Rabu, 10 Desember 2025

Naskah yang Bisu

Naskah yang Bisu
Karya : Andi Akbar Muzfa

Aku adalah aktor yang siap sedia,
Berdiri di panggung yang megah.
Menunggu giliranmu untuk menyapa,
Tapi naskah ini tak pernah kau ubah.

Panggung cintaku selalu benderang,
Hanya untukmu pahlawan utama.
Namun kau memilih tetap di belakang,
Mengabaikan semua cahaya dan nama.

Aku memainkan semua peranku,
Dengan air mata dan seluruh jiwa.
Kau tak pernah muncul di hadapanku,
Hanya meninggalkan sunyi yang mendera.

Di baris ke empat, klimaks itu tiba,
Aku sadar, tak ada duet yang pasti.
Ini adalah kisah yang sia-sia,
Kau tak pernah berniat kembali.

Lampu sorot ini terasa dingin,
Menghangatkan tubuhku yang rapuh.
Aku hanya bisa berdiri sendiri merintih,
Saat tirai hatiku jatuh.

Aku tahu aku harus meninggalkan,
Panggung yang bisu tanpa penonton.
Tapi kakiku tak punya kekuatan,
Terikat pada skenario yang usang.

Mereka bilang, hentikan sandiwara,
Cinta itu harus dimainkan berdua.
Namun aku terus mencari suara,
Di antara hening yang tak terkata.

Kulepas kostum dan segala peran,
Semua yang ku kenakan terasa palsu.
Sebab hatiku butuh kebenaran,
Bukan sebuah drama yang keliru.

Tersisa hanya panggung yang kosong,
Dan kursi-kursi yang tak terisi.
Aku adalah kisah yang tak tertolong,
Menunggu akhir yang pasti.

Biarlah panggung ini disapu bersih,
Dari semua debu kenangan lama.
Aku takkan lagi merasa perih,
Karena aku telah terima.

Jika suatu hari kau membaca naskah,
Yang kubiarkan terbuka di atas meja.
Kau akan tahu betapa lelah,
Menanti dirimu tanpa jeda.

Maka kuturunkan tirai dengan tenang,
Mengakhiri pertunjukan yang sunyi.
Aku harus kembali berjuang,
Dengan diri yang kini sejati.

Makassar 2023
Kategori : Musikalisasi Puisi (Modern)

Kisah di Balik Puisi...
Puisi ini mengisahkan tentang penderitaan yang sangat personal akibat cinta yang tidak terbalas, menggunakan metafora teater dan naskah yang hanya dimainkan sendirian. Latar belakang ceritanya adalah pengakuan bahwa tokoh utama telah mempersiapkan diri (menjadi "aktor yang siap sedia") untuk sebuah kisah cinta, namun orang yang dicintainya ("pahlawan utama") menolak untuk naik ke atas panggung. Ini adalah kisah tentang pengorbanan emosional yang sia-sia di hadapan penolakan yang pasif.

Sumber inspirasi utama dari kisah ini adalah konflik antara ilusi dan realitas. Tokoh utama berada dalam kondisi yang menyiksa, di mana panggung hatinya "selalu benderang" (penuh harapan), tetapi pasangan memilih untuk "tetap di belakang" tirai. Klimaks emosional terjadi pada Bait 4, ketika tokoh utama secara definitif menyadari bahwa "tak ada duet yang pasti" dan seluruh kisah ini adalah "sia-sia." Kesadaran ini memicu "tirai hati jatuh" lambang keputusasaan total.

Inti narasi dalam puisi ini adalah proses pelepasan identitas palsu yang tercipta karena harapan. Tokoh utama menyadari bahwa ia memakai "kostum dan segala peran" dalam sandiwara yang tak pernah ada. Untuk sembuh, ia harus melepaskan semua itu dan mencari "kebenaran" di balik drama yang keliru. Ia memilih untuk mengakhiri pertunjukan yang "sunyi" itu, menerima bahwa ia adalah "kisah yang tak tertolong" oleh pasangannya.

Pesan utama kisah ini adalah mengenai kesadaran diri dan memulai pemulihan. Puisi ini menyimpulkan bahwa pengobatan terbaik untuk cinta tak terbalas adalah dengan menutup pertunjukan dan meninggalkan panggung. Tokoh utama menutup kisah ini dengan tindakan nyata: menurunkan tirai. Ini melambangkan keputusan untuk "kembali berjuang" dan mencari kembali "diri yang kini sejati," lepas dari peran yang ia mainkan demi seseorang yang tak pernah datang.

Tulis Komentar FB Anda Disini...