Selasa, 13 Januari 2026

LAPUZA Episode 7 - Sri Rahayu Latihan Penyeimbangan Sihir

Judul Novel : Lapuza
  • Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari tahun 2030, terjebak di Dunia Penyihir
  • Session : 1 (Negeri Penyihir)
  • Episode : 7
  • Tanggal Rilis : 11 Januari 2026
  • Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
  • Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
  • Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
  • Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Berlatar tahun 2030, Lapuza kehilangan segalanya ketika kecerdasan buatan sepenuhnya menggantikan peran nalar manusia, meruntuhkan karier, mimpi, dan identitasnya di dunia modern yang dingin dan tak lagi membutuhkan manusia. Pada titik terendah hidupnya, sebuah peristiwa misterius menyeretnya ke Negeri Penyihir, dunia lain yang bertumpu pada sihir kuno, artefak legendaris, serta konflik besar antara cahaya dan kegelapan. Terjebak di dunia asing yang penuh bahaya, Lapuza bertahan bukan hanya melalui kekuatan sihir, melainkan perpaduan akal sehat, strategi, dan nilai manusia abad ke-21. Dalam perjalanannya, ia ditemani Putri Lalena yang ceria dan tulus di balik kecerobohannya, serta Miya Orina, panglima penyihir berhati dingin yang menyimpan kepedulian mendalam. Bersama mereka, Lapuza terseret dalam pusaran takdir, intrik, pengkhianatan, kesetiaan, dan pilihan krusial yang menentukan nasib Negeri Penyihir di ambang kehancuran.


Nur Diana - Panyihir Utama Kegelapan
Nur Diana adalah penyihir utama Kavor, sosok berpengaruh yang pernah menjadi mentor Lalena sebelum jalan mereka terpisah oleh keyakinan dan luka batin. Ia dikenal dingin dan teguh, memeluk idealisme kelam yang lahir dari pengorbanan panjang, namun jauh di dalam dirinya masih tersisa rasa sayang yang tak pernah benar-benar padam. Berambut pendek gelap dan selalu mengenakan topi penyihir runcing, kehadirannya diselimuti aura sihir hitam yang berat, mencerminkan luka lama di jiwanya. Dalam pertempuran, Nur Diana menguasai sihir api hitam tingkat tinggi, mahir bertarung di udara, dan mengenakan jubah khusus yang dapat berubah menjadi sayap sihir, menjadikannya lawan yang mengerikan dan sulit dikalahkan.


EPISODE 7
Dua Jalan, Satu Akar

P1. Sri Rahayu - Penjaga Keseimbangan yang Memilih Menyepi

Jauh sebelum Istana Arcilune dikenal sebagai simbol sihir putih, sebelum perang saudara memecah Negeri Penyihir menjadi puing sejarah, hidup seorang perempuan yang memahami satu kebenaran paling dasar tentang sihir:
bahwa kekuatan tanpa keseimbangan hanya akan melahirkan kehancuran.

Sri Rahayu berasal dari wilayah pegunungan timur (Gunung Nona), sebuah daerah terpencil yang jarang disentuh pemerintahan kerajaan. Sejak kecil, ia dikenal bukan karena kekuatannya, melainkan karena kepekaannya. Ia mampu merasakan aliran mana seperti orang lain merasakan angin tanpa perlu melihat, tanpa perlu mantra. Bakat itu membuatnya dipanggil ke istana pada usia yang sangat muda, melewati ujian yang bahkan penyihir dewasa kerap gagal.

Ia tidak pernah menjadi penyihir tempur terkuat.
Tidak pernah pula menjadi penyihir paling brilian dalam duel.

Namun Sri Rahayu memiliki sesuatu yang langka:
kemampuan menjaga keseimbangan antara sihir putih dan hitam tanpa tenggelam pada salah satunya.

Karena itulah ia diangkat menjadi anggota Dewan Penyihir Istana, lalu menjadi Kepala Dewan penjaga tatanan, pengawas ilmu terlarang, dan pengasuh bagi dua anak kerajaan: Rheana dan Lakavor.

Sri Rahayu menyaksikan sejak awal bahwa Lakavor memiliki potensi yang tak wajar. Bukan hanya besar, tetapi memanupulasi energi sihir. Ia tahu, jauh sebelum siapa pun menyadarinya, bahwa kekuatan seperti itu akan selalu menuntut harga. Namun kerajaan memilih percaya bahwa pendidikan dan kasih sayang mampu membendung ambisi.

Itu adalah kesalahan pertama.

Ketika Lakavor memberontak, membunuh ayahnya sendiri, dan menyeret Negeri Penyihir ke dalam perang panjang, Sri Rahayu menyaksikan semuanya runtuh bukan hanya kerajaan, tetapi nilai yang selama ini ia jaga. Ia kehilangan murid, kehilangan raja, kehilangan makna dari perannya sendiri.

Dan ketika Dewan Penyihir mulai digunakan sebagai alat politik dan pembenaran perang, Sri Rahayu memilih jalan yang dianggap pengecut oleh banyak orang:

Ia mengasingkan diri.

Bukan karena takut.
Melainkan karena ia menolak menjadi bagian dari siklus kehancuran yang terus dipelihara atas nama kemenangan.

Gunung Nona menjadi tempatnya berdiam, bukan untuk melarikan diri dari dunia, tetapi untuk menjaga keseimbangan terakhir yang masih tersisa.

P2. Nur Diana - Murid Terlarang yang Mencari Arti Hidup
Berbeda dengan Sri Rahayu, Nur Diana lahir dari dunia yang tidak pernah memberinya pilihan.

Ia berasal dari desa terpencil di pinggiran Negeri Penyihir, wilayah miskin yang bahkan sihir dianggap kutukan. Sejak kecil, ia menunjukkan bakat luar biasa, namun bukannya dipuji, ia justru dijauhi. Anak-anak takut padanya. Orang dewasa mencurigainya. Ia tumbuh sebagai anak yang selalu dianggap berbahaya, aneh, dan tidak diinginkan.

Ketika sihirnya meledak tanpa kendali dan menghancurkan sebagian desa, Nur Diana diusir. Tidak diadili. Tidak dibimbing melainkan dibuang.

Istana menemukannya hampir mati.

Dan Sri Rahayu-lah yang pertama kali mengulurkan tangan.

Di bawah bimbingan Sri Rahayu, Nur Diana berkembang pesat, terlalu pesat. Ia memahami sihir bukan sebagai alat moral, melainkan sebagai hukum alam. Baginya, sihir tidak pernah baik atau jahat. Yang ada hanyalah efisiensi dan hasil.

Perbedaan pandangan itulah yang menjadi jurang di antara guru dan murid.

Sri Rahayu mengajarkan batas.
Nur Diana mempertanyakan alasan batas itu ada.

Ketika Kavor bangkit dan menawarkan dunia baru, dunia di mana kekuatan tidak lagi dibatasi oleh kemurnian, di mana sihir hitam bukan dosa melainkan solusi, Nur Diana melihat sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya:

pengakuan.

Bagi Kavor, Nur Diana bukan anak buangan.
Ia adalah aset.
Pion? Mungkin.
Namun pion yang diberi tempat di papan permainan.

Saat Sri Rahayu memilih mengasingkan diri, Nur Diana memilih kebalikannya:
terjun sepenuhnya ke dalam perang.

Bukan karena kebencian pada gurunya.
Melainkan karena ia percaya bahwa gurunya terlalu takut untuk mengubah dunia.

P3. Guru dan Murid - Luka yang Tak Pernah Sembuh
Pertemuan kembali mereka di Gunung Nona bukanlah kebetulan, melainkan takdir yang tertunda.

Sri Rahayu melihat dalam diri Nur Diana bayangan kegagalannya sendiri, seorang murid yang tidak pernah benar-benar ia selamatkan.
Nur Diana melihat dalam diri Sri Rahayu simbol dari dunia lama yang menolaknya sejak awal.

Namun di balik sihir hitam dan sihir tua yang saling berhadapan, masih ada ikatan yang tidak pernah benar-benar putus:
ikatan antara seseorang yang ingin melindungi dunia dengan cara menahan diri,
dan seseorang yang ingin mengubah dunia dengan cara menghancurkannya terlebih dahulu.

Dua jalan.
Satu akar.

Dan di tengah keduanya, kini berdiri sosok baru,
Lapuza,
manusia dari dunia lain,
yang tanpa sadar menjadi titik temu bagi masa lalu dan masa depan Negeri Penyihir.

Gunung Nona - Benturan Takdir

Kabut Gunung Nona terbelah oleh aura sihir yang menekan dada.

Nur Diana berdiri tenang, jubah hitamnya beriak seolah hidup, garis tubuhnya tegas, terlalu kontras dengan hawa dingin pegunungan. Sihir gelap berdenyut lembut di sekelilingnya, seolah dunia sendiri memberi ruang.

Lapuza menelan ludah.
Bukan hanya karena auranya.

“…Oke,” gumamnya pelan ke Lalena,
“aku tahu ini situasi genting, tapi… lekukan tubuhnya terlalu sempurna untuk menjadi penjahat.?”

Lalena langsung menyikut lengannya.
“Fokus, dasar otak lendir!”
“…dan berhenti menatap tempat yang bukan lingkaran sihir.”


“Aku menilai ancaman,” bela Lapuza cepat.
“Ancaman moral terhadap konsentrasiku.”

Nur Diana meliriknya sekilas, alisnya naik tipis.
“Menarik,” katanya dingin.
“Bahkan saat menghadapi kematian, kau masih memilih menjadi bodoh.”

“Bodoh sadar diri,” jawab Lapuza refleks.
“Biasanya itu tanda protagonis bertahan hidup.”

Tanpa peringatan, sihir gelap meledak.

Tanah retak. Udara menjerit.

Lalena langsung berdiri di depan Lapuza, lingkaran teleportasi muncul setengah, tidak sempurna, tapi cukup untuk menggeser serangan mematikan itu beberapa langkah dari jantungnya.

“Hei!” teriak Lalena.
“Anda baca Script dari produser gak sih?... Targetmu aku!”

Nur Diana melangkah maju, sihirnya semakin pekat.
“Aku tidak datang untuk bermain, Putri.”

Lapuza membentuk lingkaran, tak stabil.
“Kalau begitu kita sepakat, aku juga harus mengabaikan gunung kembarmu yang empuk itu sesuai skenario!”

Nur Diana geram, melihat tingkah konyol Lapuza.
“Dasar manusia aneh, bukannya bersiap bertarung, malah sibuk dengan hal lain.” ujar Diana sembari merapikan rok tipisnya yang terbuka perlahan tertiup angin.

Nur Diana mengangkat tongkat sebahu, bersiap memusatkan mana.

Lingkarannya bergetar, nyaris runtuh.

Dan saat itu,

Tongkat kayu tua menghantam tanah.

Sihir kuno menyebar seperti gelombang tenang yang memadamkan amarah badai.

Sri Rahayu berdiri di antara mereka.

“Cukup, Diana.”

Nur Diana membeku.
Untuk sepersekian detik, auranya goyah.

“…Guru,” ucapnya pelan.

“Aku tidak mengajarimu menyerang anak yang bahkan belum memahami dirinya sendiri,” lanjut Sri Rahayu tenang.
“Jika kau ingin membunuh harapan dunia ini, kau harus melewatiku.”

Pertempuran tak terelakkan.

Sihir hitam dan sihir tua bertabrakan, bukan ledakan liar, melainkan benturan kehendak. Gunung Nona bergetar, salju runtuh dari puncak, langit seakan menahan napas.

Lapuza dan Lalena hanya bisa bertahan.

“Ini level tutorial atau bos terakhir?” bisik Lapuza.

Lalena masih fokus menyembuhkan luka kecil di lengannya.
“Diam. Ini kelas senior.”

Serangan Nur Diana cepat, presisi, mematikan.
Namun setiap jurusnya, dipatahkan, dibelokkan, atau dinetralkan.

Sri Rahayu tidak menyerang untuk menang.
Ia menyerang untuk menghentikan.

Akhirnya, Nur Diana mundur satu langkah.
Lalu dua.

Napasnya berat.

Ia menatap gurunya, bukan dengan benci, tapi dengan kelelahan yang dalam.

“…Aku tidak bisa melewatimu,” ucapnya menyeimbangkan nafas.
“Bukan hari ini.”

Sri Rahayu menurunkan tongkatnya.
“Dan kau tidak benar-benar ingin menghancurkan dunia ini.”

Nur Diana tersenyum tipis pahit.
“Mungkin.”
“Namun Kavor akan melakukannya.”


Ia menoleh ke Lapuza.
“Manusia anomali… jaga matamu.”
“Di dunia ini, yang indah sering kali paling mematikan.”


Lapuza refleks mengangguk.
“Pesan diterima… dengan sangat jelas.”
“Terimaksih atas tontonan geratisnya..”
"Ada yang keras dan tegang tapi bukan kayu."
balas Lapuza cepat dengan senyum polos berharap ada part selanjutnya.

Diana tersenyum berusaha memahami.

Kabut menelan Nur Diana.
Ia mundur, bukan karena kalah kekuatan,
melainkan karena hatinya belum sepenuhnya memilih kehancuran.

Sunyi kembali turun.

Sri Rahayu menghela napas panjang, seolah melepaskan beban ratusan tahun.

Ia menatap Lapuza.

“Jika aku membimbingmu,” katanya tegas,
“kau harus mengabdikan dirimu sepenuhnya untuk menghentikan Kavor.”
“Tanpa ragu. Tanpa mundur.”


Lapuza terdiam.

Lalu tersenyum kecil.
“Seumur hidup aku dipakai setengah-setengah.”
“Kalau kali ini harus total… ya sekalian.”


Sri Rahayu mengangguk.
“Baik.”

Lalena langsung bersorak kecil.
“YES! Latihan bertiga!”

Lapuza menoleh.
“…Kenapa itu terdengar lebih berbahaya?”

Lalena tersenyum centil.
“Karena aku penyembuh.”
“Dan kamu… sering butuh.”
ucap Lalena sembari menggoyangkan sepasang gunung kembarnya menggoda.

“…Aku merasa ini ancaman terselubung.”

Gunung Nona kembali tenang.

Dan untuk pertama kalinya,
latihan Lapuza benar-benar dimulai.

P4. Setelah Bayangan Pergi - Sisa yang Tertinggal
Kabut Gunung Nona perlahan menutup kembali medan pertempuran.
Jejak sihir hitam Nur Diana menghilang dari pandangan, namun bekasnya tidak sepenuhnya lenyap. Udara terasa berat, seperti baru saja dilewati badai yang meninggalkan tekanan tak kasatmata. Pepohonan masih bergetar pelan, dan batu-batu di puncak gunung memancarkan denyut mana yang tidak stabil.

Nur Diana telah mundur.

Bukan karena kalah telak,
melainkan karena tujuannya telah tercapai.
mengetahui kemampuan lawan dan menyusun strategi berikutnya.

Sri Rahayu berdiri lama menghadap kabut, tongkatnya tertancap ke tanah. Tatapannya tidak mengikuti muridnya yang pergi, melainkan merasakan sesuatu yang lain.

“Dia sudah menandaimu,” ucapnya akhirnya.

Lapuza yang sejak tadi mencoba menenangkan napasnya, mengerjap.
“Menandai… seperti checklist target?”

“Seperti simpul,” jawab Sri Rahayu.
“Sihir hitam tidak selalu merusak dari luar. Ia menempel, menunggu.”

Lalena mendekat, raut wajahnya berubah serius.
“Itu sebabnya dia mundur begitu cepat?”

Sri Rahayu mengangguk pelan.
“Niatnya bukan membunuh hari ini.”
“Hari ini ia ingin memastikan… manusia ini benar-benar anomali.”


Pandangan mereka kembali tertuju pada Lapuza.

Baru saat itu terlihat jelas,
lingkaran sihir samar masih muncul dan menghilang di sekitar tubuhnya, tidak stabil, seperti napas yang tersengal. Kadang panas, kadang dingin. Kadang terasa seperti angin, lalu menghilang begitu saja.

Lapuza sendiri menatap tangannya.
“…Ini bukan efek samping yang normal, kan?”

“Tidak,” jawab Sri Rahayu jujur.
“Dan ini juga bukan sepenuhnya salahmu.”

Ia melangkah lebih dekat, mengitari Lapuza perlahan, merasakan aliran mana dengan pengalaman ratusan tahun.

“Kau membentuk lingkaran tanpa mantra,” lanjutnya.
“Itu hanya mungkin jika jiwa dan tubuh tidak lagi sepenuhnya mengikuti hukum dunia ini.”

Lalena menghela napas pelan.
“Karena dia datang dari dunia tanpa sihir.”

“Dan karena ia dipaksa menggunakan sihir dalam kondisi ekstrem,” tambah Sri Rahayu.
“Tanpa persiapan. Tanpa penyelarasan.”

Lapuza tertawa kecil, getir.
“Jadi… seperti pakai mesin 2030 di colokan ke abad pertengahan.”

“…Perumpamaan yang cukup akurat,” akui Sri Rahayu.

Ia berhenti tepat di depan Lapuza.

“Masalahnya,” katanya serius,
“jika ini dibiarkan, tubuhmu akan terus memproduksi sihir tanpa jalur keluar yang benar.”
“Hasilnya hanya dua.”


Lapuza menelan ludah.
“Meledak… atau mati pelan-pelan?”

“Benar.” 
tegas Rahayu.

Sepertinya efeknya jauh lebih mengerikan dibanding mengkonsumsi Paracetamol secara berlebihan.” balas Lapuza membayangkan gagal ginjal stadium akhir.

Hening jatuh.
Kedua penyihir itu berfikir keras, berusaha memahami kata "stadium akhir"
Lalena justru menganggap itu sebagai mantra dari dunia 2030 Lapuza

Angin gunung berembus lebih dingin dari sebelumnya.

Lalena mengepalkan tangan.
“Kalau begitu, hentikan. Ajari dia sekarang.”

Sri Rahayu menggeleng.
“Aku tidak bisa mengajar sesuatu yang fondasinya belum bersih.”

Ia menoleh ke arah lembah, ke suara air yang mengalir konstan dari balik bebatuan.

“Ada satu cara untuk menormalkan kembali aliran jiwanya,” katanya.
“Cara lama. Cara yang tidak bisa disingkat dengan teknik.”

Lapuza mengikuti arah pandangnya.
“…Air?”

“Permandian pemurnian Gunung Nona,” jawab Sri Rahayu.
“Air yang mengalir langsung dari simpul alam, sebelum tersentuh sihir putih maupun hitam.”

Lalena terdiam sejenak.
“Itu… ritual yang dipakai untuk...”

“...mengembalikan penyihir yang hampir kehilangan nyawa dan ketidak seimbangan sihir,”
potong Sri Rahayu pelan.
“Dan untuk seseorang sepertinya, itu bukan pilihan.”

Ia menatap Lapuza lurus, tanpa nada mengancam, tanpa basa-basi.

“Itu kewajiban.”


Lapuza menghela napas panjang.
2030 terlintas di kepalanya, ruang interview, layar penolakan, sistem yang tidak pernah memberinya pilihan.

“…Baik,” katanya akhirnya.
“Kalau memang harus.”
“Anggap saja ini karma, karena didunia asalku aku sangat malas mandi.”

Ia tersenyum kecil, setengah pasrah.
“Dan setidaknya kali ini, aku tahu kenapa.”

Sri Rahayu mengangguk.
“Kalau kau ingin bertahan di dunia ini,” katanya,
“kau harus lebih dulu menyelaraskan tubuhmu dengan hukum didunia ini.”

Dan tanpa disadari Lapuza,
langkahnya baru saja memasuki gerbang pertama dari perubahan yang tidak bisa ditarik kembali.

P5. Air Suci Hangat dan Karma Instan
Meski puncak Gunung Nona diselimuti bongkahan es padat, dibagian yang telah dinetralisir oleh alam, terdapat air pegunungan yang mengalir jernih, hangat, dan mengepul lembut, seperti napas bumi yang perlahan dilepaskan. Cahaya bulan memantul di permukaannya, menciptakan kilau perak yang tenang bukan menusuk, melainkan menenangkan.

Kolam batu alami itu terbentuk dari mata air panas pusat pegunungan, tempat aliran mana bumi muncul ke permukaan sebelum bercampur dengan sihir apa pun.

Sri Rahayu berdiri di tepi kolam, tongkatnya menyentuh batu basah. Wajahnya tenang, suaranya datar, dan jelas tidak memberi ruang tawar-menawar.

“Pemurnian diperlukan,” katanya.
“Tubuh, pikiran, dan aliran manamu masih saling bertabrakan.”

Lapuza menelan ludah.
“Pemurnian… itu maksudnya mandi?”

“Berendam,” koreksi Sri Rahayu.
“Dan tanpa penghalang duniawi.”

Lapuza membeku.
“…Oh.”

Tak lama kemudian, bilik-bilik kayu sederhana dipasang menghadap kolam, disusun setengah melingkar. Uap hangat naik perlahan, membentuk kabut tipis yang menutup pandangan, cukup untuk privasi, setidaknya di atas kertas.

Lalena muncul membawa handuk dan sabun herbal, senyumnya terlalu cerah untuk situasi sakral.
“Tenang saja,” katanya santai.
“Airnya hangat dan suci. Kalau kamu pingsan, aku sembuhkan.”

“Itu tetap bukan penghiburan,” gumam Lapuza.

Mereka masuk ke bilik masing-masing.

Saat Lapuza menurunkan diri ke air,

“…Oh.”
“…Oh, ini enak.”


Air hangat menyelimuti tubuhnya, seperti otot-otot yang akhirnya menyerah setelah bertahun-tahun tegang.

“Ini bukan pemurnian,” katanya pelan.
“Ini spa pegunungan kelas dewa.”

Dari balik bilik, terdengar suara Lalena terkikik.
“Makanya jangan kebanyakan stres… dan pikiran kotor.”

Sri Rahayu sudah lebih dulu berendam di sisi kolam lain, punggungnya tegak, mata terpejam. Aliran mana di sekitarnya stabil, seolah air itu mengenal dirinya sejak lama.

Dan di sinilah,
otak Lapuza mulai berkhianat.

“Kabutnya tebal,” bisiknya pada diri sendiri.
“Kalau cuma lihat siluet… itu penelitian visual. Demi pelatihan.”

Ia menggeser papan bilik, sedikit.

Uap bergulung… cahaya bulan menembus…

PLAK!

Sesuatu menghantam dahinya.

Sebuah batu kecil.

“Jangan,” kata Sri Rahayu datar, bahkan tanpa membuka mata.

Lapuza meringis.
“…Ternyata orang tua dinegeri penyihir masih memegang teguh kesusilaan.”

Ia mundur.
Berendam lagi.
Diam.

Lima detik.

Sepuluh detik.

“…Oke, dari sudut lain.”

Ia menggeser papan dari sisi berbeda.

Kali ini yang menyambutnya,

“HEI!”

AIR HANGAT disiram langsung ke wajahnya.

Lalena berdiri di balik uap, handuk melilit tubuhnya seadanya, wajahnya merah padam, dua gunung kembarnya yang terlihat cukup jelas menggumpal padat membuat Lapuza terpaku tanpa penolakan.
“...Apakah dengan seperti ini luka lamamu sedikit terobati!” bisik Lalena dibalik kabut tipis.

“Lumayan!” balas Lapuza, tersadar berusaha menetralkan lonjakan dopamin diotaknya.

“Jadi... Kamu sudah puas!” tanya Lalena dengan mata menyala

“Tadi... Aku... aku terpeleset!” bela Lapuza panik.
“Ini kecelakaan geotermal!”

“Geotermal kepalamu!”

PLASH!

Air suci berubah medan perang mini.
Percikan ke mana-mana.
Uap makin tebal.

Sri Rahayu membuka mata.

Menghela napas panjang.
“…Anak ini.”

Ia mengetukkan tongkat ke batu.

DUK.

Aliran air hangat mendadak berputar, membentuk pusaran kecil yang mendorong lembut namun tegas, membuat Lapuza tergelincir dan, entah bagaimana, terduduk sempurna di tengah kolam utama.

Air hangat.
Dalam.
Tidak bisa kabur.

Lapuza terdiam.
“…Aku merasa dimurnikan dengan metode disiplin.”

Lalena menahan tawa.
Gagal total.
“Katanya mau observasi?”

Sri Rahayu akhirnya menoleh, tatapannya tajam, namun jelas ada sisa geli yang tak sepenuhnya tersembunyi.

“Pemurnian bukan tentang melihat,” katanya.
“Melainkan menerima batas.”

Lapuza mengangguk lemah, bersandar di batu.
“Pesan diterima.”
“Hangat… tapi menyakitkan secara moral.”


Kabut kembali menutup kolam.
Uap naik perlahan.
Air mengalir tenang.

Dan di bawah bulan Gunung Nona,

pemurnian pun benar-benar dimulai.

Baca Kelanjutan Episode 8 disini... 

Tulis Komentar FB Anda Disini...