Rindu Pulang Anak Jalanan
Karya : Andi Akbar Muzfa
Di trotoar kota ia melangkah perlahan menunggu hangatnya cahaya
Aroma asap kendaraan menyergap keras seakan mengikis aliran rasa
Malam dingin merayap pelan menahan tubuh rapuh yang mencari sela
Langkah kecil itu menatap lampu kota berharap secercah doa
Ia duduk menggenggam harapan tipis yang hampir kehilangan makna
Jalan panjang tampak seperti kisah kelabu yang merambat tanpa rencana
Kenangan rumah datang perlahan dibawa angin malam yang samar bersua
Namun sunyi kota berdiri tegak menjadi tembok dingin bagi penggoda raga
Hatinya bergetar saat bayangan keluarga menari kembali dalam mimpi
Ia membayangkan pelukan ibu yang mampu membersihkan debu pada hati
Trotoar kota berdesis lirih seolah memintanya terus tetap berdiri
Tapi beban hidup menekan dada hingga ia ingin sesaat berlari
Lampu-lampu malam berdansa bagai cahaya-cahaya kecil yang mencoba menyepi
Setiap langkah menjadi gema lirih menahan kisah yang belum sempat terngiangi
Angin menusuk jaket tipisnya membawa letih yang tak mudah dipahami
Dan ia terus berjalan walau dadanya bergetar menahan getir yang ingin memaki
Keramaian kota berubah menjadi gelombang bising yang kehilangan citra
Wajah-wajah berlalu seperti bayang samar yang tak sempat memberi sapa
Ia menggigit dingin malam sambil menjaga sisa keberanian dalam dada
Namun rindu pulang tumbuh semakin liar menembus batas-batas jiwa
Dalam gelap ia meraba arah seakan mencari garis takdir dengan pena
Setiap bayangan jalan berubah menjadi tanda suram yang menggantung seketika
Ia mencoba berdamai dengan sunyi meski langkahnya hampir tak berdaya
Lalu ia menahan napas berharap esok membuka sebuah pintu berwarna
Di persimpangan malam ia berhenti sejenak mendengar gumam halus dari bisikan empati
Trotoar panjang menjadi panggung kecil tempat ia menimbang sisa-sisa imajinasi
Rindu pulang menggema kuat menekan gelombang takut yang hidup di sisi hati
Ia mengepal tangan menolak tunduk pada gelap yang perlahan mencuri nurani
Ketika fajar membelah malam, ia menatap jauh mencari denyut nadi
Cahaya pagi turun lembut menyapa pelan seperti sahabat lama yang menghapiri
Ia menarik napas panjang lalu memeluk harapan yang kembali tumbuh mandiri
Dan ia berbisik lirih, “Aku pulang suatu hari,” menutup malam dengan janji
Makassar 2023
Kategori : Puisi Realita Sosial - Musikal
Kisah dibalik Puisi :
Puisi ini bercerita tentang seorang anak jalanan yang menjalani hidup di tengah kerasnya trotoar kota, ditemani asap kendaraan, lampu-lampu yang gemerlap, dan dinginnya malam. Ia menatap dunia yang terus bergerak cepat, sementara dirinya terjebak di antara kenyataan pahit dan kenangan hangat akan rumah yang pernah membuatnya merasa aman. Meski hidup membuatnya rapuh, ia tetap menyimpan secercah harapan yang muncul setiap kali lampu kota menyala di hadapannya.
Puisi ini juga menggambarkan pergulatan batin yang dialami sang anak, di mana rasa rindu dan takut saling bertabrakan. Kenangan tentang keluarga dan pelukan ibu muncul seperti cahaya kecil di tengah gelap, membuatnya semakin merindukan tempat ia berasal. Namun kota yang dingin dan sunyi menahan langkahnya, membuat ia bertanya-tanya apakah rumah itu masih menantinya atau telah menjadi bagian dari masa lalu yang tak bisa ia raih kembali.
Puisi ini pada akhirnya menunjukkan bahwa meskipun ia belum pulang, harapan untuk kembali tetap hidup dalam dirinya. Ketika fajar datang, ia menemukan keberanian baru untuk terus berjalan dan menjaga janji pada dirinya sendiri. Bahwa suatu hari, entah kapan, ia akan pulang—bukan hanya ke sebuah tempat, tetapi ke rasa memiliki dan kehangatan yang selama ini ia cari di sepanjang jalan panjang kota.
.jpg)