Jumat, 05 Desember 2025

Awal Cerita di Meja Belajar

Awal Cerita di Meja Belajar
Karya : Andi Akbar Muzfa

Meja kayu usang, penuh coretan nama,
Aroma debu kapur, wangi buku tebal,
Sunyi merayap di tengah jam pertama,
Di sini, ada rasa yang mulai tiba.

Kau di depanku, fokus membaca buku,
Sedikit tegang, indah saat kau memandang,
Aku hanya bisa terdiam, menunggu-nunggu,
Rasa ini hadir, tak bisa lagi kuhalang.

Pulpen di tangan, kucoba tulis rumus,
Namun pikiranku melayang, jauh tak tertata,
Rasa ini datang, perlahan dan mulus,
Mencipta irama di tengah suasana nyata.

Jantungku berdetak, seperti ketukan pensil,
Di atas kertas, ia membuat tanda rahasia,
Kau adalah babak baru, yang tak terwakil,
Dalam catatan yang kubuat tanpa jeda.

Saat kau ulurkan tangan, meminta pena,
Kita beradu pandang, hanya sebentar saja,
Sebuah listrik kecil, menjalar seketika,
Menjelaskan semua arti dari cinta.

Aku ingin menulis kisah kita, bukan tugas,
Mengukir nama kita di meja yang sama ini,
Menghapus semua keraguan dan batas,
Mengubah ketakutan menjadi sebuah janji.

Heningnya kelas, kini terasa seperti musik,
Irama napasmu, adalah melodi yang kupuja,
Aku tak mau lagi hanya bersembunyi dan berbisik,
Menyimpan semua perasaan tanpa curiga.

Pulpenku menggigil, ingin segera bergerak,
Menuliskan namamu, yang selalu ada di pikiran,
Ia menuntutku untuk tidak lagi terperangkap,
Dalam diam yang penuh dengan penantian.

Cinta di sekolah, ia terasa sangat nyata,
Hanya berjarak satu bangku, dan sedikit lirikan,
Namun ia kuat, menciptakan makna,
Mendorongku berani, melawan semua rintangan.

Caramu memegang buku, caramu tertawa kecil,
Semua detail itu, tak pernah kulupakan,
Kau mengubah meja belajar menjadi perwakilan,
Dari semua harapan yang kurangkai perlahan.

Ya, aku telah jatuh, di antara tumpukan buku,
Di bawah lampu neon, yang berkedip samar,
Dan kau adalah alasannya, kau adalah yang kurindu,
Membawa kisah baru, yang takkan pernah pudar.

Biarlah awal cerita ini, kutuliskan indah,
Di meja belajar tua, di mana kita bertemu,
Mencipta rencana masa depan, tanpa gundah,
Sebuah kisah sederhana, yang selalu kurindu.

Makassar 2024
Kategori : Puisi Cinta SMA
Tema : Puisi Cinta Awal Pertemuan

Kisah dibalik Puisi ...
Kisah ini tentang Seorang Siswi SMA yang pemalu dan pendiam. Ia sebenarnya sedang fokus pada pelajaran di kelas yang hening. Namun, semua berubah karena kehadiran Seorang Siswa SMA yang duduk di depannya. Siswi ini mulai merasakan cinta pertama yang datang tanpa diundang. Masalahnya, ia terlalu takut untuk bicara atau menunjukkan perasaannya, karena ia khawatir perasaannya ini akan mengganggu rencana sekolahnya atau berakhir menyakitkan.

Karena rasa takut itu, Siswi ini hanya bisa diam dan mencatat perasaannya secara rahasia. Ia sering pura-pura sibuk menulis di buku, padahal ia sedang memikirkan Siswa tersebut. Pulpen dan meja kayu tempat ia mencoret-coret menjadi satu-satunya 'teman' yang tahu betapa besarnya kerinduan dan harapan yang ia simpan.

Puncak dari kisah ini terjadi di tengah keheningan, saat Siswa itu melakukan hal yang sangat sepele: ia mengulurkan tangan dan meminjam pena. Meskipun hanya sebentar, sentuhan atau pandangan mata yang terjadi saat itu sudah cukup bagi Siswi untuk merasakan ledakan emosi. Momen kecil inilah yang menjadi bukti nyata bahwa rasa yang ia simpan itu serius dan nyata.

Akhirnya, Siswi ini tidak memilih untuk mengungkapkan perasaannya secara langsung. Ia memilih untuk menjaga rasa itu, menjadikannya semangat, dan mencatatnya sebagai bagian penting dari "rencana masa depan" yang ia susun di meja belajar. Intinya, puisi ini menceritakan tentang keberanian menyimpan dan menghargai cinta pertama yang tumbuh diam-diam di tengah suasana sekolah yang serius.


Tulis Komentar FB Anda Disini...