Kamis, 04 Desember 2025

Mencari Apa yang Dicari

Mencari Apa yang Dicari
Karya : Andi Akbar Muzfa

Di sudut kota ini, janji kita bermula
Mata berbinar, peta impian terbuka
Kau sibuk merancang, aku giat menata
Mengukir kemajuan, demi nasib sempurna.

Tanganmu tak pernah diam, mencari celah, upaya
Merangkai benang usaha, tanpa kenal lelah
Ku kejar setiap peluang, berharap nama, harga
Agar bangga keluarga, tak lagi menatap gundah.

Setiap malam, kita hitung lembar yang ada
Menyusun rencana matang, dengan hati yang percaya
Esok pasti berbeda, jalan kan terbuka
Ada cahaya di ujung terowongan, kita genggam bersama.

Namun waktu berputar, tak berpihak cerita
Yang datang bukan panen, tapi rumput yang merana
Angka terus menurun, semangat mulai retak, terluka
Luka pertama, saat senyummu mulai tiada.

Kita makin jauh, di tengah ramai kesibukan
Mengejar ilusi, di padang fatamorgana harapan
Lelah yang mengumpul, perlahan jadi keraguan
Menyentuh bisikan hati, benarkah kita salah jalan?

Pintu-pintu tertutup, wajah kerabat memudar
Sikap yang dulu hormat, kini berubah samar
Pandangan mencibir, tatapan yang merendahkan, gentar
Seolah nasib kita, hanya badai yang sebentar.

Mereka bilang, "Berhentilah mencari yang tak ada!"
Mereka menunjuk, "Lihatlah, semakin jatuh saja!"
Bahkan suara terdekat, ikut meragukan kita
Mempertanyakan daya, merobek sisa-sisa asa.

Kau tatap cermin, ada lelah yang tak terkata
Kau genggam tanganku, dingin, mencari sebuah makna
Kita berdua mencari, tapi apa yang dicari, kita lupa
Hanya kemajuan semu, yang kini menghantui jiwa.

Uang bukanlah segalanya, tapi segalanya butuh uang
Gengsi perlahan luntur, merangkak, mencari ruang
Di antara debu janji, hati kita terus berperang
Mempertahankan sisa keyakinan yang kian hilang.

Adakah salah langkah, adakah dosa tersembunyi
Sehingga setiap usaha, berakhir sia-sia, begini
Kita hanya manusia, mencoba perbaiki diri
Namun semesta, seolah enggan memberi.

Kita telah jauh, dari rumah yang sederhana
Jauh dari tawa polos, yang dulu selalu ada
Kini hanya sepi, menemani sepasang jiwa
Terperangkap dalam ambisi, yang membawa nestapa.

Mungkin yang kita cari, bukan lagi harta dan nama
Melainkan sebuah damai, penerimaan yang pertama
Tuk sadari, bahwa kita, cukup dan berharga
Meski tanpa gemerlap dunia, kita tetap bersama.

Makassar : 2024
Kategori : Musikalisasi Puisi - Puisi Modern
Tema : Realita Sosial

Kisah dibalik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang optimisme yang membara dari dua individu yang terikat janji dan mimpi besar. Mereka memulai perjalanan hidup berdua dengan keyakinan penuh, melihat ke depan pada kualitas hidup yang lebih baik dan posisi terhormat di mata keluarga serta lingkungan. Setiap langkah yang diambil, setiap usaha yang dicurahkan, didorong oleh ambisi kuat untuk mengubah takdir yang lama menjadi sesuatu yang dibanggakan. Mereka merancang masa depan dengan detail, menghitung peluang, dan bekerja tanpa henti, percaya bahwa perjuangan hari ini pasti akan menghasilkan panen raya esok hari.

Namun, alih-alih kemajuan yang dinantikan, yang perlahan datang adalah kemunduran yang menyakitkan. Usaha keras itu berbalik arah, membawa kerugian dan bukan keuntungan. Di tengah kesibukan gila mengejar ilusi ini, ada jarak tak kasat mata mulai tercipta di antara mereka. Kelelahan dan kekecewaan yang menumpuk membuat komunikasi batin terputus, dan harapan yang tadinya menyatukan kini justru menjadi pemisah. Titik emosional paling rendah muncul saat mereka menyadari bahwa pengorbanan yang mereka lakukan telah merenggut hal paling berharga: kehangatan dan senyum kebahagiaan sejati.

Penderitaan mereka semakin diperparah oleh reaksi dari luar. Ketika keadaan memburuk, orang-orang yang tadinya mendekat kini menjauh. Bukan hanya kerugian materi, tetapi juga kehilangan dukungan sosial yang mereka rasakan. Mereka harus menghadapi tatapan merendahkan, bisikan sinis, dan keraguan yang dilemparkan oleh orang-orang terdekat, bahkan kerabat yang seharusnya menjadi sandaran. Hinaan dan penilaian negatif ini melukai jauh lebih dalam daripada kegagalan usaha itu sendiri, membuat mereka merasa gagal total dan sendirian di tengah badai.

Pada akhirnya, setelah semua yang dikejar justru menjauh dan semua yang diandalkan mengkhianati, muncul sebuah kesadaran. Pencarian yang intensif terhadap harta, nama, dan pengakuan sosial ternyata salah alamat. Melalui kehancuran, mereka menemukan bahwa yang paling mereka butuhkan bukanlah kemewahan di mata dunia, melainkan kedamaian dan penerimaan terhadap diri sendiri dan satu sama lain. Kisah ini berakhir bukan dengan kemenangan materi, melainkan dengan pemahaman baru bahwa kebersamaan dan penerimaan apa adanya jauh lebih berharga daripada semua ambisi yang pernah mereka kejar.


Tulis Komentar FB Anda Disini...