Puisi Untuk Petani Tua
Karya : Andi Akbar Muzfa
Di jalan desa berdebu ia berjalan perlahan menahan langkahnya
Suara ternak dari kandang jauh bergema memecah udara
Matahari terik jatuh keras seperti ujian yang tak pernah reda
Namun matanya tetap tertuju pada sawah kering yang diam bagai luka
Ia berhenti sejenak sambil menyeka keringat yang mengalir lambat di wajahnya
Tanah retak-retak memanggilnya seperti suara lama yang meminta doa
Angin panas mengusap kulitnya dengan getir yang sukar dibawa
Tetapi ia tetap berdiri tegar meski harapannya mulai merapuh perlahan di dada
Di tangan tuanya cangkul lama bergetar, meminta jeda dari usianya
Namun ia tetap menggenggam gagangnya seperti memegang sisa asa
Ia menatap sawah kering bagai lembar kenangan yang hilang warnanya
Seolah hujan menjauh darinya tanpa pernah memberi alasan yang nyata
Suara dedaunan kering bergesekan pelan seakan menghibur hatinya
Tetapi teriknya matahari membuat napasnya tersendat seperti tersambar petir tanpa suara
Ia menarik napas dalam, berharap tanah itu kembali bernyawa
Karena setiap bulir padi baginya adalah harapan yang tak pernah ia lepaskan begitu saja
Langkah kecilnya berderak seperti ritme masa muda yang tersisa
Ia terkenang musim penghujan ketika sawahnya hijau berbisik lembut menyapa
Kini warna tanah berganti kelabu seperti mengubur mimpi yang pernah ia bawa
Namun ia tetap percaya hujan akan kembali menyelamatkan tanah yang ia jaga
Di tengah lahan kering itu batinnya berkecamuk antara pasrah dan cita
Ia mengusap tanah, merasakan hangatnya yang mulai menua bersama usia
Konflik dalam dirinya tumbuh saat bayangan gagal menghantam asa
Namun ia bertahan, menolak menyerah pada nasib yang semakin menggila
Ketika cangkulnya jatuh perlahan dan hampir terlepas dari tangannya
Ia menutup mata, merasakan sakit yang merayap hingga dada
Air matanya jatuh diam, menyatu dengan tanah yang menunggu hujan tiba
Lalu ia kembali berdiri, menantang langit bagai seorang penjaga tanpa jeda
Saat senja turun perlahan, cahaya jingga menyentuh wajah tuanya
Ia pulang membawa keyakinan bahwa esok mungkin berbeda
Dalam hatinya tumbuh doa agar tanah itu hidup kembali penuh makna
Karena ia tahu, seorang petani tua hanya bisa terus berharap dan menjaga asa
Bone 2023
Kategori : Puisi Realita Sosial - Musikal
Kisah dibalik Puisi...
Puisi ini lahir dari sebuah momen sederhana namun membekas. Perjumpaan penulis dengan seorang petani tua yang sedang berdiri di tepi sawah kering pada siang yang sangat terik. Jalan desa penuh debu, dan suara kambing di kandang jauh membuat suasana terasa semakin sunyi.
Petani itu berdiri lama, memandang tanahnya yang pecah-pecah, sambil memegang cangkul yang tampak lebih tua dari usianya. Tidak ada percakapan panjang; hanya sepasang mata tua yang berbicara tentang kelelahan, keteguhan, dan harapan yang masih bertahan meski kenyataan tak berpihak.
Momen itu membuat penulis merasa seolah waktu berhenti. Di balik tubuh renta petani tersebut, ada sejarah panjang tentang kerja keras yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun. Ada ketulusan yang tidak dituntut untuk dipuji. Ada keikhlasan untuk tetap menanam, meski air tidak datang.
Peristiwa kecil itu memicu dorongan emosional yang kuat. Penulis merasakan rasa hormat, iba, dan kekaguman yang bercampur menjadi satu. Dari sanalah keinginan menuliskan puisi ini muncul sebagai bentuk penghormatan kepada para petani tua yang terus menjaga tanah, meskipun usia dan keadaan sering kali tidak memihak.
Puisi ini ditulis sebagai cara untuk mengabadikan momen itu, seorang petani yang tidak berkata apa-apa, tetapi justru meninggalkan pesan yang paling dalam melalui diamnya. Lewat puisi ini, penulis ingin menyuarakan apa yang tidak sempat diucapkan petani itu, sekaligus menyampaikan rasa terima kasih untuk generasi yang telah memberi makan banyak orang tanpa pernah menuntut balasan.
.jpg)