Jumat, 05 Desember 2025

Senandung Motor Tua

Senandung Motor Tua
Karya : Andi Akbar Muzfa

Setiap pagi kita saling menyapa,
Kau di halaman, siap siaga,
Bukan tujuan jauh yang kita sasar,
Hanya pasar dan rumah, rute yang sederhana.

Mesinmu bergetar, suara yang khas,
Sebuah debar yang tak pernah terlepas,
Suamiku di depan, aku di belakang,
Menyulam hari dalam debu dan panas.

Tak ada pantai, tak ada lembah yang sejuk,
Bukan peta wisata yang kita peluk,
Namun di pelana ini, cinta bersemi,
Tawa dan bisik berbaur dalam terik.

Kini usiamu terkuak tak terhindar,
Mesinmu berbatuk, gasnya tersendat,
Besi dan karat mulai bersekutu,
Memaksa senandungmu kini menderap lambat.

Di bengkel sempit, ia hanya terdiam,
Mendengar suamiku berucap kelam,
"Lebih baik dijual, ganti yang baru saja,"
Satu kalimat yang menusuk perasaan.

Aku lihat matanya, penuh keraguan,
Antara kebutuhan dan sebuah kenangan,
Harga tukar yang ditawarkan penjual,
Jauh lebih kecil dari nilai persahabatan.

Tetangga berkata, motor itu beban,
Besi tua tak layak jadi andalan,
"Lihatlah yang lain, sudah berganti matic,"
Mereka menertawakan pilihan yang sederhana.

Namun suamiku menggeleng, bibirnya rapat,
Tiba-tiba tangan kami saling merapat,
Kenangan kita jauh lebih berharga,
Dari sekadar angka dan kata-kata hina.

Kita putuskan, ia tak akan pergi,
Motor tua ini harus diperbaiki,
Kita cari onderdil, dari kota ke kota,
Agar senandung itu kembali lagi.

Suami membongkar, membersihkan cermat,
Setiap baut ia kenal sangat dekat,
Ia seperti merawat luka lama,
Memberi nyawa baru, dengan penuh hormat.

Ini bukan hanya tentang mesin yang utuh,
Tapi tentang janji yang kita peluk teguh,
Bukan kemewahan yang kita dambakan,
Kesetiaan sejati yang kita butuhkan.

Biarlah kini senandungmu kembali merdu,
Mengiringi kita hingga waktu tak menentu,
Motor tua ini, saksi bisu kita,
Pemberi makna pada setiap langkah kita.

Makassar 2025
Kategori : Musikalisasi Puisi - Puisi Modern
Tema : Realita Sosial - Naratif-Deskriptif

Kisah dibalik Puisi ...
Puisi ini lahir dari apresiasi mendalam terhadap kesetiaan dalam kesederhanaan. Inti ceritanya berpusat pada sebuah motor tua yang menjadi tulang punggung kehidupan sepasang suami istri, bukan sebagai kendaraan mewah penjelajah wisata, melainkan sebagai saksi bisu dan penopang rutinitas harian mereka mulai dari pergi ke pasar hingga bekerja. Motor ini, dengan suara mesinnya yang khas, menjelma menjadi "senandung" yang menenangkan, mewakili irama hubungan mereka yang jauh dari hiruk pikuk, namun penuh kehangatan dan makna.

Konflik utama muncul ketika usia mulai menggerogoti. Ketika motor itu mulai rewel dan menunjukkan tanda-tanda kerusakan, keraguan besar menyelimuti sang suami. Desakan realitas serta cemoohan halus dari lingkungan yang mendambakan modernitas mendorongnya untuk mempertimbangkan menjual motor tersebut. Momen ini menjadi titik emosional terberat (klimaks puisi), di mana nilai material harus berhadapan dengan nilai memori.

Namun, di tengah keraguan tersebut, muncul kekuatan yang lebih besar: memori dan komitmen bersama. Bagi pasangan ini, motor tua itu bukan sekadar benda mati. Ia adalah album kenangan berjalan, menyimpan setiap tawa, obrolan, dan perjuangan. Mereka menyadari bahwa menjualnya sama saja dengan melepaskan sebagian dari sejarah cinta mereka. Keputusan untuk tidak menjual dan memilih untuk memperbaikinya adalah janji kesetiaan, menegaskan bahwa hubungan mereka menghargai nilai sentimental di atas pertimbangan ekonomi yang pragmatis.

Akhirnya, puisi ini ditutup dengan refleksi bahwa perbaikan mesin motor adalah metafora untuk perbaikan dan pemeliharaan sebuah hubungan. "Senandung Motor Tua" merayakan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada hal-hal yang paling sederhana, dan bahwa benda yang paling usang sekalipun dapat memiliki harga yang tak ternilai jika ia diisi dengan cinta, kenangan, dan komitmen untuk selalu bersama melawan derasnya waktu.


Tulis Komentar FB Anda Disini...