Di Antara Malam dan Sisa Harga Diri
Karya : Andi Akbar Muzfa
Lampu neon berkedip, menghitung detik yang kian tua,
Di lorong yang sama, ia kembali menyapa sepi.
Ia tahu gerbang keluar mungkin takkan pernah terbuka,
Namun ia menolak membiarkan jiwanya ikut mati.
Dunia adalah labirin tanpa penanda jalan yang pasti,
Dan ia terjebak di pusaran yang tak menjanjikan ujung.
Namun ia tetap berdiri, menata langkah dengan hati,
Membawa beban hidup yang kian hari kian membubung.
Prinsipnya satu, setajam belati di balik saku:
Jangan merusak hidup mereka yang punya harapan.
Meski ia sendiri tersesat dalam waktu yang kaku,
Ia takkan menjadi batu sandungan bagi sebuah impian.
Ia menolak menyeret gadis lain ke dalam bayangan,
Saat lapar mulai membisikkan janji-janji palsu.
Baginya, biarlah ia sendiri yang menelan kepahitan,
Asal tak ada jiwa baru yang terjebak dalam belenggu.
Di bawah riasan yang menyembunyikan lelahnya raga,
Ia masih sempat membagi senyum pada sesama yang jatuh.
Satu keping uang ia sisihkan untuk mereka yang berjaga,
Menunjukkan bahwa rasa ibanya belum sepenuhnya luruh.
Ia menjaga lisan agar tak menjadi racun bagi sesama,
Menghargai rahasia di balik pintu-pintu yang tertutup.
Meski ia dianggap kotor dan kehilangan segala nama,
Kemanusiaannya adalah api yang takkan pernah redup.
Mungkin masa depan adalah kanvas yang kosong dan bisu,
Tanpa janji tentang rumah atau pelukan yang hangat.
Namun ia memilih untuk tidak menjadi mesin yang palsu,
Tetap merasa perih, tetap memiliki rasa yang sangat.
Ia adalah saksi sunyi dari ribuan duka yang lewat,
Mendengar isak mereka yang merasa paling berkuasa.
Ia tak membalas benci dengan dendam yang berkarat,
Hanya diam, memeluk martabat di tengah noda dosa.
Setiap pilihan kecil adalah doa yang ia terbangkan,
Tentang cara menjadi manusia di tengah dunia yang binatang.
Meski kebebasan fisik adalah hal yang ia lupakan,
Kemerdekaan batinnya tetap ia jaga agar tak hilang.
Ia tak menyalahkan takdir yang menyeretnya ke sini,
Hanya berjanji takkan membiarkan nuraninya dicuri.
Menjadi lilin kecil di sudut yang paling tersembunyi,
Menerangi duka tanpa harus memamerkan diri.
Jika esok malam ia masih berada di jalan yang sama,
Itu bukan berarti ia telah kalah oleh keadaan yang kera.
Sebab ia telah menang saat ia menolak segala drama,
Dan tetap menjaga hati agar tak berubah menjadi lara.
Biarlah duniaku tetap gelap, asalkan hatiku tak buta,
Bisiknya pada rembulan yang sembunyi di balik awan.
Seorang wanita yang merdeka di tengah belenggu nyata,
Menjaga kemanusiaan, sebagai satu-satunya kawan.
Kategori : Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Tema : Puisi Wanita Malam, Kupu-kupu Malam, Wanita Panggilan
Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang kesadaran tragis sekaligus agung dari seorang wanita yang terjebak dalam dunia prostitusi dan memahami bahwa pintu keluar bagi dirinya mungkin sudah tertutup selamanya. Ia tidak lagi mengejar keajaiban atau akhir bahagia yang klise, melainkan memilih untuk berdamai dengan kenyataan pahit tersebut tanpa harus kehilangan esensi kemanusiaannya. Fokus hidupnya beralih dari keinginan untuk melarikan diri menjadi tekad untuk tidak menjadi agen perusak bagi hidup orang lain, menjadikan setiap detik di jalanan sebagai ruang untuk mempraktikkan etika pribadi yang sangat ketat.
Dalam menjalani hari-harinya yang monoton dan penuh noda, ia menetapkan batas-batas moral yang tidak terlihat namun sangat kuat, seperti menolak keras untuk merekrut atau membujuk perempuan lain masuk ke dunia yang sama. Ia menyadari bahwa meski tubuhnya bisa dibeli, nuraninya tetaplah milik pribadinya yang paling otonom, sehingga ia sangat berhati-hati agar kehadirannya tidak menghancurkan kebahagiaan atau tatanan hidup orang lain. Prinsip ini adalah bentuk "kedaulatan jiwa" yang ia bangun sebagai benteng terakhir agar ia tidak benar-benar berubah menjadi mesin yang dingin dan hampa perasaan.
Kisah ini menonjolkan kekuatan dari pilihan-pilihan kecil yang tetap ia lakukan dengan konsisten, seperti menunjukkan empati kepada rekan sejawat atau menjaga rahasia-rahasia pahit yang ia dengar dari para pelanggannya. Ia tidak membiarkan kebencian masyarakat terhadap profesinya mengubah dirinya menjadi sosok yang penuh dendam; sebaliknya, ia justru menjadi penyaring duka bagi banyak orang yang datang padanya. Keteguhan batinnya teruji saat ia tetap mampu memberikan kebaikan tanpa mengharapkan imbalan atau perubahan nasib, membuktikan bahwa martabat seseorang bisa tetap bersinar di tempat yang paling gelap sekalipun.
Pada akhirnya, puisi ini merupakan sebuah refleksi tentang makna keberadaan manusia yang tidak ditentukan oleh profesi atau masa depan yang menjanjikan, melainkan oleh integritas yang dijaga di saat ini. Wanita ini adalah potret pejuang yang telah melepaskan harapan tentang kemerdekaan fisik, namun justru menemukan kemerdekaan batin yang lebih dalam melalui pengabdian pada rasa kemanusiaan. Ia membuktikan bahwa meski dunia menganggapnya sampah, ia memiliki kekayaan spiritual yang jauh lebih besar daripada mereka yang menindasnya, menjadikan hidupnya yang terbatas sebagai sebuah melodi ketabahan yang sunyi namun sangat bermakna.
Rabu, 07 Januari 2026
Di Antara Malam dan Sisa Harga Diri
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
