Senin, 12 Januari 2026

Jiwa Yang Lelah Berpura-Pura

Jiwa Yang Lelah Berpura-Pura
Karya : Andi Akbar Muzfa

Kemarilah, letakkan sejenak beban di pundakmu,
Singgah dulu sebentar di serambi yang sunyi ini.
Perjalananmu telah jauh, melintasi waktu yang kaku,
Dan kulihat kau belum menemukan tempat berteduh yang murni.

Tak perlu lagi kau ikat erat topeng ketabahan itu,
Sebab di sini, tak ada mata yang menuntut kesempurnaan.
Biarkan lelahmu bicara, biarkan penatmu menyatu,
Dalam hening yang kusiapkan sebagai ruang pengakuan.

Menangislah, karena kau pun hanya manusia biasa,
Bukan karang yang tak bisa hancur dihantam gelombang.
Tak ada yang sanggup bertahan dalam pura-pura selamanya,
Tanpa merasa jiwanya perlahan-lahan mulai hilang.

Begitu dingin dunia yang kau huni belakangan ini,
Tempat di mana setiap luka harus disembunyikan dengan rapi.
Kau dipaksa berlari, mengejar standar yang tak berpintu,
Hingga kau lupa cara mencintai dirimu yang kini sepi.

Sampaikan pada jiwamu yang sedang berbalut duka,
Bahwa kau tak perlu lagi kembali ke tempat yang menyiksa.
Jika tak ada rumah yang bisa membuatmu merasa merdeka,
Bawa lukamu ke sini, biarlah aku yang mengobatinya dengan rasa.

Tidakkah kau letih terus-menerus berlari tanpa henti?
Mengejar pengakuan dari mereka yang tak pernah mengerti.
Ada banyak hal di dalam dirimu yang mereka hakimi,
Padahal mereka tak pernah tahu betapa hebatnya kau berdiri.

Beri waktu bagi ragamu untuk bersandar sejenak saja,
Melepaskan penat yang telah lama kau simpan di balik tawa.
Selama ini kau sudah sangat hebat dalam segala karsa,
Hanya saja suaramu seringkali tenggelam dalam riuh dunia.

Mana ada jiwa yang bisa berlarut dalam kepura-purnaan,
Tanpa merasa haus akan satu pelukan yang tulus.
Di sini kau boleh rapuh, kau boleh kehilangan kekuatan,
Tanpa takut dianggap kalah atau jiwamu terlihat pupus.

Dunia luar mungkin menuntutmu untuk selalu bersinar,
Namun di sini, kau boleh menjadi redup dan beristirahat.
Sebab luka yang kau bawa adalah tanda perjuangan yang benar,
Bukan aib yang harus kau tutup dengan sangat rapat.

Aku mendengar isak yang kau telan di tengah keramaian,
Aku melihat luka yang kau balut dengan senyum palsu.
Maka kemarilah, biarkan aku menjadi tempat pelabuhan,
Bagi segala duka yang selama ini membuatmu terpaku.

Kau tidak sendirian di tengah dinginnya semesta ini,
Meskipun kau merasa tak ada satu pun telinga yang terbuka.
Ketahuilah bahwa keberanianmu untuk tetap bertahan di sini,
Adalah bukti bahwa jiwamu jauh lebih kuat dari segala luka.

Istirahatlah sebentar, biarkan duniamu berhenti berputar,
Hingga kau menemukan kembali cahaya di dalam dirimu.
Sebab kau hebat, meski suaramu tak pernah terdengar,
Dan aku di sini, selalu sedia untuk memeluk laramu.


Kategori : Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Tema : Tekanan Hidup, Puisi Tuntutan Hidup, Perjuangan Hidup

Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang sebuah pertemuan emosional yang mendalam antara seorang pendengar yang penuh empati dengan seorang pengembara hidup yang telah mencapai titik nadir kelelahannya. Tokoh utama dalam puisi ini menawarkan diri sebagai oase bagi jiwa-jiwa yang selama ini dipaksa oleh lingkungan sosial untuk selalu tampil sempurna tanpa cela. Ia menyadari bahwa di balik kemegahan hidup seseorang, sering kali tersimpan luka yang menganga karena mereka tidak pernah diberi ruang untuk merasa rapuh atau sekadar menjadi manusia yang boleh bersedih.

Narasi ini menyentuh realitas sosial yang dingin, di mana keberhasilan sering kali diukur dari ketahanan seseorang dalam menyembunyikan penderitaan. Sang pemberi tempat bernaung memahami bahwa "berlari" tanpa tujuan yang jelas demi memenuhi ekspektasi orang lain hanya akan berakhir pada kekosongan jiwa. Oleh karena itu, ia menawarkan sebuah "rumah" alternatif bukan dalam bentuk bangunan fisik, melainkan dalam bentuk kehadiran dan kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi, memvalidasi bahwa setiap air mata yang jatuh adalah hak asasi setiap manusia.

Kisah ini juga merupakan sebuah penghormatan bagi mereka yang selama ini berjuang dalam sunyi, mereka yang tetap berdiri tegak meski hatinya hancur berkeping-keping. Tokoh utama ingin menegaskan bahwa kehebatan seseorang tidak hanya dilihat dari kemenangannya, tetapi juga dari keberaniannya untuk mengakui rasa lelah dan kebutuhan untuk bersandar. Ada sebuah upaya untuk menyembuhkan luka melalui pengakuan atas eksistensi diri yang selama ini diabaikan oleh dunia, memberikan kekuatan baru melalui penerimaan yang tanpa syarat.

Pada akhirnya, puisi ini adalah tentang proses rekonsiliasi antara seseorang dengan kerapuhannya sendiri. Ia mengajak pembaca untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk tuntutan dunia dan memberikan izin kepada diri sendiri untuk menjadi "tidak sempurna". Melalui dekapan kata-kata yang hangat, puisi ini bertujuan untuk menghidupkan kembali harapan bagi mereka yang merasa tidak didengar, meyakinkan mereka bahwa di tengah dinginnya dunia, masih ada sudut yang hangat bagi jiwa yang ingin pulang dan diobati lukanya.


Tulis Komentar FB Anda Disini...