Senin, 01 Desember 2025

Lelaki yang Tetap Bertahan

Lelaki yang Tetap Bertahan
Karya : Andi Akbar Muzfa

Pada malam sunyi, lelaki itu duduk menyendiri di teras tua
Ia menatap dinding retak yang seakan menyimpan cerita
Udara malam menyentuh kulitnya perlahan membuka luka
Dan hatinya kembali mengulang tanya tentang arah hidupnya

Rumah batu usang itu berdiri lirih bagai penjaga kenangan lama
Cahaya bulan merayap pelan di antara sela-sela jendela
Di kursi kayu lapuk, ia menggenggam sunyi yang terbawa
Seolah malam mendekapnya erat dalam hening tanpa suara

Ia menunduk pada nasib yang tak memberinya banyak ruang langkahnya
Kerikil hidup menumpuk pelan seperti beban di bahunya
Pekerjaan yang digelutinya hanyalah sisa dari yang tersisa
Namun ia tetap bertahan, menjemput hari dengan penghujung tenaga

Kadang ia merasa dunia terlalu jauh untuk dijangkaunya
Seperti jalan panjang yang tertutup kabut tanpa jeda
Di balik pintu rumah, ia menyembunyikan gentarnya
Agar malam tak membaca gelisah yang tumbuh dalam dirinya

Angin lewat membawa bisik yang tak mampu ia percaya
Tentang harapan samar yang mungkin tak pernah singgah di pintunya
Ia tetap duduk, menggenggam pasrah yang mengalir perlahan pada jiwa
Walau hatinya rapuh, ia masih menunggu sesuatu yang tak ia tahu arahnya

Kadang ia berbicara pada purnama, mencari simpul makna
Mencoba mengurai beban yang mengikat setiap langkahnya
Terasa hidup menjauh, menipis seperti bias-bias cahaya
Namun ia tetap menatap malam, berharap kelonggaran tuan semesta

Tak ada jalan lain, tak ada tempat ke mana ia bisa melangkah
Dinding-dinding hambatan berdiri tinggi di depan kelopak mata
Ia hanya bisa menerima kenyataan yang terus kaku menggenggamnya
Meski hatinya berkali-kali mencoba mencari celah menuju bahagi

Pada akhirnya, ia duduk diam menatap malam yang sama
Merenungi hidup yang tak memberi ruang banyak baginya
Namun di balik pasrah itu, masih tersisa jejak cahaya
Bahwa mungkin esok membawa jalan baru bagi jiwanya


Makassar 2023
Kategori : Puisi Realita Sosial - Musikal


Kisah dibalik Puisi ...
Puisi ini lahir dari pergulatan batin seseorang yang terlalu sering menelan kecewa, hingga akhirnya ia terbiasa memanggil rasa pasrah sebagai teman bertahan. Hari-harinya berjalan seperti langit mendung yang tak kunjung pecah, sementara harapan yang dulu pernah menyala kini tinggal bara kecil yang ia sembunyikan dari dunia.

Namun, rasa pasrah itu bukan berarti ia benar-benar menyerah. Di dalam dirinya tetap ada keyakinan besar yang masih terasa samar bahwa hidup tidak selamanya gelap. Meski ia tidak tahu kapan, ia percaya ada satu titik di masa depan yang akan mempertemukannya dengan versi dirinya yang lebih damai.

Puisi ini menjadi gambaran tentang seseorang yang bertahan bukan karena kuat, tetapi karena ia tidak punya pilihan lain. Meski demikian, ia tetap menjaga sebutir harapan yang membuatnya mau membuka mata setiap pagi. Harapan bahwa esok, entah bagaimana, akan membawa perubahan kecil yang akhirnya bisa menyembuhkan jiwanya.

Tulis Komentar FB Anda Disini...