Selasa, 13 Januari 2026

Dermaga Harapan Dan Rahasia Semesta

Dermaga Harapan Dan Rahasia Semesta
Karya : Andi Akbar Muzfa

Ada yang terlepas dari dekap, menguap ke angkasa,
Meninggalkan jejak hampa yang tak mungkin lagi dipeta.
Namun waktu adalah detak yang tak mengenal rasa iba,
Memaksamu terus melangkah, meski sukma kian merana.

Kau tempuh lorong-lorong tajam berpahat kerikil duri,
Di mana setiap langkahmu beradu dengan bayang sepi.
Ingatlah, Kawan, di dalam lelah yang kau dekap sendiri,
Ada doa-doa kami yang menjagamu agar tak lekas mati.

Bila larimu mulai goyah dan napasmu terasa berat,
Berhentilah di sini, biarkan aku menjadi tempat istirahat.
Dunia mungkin terlalu bising untuk mendengar laramu yang pekat,
Namun pundakku sedia menampung bebanmu hingga kau kuat.

Kadang semesta tampak membisu dan kasih sulit kau temui,
Seolah garis takdirmu hanya dipenuhi oleh mendung dan benci.
Namun lihatlah ke arah kami yang tak pernah sekalipun pergi,
Menjadi dermaga yang menantimu pulang dengan setulus hati.

Hilang itu hanyalah sebentar, sebuah jeda di tengah rima,
Maka sudahi sedihmu yang telah melampaui batas segala.
Kelak kau akan mengerti, setelah badai tak lagi bergema,
Bahwa hanya cinta yang sanggup menyatukan kepingan jiwa.

Relakanlah setiap genggaman yang kini mulai merenggang,
Biarkan ia pergi seperti ombak yang kembali ke palung tenang.
Yakinkan hatimu bahwa apa yang hilang akan datang menjelang,
Dalam wujud yang lebih agung dari sekadar mimpi yang terang.

Meski bencana mengetuk tanpa izin dan tanpa rencana,
Memaksa lututmu bersimpuh di atas tanah yang penuh luka.
Saat langit terlihat berpihak entah ke mana arah matanya,
Tetaplah percaya pada cahaya yang bersembunyi di balik lara.

Jangan biarkan bimbang menghasutmu tentang nasib tetangga,
Sebab gubukmu mungkin menyimpan damai yang tak mereka punya.
Keindahan hidup tak selalu diukur dari megahnya sebuah tangga,
Namun dari seberapa luas syukur yang bernaung di dalam dada.

Di dermaga yang menangis, di tengah asap yang mememudarkan langit,
Kita bersaksi bahwa kebaikan adalah kompas di tengah bangkit.
Engkaulah arah bagi kami yang sedang mendaki tebing yang terjal,
Kebaikanmu adalah jejak abadi yang takkan pernah bisa kekal.

Kadang sesal datang menghujam seperti hujan di tengah malam,
Lupakanlah sejenak, biarkan setiap luka kau kubur dalam-dalam.
Masih ada matahari yang menanti di balik ufuk yang kelam,
Membawa janji baru bagi mereka yang tak pernah menyerah pada karam.

Jika kau terjatuh di dasar palung yang kian menyiksa,
Jangan ragu memanggil namaku di tengah hiruk-pikuk dunia.
Aku ada untukmu, menjahit kembali harapmu yang tersisa,
Menjadi kawan yang setia menemani setiap jengkal perjalananmu yang mulia.

Relakan yang telah pergi, biarkan ia menjadi pelangi di hati,
Sebab segala yang hilang pasti akan kembali dalam wujud yang suci.
Lebih dari yang kau sadari, cinta akan menyembuhkan luka yang mati,
Dan kau akan berdiri tegak menyambut pagi yang abadi di sisi.


Kategori : Musikalisasi Puisi Perjuangan Hidup
Tema : Perjaungan Hidup, Puisi Perjalanan Hidup, Realita Sosial

Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang gejolak batin seseorang yang tengah berdiri di persimpangan antara keputusasaan dan harapan setelah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Ia merasa dunianya seolah berhenti berputar ketika tragedi atau kepergian itu terjadi, sementara kenyataan di sekitarnya tetap bergerak maju tanpa memberikan ruang bagi dirinya untuk berduka. Ada sebuah pergulatan internal yang sangat dalam saat tokoh ini mencoba memahami mengapa "kerikil duri" harus menjadi jalan yang ia lalui, sementara orang lain tampak memiliki hidup yang jauh lebih mudah dan megah di permukaan.

Dalam narasi ini, diceritakan pula tentang pentingnya kehadiran "suaka" dalam bentuk persahabatan yang tulus di tengah guncangan nasib. Sang tokoh tidak dibiarkan tenggelam sendirian dalam duka yang berlarut-larut; ada tangan-tangan yang siap menopang ketika lututnya bertekuk ke tanah karena bencana yang datang tiba-tiba. Pertemuan emosional ini menggambarkan bahwa obat terbaik bagi jiwa yang hancur bukanlah kata-kata bijak yang kosong, melainkan kesediaan seseorang untuk duduk bersama dalam keheningan dan berbagi beban penderitaan hingga fajar baru mulai terlihat.

Kisah ini juga menyentuh aspek spiritual tentang penerimaan diri dan rasa syukur di tengah keterbatasan. Tokoh dalam puisi ini diajak untuk melihat melampaui "gubuk" dan "rumah bertangga", menyadari bahwa kekayaan batin tidak selalu linier dengan kemegahan duniawi. Ia mulai belajar untuk memandang "dermaga yang menangis" dan "langit yang gelap" bukan sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai proses pembersihan jiwa. Ada sebuah "kiblat" kebaikan yang menjadi arah bagi setiap langkahnya, sebuah keyakinan bahwa setiap tindakan kasih yang pernah ia lakukan akan meninggalkan jejak yang kelak menuntunnya kembali ke jalan pulang.

Pada akhirnya, kisah di balik bait-bait ini adalah tentang kekuatan untuk merelakan dengan lapang dada agar sesuatu yang lebih indah bisa datang mengisi kekosongan tersebut. Tokoh utama menyadari bahwa "hilang hanya sebentar" dan cinta memiliki kemampuan magis untuk menyembuhkan luka yang paling perih sekalipun. Ia memilih untuk tidak lagi menyesali apa yang telah berlalu, melainkan memfokuskan pandangannya pada matahari yang tetap bersinar di depan. Inilah sebuah janji tentang kebangkitan kembali, di mana segala kehilangan hanyalah sebuah cara semesta untuk mempersiapkan diri kita menerima berkah yang jauh lebih besar dari yang pernah kita bayangkan.

Tulis Komentar FB Anda Disini...