Titian Rindu Di Persimpangan Waktu
Karya : Andi Akbar Muzfa
Dahulu kita adalah rima yang saling beradu,
Berlari di antara padang mimpi yang tak bertepi.
Dunia terasa sempit di dalam tawa yang padu,
Sebelum waktu datang membawa kita pergi menjauhi sepi.
Kini langkahmu tertelan riuh gedung yang menjulang,
Terikat dasi dan janji-janji pada meja yang kaku.
Kau mengejar mentari sebelum fajar benar-benar terang,
Hingga namaku perlahan terkikis dari daftar harimu yang baru.
Aku pun kini meniti jalan yang dilingkupi sunyi,
Di antara laporan yang menumpuk dan jam dinding yang lelah.
Kesibukan menjadi dinding yang paling angkuh dan tinggi,
Memaksa kita menyerah pada rutinitas yang tak pernah kalah.
Rumah tangga kini menjadi samudera tempatmu berlayar,
Menjaga api di tungku dan tawa kecil di dalam ayunan.
Persahabatan kita laksana utang yang tak pernah terbayar,
Hanya tersimpan di laci kenangan, jauh dari genggaman tangan.
Apakah kita hanya dua orang asing yang pernah searah?
Atau sekadar halte tempat berteduh sebelum hujan reda?
Aku mempertanyakan makna di balik rindu yang membuncah,
Saat menyadari bahwa frekuensi kita kini telah jauh berbeda.
Dulu segalanya sederhana, cukup dengan sebungkus cerita,
Kini untuk menyapamu saja, aku harus menimbang ribuan rasa.
Takut mengusik lelahmu, takut mengganggu sisa waktu yang ada,
Hingga akhirnya kita hanya diam dalam doa yang tak berpuasa.
Betapa ingin aku mencuri satu hari dari masa lalu,
Di mana kita duduk bersila tanpa beban di pundak yang berat.
Membicarakan hal remeh hingga malam beranjak lalu,
Tanpa perlu memikirkan cicilan atau janji yang kian menjerat.
Kini kita berdiri di atas dua titian yang tak lagi bertemu,
Melihat punggung masing-masing menjauh di telan cakrawala.
Kau dengan nakhodamu, aku dengan segala jalan yang semu,
Tersesat di labirin dewasa yang penuh dengan rahasia dan jala.
Seringkali aku menatap bayang kita di potret yang usang,
Mencoba memanggil kembali kehangatan yang dulu begitu nyata.
Namun kenyataan selalu datang sebagai ombak yang menerjang,
Menyadarkan bahwa waktu telah merubah kita menjadi cerita.
Mungkin dewasa memang tentang kehilangan yang tak berdarah,
Merelakan jemari terlepas demi memeluk tanggung jawab dunia.
Meskipun hati seringkali merasa kalah dan kian menyerah,
Kita tetap berjalan, meski jalan yang kita tempuh tak lagi sama.
Namun biarlah kenangan itu menjadi mercusuar yang abadi,
Yang tetap menyala meski kita sudah tak lagi bicara.
Mengingatkanku bahwa pernah ada satu jiwa yang sejati,
Yang menemaniku tertawa sebelum dunia berubah menjadi lara.
Esok fajar akan kembali, membawa kita pada sibuk yang baru,
Tapi di sudut batinku, namamu akan tetap menjadi melodi.
Sampai suatu saat nanti, waktu mempertemukan rindu yang rindu,
Di bawah langit yang sama, tanpa jarak, tanpa jeda yang abadi.
Kategori : Musikalisasi Puisi Modern
Tema : Persahabatan, Puisi Untuk Sahabat
Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang pergeseran alamiah namun menyakitkan dalam hubungan persahabatan saat seseorang mulai memasuki fase kedewasaan yang sesungguhnya. Masa muda yang dulunya penuh dengan spontanitas dan waktu luang yang berlimpah, kini telah digantikan oleh struktur dunia kerja yang kaku dan tuntutan rumah tangga yang menyita seluruh perhatian. Fokus cerita terletak pada rasa kehilangan yang bersifat sunyi, di mana dua orang yang dulunya berbagi segalanya kini harus menerima kenyataan bahwa mereka telah menjadi prioritas yang kesekian di dalam daftar hidup satu sama lain.
Keresahan utama yang digambarkan adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan batin mengenai apakah persahabatan yang dulu dianggap abadi hanyalah sebuah persinggahan sementara untuk mengisi kekosongan masa muda. Ada sebuah kegetiran saat menyadari bahwa komunikasi yang dulu mengalir tanpa beban kini harus melalui banyak pertimbangan etika dan rasa sungkan karena takut mengganggu kesibukan pihak lain. Hal ini menciptakan sebuah jarak psikologis yang membuat keduanya merasa asing meskipun masih menyimpan rasa sayang yang sama di dalam dada masing-masing.
Narasi ini juga menyoroti bagaimana perbedaan jalan hidup satu dengan ambisi kariernya dan yang lain dengan tanggung jawab domestiknya telah mengubah "frekuensi" hubungan tersebut. Mereka seolah-olah sedang menonton film kehidupan masing-masing dari kejauhan tanpa lagi bisa ikut berperan di dalamnya seperti dulu. Kerinduan untuk kembali ke masa lalu bukan sekadar ingin mengulang waktu, melainkan sebuah keinginan untuk merasakan kembali keadaan di mana jati diri mereka belum terbebani oleh label-label jabatan, status sosial, maupun tanggung jawab keluarga yang berat.
Pada akhirnya, kisah ini adalah tentang penerimaan yang ikhlas atas perubahan peran manusia dalam sejarah hidupnya sendiri. Meskipun persahabatan tersebut tidak lagi bisa dijalani dengan intensitas yang sama, ada sebuah pemahaman bahwa nilai dari hubungan itu tidak hilang, melainkan bertransformasi menjadi doa-doa sunyi dan memori yang menguatkan. Puisi ini merayakan kedewasaan untuk tetap saling mendoakan dari kejauhan, menghargai setiap jalan berbeda yang ditempuh, sambil tetap menyimpan harapan kecil untuk suatu saat bisa kembali tertawa bersama tanpa dibatasi oleh jam kerja maupun urusan duniawi lainnya.
Rabu, 07 Januari 2026
Titian Rindu Di Persimpangan Waktu
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
