Rabu, 03 Desember 2025

Jejak Sahabat Musiman

Jejak Sahabat Musiman
Karya : Andi Akbar Muzfa

Saat hidupku dipenuhi cahaya terang,
Aku tak pernah merasa sendirian.
Pintu rumahku selalu terbuka riang,
Penuh dengan sapaan dan jabat tangan.

Mereka datang seperti air pasang,
Membawa sorak dan tawa yang lantang.
Aku adalah sumber daya yang tak terhalang,
Pusat dunia yang mereka pandang.

Aku percaya pada setiap ucapan yang kudengar,
Mengira kasih sayang ini tak akan pudar.
Mereka membuatku lupa bahwa kesetiaan butuh pagar,
Bahwa mereka hanya hadir di musim yang benar.

Namun, roda waktu berputar perlahan,
Kekayaan yang kubangun mulai kehilangan pegangan.
Aku memasuki musim di mana daun-daun berjatuhan,
Menanti datangnya kabar kehampaan.

Tepat ketika aku tak punya apa-apa lagi,
Keheningan itu datang menusuk dan mematikan.
Mereka yang berjanji sehidup mati kini pergi,
Mencari kehangatan di tempat perapian lain.

Tak ada lagi panggilan, tak ada yang peduli,
Jejak Sahabat Musiman hilang tanpa permisi.
Aku ditinggalkan dengan pertanyaan yang tak terperi,
Seolah aku adalah beban yang harus diakhiri.

Aku memeriksa ponsel yang sunyi membisu,
Mengingat kembali setiap nama di daftar itu.
Mereka menghilang, seolah tak pernah bertemu,
Hanya menyisakan ruang kosong di hatiku.

Aku menatap kaca, bertanya pada bayangan,
Apakah nilaiku hanya sebatas uang?
Semua ikatan itu ternyata penuh dengan hitungan,
Sebuah transaksi, bukan pertalian yang panjang.

Mereka pergi bukan karena aku berbuat salah,
Mereka pergi karena saku tak lagi membawa berkah.
Mereka pergi mencari sumber cahaya yang lebih indah,
Meninggalkan aku dalam bayangan dan lelah.

Aku belajar bahwa persahabatan adalah barang mahal,
Yang tak bisa dibeli dengan kekayaan duniawi.
Ia diuji bukan di pesta, melainkan di saat kita gagal,
Dan aku telah lulus ujian ini sendirian.

Maka, biarlah perpisahan ini yang mengajarku berharga,
Aku akan menerima dinginnya udara.
Aku akan berdiri di atas kebenaran yang nyata,
Dan menemukan kembali diriku tanpa topeng dan sandiwara.

Aku tak akan lagi mengundang keramaian yang palsu,
Tak peduli apakah esok aku kembali sukses.
Yang kutahu, aku hanya butuh kebenaran yang jujur,
Sebab Jejak Sahabat Musiman tak pantas dikenang, tapi hanya untuk dihapus tuntas.


Makassar 2023
Kategori : Musikalisasi Puisi - Moderen
Tema : Musikalisai Puisi Realita Sosial

Kisah dibalik Puisi ...
Puisi ini mengisahkan tentang pengalaman pahit seorang pemuda sukses yang keliru menafsirkan keramaian di sekitarnya. Di masa musim panen (saat ia kaya dan berkuasa), ia dikelilingi oleh banyak orang yang ia yakini sebagai sahabat sejati. Hubungan-hubungan ini terasa hangat, penuh tawa, dan janji, namun nyatanya didasari oleh kepentingan dan keuntungan yang ia bawa.

Kisah berbalik saat ia mengalami kejatuhan finansial yang disimbolkan sebagai berakhirnya musim semi dan datangnya musim gugur. Tepat pada momen kesulitan itu, ia harus menyaksikan pengkhianatan semua orang menghilang, meninggalkan keheningan yang lebih menusuk daripada kerugian materi itu sendiri. Ia menyadari bahwa ikatan yang selama ini ia hargai hanyalah "kontrak" yang memiliki tanggal kedaluwarsa, yang secara profesional dibatalkan saat ia tak lagi memiliki aset.

Melalui kesendirian yang pahit, ia mencapai kesadaran yang mendalam. Ia menyimpulkan bahwa nilai dirinya selama ini dihitung berdasarkan saldo, bukan kejujuran hati. Ia belajar bahwa persahabatan yang sejati tidak akan diuji di pesta, melainkan saat kegagalan, dan ia telah gagal dalam ujian memiliki teman, namun berhasil dalam ujian pemahaman diri.

Pada akhirnya, puisi ini ditutup dengan resolusi yang kuat dan bermartabat. Ia tidak tenggelam dalam kesedihan, melainkan menerima kenyataan dan bertekad untuk bangkit kembali sebagai individu yang lebih jujur pada diri sendiri. Ia menolak untuk berinvestasi lagi pada keramaian palsu, dan memutuskan bahwa "Jejak Sahabat Musiman" hanyalah pelajaran yang harus dihapus tuntas dari ingatannya.


Tulis Komentar FB Anda Disini...