Kompas yang Terbagi Dua
Karya : Andi Akbar Muzfa
Keputusan: mata uang tanpa sisi valid,
Menggantung sunyi di antara dua ruang bimbang.
Tangan tak memilih, waktu segera arid,
Mencari kehangatan di sudut yang sangat kelam.
Kompas jiwa menunjuk dua arah berbeda,
Jalur terukir pada permukaan kaca retak.
Setiap rindu merangkai cerita,
Bayangan memanjang segera berjarak.
Suara bisikan, melodi yang terputus-putus,
Satu nada keras, satu nada sangat lirih.
Hati menari, tubuh segera lemas,
Menolak semua duka yang terasa perih.
Teks takdir tertulis di punggung telapak tangan,
Memudar perlahan saat disentuh air mata.
Pintu terbuka, namun tanpa penerangan,
Hanya ada kebenaran di dalam rupa.
Di antara batu dan bingkai kayu yang usang,
Tersembunyi kunci menuju ruang ganda.
Langkah memecah kabut, tubuh segera tegang,
Meminta pengakuan pada janji tanpa jeda.
Cinta, sebuah sumbu yang menyala di udara,
Menarik kami ke pusat yang sangat asing.
Kami adalah ingatan tanpa suara,
Menjelma ilusi yang kini mengering.
Mata kristal garam beku di tepi hati,
Dibekukan suhu dari pilihan yang mustahil.
Jiwa terjerat pada simpul yang tak mati,
Menolak memimpin, menolak dipimpin ambil.
Sentuhan dingin waktu yang tidak bersuara,
Adalah kebenaran terakhir yang sangat kejam.
Dilema, sebuah cermin yang selalu membara,
Berdetak dalam sunyi yang semakin kelam.
Makassar 2023
Kategori : Puisi Kontemporer - Surealisme Metaforis
Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang ketidakmampuan total untuk menentukan arah moral atau emosional dalam cinta segitiga. Inspirasi puisi ini berfokus pada metafora "Kompas jiwa menunjuk dua arah berbeda," yang menggambarkan tokoh utama yang kehilangan orientasi dan bingung harus mengikuti suara hati yang mana (yang keras atau yang lirih).
Latar belakang kisah ini adalah perasaan hampa dan ketidakpastian. Tokoh utama merasa semua janji dan takdirnya telah memudar ("Teks takdir tertulis di punggung telapak tangan, memudar"), sehingga ia merasa sendirian tanpa panduan. Ia terpaksa hidup di antara dua ruang bimbang, di mana ia terus mencari kehangatan, tetapi hanya menemukan ilusi dan ketegangan.
Inti narasi dalam puisi ini adalah tentang penolakan terhadap tanggung jawab. Tokoh utama tidak mau memimpin dan tidak mau dipimpin dalam mengambil keputusan. Ia hanya ingin pasrah pada simpul yang telah menjeratnya. Seluruh drama ini adalah sebuah cermin internal yang panas dan menyakitkan, di mana ia melihat kelemahannya sendiri.
Pesan utama kisah ini adalah mengenai cinta sebagai kekuatan yang menghilangkan kemauan bebas, membuat seseorang hanya bereaksi pada tekanan, bukan membuat keputusan yang utuh.
Home
Puisi Cinta Kontemporer
Puisi Cinta Segitiga Kontemporer
Puisi Kontemporer
Puisi Kontemporer Modern
Puisi Metaforis
Puisi Surealisme
Kompas yang Terbagi Dua
Kamis, 11 Desember 2025
Kompas yang Terbagi Dua
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
