Kamis, 04 Desember 2025

Senyum yang Hilang Dalam Ingatan

Senyum yang Hilang Dalam Ingatan
Karya : Andi Akbar Muzfa

Ruang tamu senyap, tanpa ada suara.
Debu tipis menyelimuti, di atas meja kaca.
Jendela terbuka lebar, menyambut hembusan udara.
Aku duduk sendiri, merangkai kisah lama.

Kutemukan bingkai kecil, di sudut yang redup.
Foto kita berdua, kenangan yang terkatup.
Kau tersenyum lebar, saat waktu belum tertutup.
Cahaya masa lalu, kini terasa meredup.

Jemariku gemetar, menyentuh wajahmu yang teduh.
Mencoba mengingat lagi, segala janji yang utuh.
Namun ingatan itu, perlahan mulai meluruh.
Hanya sisa bayangan, yang tak mampu kurangkuh.

Senyum itu menghilang, karena kata yang tajam.
Keluargamu menolak, memutus tanpa ragam.
Mereka menghakimiku, dalam ruangan yang kelam.
Kau terpaksa menjauh, dari pelukan yang dalam.

Luka itu kini hadir, seperti duri di dada.
Aku tahu keraguanmu, membuat hatimu tiada daya.
Kau bimbang antara setia, dan tuntutan semesta.
Aku memilih mundur, demi kebahagiaanmu saja.

Foto itu kupegang, terasa dingin dan beku.
Aku mencari tawa, yang dulu pernah kurayu.
Bayangan perpisahan, menusuk ke dalam kalbu.
Mengapa ingatan indah, kini terasa pilu.

Ruangan ini sunyi, hanya ada angin yang menyapa.
Angin dingin berdesir, membawa aroma lara.
Menghapus semua wangi, yang pernah kau tinggalkan.
Aku mencoba menghela, napas penuh kecewa.

Kau pergi meninggalkanku, demi hidup yang damai.
Kau tak pernah tahu, betapa aku merindukanmu.
Rindu tawa lepas, yang sering kita bagi.
Semua kisah itu, kini telah usai.

Aku menatap foto, pada matamu yang jernih.
Mencari kehangatan, yang dulu sering ku raih.
Setiap lekuk senyummu, kuingat dengan gigih.
Tapi memori itu samar, terasa mulai lirih.

Waktu telah menipu, ingatan makin terkikis.
Tak hanya wajahmu, tapi senyum itu menipis.
Aku takut suatu hari, semua kisah terlepas.
Tak ada lagi jejakmu, yang mampu kusebut jelas.

Kutaruh foto itu, kembali di atas meja.
Menerima kenyataan, cinta tak selalu nyata.
Mungkin ini adalah harga, yang harus kubayar.
Kenangan harus pudar, agar jiwa merdeka.

Angin masuk, membawa hawa yang menenangkan.
Aku menyadari kini, kenangan harus diikhlaskan.
Senyummu tak hilang, hanya berpindah tempat.
Ia ada di hatiku, sebagai sebuah pelajaran.

Makassar 2023
Kategori : Puisi Musikal - Puisi Modern
Tema : Puisi Cinta Modern

Kisah di Balik Puisi ..
Puisi ini mengisahkan tentang perasaan seorang pria yang kini duduk sendirian di ruang tamu yang hampa, menatap bingkai foto lama. Keindahan dan kehangatan senyum yang terpancar dalam foto sang wanita (kekasihnya) menyimpan kisah kebahagiaan yang telah sirna. Perpisahan tragis ini dipicu oleh konflik eksternal yang kuat (Bait 4): penolakan tak terhindarkan dari keluarga sang wanita. Cemoohan dan tuntutan status dari keluarga tersebut telah memutus janji dan memaksa kekasihnya untuk memilih antara cinta dan tekanan sosial yang mendominasi.

Melihat foto lama itu memicu konflik internal yang mendalam bagi sang pria. Ia mengingat dilema yang dihadapi wanitanya keraguan dan kebimbangan antara tetap setia pada cinta mereka atau menuruti tuntutan keluarganya (Bait 5). Meskipun hatinya hancur, sang pria mengambil inisiatif pahit: ia memutuskan untuk mundur dan melepaskan wanitanya. Keputusan ini diambil sebagai bentuk pengorbanan tertinggi, meyakini bahwa dengan menjauh, ia memberikan kesempatan pada sang wanita untuk hidup tenang dan damai, terbebas dari penderitaan yang mungkin dibawa oleh hubungan mereka.

Setelah perpisahan, perjuangan terbesar sang pria adalah melawan kikisan waktu dan memori. Ia menggenggam foto itu erat-erat, berjuang keras untuk mengingat setiap detail senyum dan tawa yang pernah ada (Bait 6, 9, 10). Perasaan takut yang paling besar bukanlah kehilangan wanita itu secara fisik, melainkan kehilangan ingatan yang jelas tentang wajah dan senyumnya. Ia gentar jika suatu hari, waktu benar-benar menghapus kejelasan semua kisah indah mereka, menjadikannya hanya samar dan tidak tergapai.

Puisi ini diakhiri dengan penerimaan yang penuh kedewasaan. Sang pria meletakkan kembali foto itu di atas meja, menyadari bahwa ia harus mengikhlaskan kenangan agar jiwanya bisa merdeka (Bait 11, 12). Ia menemukan pemahaman baru: senyum kekasihnya tidak benar-benar hilang, melainkan telah berpindah tempat ke dalam hatinya, menjadi pelajaran berharga tentang hakikat cinta sejati yaitu kerelaan untuk melepaskan. Ruang hampa kini diisi oleh ketenangan, bukan lagi kepiluan yang tak berujung.


Tulis Komentar FB Anda Disini...