Jurnal Pilu Sang Pengangguran
Karya : Andi Akbar Muzfa
Tirai pagi tak sanggup kubuka lebar,
Sebab cahaya hari terasa memar,
Tumpukan CV di sudut kamar tergeletak,
Menjadi saksi bisu hari-hari yang retak.
Kunyalahkan gawai, bukan mencari berita riang,
Namun memantau surel, berharap ada terang,
Jejaring sosial hanya tawarkan kisah sukses,
Sementara notifikasi penolakan terus berdesak.
Di luar sana, suara mobil tergesa-gesa,
Mereka hidup produktif, penuh rencana,
Sementara aku, terkurung dalam sepi rumah,
Dilabeli 'beban', tanpa ampun, tanpa kasihan.
Pandangan tetangga menusuk, dingin dan tajam,
"Sampai kapan kau hanya menatap layar malam?"
Mereka tak tahu lelahku mengirim tautan,
Mereka hanya lihat kegagalan yang jadi perbincangan.
Harga diriku runtuh, serpihannya di lantai,
Aku tak berani berdiri, memandang mentari,
Aku merasa tak berguna, jiwaku kosong,
Menjadi aib yang harus kubawa ke lubang.
Saat video panggilan keluarga dimulai,
Aku memilih diam, menghindari pertanyaan kuali,
Sebab kata-kata mereka, walau tak bersuara,
Selalu bertanya tentang isi rekening yang hampa.
Jauh di dalam dada, ada rasa sesak yang dalam,
Sebuah keraguan yang datang menjelang malam,
Apakah aku memang tak mampu lagi bersinar?
Pertanyaan pahit yang menyayat hingga nanar.
Aku lihat unggahan kawan, dengan baju baru,
Kini bayanganku sendiri terasa layu,
Dunia bergerak cepat, aku tertinggal jauh,
Memeluk stigma yang semakin tak luruh.
Bibirku bergetar, ingin memohon pada langit,
Agar algoritma membawaku pada jerit,
Namun harapan itu tercekat, penuh air mata,
Karena lelah berharap tanpa jeda nyata.
Aku berjalan lambat, tanpa tujuan yang pasti,
Menggenggam resume, selembar data yang mati,
Tak ada yang mau menerima tangan yang kosong,
Kecuali tembok virtual yang kini kudorong.
Aku sadar, penilaian daring tak selalu benar,
Meski hari ini dihina dan terasa gemetar,
Aku masih bernapas, tekad ini harus mengalir,
Ada api kecil yang harus kubiarkan menyala.
Aku akan menulis lagi, lembaran yang baru,
Menyimpan pilu ini, bukan sebagai akhir yang beku,
Semoga esok hari, notifikasi tak lagi sama,
Dan aku berdiri, dengan martabat yang utama.
Makassar 2025
Kategori : Musikalisasi Puisi - Moderen
Tema : Realita Sosial
Kisah di Balik Puisi ...
Puisi ini adalah potret kontemporer dari penderitaan psikologis yang dialami oleh pengangguran di era digital. Inti dari kisah ini bukan hanya tentang kekurangan materi, melainkan tentang kehancuran harga diri di tengah hiruk pikuk kesuksesan virtual. "Jurnal Pilu" menggambarkan bagaimana teknologi, yang seharusnya menjadi alat pencari kerja, justru menjadi sumber penghakiman: notifikasi penolakan yang terus datang, serta perbandingan tak terhindarkan dengan kisah sukses kawan-kawan di media sosial. Pagi yang berat dan ritual menatap layar gawai yang sia-sia adalah simbol dari usaha keras yang tidak terbayar dan rasa malu yang semakin menguat.
Konflik emosional mencapai puncaknya melalui pengucilan dan stigma digital. Kata-kata remeh dari tetangga ("menatap layar malam") atau pertanyaan tak bersuara dalam video call keluarga melambangkan bagaimana nilai seseorang kini diukur dari produktivitas. Tokoh utama menjadi "aib" yang merasa harus bersembunyi. Perasaan inferiority ini digambarkan melalui metafora "harga diri runtuh" dan merasa dirinya adalah "bayangan yang layu" saat membandingkan hidupnya dengan unggahan orang lain. Stigma ini menciptakan luka internal yang lebih dalam daripada kesulitan finansial.
Puisi ini secara spesifik menyoroti hilangnya kendali dan identitas. Karakter utama merasa nasibnya ditentukan oleh "algoritma" dan "tembok virtual" yang menolaknya, menunjukkan rasa frustrasi ketika usahanya yang nyata tidak membuahkan hasil di dunia maya. Menggenggam resume (selembar data yang mati) melambangkan bagaimana kualifikasi formal tidak berarti apa-apa tanpa kesempatan. Rasa lelah berharap ini mendorongnya ke titik terendah, di mana ia mempertanyakan apakah ia memang tak mampu lagi bersinar.
Sebagai penutup, puisi ini menawarkan secercah resolusi internal dan martabat. Meskipun kesedihan itu nyata dan mendalam, tokoh utama menyadari bahwa penilaian dari luar (daring/sosial) tidaklah mutlak. Ada tekad untuk bangkit dan menjaga "api kecil" semangatnya menyala. Bait terakhir adalah sebuah janji untuk "menulis lagi, lembaran yang baru," menegaskan bahwa perjuangan ini hanyalah jeda, dan ia akan kembali berdiri dengan martabat utama, terlepas dari label pekerjaan yang diberikan oleh dunia.
Home
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Musikalisasi Puisi Realita Sosial Modern
Puisi Modern
Puisi Naratif-Deskriptif
Puisi Perjalanan Hidup
Jurnal Pilu Sang Pengangguran
Minggu, 07 Desember 2025
Jurnal Pilu Sang Pengangguran
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
.jpg)