Rabu, 10 Desember 2025

Perjalanan Tanpa Wujud

Perjalanan Tanpa Wujud
Karya : Andi Akbar Muzfa

Ruang kaca dingin, retaknya menyimpan udara berat,
Patung tanpa jarak, jarum takdir sesat mengikat.
Waktu hanyalah bongkahan lumut yang terlihat,
Menyentuh sunyi, seluruh raga segera kaku terlewat.

Jantung beku, jam tanpa detak sejak sentuhanmu,
Gema waktu mencari diri dalam tirai rapuh.
Wajah, peta tanpa garis, tanpa batas tuju,
Mengukir arti pada ketiadaan yang sungguh.

Luka: koin tak laku, di altar pengakuan gelap,
Tukar hasrat ingin dengan tekstur hari tak lengkap.
Simpan duka dalam peti kayu tanpa harap,
Hanya bisikan tanpa suara yang menangkap.

Patung ciuman membisu di bawah kaca retak,
Menolak gerak, melarang angin datang menyapa.
Ingatan tercecer menjadi serpihan jejak,
Tawa dan tangis kini hanyalah sebentuk rupa.

Akar menyatu, mencari tanah di ruang buram ini,
Kastil tanpa pintu, menolak datangnya cahaya kelam.
Dinding semen menjulang, memisahkan sunyi,
Di dalamnya hanya ada sepi yang terasa mendalam.

Cinta, simpul tali yang terus menyala perlahan,
Menarik pada pusat takdir yang terasa absurd.
Menolak mencari arti sebuah pembenaran,
Hanya menerima janji yang tak pernah terukir.

Air mata kristal garam, dibekukan suhu aneh,
Labirin tanpa akhir, tempat jiwa terjerat erat.
Bayangan bergerak ingin, tak pernah boleh leleh,
Menghadap sunyi, takdir datang begitu cepat.

Sentuhan waktu tanpa suara, kini terasa nyata,
Kebenaran asing berdetak dalam hening malam.
Semua tinggal kenangan tanpa makna,
Perjalanan tanpamu hanya berakhir kelam.

Makassar 2023
Kategori : Puisi Kontemporer - Surealisme Metaforis

Kisah di Balik Puisi...
Puisi ini mengisahkan tentang cinta yang sangat intens dan obsesif, tetapi digambarkan melalui serangkaian imaji yang membekukan dan abstrak. Latar belakang cerita ini adalah perjuangan sang tokoh utama untuk mendefinisikan hubungan yang secara logika tidak masuk akal, tetapi secara emosional sangat mengikat. Cinta ini digambarkan sebagai "ruang kaca dingin" dan "jam beku," menunjukkan bahwa hubungan tersebut transparan namun menyakitkan dan menghentikan laju waktu normal bagi narator.

Sumber inspirasi utama dari kisah ini adalah kondisi psikologis terperangkap dalam sebuah ilusi. Tokoh utama (yang menyembunyikan dirinya dengan menghilangkan kata ganti 'Aku') merasa seluruh identitasnya telah lenyap dan berganti menjadi objek-objek pasif, seperti "patung tanpa jarak" atau "bongkahan lumut." Konflik utama adalah pertarungan melawan realitas: Ia sadar bahwa ia telah mengubah ciuman menjadi "bayangan di sudut ruang" dan janji menjadi "simpul tali yang terus menyala," namun ia secara sukarela terjerat dalam "labirin tanpa akhir" ini.

Inti narasi dalam puisi ini adalah tentang penerimaan keabsurdan cinta sebagai takdir. Tokoh utama tidak lagi mencari jawaban logis atau "pembenaran," melainkan mencari sensasi dan "tekstur hari tak lengkap" sebagai bukti keberadaan cinta tersebut. Ia memilih untuk membangun "kastil tanpa pintu," sebuah tempat isolasi yang menolak intervensi luar. Puisi ini merayakan kerelaan untuk tenggelam dalam keindahan yang aneh dan menyakitkan dari hubungan tersebut.

Pesan utama kisah ini adalah mengenai cinta sebagai kekuatan destruktif dan definitif yang mengalahkan akal. Puisi ini menyimpulkan bahwa pada akhirnya, cinta yang absurd dan surealistik ini menjadi "kebenaran yang asing" bagi narator. Semua wujud fisik dan emosional telah ditinggalkan, yang tersisa hanyalah detak dalam keheningan ("sunyi yang tak perlu ditopang"), menandakan bahwa esensi dari perasaan tersebut telah melampaui kebutuhan akan kehadiran fisik atau penjelasan yang logis.

Tulis Komentar FB Anda Disini...