Sabtu, 29 November 2025

Tangisan Ibu di Pagi Buta

Tangisan Ibu di Pagi Buta
Karya : Andi Akbar Muzfa

Di gang sempit yang lembap ia terjaga
Dengan napas berat menahan getir yang membara
Bau sampah basah menyengat seperti luka lama
Namun tangannya tetap sibuk meraih harapan sederhana

Ia menyalakan kompor kecil dengan dada berdebar hampa
Mengaduk air panas sambil menelan resah yang menggema
Panci tua berdenting lirih seolah memberi doa
Agar pagi yang pias ini tidak lagi merenggut sukma

Di tikar kusam ia tata remah roti seadanya
Setiap gerak terasa seperti menenun sisa tenaga
Ia bisikkan janji lembut agar anak-anak tetap bahagia
Walau hatinya sendiri merapuh dihantam lelah yang sama

Anak-anak terbangun dengan mata redup meminta asa
Tatapan mereka menembus hatinya bagai cahaya tipis menyapa
Ia tersenyum rapuh meski deru lapar membuat dada bergetar nyata
Namun ia tetap lindungi mereka seperti perisai tanpa jeda

Ketika hujan rintik jatuh dan memukul atap seng tua
Ia teringat hari-hari ketika rezeki datang tanpa jeda
Kini dunia serasa menyempit seperti lorong tanpa cahaya
Tetapi ia tetap bertahan melawan getir yang menggila

Di luar, suara kota menggulung bising seperti gelombang tak bermata
Sementara dalam dirinya berkecamuk doa penuh asa
Konflik sunyi antara harapan dan kenyataan terus menyala
Mengiris batin yang perlahan menua namun tak mau kalah begitu saja

Ia terhenti sejenak ketika air matanya jatuh tanpa rencana
Bukan karena putus asa, tetapi karena cinta yang luar biasa
Ia sadar hidup memaksanya berlari meski langkah penuh luka
Namun ia tetap berdiri, menantang pagi yang menggigil tanpa suara

Saat matahari akhirnya menyelinap melalui celah jendela
Ia genggam piring sederhana dan menata ulang asa
Tangisnya mereda, digantikan tekad yang lebih bernyala
Karena ia tahu, untuk anak-anaknya, ia selalu menjadi cahaya


Makassar 2023
Kategori Puisi : Puisi Realita Sosial - Musikal

Kisah dibalik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang seorang ibu yang hidup di pemukiman padat dan harus bangun di pagi buta untuk menyiapkan sarapan seadanya bagi anak-anaknya. Dalam keterbatasan hidup, ia berjuang menahan lelah, rasa takut, dan tekanan batin, namun tetap berusaha memberikan kenyamanan dan harapan bagi keluarganya.

Konflik terjadi saat realitas keras kemiskinan, kesunyian pagi, dan kekurangan bahan makanan bertabrakan dengan cintanya yang besar. Tangisan yang muncul bukan tanda keputusasaan, tetapi luapan emosi yang akhirnya membangkitkan tekad baru.

Pada akhirnya, puisi ini menggambarkan keteguhan hati seorang ibu yang, meski terpukul keadaan, tetap menjadi cahaya bagi anak-anaknya dan memilih bertahan demi cinta yang tidak pernah padam.

Tulis Komentar FB Anda Disini...