awal ("labirin tanpa pintu masuk"). Ia menyadari bahwa fondasi hubungannya telah rusak ("Sumpah setia: tiang listrik yang bengkok"), tetapi ia tetap menggantungkan harapan di sana.

Inti narasi dalam puisi ini adalah konflik antara hasrat dan kewajiban. Ia merasakan keinginan yang kuat pada kedua belah pihak, tetapi ia tahu bahwa tindakan memilih satu pihak berarti harus menyakiti dan kehilangan pihak yang lain. Rasa sakit ini diwujudkan dalam visualisasi yang dingin seperti "Mata air garam membeku."

Pesan utama kisah ini adalah mengenai cinta yang berujung pada pengorbanan dan penyesalan, di mana setiap pilihan adalah bentuk kehilangan yang harus diterima secara pahit.

Tulis Komentar FB Anda Disini...