Melodi Pengabdian Sang Guru
Karya : Andi Akbar Muzfa
Fajar merambat di bingkai jendela yang tua,
Membasuh wajah yang lelah oleh mimpi semalam.
Ada irama sunyi yang tak perlu aku sapa,
Saat saku celana hanya menyimpan rindu yang dalam.
Kemeja ini kusetrika dengan rapi dan hati-hati,
Menutup rapat lapar yang mulai menari di dada.
Wangi sabun murah menjadi kawan paling setia,
Menyambut hari yang berat dengan senyum yang ada.
Aku melangkah di antara deru mesin yang angkuh,
Menghitung setiap jengkal jalan dengan detak nadi.
Bukan karena lemah hingga raga ini bersimpuh,
Namun setiap rupiah adalah napas yang kucari sendiri.
Di papan tulis, aku melukis cakrawala yang luas,
Menuntun jemari kecil mengeja makna merdeka.
Suaraku adalah lagu yang takkan pernah merasa puas,
Meski di balik saku, saldo kian menipis tanpa angka.
Aku mengajarkan logika tentang untung dan rugi,
Namun diriku sendiri sering terjebak dalam hitungan.
Bagaimana membagi gaji agar cukup hingga pagi,
Tanpa harus meminjam atau menggantungkan harapan.
Bekal makan siangku adalah bejana ketabahan,
Nasi putih dan doa yang kutelan dengan tenang.
Di ruang guru yang riuh, aku memilih keheningan,
Menjaga marwah agar tak terlihat seperti pecundang.
Matahari siang membakar pundak yang kian letih,
Menyaksikan duniaku yang hanya sebatas buku dan tinta.
Tak ada keluh yang tumpah menjadi butiran perih,
Sebab harga diri adalah mahkota yang paling kucinta.
Layar ponsel menampilkan gemerlap hidup yang lain,
Kawan sebayaku yang terbang mengejar kemewahan.
Aku hanya tersenyum, menyentuh saku yang dingin,
Sadar bahwa pilihanku adalah jalan yang penuh ujian.
Setiap rupiah kusisihkan dengan jemari yang gemetar,
Menabung sabar di tengah harga-harga yang liar.
Tak ada tagihan yang membuat tidurku tak nyenyak,
Hanya mimpi-mimpi sederhana yang kutanam dengan layak.
Aku pulang saat senja mulai memudar warnanya,
Menunggu bus terakhir dengan kaki yang sedikit kaku.
Di kepalanya hanya ada draf materi dan maknanya,
Bukan tentang seberapa banyak sisa uang di sakuku.
Biarlah duniaku sunyi dari riuh rendahnya pamer,
Aku bahagia dengan koin-koin yang kutata rapi.
Menjadi guru adalah simfoni yang takkan pernah pudar,
Meski harus bertahan dengan gaji yang setipis mimpi.
Malam ini kututup buku dengan syukur yang paling murni,
Besok pagi pelita ini akan kembali menyala terang.
Meski hidupku kecil di mata dunia yang penuh seni,
Aku adalah pengabdi yang takkan pernah merasa kurang.
Kategori : Puisi Realita Sosial (Musikalisasi Puisi)
Tema : Perjuangan Sang Guru Ajar
Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang seorang guru muda yang menjalani hidupnya dengan penuh kedisiplinan dan martabat di tengah tekanan ekonomi masa kini. Ia adalah sosok yang dengan sadar memilih jalan pengabdian, meskipun ia tahu bahwa imbalan materi yang diterimanya sangatlah terbatas. Setiap hari, ia melakukan negosiasi dengan dirinya sendiri untuk tetap hidup layak dan cukup tanpa harus berutang pada siapa pun, menjadikan keterbatasan sebagai ruang untuk melatih kemandirian dan kekuatan mental yang luar biasa.
Ia merasakan kepedihan yang halus namun nyata ketika harus menyesuaikan setiap keinginan pribadinya dengan saldo tabungan yang selalu menipis di pertengahan bulan. Tantangan terbesarnya bukanlah mengajar di depan kelas, melainkan menjaga agar api semangatnya tidak padam saat ia harus berjalan kaki atau membawa bekal sederhana demi penghematan. Ada konflik batin yang anggun saat ia melihat dunia luar yang serba cepat dan mewah, namun ia memilih untuk tetap setia pada dunianya yang sunyi, yang hanya berisi kapur, buku, dan dedikasi yang tak terbeli.
Meski gajinya kecil, ia memiliki prinsip hidup yang teguh untuk tidak membiarkan kondisinya menjadi beban bagi orang lain atau merusak integritasnya sebagai pendidik. Ia sangat teliti dalam mengelola setiap rupiah yang dimiliki, membedakan dengan tegas antara kebutuhan pokok dan keinginan yang bisa ditunda. Baginya, rasa cukup bukan datang dari jumlah angka di rekening bank, melainkan dari kemampuan untuk tetap bisa tidur nyenyak tanpa rasa takut akan tagihan, serta kepuasan melihat murid-muridnya mulai memahami pelajaran yang ia berikan.
Pada akhirnya, kisah ini adalah tentang perayaan atas ketulusan seorang pahlawan modern yang tetap bertahan di jalur pengabdian tanpa kehilangan harga diri. Ia membuktikan bahwa di tengah inflasi dan kenaikan harga yang tak menentu, seorang guru bisa tetap menjadi pelita yang berwibawa melalui kesederhanaan yang dipilih dengan sadar. Puisi ini merangkum harapan-harapan kecil yang tetap ia pupuk setiap malam, memastikan bahwa meskipun hidupnya secara ekonomi terasa sempit, jiwanya tetaplah luas dan kaya akan makna yang ia bagikan kepada masa depan bangsa.
Home
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Puisi Modern
Puisi Realita Sosial
Puisi Untuk Guru
Melodi Pengabdian Sang Guru
Senin, 05 Januari 2026
Melodi Pengabdian Sang Guru
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
.jpg)