Jumat, 09 Januari 2026

LAPUZA Episode 6 - Putri Lalena Perjalanan Menuju Gunung Nona

Judul Novel : Lapuza
  • Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari tahun 2030, terjebak di Dunia Penyihir
  • Session : 1 (Negeri Penyihir)
  • Episode : 6
  • Tanggal Rilis : 8 Januari 2026
  • Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
  • Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
  • Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
  • Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Berlatar tahun 2030, kehidupan Lapuza runtuh dalam sekejap ketika dominasi kecerdasan buatan menyingkirkan nilai kecerdasan manusia, merampas karier, mimpi, dan identitasnya di tengah dunia modern yang tak lagi membutuhkan nalar manusia. Saat ia terjerumus ke titik terendah hidupnya, sebuah peristiwa misterius menyeretnya ke Negeri Penyihir, sebuah dunia lain yang dibangun di atas sihir kuno, artefak legendaris, dan konflik besar antara kekuatan terang dan kegelapan yang kian tak terkendali. Terjebak di dunia yang asing dan berbahaya, Lapuza dipaksa bertahan hidup bukan hanya dengan sihir, melainkan dengan akal sehat, strategi, dan keteguhan nilai manusia abad ke-21, sembari mencari kembali makna keberadaannya. Dalam perjalanannya, ia ditemani Putri Lalena yang ceria, polos, dan tulus di balik kecerobohannya, serta Miya Orina, panglima penyihir berjiwa dingin yang menyembunyikan kepedulian mendalam. Bersama mereka, Lapuza terseret dalam pusaran takdir yang penuh intrik, pengkhianatan, kesetiaan, konflik batin, dan pilihan krusial yang akan menentukan nasib Negeri Penyihir yang sedang di ambang kehancuran.


Penyihir Legendaris - Sri Rahayu
Sri Rahayu adalah penyihir tua Legendaris dari Gunung Nona. Ia dikenal sebagai mantan Pemimpin Dewan Penyihir yang pernah memegang kekuasaan dan tanggung jawab besar atas keseimbangan dunia sihir. Namun setelah perang besar terjadi, Sri Rahayu memilih meninggalkan istana dan hidup menyendiri di Gunung Nona dan tidak ingin lagi terlibat dengan urusan kejaraan. Dalam kesehariannya, ia tampil sebagai sosok yang tenang dan bijak, meski di balik ketenangan itu tersimpan penyesalan mendalam atas kesalahan dan pengorbanan masa lalu yang tak pernah sepenuhnya bisa ia lupakan. Rambut biru gelapnya menjuntai sebagai penanda identitas dan usia yang telah ditempa oleh waktu. Tongkat sihir kuno yang selalu ia genggam menjadi saksi perjalanan panjangnya, sementara jubah penyihir yang ia kenakan mencerminkan martabat sekaligus beban yang ia pikul. Sorot matanya dikenal mampu melihat lebih dalam, bukan hanya pada wujud luar, tetapi menembus niat, kebenaran tersembunyi, dan luka batin yang bersemayam dalam setiap jiwa yang berdiri di hadapannya.


EPISODE 6
Jejak Darah Biru dan Bayangan Murid Terlarang

P1. Kembali ke Istana - Tiga Saksi, Satu Kebenaran

Istana Arcilune kembali ramai, tetapi bukan oleh perayaan.
Langkah kaki para penyihir bergema di aula, membawa laporan, luka, dan kegelisahan yang sama.

Di tengah aula, Miya Orina duduk di kursi sihir dengan balutan cahaya pemulihan.
Di sisi kanannya berdiri Putri Lalena.
Di sisi kirinya sedikit ke belakang ada Lapuza, dengan postur sopan yang jelas dipaksakan.

Tiga orang.
Tiga sudut pandang.
Satu kejadian yang tidak bisa disangkal.

Miya melapor dengan suara tegas, meski napasnya belum sepenuhnya stabil.
Tentang hutan Barombong.
Tentang serigala bermata merah.
Tentang kematian beberapa warga desa.

Namun saat ia menyebut raja serigala dan pola sihir yang terlalu rapi, Lalena maju setengah langkah.

“Itu bukan sihir liar,” katanya cepat, nadanya lebih tajam dari biasanya.
“Formasinya… sengaja diarahkan.”
“Seperti uji coba.”


Beberapa penyihir senior saling berpandangan.

Lapuza mengangkat tangan setengah, refleks lama dari dunia 2030.
“Kalau boleh menambahkan...”
“…itu terasa seperti eksperimen lapangan.”
“Versi hidup-mati.” 
Ujar Lapuza dengan wajah linglung, seakan pernah mengalami kejadian serupa dimasa lalunya yang tak kalah mengerikan, namun ia hanya teringat dengan kata "Dosen Pembimbing" ucapnya cepat tanpa ragu.

Hening jatuh.
Semua terdiam,
seakan-akan berusaha keras memahami makna dari "Dosen Pembimbing" yang belumpernah mereka dengar sebelumnya.

Ratu Rheana berdiri tanpa suara. Jemarinya mencengkeram tongkat kerajaan.

“Apa yang terjadi di desa itu,” ucapnya akhirnya,
“bukan kebetulan.”
“Dan bukan serangan acak.”


Lalena menelan ludah, lalu berkata pelan namun jelas,
“Ini kemungkinan ulah Paman Kavor.”

Nama itu,
membuat udara terasa lebih dingin.

Ratu memejamkan mata sejenak. Bukan ragu.
Melainkan menahan masa lalu agar tidak tumpah di hadapan semua orang.

“Bentuk tim investigasi,” perintahnya.
“Aku ingin tahu sejauh apa bayangan itu sudah merambat.”

Tongkat kerajaan menghentak lantai.

Perintah dijalankan tanpa bantahan.

Miya mencoba bangkit.

“Aku ikut,” katanya datar.

“Kau hampir mati,” jawab Ratu singkat.

“…Detail kecil,” gumam Miya.

Lalena langsung menoleh tajam.
“Tidak.”
“Kamu istirahat.”
“Nggak ada debat.”


Miya membeku.
“…Sejak kapan kau jadi galak?”

“Sejak kamu hampir mati di hadapanku.”


Sunyi sebentar.

Lapuza bertepuk tangan pelan.
“Wow.”
“Panglima dimarahi putri.”
“Ini konten langka.”


Miya melotot.
“Diam.”

Keputusan berikutnya jatuh pada Lapuza.

Ia tidak ditahan.
Tidak dipenjara.
Tidak pula dilepas bebas.

Ia diminta tinggal di istana.

Beberapa hari.
Tanpa misi.
Tanpa medan perang.

Hanya latihan ringan setiap pagi,
dan pengawasan yang terlalu rapi untuk diabaikan.

Saat mereka meninggalkan aula, Lalena berjalan di samping Lapuza.

“Maaf,” katanya tiba-tiba.
“Kamu jadi ikut terseret.”

Lapuza mengangkat bahu.
“Di duniaku, aku selalu terseret.”
“Bedanya...”
“di sini yang nyeret cantik dan bohay.”


Lalena tersedak langkah, dan tanpa sadar satu hantaman tangan kiri mendarat mulus dipipi Lapuza.

“J-jangan ngomong begitu di istana!” bentaknya sambil mengamankan gunung kembarnya yang menggumpal padat seakan ingin ikut mendapat pujian beruntun.

“Tapi kamu senang.”

“…Tidak.”


Namun pipinya memerah menahan hasrat naluri seorang wanita normal.

Dan saat mereka berpisah di persimpangan koridor, Lalena menoleh sekali lagi.

“Besok,” katanya, mencoba terdengar tegas,
“aku yang akan melatihmu.”

Lapuza tersenyum kecil.

“Baik, Yang Mulia.” Jawabnya sambil menundukan kepala dengan tatapan fokus ke lekukan tubuh Lalena yang sulit diabaikan.

P2. Latihan Istana - Lingkaran Tanpa Mantra
Hari berlalu begitu cepat.
Fakta baru itu menyebar cepat di Istana Arcilune.

Lapuza mampu membentuk lingkaran sihir tanpa mantra,
tanpa pengucapan, tanpa simbol pendahuluan,
namun hanya ketika tubuh dan pikirannya berada di ambang keputus asaan.

Dan hasilnya… berantakan.

Kadang api menyembur terlalu besar.
Kadang angin berputar liar seperti badai kecil.
Kadang dan ini yang paling sering, ledakan kecil yang membuat para penyihir melompat refleks.

“Aku bersumpah,” gumam Lapuza saat satu lingkaran mengeluarkan asap hitam pekat,
“di duniaku ini namanya bug sistem.”

Seorang penyihir senior berambut putih menatapnya lama.
“Itu bukan sihir normal.”

Lapuza mengangguk cepat.
“Ya."
"Di dunia asalku"
“Aku juga bukan orang normal.”


Beberapa penyihir muda menahan senyum.
Penyihir senior hanya menggelengkan kepala tanpa ekspresi.

Latihan tidak lagi berfokus pada memperkuat Lapuza,
melainkan menahannya agar tidak meledak.

“Arahkan napas.”
“Jangan berpikir terlalu jauh.”
“Jangan analisis struktur mananya!”


“Itu kebiasaan,” protes Lapuza.
“Kalau aku berhenti mikir, justru makin kacau.”

Lingkaran berikutnya muncul,
stabil selama dua detik.

Lalu meletup kecil.

Putri Lalena yang mengawasi dari sisi lapangan menghela napas panjang.

“…Kamu ini seperti kembang api rusak.”

“Tapi indah?”
tanya Lapuza cepat.

“Tidak.”
“Liar dan bikin panik.”


Namun Lalena tetap maju mendekat.
Ia mengulurkan tangan, cahaya lembut menyelimuti luka kecil di lengan Lapuza,
sembuh seketika.

“Teleportasi dan penyembuhan itu bawaan darah,” katanya pelan.
“Bukan hasil latihan.”

Lapuza menatap tangannya yang kembali utuh.
“Darah biru itu curang.”

Lalena tersenyum kecil.
“Makanya kamu jangan macam-macam.”

Ia menatap Lapuza lebih lama dari yang perlu,
lalu cepat-cepat memalingkan wajah.

Namun bahkan Lalena pun tahu satu hal:

Semua penyihir istana terlalu fokus pada kekuatan.
Sedangkan Lapuza,

membutuhkan keseimbangan.

Lapuza melanjutkan latihan hingga sekujur tubuhnya menghitam akibat sihir ledakan yang selalu gagal ia kendalikan.

P3. Nama yang Tidak Ingin Disebut
Malam itu, di ruang rapat kecil istana, para penyihir senior berkumpul.

“Dia tidak bisa dilatih dengan metode biasa.”
“Mantranya tidak stabil.”
“Struktur mananya… asing.”


Ratu Rheana mendengarkan tanpa memotong.

“Kalau dipaksa,” lanjut salah satu penyihir,
“dia bisa menjadi ancaman dan bahaya”

Keheningan jatuh.

Lalena yang duduk di sisi ibunya mengencangkan jemarinya.
“Kalau begitu…”
“kita cari orang yang tidak mengajarkan kekuatan.”


Semua menoleh.

“Orang yang mengajarkan keseimbangan,” lanjut Lalena.
“Orang yang tahu kapan harus menahan, bukan menyerang.”

Satu nama muncul di benak mereka,
dan langsung membuat ruangan terasa berat.

Ratu Rheana memejamkan mata.

“…Sri Rahayu,” ucapnya pelan.

Mantan Kepala Dwean Penyihir Istana

Beberapa penyihir terkejut.
Yang lain menunduk.

“Dia tidak mau terlibat lagi,” ujar seorang tetua.
“Sejak...”

“Sejak Kavor memberontak dan mengobrak abrik istana.”
Potong Ratu, suaranya tetap tenang namun dingin.  

Keputusan itu tidak diambil dengan suara keras.
Namun begitu diambil,

tidak dapat ditarik kembali.

P3. Pelatihan Kedua - Putri Lalena Memimpin
Beberapa hari setelah kegaduhan di desa dan laporan berat di aula istana, pagi di Arcilune kembali terasa… Tenang....

Terlalu tenang.

Itulah sebabnya Lapuza langsung merasa tidak beres ketika seseorang berdiri di depan kamarnya dengan senyum terlalu cerah untuk ukuran dunia yang baru saja hampir runtuh.

Putri Lalena.

Rambutnya merah bergelombang indah terurai, jubah latihan dikenakan, bukan jubah kerajaan.
Tangannya memanggul tas besar yang terlihat… mencurigakan.

“Siap latihan kedua?” tanyanya ceria sembari merapikan lipatan kain menutup gunung kembarnya yang tetap terlihat menggupal padat seperi biasanya.

Nada suaranya terlalu ringan.
Senyumnya terlalu penuh energi.

Insting bertahan hidup Lapuza langsung aktif.

Ia melirik tas di punggung Lalena dari atas ke bawah.
“Itu kelihatan seperti tas piknik…”

Lalu menyipitkan mata.

Lalena tidak tersinggung.
Justru memiringkan kepala, berpikir sebentar.

“Anggap saja diepisode ini kita terlihat sibuk?” jawabnya santai.

“…Itu bukan jawaban yang bikin aku tenang.” balas Lapuza ragu

Baru kali ini Lalena melatih langsung.

Bukan Miya.
Bukan penyihir senior istana.
Bukan sesi observasi dingin penuh tatapan curiga.

Tapi Putri Lalena sendiri.

Bagi sebagian penyihir istana, itu cukup untuk membuat mereka berhenti dan menatap.
Bagi Lapuza… itu justru membuatnya lebih gugup.

Putri Lalena,
penyihir murni dengan cadangan mana di luar nalar,
penyihir tempur yang bahkan Miya Orina segan mengakuinya,
dan pewaris darah Raja Latanre Tippa.

Darah biru yang bukan sekadar simbol.

Melainkan warisan kemampuan yang tidak bisa dipelajari siapa pun.

Teleportasi jarak jauh.
Penyembuhan tingkat tinggi.

Dan sekarang,
dia berdiri di depan Lapuza, memimpin pelatihan keduanya.

“Kita ke timur istana,” kata Lalena sambil berjalan pelan, memastikan Lapuza mengikutinya.
“Sekitar enam puluh kilometer.”

Lapuza berhenti sesaat.
Menoleh cepat, matanya berbinar.

“Teleport?” tanyanya penuh harap, hampir terlalu bersemangat.

Lalena meliriknya.
Melihat ekspresi itu.

Wajahnya memerah tipis.

“Harusnya bisa,” katanya jujur.
Lalu suaranya menurun sedikit,
“tapi orang yang mau kita temui… sulit ditemukan keberadaannya.”
gunung nona memiliki sihir pelindung yang sulit ditembus dan itu terlalu menguras mana

Kata-kata itu menggantung.

Lapuza menatapnya lama.
Terlalu lama.

“…Aku sudah berfirasat buruk,” gumamnya.

Lalena menoleh cepat.
“Jangan drama dulu.”

“Ini bukan drama. Ini pengalaman hidup.”


Ia mendekat setengah langkah.
Sedikit terlalu dekat.

“Kalau kamu bisa teleportasi, kenapa kita tidak langsung saja...”

“Ada batasnya,” potong Lalena cepat.
“Dua puluh kilometer. Dan hanya ke tempat yang bisa kuterawang.”

“…Ah.”

“Dan tempat itu,”
lanjutnya,
“secara aktif dilindungi kubah mana yang sangat besar.”

Lapuza menghela napas panjang.
“Kedengarannya seperti rumah orang yang tidak mau didatangi mantan.”

Lalena reflek memukul lengannya.
“Jangan bandingkan sembarangan!” ucapnya sembari merapatkan gunung kembar montoknya ke lengan Lapuza.

Sematin rapat.
semakin hangat dan kenyal.

“Astaga Naga... refleks Lapuza berusaha menghindar.
“...saya sudah kelebihan nutrisi,
“...tidak butuh susu pangkas Lapuza berusaha menghindari gelombang kejut beruntun yang berusaha melumpuhkan imannya, meski tatapannya jelas enggan bergeser dari sela-sela sepasang gunung mulus itu.

Lalena tersenyum kecil, menahan.

Dalam hati, Lalena merasa… aneh.

Lapuza selalu bicara sembarangan.
Kadang kurang ajar.
Kadang memalukan.

Tapi anehnya…
itu membuat suasana latihan terasa lebih manusiawi, tidak setegang dan selendir biasanya.

“Pokoknya,” katanya kembali tegas,
“kau ikut aku.”
“Dengar perintah.”
“Dan jangan...”


“...jangan macam-macam?” sela Lapuza.

“…Jangan mati,” koreksi Lalena.

Lapuza menatapnya, lalu tersenyum miring.
“Kalau yang ngajarin kamu, aku akan berusaha menahan meski berat.”

Lalena terdiam.

Wajahnya memerah lagi.
Ia membuang muka, berharap Lapuza tak membalas godaannya

“…Ayo jalan.”

Namun langkahnya,
sedikit lebih ringan dari biasanya.

P4. Gunung Nona - Perjalanan yang Tidak Efisien
Gunung Nona menjulang tinggi, puncaknya tertutup kabut dingin yang tak pernah benar-benar terbuka.
Udara tipis, angin tajam, dan jalur batu yang licin membuat setiap langkah terasa seperti ujian kesabaran.

Pengawal sihir kerajaan mengawal ketat dari depan dan belakang.
Formasi rapi.
Disiplin tinggi.

Namun, semua itu tidak membuat perjalanan menjadi lebih ringan.

Dua hari menyusuri jalur berbatu, naik-turun tanpa ritme, melewati hutan pinus yang sunyinya terasa menekan, lalu dataran terbuka yang dinginnya menusuk tulang.

Secara teknis, Putri Lalena bisa saja memindahkan mereka langsung,
teleportasi jarak jauh bukan hal sulit baginya.

Masalahnya, Gunung Nona dibanjiri mana yang mampu mengacaukan sihir.

Dan itu membuat perjalanan ini terasa… tidak efisien.

Lapuza berjalan sambil mengatur napas, bahunya sedikit turun.
Dalam hati, ia menghitung.

Di dunia lama, jarak segini bisa selesai dengan satu aplikasi navigasi.

Lalena, sebaliknya, tampak nyaris tidak terpengaruh.

Ia berjalan di samping Lapuza, langkahnya ringan, wajahnya cerah seolah ini sekadar jalan pagi kerajaan.
Kadang terlalu dekat.
Kadang sengaja memperlambat langkah agar sejajar dengannya.

“Kalau kamu jatuh,” kata Lalena santai tanpa menoleh,
“aku bisa teleport mayatmu balik ke istana.”

Lapuza berhenti sepersekian detik.
“Itu bukan penghiburan.”

“Oh.”
Ia menoleh, berpikir sejenak.
“Kalau kamu jatuh, aku sembuhkan dulu… baru teleport.”

Lapuza mengangguk pelan.
“Sedikit lebih baik.”

Perjalanan berlanjut.

Beberapa jam kemudian, jalur makin sempit.
Batu-batu tajam menggesek sepatu, dan satu langkah ceroboh membuat Lapuza terpeleset ringan.

Tidak jatuh,
tapi cukup untuk membuat lututnya lecet.

Belum sempat ia mengeluh, Lalena sudah ada di depannya.

“Diam,” katanya cepat, namun suaranya lembut.

Cahaya hangat mengalir dari telapak tangannya.
Sentuhan ringan, dekat, terlalu dekat.

Lapuza menahan napas.

“Kamu…” katanya ragu,
“…terlalu dekat.” ujar Lapuza menahan nafas sembari terus menatap serius celengan edisi terbatas yang hanya dapat ia saksikan langsung didunia penyihir.

“Ini menyembuhkan,” jawab Lalena tanpa malu.

“…Aku tahu. Otakku saja belum terbiasa menyesuaikan.” ucap Lapuza sembari melap tetesan darah mimisan yang keluar dari hidungnya.

Lalena terkikik kecil, bahunya bergetar.
Ia tidak menjauh.
Justru sedikit lebih lama dari yang diperlukan.

Cahaya meredup.

“Sudah,” katanya akhirnya.
“Kalau terluka lagi aku bakal beri tambahan ekstra”

“ihh Wow,” Lapuza berdiri, berusaha fokus pada jalur.
Bukan pada jarak mereka yang masih terlalu dekat.

Pengawal saling pandang, berpura-pura tidak melihat.

Sepanjang perjalanan, hal-hal kecil seperti itu terus terjadi.

Lalena memperingatkan jalur licin sambil memegang lengannya.
Menunjukkan arah dengan berdiri terlalu dekat.
Memberi air lalu menunggu sampai Lapuza minum dulu baru tersenyum puas.

Sangat berbeda saat dilatih Miya Orina yang super tegang,
namun kali ini justru kebalikannya.  

“Putri,” kata Lapuza akhirnya, setengah berbisik,
“ini strategi pelatihan?”

“Hmm?”
Lalena menoleh polos.

“Aku merasa diuji… tapi bukan sihir.”

Ia tertawa ringan.
“Kau terlalu banyak berpikir.”

“Biasanya itu memang masalahku.” Balas Lapuza antara senang dan kawatir.

Sore hari menjelang.

Kabut semakin tebal, suhu turun drastis, dan langkah rombongan melambat.
Namun di tengah medan yang dingin dan berat itu, ada satu hal yang membuat perjalanan terasa… aneh dengan suhu yang mendadak hangat.

Lapuza menyadari sesuatu.

Gunung ini berbahaya.
Perjalanan ini melelahkan.
Dan masa depan yang menunggunya tidak jelas.

Tapi setiap kali ia hampir kehilangan fokus,
Lalena selalu ada di dekatnya.

Sedikit terlalu dekat.
Sedikit terlalu ceria.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini,
Lapuza tidak sepenuhnya ingin perjalanan ini cepat berakhir.

P5. Sri Rahayu - Penyihir yang Menolak Takdir
Rumah itu berdiri sendirian di puncak Gunung Nona.
Sebuah bangunan kayu kecil, sederhana, hampir rapuh,
namun dikelilingi oleh kehangatan aneh yang membuat kabut di sekitarnya tak pernah benar-benar mendekat.

Tidak ada penjaga.
Tidak ada simbol istana.
Tidak ada kemewahan.

Hanya kesunyian yang terasa sadar.

Begitu Lalena mengangkat tangan untuk mengetuk, pintu kayu itu terbuka lebih dulu.

Seorang wanita misterius berdiri di ambang pintu.

Rambutnya biru matang, wajahnya cantik masih terlihat sangat muda, jauh berbeda jika diselaraskan dengan usianya yang nyaris menyamai usia istana negeri penyihir.
Sorot matanya tajam.
Tenang.
Dan jelas sudah membaca mereka sejak jauh.

“Aku tahu kenapa kalian datang,” ucapnya datar.
“Dan jawabanku tetap tidak.”

Lapuza refleks melirik Lalena.
“ Gokil... ini jauh lebih hebat dari AI Versi terbaru 2030"
“…Cepat sekali.” 
guman Lapuza
ini lebih menyakitkan dari penolakan Cinta tanpa basabasi...

Wanita itu melangkah sedikit ke depan.

Sri Rahayu.
Penyihir Legendaris.
Mantan Kepala Penyihir Dewan Istana.
Perempuan yang dulu mengajarkan sihir pertama pada Ratu Rheana kecil
dan juga Kavor.

“Aku tidak lagi mencampuri urusan istana,” tegasnya.
“Takdir itu sudah selesai untukku.”

Lalena menunduk sopan, sikapnya berubah serius namun suaranya tetap lembut.

“Negeri ini hampir runtuh,” katanya.
“Dan keseimbangan semakin rapuh.”

Sri Rahayu mengalihkan pandangannya ke Lapuza.

Menilai.
Mengukur.
Menghakimi.

“Dan manusia ini,” katanya tanpa basa-basi,
“bukan solusinya.”

Lapuza yang dari tadi berfikir keras tentang usia dan wajah yang tidak singkron,
Lapuza spontan mengangkat tangan setengah, refleks lama muncul.
“Siap Nenek Rahayu..."
“Sebagai manusia itu… aku setuju.”


Lalena menoleh cepat.
“Hei.”

“Aku jujur,” bisik Lapuza.
“Biasanya orang jujur disayang nenek... biasanya!”

“Nenek....” potong Rahayu dengan tatapan tajam.

“Nenek.... Cantik!” sambung Lapuza cepat.

Lalena mendengus pelan, nyaris senyum, tapi tidak jadi.

Namun sebelum percakapan bisa berlanjut,

Kabut di sekitar rumah bergetar.

Udara menjadi berat.
Hangat Gunung Nona retak.

Sihir gelap merayap seperti tinta di air.

Lapuza merinding.
“…Oke. Ini bagian yang jelas tidak ada di brosur wisata.”

Dari balik kabut, seorang wanita melangkah maju.

Rambut hitam panjang.
Wajah dingin tanpa emosi.
Dan aura yang menekan hingga pengawal sihir refleks menarik senjata.

“Guru,” ucapnya tenang.

Sri Rahayu membeku.

“…Nur Diana.”

Nama itu jatuh seperti batu.

Mantan murid kesayangannya.
Penyihir cantik mantan penyihir utama istana.
Kini penyihir hitam di bawah Kavor.

Nur Diana menatap sekeliling sebentar, lalu berhenti pada Lapuza.

“Targetku hanya satu,” katanya datar.
“Manusia anomali itu.”

Lapuza menunjuk dirinya sendiri.
“…Aku benar-benar harus mulai berlatih menurunkan pesona ketampananku.”

Lalena langsung maju selangkah, berdiri di depannya.

“Kau harus melewati aku,” katanya tegas.

Nur Diana mengangkat tangan.

Sihir menghantam.
Melesat cepat tanpa ragu.  

Benturan pertama mengguncang tanah.
Hutan di bawah meraung.
Salju tipis di puncak gunung beterbangan.

Lalena bertarung cepat, bersih, presisi darah biru.
Teleportasi singkat.
Serangan sihir murni.

Namun Nur Diana terlalu kuat.
Gerakannya dingin, efisien, tanpa ragu.

Lapuza mencoba membantu.

Lingkaran sihir muncul,
bergetar,
tak stabil.

“Kenapa selalu saat genting?!” teriaknya.
“Ini bukan waktu yang tepat buat evolusi karakter!”

Satu serangan hampir menembus pertahanan Lalena.

Dan saat itulah,

Sri Rahayu melangkah maju.

Tongkat kayu sederhana di tangannya memancarkan cahaya tua, dalam, dan berat.

“Aku sudah memilih mengasingkan diri,” katanya dingin.
“Tapi aku tidak akan membiarkan muridku sendiri menumpahkan darah dihadapanku.”

Nur Diana menoleh.
“Guru… jangan ikut campur.”

“Bukan ikut campur,” jawab Sri Rahayu.
“Aku tak ingin ada lagi pertumpahan darah.”

Sihir tua dan sihir hitam bertabrakan.

Gelombang energi menyapu puncak Gunung Nona.

Guru
melawan murid.

Masa lalu
melawan masa kini.

Dan di tengah kekacauan itu, Lapuza berdiri terengah,
tak lagi bercanda.

Untuk pertama kalinya, ia sadar sepenuhnya:

Ia bukan hanya terseret ke konflik ini.

Ia sudah berada di pusatnya.


Baca Kelanjutan Episode 7 disini... 

Tulis Komentar FB Anda Disini...