Rabu, 10 Desember 2025

Jendela yang Buram

Jendela yang Buram
Karya : Andi Akbar Muzfa

Aku adalah seberkas cahaya pagi,
Berusaha menembus dingin kaca.
Kau di sana, terlindungi dan abadi,
Tak peduli pada sinarku yang hampa.

Kau adalah jendela yang selalu tertutup,
Menghalangi semua usahaku datang.
Aku berjuang di luar yang rapuh,
Di antara dinginnya malam dan siang.

Ku ukir namamu pada embun tipis,
Berharap kau lihat dan kau sentuh.
Namun kau hanya menghapusnya kritis,
Membiarkan semua harapku runtuh.

Aku tahu sejak awal, ini percuma,
Cintaku tak pernah kau izinkan masuk.
Aku hanya pengagum yang lama,
Menunggu sisa perhatian yang busuk.

Di sinilah badai itu mencapai puncak,
Aku menyerah pada kenyataan beku.
Kau tak pernah memberiku satu jejak,
Hanya menyisakan sunyi yang pilu.

Mereka bilang aku tak punya martabat,
Terus menunggu di balik pagar kaca.
Aku tahu diri ini tak layak dan tak pantas,
Menerima semua hinaan dan cela.

Aku harus mencari celah untuk lari,
Keluar dari penderitaan yang panjang.
Tapi kakiku tak mampu berdiri,
Terikat pada bayangan yang benderang.

Kutinggalkan hangat sinarku sendiri,
Demi memuja dingin yang tak terperi.
Aku adalah cermin yang tak berarti,
Hanya memantulkan dirimu yang sepi.

Tersisa hanya dingin yang menetap,
Di permukaan kaca yang kau abaikan.
Aku harus berhenti dan bersikap cepat,
Mengakhiri semua penantian.

Biarlah air mata menyirami kaca,
Membasuh semua ukiran nama.
Aku takkan lagi mencari sapa,
Di ruang hampa yang tak bernyawa.

Jika suatu hari kau melihat embun,
Ketahuilah itu adalah air mataku.
Aku telah berhenti merenung,
Mengambil kembali semua waktu.

Maka kutinggalkan jendela yang buram,
Membawa diri yang lelah dan sepi.
Meskipun cintaku tak pernah kau genggam,
Aku harus tetap berdiri.

Makassar 2023
Kategori : Musikalisasi Puisi (Modern)

Kisah di Balik Puisi...
Puisi ini mengisahkan tentang cinta tak terbalas yang terasa seperti mencoba menembus penghalang yang dingin dan tidak bergerak. Latar belakang ceritanya adalah perjuangan "Aku" sebagai seberkas cahaya (simbol harapan, kehangatan, dan cinta) yang berusaha meraih "Kau" yang diumpamakan sebagai jendela kaca yang tertutup (simbol ketidakpedulian, keterbatasan, dan penolakan). Kisah ini berpusat pada upaya yang sia-sia, di mana cahaya itu hanya mampu mengukir nama pada embun sebuah usaha yang rapuh dan mudah hilang.

Sumber inspirasi utama dari kisah ini adalah kepedihan karena diabaikan meskipun telah berjuang keras. Tokoh utama mencapai klimaks emosionalnya pada Bait 4, ketika ia menyadari bahwa seluruh perjuangan dan pengagumannya adalah "percuma," dan ia hanya menerima "sisa perhatian yang busuk." Penolakan ini memicu konflik internal yang hebat, di mana ia menerima rasa malu ("tak punya martabat") karena terus menunggu di tempat yang salah.

Inti narasi dalam puisi ini adalah proses pertarungan melawan keputusasaan. Tokoh utama merasa "terikat pada bayangan" di balik kaca, yang membuatnya sulit melarikan diri. Namun, titik baliknya adalah ketika ia secara sadar memutuskan untuk meninggalkan apa yang ia puja. Ia memilih untuk mengakhiri sandiwara itu, di mana ia telah mengorbankan "hangat sinarku sendiri" demi memuja dingin yang tak berbalas.

Pesan utama kisah ini adalah mengenai pemulihan melalui pelepasan total. Puisi ini menyimpulkan bahwa cinta yang tak terbalas pada akhirnya hanya menyisakan air mata dan kehampaan ("jendela yang buram"). Langkah terakhir tokoh utama adalah membersihkan jejak cinta yang sia-sia ("membasuh semua ukiran nama") dan mengambil kembali waktu serta hidupnya yang terbuang. Puisi ditutup dengan kesadaran bahwa meskipun ia tidak pernah digenggam, ia memiliki kekuatan untuk tetap berdiri.

Tulis Komentar FB Anda Disini...