Pelita Kecil Sang Guru
Karya : Andi Akbar Muzfa
Langkah kaki menapaki sisa embun di aspal pagi,
Dengan tas usang yang jahitannya mulai merenggang.
Ia membawa bekal nasi dengan lauk yang itu-itu lagi,
Menyembunyikan lapar di balik senyum yang tetap tenang.
Di depan kelas, suaranya menggelegar penuh energi,
Membangun mimpi anak-anak agar terbang setinggi awan.
Ia tak biarkan letihnya raga menjadi penghalang budi,
Meski di saku celana, sisa uang hanya tinggal segenggam koin.
Gaji bulan ini menyapa dengan angka yang malu-malu,
Tak sebanding dengan harga beras yang kian melambung tinggi.
Ia menghitung butir demi butir pengeluaran dengan haru,
Memastikan dapur tetap berasap meski hanya dengan mi dan ubi.
Ia berjalan kaki, menabung setiap rupiah dari sisa ongkos,
Demi sebotol tinta untuk mengoreksi tugas di malam hari.
Di kamar kusam yang lembap, ia tetap tegar dan mawas,
Menjaga api pengabdian agar tak padam ditelan sepi.
"Pahlawan tanpa tanda jasa," gelar yang dipikulnya dengan bangga,
Walau raga kian kurus tertelan beban hidup yang memberat.
Ia lebih memilih hidup sederhana dengan martabat terjaga,
Daripada membiarkan integritasnya luruh dan berkarat.
Saat teman sebaya sibuk mengejar dunia dan kemewahan,
Ia masih di sini, berkutat dengan spidol dan lembar ujian.
Mendidik peradaban dengan penuh rasa ketulusan,
Di tengah keterbatasan yang ia peluk dengan penuh kesetiaan.
Esok pagi ia akan kembali berdiri di depan papan tulis,
Menjadi jembatan bagi masa depan yang lebih benderang.
Meski hidupnya sendiri sering kali terasa sangat kritis,
Ia tetaplah pelita yang takkan pernah berhenti menyala terang.
Kategori : Puisi Realita Sosial (Musikalisasi Puisi)
Tema : Perjuangan Sang Guru Ajar
Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang seorang guru muda yang setiap harinya harus bergelut dengan kenyataan pahit antara idealisme sebagai pendidik dan upah yang jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia menjalani rutinitas dengan penuh dedikasi, meski setiap langkah kakinya menuju sekolah sering kali disertai dengan rasa lapar yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik seragamnya yang sudah mulai kusam. Baginya, sekolah adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa merasa berharga, walaupun di luar gerbang sana, ia hanyalah seorang pemuda yang harus teliti menghitung setiap keping koin demi bisa makan di hari esok.
Tokoh utama dalam kisah ini merasakan tekanan batin yang luar biasa ketika melihat harga-harga kebutuhan pokok yang terus melambung tinggi, sementara angka di amplop gajinya tetap stagnan tak bergerak. Ia sering kali terjepit dalam pilihan-pilihan sulit yang menyiksa, seperti harus berjalan kaki berkilo-meter di bawah terik matahari demi menghemat uang transportasi atau memilih menu makanan yang paling sederhana agar uangnya cukup hingga akhir bulan. Kondisi ini tidak hanya menguji fisiknya yang kian merapuh karena kurangnya asupan, tetapi juga keteguhan jiwanya dalam menjaga api semangat yang ia tularkan kepada para muridnya di depan papan tulis.
Meskipun hidup dalam keterbatasan yang sangat menjepit, guru muda ini memiliki prinsip hidup yang sangat kuat untuk tetap berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus mengandalkan belas kasihan orang lain. Ia menjaga martabat dan kehormatannya dengan sangat hati-hati, lebih memilih untuk menahan diri dari segala keinginan duniawi daripada harus menurunkan harga dirinya sebagai seorang pendidik. Baginya, kemiskinan materi bukanlah penghalang untuk tetap memiliki jiwa yang kaya, sehingga ia tetap tampil tegar dan bersih di hadapan anak didiknya seolah-olah beban hidup yang ia pikul tidak pernah ada.
Pada akhirnya, kisah ini menggambarkan sebuah perjuangan sunyi dari sosok yang sering disebut pahlawan, yang rela memberikan seluruh energinya demi masa depan generasi bangsa meski hidupnya sendiri penuh dengan keterbatasan. Ia menjadi pelita yang membakar dirinya sendiri demi menerangi jalan orang lain, bertahan dalam kesunyian kamar kosnya yang sempit sambil merajut harapan-harapan kecil. Puisi ini adalah sebuah penghormatan bagi mereka yang tetap memilih jalan kejujuran dan ketulusan dalam mengabdi, meskipun dunia seolah tidak pernah benar-benar menghargai keringat dan pengorbanan yang telah mereka berikan.
Home
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Puisi Modern
Puisi Realita Sosial
Puisi Untuk Guru
Pelita Kecil Sang Guru
Senin, 05 Januari 2026
Pelita Kecil Sang Guru
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
.jpg)