Senyum dibalik Masker Kota
Karya : Andi Akbar Muzfa
Aku datang dari tanah yang tak mengenal sunyi,
Dari lorong desa di mana sapa adalah janji.
Di sana, setiap wajah menyimpan cerita yang nyata,
Tak perlu dikorek, ia terhampar begitu saja.
Lalu, aku berdiri di simpang jalan yang bising ini,
Jutaan mata melintas, tak satupun berhenti.
Mereka berlari kencang, menatap layar yang bercahaya,
Seolah tak ada lagi bumi di sekeliling mereka.
Lihatlah, dinding-dinding kaca menjulang tinggi menjulang,
Memantulkan wajah-wajah letih yang jarang dikenang.
Setiap orang adalah pulau, dikelilingi pagar tak kasat mata,
Sibuk dengan diri, memelihara ego di dada.
Mereka memasang topeng, namanya "masker kota",
Bukan untuk sakit, tapi untuk sembunyikan duka.
Ia merenggut senyum, membungkam suara tulus yang ada,
Hanya menyisakan mata yang dingin, tanpa percikan rasa.
Kudengar bunyi klakson, kudengar makian samar,
Kulihat tangan terjulur, tak ada yang peduli, bubar.
Di desa, satu jatuh, seratus tangan menopang bersama,
Di sini, satu jatuh, sisanya terburu-buru melupa.
Di dalam hati, konflik itu mulai membara,
Haruskah kulepas sapa, kuberikan senyumku yang setia?
Atau ikut membeku, meniru gaya yang tak berbudaya?
Aku takut, sapaan dariku akan dianggap sebagai bahaya.
Aku rindu aroma kopi yang dibagi di teras pagi,
Bukan sekadar kemasan yang dibeli, diminum sendiri.
Aku rindu tawa renyah, yang tak disaring oleh aplikasi,
Bukan ketikan ringkas, tanpa emosi, tanpa arti.
Seorang tua tersandung, tasnya jatuh berhamburan,
Laju mobil tak berkurang, langkah kaki tak ada yang melamban.
Ini bukan fiksi, ini kenyataan yang kulihat nyata,
Dan luka di hatiku menganga, sama seperti lukanya.
Kucoba tersenyum, di balik maskerkuliah ku yang kini kupakai,
Berharap sorot mataku menyampaikan rasa damai.
Mungkin satu saja yang menangkap getaran tulus ini,
Mungkin satu saja yang masih memelihara nurani.
Katanya, di kota ini semua orang mengejar sukses,
Tapi apakah sukses bila hati kita kehilangan akses?
Akses menuju sesama, akses menuju rasa iba,
Kekayaan tak bisa membeli kembali jiwa yang merana.
Aku tak menyalahkan gedung, bukan pula jalanan,
Aku hanya mempertanyakan isi dari setiap pikiran.
Yang memilih untuk menutup diri, mengunci hati,
Menganggap orang lain hanya bayangan yang harus dilewati.
Mungkin esok, aku masih akan mencari lagi,
Senyum tulus yang tersembunyi, yang tak dipaksa pergi.
Di balik "masker kota" yang dingin dan penuh tanda tanya,
Semoga masih ada sisa-sisa jiwa desa yang bercahaya.
Makassar 2023
Kategori : Musikalisasi Puisi - Puisi Moderen
Tema : Realita Sosial
Kisah dibalik Puisi ...
Puisi ini menceritakan kisah seorang perantau yang datang dari desa sebuah tempat di mana tempat asal yang penuh dengan kehangatan, di mana sapaan dan kepedulian adalah hal yang wajar, dengan suasana kota metropolitan yang dingin dan individualis. Ketika memasuki lingkungan perkotaan, ada rasa terkejut dan keheranan yang mendalam. Di sana, jutaan orang bergerak dengan langkah terburu-buru, mata mereka tertuju hanya pada layar atau urusan pribadi, menciptakan keramaian yang sepi dan sunyi secara emosional.
Kejanggalan ini diringkas melalui simbol "masker kota"sebuah topeng tak kasat mata yang sengaja dipasang oleh warga, bukan hanya sebagai pelindung fisik, tetapi sebagai pemisah emosional untuk menghalau interaksi dan menyembunyikan kelelahan atau duka. Puncak dari rasa heran tersebut terjadi ketika disaksikan sebuah pemandangan nyata: seseorang terjatuh di jalanan, namun tidak ada satu pun dari kerumunan yang berhenti menolong. Kecepatan hidup dan ego telah mengalahkan naluri kemanusiaan.
Pergolakan batin pun muncul: haruskah menyesuaikan diri dengan sikap dingin dan individualis demi bertahan, atau tetap mempertahankan kebiasaan menyapa dan tersenyum, meskipun berisiko diabaikan? Muncul kerinduan pada kehangatan berbagi dan tawa alami yang kini telah digantikan oleh komunikasi tanpa emosi melalui teknologi. Rasa kekosongan tersebut terasa lebih nyata dan bising daripada klakson di pagi hari.
Pada akhirnya, puisi ini ditutup dengan kesadaran bahwa masalah sebenarnya bukanlah pada gedung-gedung tinggi, melainkan pada pilihan hati yang tertutup. Meskipun kecewa, ada keputusan untuk tidak menyerah. Kisah ini berakhir dengan harapan bahwa di balik semua topeng dan kesibukan kota, masih ada sisa-sisa kehangatan yang dibawa dari desa, yang suatu hari nanti akan kembali bercahaya dan menghidupkan kembali rasa kemanusiaan di tengah keriuhan metropolitan.
.jpg)