Di Balik Tatapan Penghakiman
Karya : Andi Akbar Muzfa
Ia basuh riasan tebal itu dengan air mata murni,
Mencoba menghapus jejak malam yang melekat di kulit.
Namun saat ia melangkah mencari sinar matahari pagi,
Dunia seolah menutup jendela, membiarkannya terjepit.
Ia pulang ke pintu kayu yang dulu membesarkannya,
Membawa segenggam tobat dan niat yang tulus.
Namun keluarga memalingkan wajah, seolah tak mengenalnya,
Membiarkan tali kasih itu terputus dan hangus.
"Jangan kotori lantai kami dengan langkahmu," bisik mereka,
Sebuah belati kata yang lebih tajam dari rupa nista.
Ia berdiri di ambang pintu dengan dada yang terluka,
Menyadari bahwa maaf hanyalah dongeng dalam cerita.
Di pasar, di jalanan, hingga di sela-sela rumah ibadah,
Mata masyarakat berubah menjadi cermin yang retak.
Mereka tak melihat manusia yang ingin berubah arah,
Hanya label hitam yang mereka sematkan dengan telak.
Masa lalu laksana bayangan yang berlari mendahului,
Membisikkan aib ke setiap telinga yang ia temui.
Setiap ia mencoba membangun rumah yang baru lagi,
Tangan-tangan tak kasatmata merobohkannya kembali.
Ia melamar kerja dengan kejujuran yang dipertaruhkan,
Menceritakan lubang hitam yang pernah ia lalui.
Namun pintu-pintu tertutup rapat, harapan dipatahkan,
Seolah kesempatan kedua adalah barang haram di bumi ini.
Meski dunia menolaknya dengan cara yang paling keji,
Ia tetap menjaga martabat di balik jilbab kesunyian.
Ia takkan mengemis belas kasih atau meratapi diri,
Sebab harga dirinya kini adalah sebuah kemandirian.
Ia adalah pejuang yang dikepung oleh tembok prasangka,
Bertahan hidup di antara sunyi yang tak bertepi.
Tak ada rasa benci yang ia tanam dalam duka,
Hanya keteguhan untuk tetap berdiri di atas kaki sendiri.
Ia memilih untuk tetap menjadi baik meski tak dianggap,
Membasuh luka jiwanya dengan sabar yang tak terbatas.
Meskipun langit sosial di atas kepalanya kian gelap,
Nuraninya tetap bersinar, jernih dan takkan kandas.
Mereka mungkin bisa merampas tempatnya di tengah warga,
Atau menghapus namanya dari daftar pergaulan manusia.
Namun mereka takkan pernah bisa menyentuh surga,
Yang ia bangun diam-diam di dalam batinnya yang mulia.
Ia adalah bukti bahwa tobat bukan tentang penerimaan,
Bukan tentang seberapa banyak orang yang menjabat tangan.
Melainkan tentang keberanian menghadapi kesendirian,
Sambil memeluk martabat di tengah badai penghinaan.
Esok ia akan kembali melangkah dengan kepala tegak,
Meski bayang-bayang masa lalu terus mengejar di belakang.
Seorang wanita yang merdeka dari penilaian yang sesak,
Menjadi cahaya bagi dirinya sendiri yang takkan pernah hilang.
Kategori : Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Tema : Puisi Wanita Malam, Kupu-kupu Malam, Wanita Panggilan
Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita yang telah membulatkan tekad untuk meninggalkan dunia prostitusi, namun mendapati bahwa pintu kembali menuju masyarakat sosial telah terkunci rapat oleh prasangka. Ia menghadapi realitas pahit di mana masa lalunya selalu bergerak lebih cepat daripada langkah tobatnya, menghancurkan setiap upaya tulusnya untuk memulai hidup baru. Rejeksi yang ia terima bukan hanya datang dari orang asing, melainkan dari lingkaran terdalam seperti keluarga yang seharusnya menjadi pelindung, namun justru memilih untuk membuangnya demi menjaga nama baik dan kehormatan semu.
Sentral dari cerita ini adalah benturan antara keinginan seseorang untuk bertransformasi dengan ketidaksiapan lingkungan untuk memberikan pengampunan yang nyata. Wanita ini harus menanggung beban isolasi sosial yang ekstrem, di mana label "pelacur" seolah-olah telah menjadi identitas permanen yang menghapus segala sisi kemanusiaan dan kebaikan yang ia miliki sekarang. Setiap kali ia mencoba melamar pekerjaan atau sekadar bersosialisasi secara normal, bayang-bayang masa lalunya selalu hadir lebih dulu melalui desas-desus dan bisikan jahat yang menutup segala akses bagi dirinya untuk mendapatkan kesempatan kedua.
Namun, di tengah pengusiran dan penghakiman yang bertubi-tubi, ia justru menemukan kekuatan batin yang luar biasa untuk tetap menjaga martabatnya sebagai manusia. Ia menyadari bahwa pengakuan dari dunia luar mungkin tidak akan pernah ia dapatkan, sehingga ia beralih untuk mencari pengakuan dari dalam dirinya sendiri dan Penciptanya. Keteguhannya teruji ketika ia tetap memilih jalan yang benar dan jujur meski jalan tersebut sangat sepi dan penuh duri, menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh konsistensinya dalam menjaga cahaya nurani di tengah kegelapan penolakan.
Pada akhirnya, kisah ini merupakan potret tentang kemandirian jiwa yang mutlak, di mana martabat tidak lagi bergantung pada validasi sosial. Ia tetap berdiri tegak, menolak untuk hancur oleh kebencian orang lain atau kembali ke jalan yang gelap hanya karena merasa putus asa. Puisi ini merayakan kemenangan personal seorang wanita yang berhasil memerdekakan dirinya dari tuntutan dunia yang tidak adil, membuktikan bahwa ia mampu menjadi manusia yang utuh dan berharga melalui kesunyian pengabdian dan ketulusan tobat yang ia jalani seorang diri.
Home
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Puisi Kupu-Kupu Malam
Puisi Modern
Di Balik Tatapan Penghakiman
Rabu, 07 Januari 2026
Di Balik Tatapan Penghakiman
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
