Sumbu Pendek di Balik Pagar Panjang
Karya : Andi Akbar Muzfa
Di bawah lengkungan langit yang dipagari beton kusam,
Jantung kota berdetak dalam irama yang kelam.
Jutaan insan bergerak membawa beban yang tak terbilang,
Himpitan janji dan tuntutan hidup yang tak kunjung lapang.
Hadir seorang tua, memegang nilai-nilai purba,
Melihat kabel kendur merayap, mengganggu lalu lintas warga.
Di jalan perumahan sempit, bahaya kecil itu nyata,
Maka niatnya terpanggil, melakukan kebaikan tanpa jeda.
Ia menepi, memarkir kendaraan usang dengan perlahan,
Mengangkat kabel berat, mencari titik aman penahan.
Pandangan matanya tertuju pada pagar rumah yang menjulang,
Tempat yang dianggapnya pantas untuk menyingkirkan halangan.
Tangannya terulur, menyangkutkan lilitan kawat tanpa ragu,
Menyentuh batas privasi yang dijaga selalu.
Di balik jendela kaca, pemilik rumah menyaksikan perbuatan,
Merasakan tindakan itu sebagai invasi dan pelanggaran.
Pintu terbuka menyergap! Suara itu memecah senyap,
Wajahnya kusam padam, pandangan tajam penuh prasangka.
"Mengapa kau mengusik batas rumah yang terjaga?"
Niat murni tertolak, dicurigai sebagai muslihat celaka.
Kebaikan yang diberikan, kini harus dipertanyakan,
Sebab di sudut kota ini, uluran tangan dicurigai jebakan.
Kelelahan jiwa mengubah prasangka menjadi kebenaran sejati,
Di mana setiap gerak dianggap punya motif tersembunyi.
Pemilik rumah menekan nada, bukan hanya karena kabel di pagar,
Mungkin melampiaskan tuntutan hidup yang mencekik tanpa dasar.
Kabel kendur hanya pemicu, media untuk ledakan cepat,
Menumpahkan frustrasi yang menekan batin tanpa terawat.
"Jaga batasmu jangan kau langgar!" ucapnya gemetar
Ungkapnya dengan nada tinggi, menyingkirkan kebenaran yang samar.
Ia hanya mengingat hak milik, lupa pada norma sosial yang mendasar,
Memenangkan ego di atas naluri untuk saling menghargai.
Orang tua itu terdiam, menerima badai yang tak terduga,
Memahami bahwa kemarahan itu lahir dari luka jiwa raga.
Luka hidup yang menindih, membuat kesabaran menjadi singkat,
Membuat kehangatan hati tak lagi memiliki tempat yang layak.
Jika diam, ia dituduh sombong; jika membantu, ia dianggap musuh,
Hidup adalah dilema penuh kecurigaan yang tak pernah rapuh.
Sebab di sini, sumbu pendek telah menjadi cara tercepat,
Untuk meraih kendali ilusi, meski dampaknya sangatlah berat.
Maka orang tua itu menarik napas, berusaha memahami,
Menerima kesalahpahaman itu dengan ketenangan hati.
Ia menyadari, kebaikan di kota harusnya berhati-hati,
Sebab ia harus berhadapan dengan jiwa yang sudah terbebani.
Semoga suatu hari nanti, beban yang menekan dapat terangkat,
Dan sumbu pendek itu dapat dipadamkan secara perlahan.
Semoga kebaikan yang disalahartikan kini,
Menemukan kembali ruang untuk diakui tanpa dicurigai.
Makassar 2025
Kategori : Musikalisasi Puisi - Moderen
Tema : Realita Sosial
Kisah dibalik Puisi ...
Puisi ini lahir dari sebuah peristiwa nyata yang terjadi di lingkungan perumahan kota, tempat di mana tekanan hidup menciptakan suasana yang sangat sensitif dan mudah tersulut emosi. Cerita berpusat pada seorang warga lanjut usia, yang masih membawa nilai-nilai kepedulian komunal dari masa lalu. Ia melihat ada kabel listrik dan kabel lainnya yang kendur, melorot, dan mengganggu jalanan sempit, menimbulkan bahaya kecil bagi pengendara yang lewat.
Didorong oleh niat tulus untuk menciptakan keselamatan umum, orang tua itu memutuskan untuk menyingkirkan bahaya tersebut. Ia memilih pagar sebuah rumah yang kokoh sebagai tempat untuk menyangkutkan kabel yang kendur. Bagi orang tua itu, tindakannya adalah sebuah solusi sederhana, sebuah bentuk tolong-menolong yang otomatis ia lakukan. Namun, tindakan ini dilakukan tanpa izin, dan ia tanpa sadar menyentuh batas paling sensitif di perkotaan: privasi dan hak milik yang disimbolkan oleh pagar.
Pemilik rumah, yang digambarkan memiliki "sumbu pendek", saat itu sedang tertekan oleh akumulasi beban hidup mungkin tuntutan kerja, masalah finansial, atau kelelahan kota. Bagi pemilik rumah, tindakan orang tua yang menyentuh pagar bukanlah bantuan, melainkan sebuah pelanggaran dan invasi yang langsung menyulut emosi. Kabel kendur itu seketika menjadi pemicu, tempat pelampiasan bagi segala frustrasi yang menumpuk.
Melalui insiden pagar ini, puisi ini mengkritik bagaimana kebaikan kini disalahartikan sebagai ancaman atau niat buruk. Peristiwa itu menjadi simbol kekalahan nilai-nilai komunal di hadapan ego dan mentalitas individualis. Kisah ini adalah cerminan miris dari masyarakat kota yang rapuh: di mana niat tulus berbenturan dengan amarah yang lahir dari tekanan, dan "pagar panjang" menjadi saksi bisu betapa tipisnya batas kesabaran antarmanusia.
Home
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Musikalisasi Puisi Realita Sosial Modern
Puisi Modern
Puisi Naratif-Deskriptif
Sumbu Pendek di Balik Pagar Panjang
Rabu, 03 Desember 2025
Sumbu Pendek di Balik Pagar Panjang
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
