Rabu, 07 Januari 2026

Di Samping Jalan Yang Berbeda

Di Samping Jalan Yang Berbeda
Karya : Andi Akbar Muzfa

Dahulu kita adalah sepasang sayap yang liar,
Menerjang hujan, menertawakan dunia yang kaku.
Di bawah langit senja yang dulu terasa benderang,
Kita ikat janji bahwa waktu takkan mampu membelenggu.

Kini, deru mesin kantor menjadi lagu pengantar,
Dan tumpukan kertas adalah gunung yang harus didaki.
Suaramu yang dulu riuh, kini sayup-sayup memudar,
Tenggelam dalam labirin tugas yang tak pernah berhenti.

Rumah tangga adalah dermaga yang kini kau jaga,
Dengan perahu kecil dan rutinitas yang menjerat.
Kita yang dulu bebas berkelana ke mana saja,
Kini terpisah oleh pagar-pagar kewajiban yang berat.

Ponsel di genggaman hanya menjadi saksi yang bisu,
Tentang ruang obrolan yang kini berdebu dan sepi.
Ingin kupanggil namamu, namun aku merasa ragu,
Takut mengganggu istirahatmu di tengah lelahnya hari.

Apakah persahabatan hanya musim yang akan berlalu?
Sebuah halte sementara sebelum kita menemukan tujuan?
Aku bertanya pada sunyi, mencari makna yang biru,
Di antara pesan singkat yang hanya berisi formalitas dan kiasan.

Dulu kita berbagi mimpi tentang masa depan yang megah,
Kini kita hanya berbagi foto tentang pertumbuhan anak.
Ada yang hilang di sela tawa yang kini terasa lelah,
Sebuah kehangatan yang dulu tak pernah membiarkan retak.

Aku merindukan kita yang dulu, tanpa beban di pundak,
Yang sanggup duduk berjam-jam hanya demi satu cerita.
Kini, untuk sekadar bertemu pun, waktu terasa mendesak,
Terjepit di antara jam lembur dan urusan rumah tangga yang nyata.

Jalan kita kini telah bercabang ke arah yang berbeda,
Kau dengan duniamu, aku dengan ambisiku yang lain.
Kita tak lagi berada di satu frekuensi yang sama,
Bagai benang yang terlepas dari satu jalinan kain.

Seringkali aku menatap foto lama yang mulai menguning,
Mencari-cari wajah kita yang belum mengenal kata sibuk.
Ada sebuah keinginan agar waktu kembali bergeming,
Menghapus segala jarak yang membuat hati ini keruk.

Namun dewasa adalah tentang merelakan apa yang pergi,
Tentang memahami bahwa setiap orang punya medan laganya.
Meskipun raga tak lagi bersua di bawah pohon ini,
Setidaknya kenangan itu tetap abadi dalam cahayanya.

Biarlah kini kita menjadi penonton dari kejauhan,
Saling mendoakan di tengah riuh rendahnya kehidupan.
Persahabatan ini mungkin telah berubah menjadi kenangan,
Namun ia tetap menjadi bagian indah dari sebuah perjalanan.

Satu hari nanti, jika takdir kembali membawa kita pulang,
Kuharap tawa itu masih sama, meski garis wajah telah berubah.
Hingga saat itu tiba, biarlah rindu ini tetap bersemi terang,
Di antara jalan-jalan berbeda yang kini kita tempuh dengan tabah.


Kategori : Musikalisasi Puisi Modern
Tema : Persahabatan, Puisi Untuk Sahabat

Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang dua orang sahabat karib yang perlahan-lahan kehilangan kedekatan mereka setelah memasuki fase dewasa yang penuh dengan tuntutan. Transisi dari masa muda yang penuh kebebasan menuju dunia kerja yang kompetitif dan tanggung jawab rumah tangga yang kompleks menciptakan jarak yang tidak terelakkan di antara mereka. Waktu yang dulunya selalu tersedia untuk berbagi tawa dan keluh kesah, kini habis terserap oleh rapat-rapat kantor yang melelahkan serta pengabdian pada keluarga yang menuntut perhatian penuh sepanjang waktu.

Ada sebuah kegelisahan eksistensial yang muncul ketika salah satu dari mereka mulai mempertanyakan esensi dari persahabatan yang pernah mereka banggakan. Muncul perasaan sedih saat menyadari bahwa komunikasi yang dulunya sangat intens kini hanya tersisa dalam bentuk pesan-pesan singkat yang kaku atau sekadar melihat perkembangan hidup masing-masing melalui layar media sosial. Mereka terjebak dalam dilema antara kerinduan untuk kembali ke masa lalu yang sederhana dengan realitas bahwa setiap orang kini memiliki prioritas yang jauh berbeda dan tidak lagi bisa diselaraskan seperti dulu.

Perasaan asing mulai merayap ketika mereka menyadari bahwa mereka tidak lagi mengenal detail-detail kecil dalam hidup satu sama lain, seperti kegelisahan kerja atau masalah pribadi di rumah tangga. Ada sebuah kehilangan yang sunyi saat menyadari bahwa "frekuensi" yang dulu menyatukan mereka kini telah bergeser karena pengalaman hidup yang berbeda. Meskipun rasa sayang itu masih ada, namun kehadiran fisik dan emosional menjadi barang mewah yang sulit didapatkan di tengah jadwal yang sangat padat dan tanggung jawab yang semakin berat di pundak masing-masing.

Pada akhirnya, kisah ini adalah sebuah refleksi tentang penerimaan atas siklus hidup manusia yang dinamis namun penuh dengan perpisahan halus. Mereka belajar untuk merelakan kedekatan fisik yang dulu mereka miliki dan menggantinya dengan doa-doa tulus dari kejauhan sebagai bentuk baru dari persahabatan. Puisi ini merangkum harapan agar meskipun jalan yang ditempuh kini telah berbeda jauh, kenangan masa lalu tetap tersimpan sebagai tempat berteduh yang hangat di saat dunia dewasa terasa terlalu bising dan melelahkan bagi mereka berdua.

Tulis Komentar FB Anda Disini...