Jalan Berlubang Tak Bertepi
Karya : Andi Akbar Muzfa
Di pagi yang dingin, kami mulai lagi hari-hari yang sama
Di tangan ada janji, di hati ada beban yang menghimpit lama
Kami hanya sepasang jiwa, di tengah keluarga yang sempurna
Tertinggal jauh, dari garis nasib yang mereka tentukan bersama.
Tuntutan tak bersuara, kami rasakan setiap waktu
Dari senyapnya telepon, dari undangan yang hanya berlalu
Kami tahu cerita beredar, tentang kegagalan yang tak kunjung jemu
Cibiran dalam diam, membuat langkah kami kaku.
Dia mencari celah, membakar sisa tenaga tanpa jeda
Aku menopang punggungnya, menyulam doa di sudut pinta
Kami bukan pemalas, tapi takdir seolah sengaja
Menahan setiap usaha, di batas kemampuan yang ada.
Kami lalui jalan berbatu, langkah kecil yang penuh nyeri
Setiap pintu tertutup, meninggalkan luka yang tak terperi
Lelah jiwa ini menumpuk, di antara harapan yang mati
Kami dihakimi sepi, oleh pandangan yang tak terperi.
Luka kami bukan hanya keterasingan atau lembar kosong
Luka kami adalah dicibir oleh darah sendiri yang terasa menggenang
Keraguan mereka lebih berat dari beban karung yang dipanggul
Kami dianggap pecundang, yang tak pantas diakui unggul.
Kami mencoba keras, melawan takdir yang terasa curang
Namun nasib selalu berkelit, menjauh dan lari menghilang
Wajahnya dibalut kecemasan, tanganku terasa kian bimbang
Mempertahankan keyakinan, di antara lelah dan kepayahan.
Lalu datanglah keajaiban kecil, sepercik cahaya yang menerangi gelap
Sedikit rezeki datang mengecup singkat, seolah nasib mulai berucap
Kami tarik napas panjang, sempat berbisik harap
Ini permulaan baru, lubang lama akan tertutup.
Tenaga tambahan terkumpul, nafas terasa melonggar, ada jeda
Kami menatap bahagia, sejenak lupa nestapa lama
Kami belum sempat merayakan, belum sempat menyentuh nyaman
Berharap cemooh itu, kini mulai meredam.
Namun takdir tak sudi, melihat senyum itu bertahan lama
Saat musibah datang tiba-tiba, merenggut semua yang ada
Halangan menghujam, tuntutan mendadak berbaris menyiksa
Kembali senyum ditarik paksa, habis tak bersisa, sia-sia.
Kami terperosok lagi, dalam pusaran gali lobang tutup lobang
Semua upaya habis terbuang, bagai air yang jatuh ke jurang
Kami hanya sibuk menambal, tak pernah ada ruang
Merasa dikutuk nasib, oleh bayangan cemooh yang bimbang.
Kami menoleh ke belakang, pada bayangan keluarga yang angkuh
Mereka tak perlu bicara, karena nasib kami sudah menjadi bukti rapuh
Kami dianggap aib, karena tak mampu jadi yang utuh
Kami kehilangan lebih dari tenaga, kami kehilangan hak untuk tumbuh.
Kini kami saling menatap, tanpa kata, hanya air mata yang jatuh
Kami peluk erat kesetiaan, satu-satunya harta yang tak rapuh
Belajar menerima, di tengah duka cita yang tak kunjung jemu
Bahwa kami cukup, walau hidup kami hanya jendela kecil yang sederhana.
Makassar 2025
Kategori : Musikalisasi Puisi - Puisi Modern
Tema : Realita Sosial - Naratif-Deskriptif
Kisah di Balik Puisi ..
Puisi ini mengisahkan tentang Pasangan yang menjalani hidup dengan beban ganda: tuntutan tak terucapkan dari keluarga besar dan kenyataan keterbatasan ekonomi yang menekan. Mereka bukan sekadar tertinggal, tetapi merasa dihakimi karena ketidakmampuan mereka untuk setara dengan anggota keluarga lain yang sukses. Cemoohan dan penilaian tajam datang bukan melalui kata-kata langsung, melainkan melalui bisikan, gestur dingin, dan cerita yang beredar di lingkaran keluarga. Kondisi psikologis ini membuat setiap langkah perjuangan mereka terasa dua kali lipat lebih berat, karena setiap kegagalan seolah menjadi pembenaran atas pandangan rendah orang lain.
Mereka berjuang keras, mencurahkan segala daya dan tenaga untuk mencari celah keluar dari kesulitan finansial. Setelah melalui masa-masa sulit, sebuah titik terang akhirnya muncul harapan kecil datang menggoda yang cukup untuk melonggarkan napas dan membangkitkan harapan akan permulaan baru. Momen singkat ini adalah ranting kebahagiaan dan optimisme mereka, di mana mereka percaya bahwa kutukan nasib buruk suatu saat pasti akan terangkat, dan mereka bisa membuktikan diri kepada orang-orang yang selama ini meragukan.
Namun, siklus kejam itu berulang. Tepat sebelum mereka sempat menuntaskan senyum, musibah tak terduga datang menyergap, kesulitan menari siap menghabisi, tuntutan mendesak yang tak terhindarkan menjemput tanpa kata akhir. tenaga yang terkumpul lenyap seketika, mengalir kembali ke "lubang" yang baru terbuka. Keadaan ini menciptakan frustrasi yang mendalam, karena mereka menyadari bahwa mereka hanya sibuk "gali lubang tutup lubang," bergerak di tempat tanpa ada kemajuan berarti, hanya demi bertahan hidup.
Penderitaan emosional mencapai klimaks saat mereka menyadari bahwa bukan hanya harta yang hilang, tetapi harapan akan pengakuan keluarga. Dalam keheningan malam, mereka dipaksa menerima kenyataan pahit, harga diri mereka tidak lagi diukur oleh kekayaan atau persetujuan orang lain. Pada akhirnya, yang tersisa dan paling berharga adalah kesetiaan dan penerimaan tulus satu sama lain, di tengah kelelahan yang tak berujung. Mereka menemukan kekuatan untuk melepaskan tuntutan luar dan memilih untuk cukup dengan kesederhanaan mereka sendiri.
Home
Musikalisasi Puisi
Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Musikalisasi Puisi Realita Sosial Modern
Puisi Cinta
Puisi Modern
Puisi Naratif-Deskriptif
Puisi Perjalanan Hidup
Jalan Berlubang Tak Bertepi
Kamis, 04 Desember 2025
Jalan Berlubang Tak Bertepi
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
