Rabu, 14 Januari 2026

Diantara Deru Kota dan Relung Rindu

Diantara Deru Kota dan Relung Rindu
Karya : Andi Akbar Muzfa

Koper tua di sudut kamar saksi bisu keberanian,
Saat melangkah pergi meninggalkan aroma tanah kelahiran.
Aku datang ke kota ini dengan sekeranjang harapan,
Membawa mimpi-mimpi yang seringkali dianggap angan.

Di sini, langit tak lagi biru, tertutup kabut asap dan debu,
Gedung-gedung angkuh berdiri, menelan senyum yang lugu.
Aku hanyalah sebutir pasir di antara jutaan langkah yang menderu,
Berjalan di trotoar sempit, mengejar masa depan yang masih kaku.

Kamar kos yang kecil menjadi saksi setiap air mata jatuh,
Saat rindu pada ibu di kampung membuat pertahananku luruh.
Dinding-dinding lembap ini mendengar isakku yang rapuh,
Sebelum pagi kembali memaksaku tampil tegar dan tangguh.

Dunia kerja adalah rimba yang tak segan untuk memangsa,
Di mana kejujuran seringkali kalah oleh mereka yang berkuasa.
Sebagai wanita, aku harus berjuang dua kali lebih luar biasa,
Agar suaraku didengar dan keberadaanku tak dianggap sia-sia.

Seringkali aku tergoda untuk memilih jalan yang lebih mudah,
Menanggalkan prinsip demi kenyamanan yang tampak indah.
Namun wajah ayah di kejauhan membuatku tak ingin menyerah,
Mengingatkan bahwa harga diri tak boleh diganti dengan upah.

Betapa dingin tatapan orang-orang yang saling bersaing,
Menganggap setiap kawan sebagai lawan yang harus dikesamping.
Di tengah kerumunan ini, aku merasa seperti jiwa yang terasing,
Mencoba tetap hangat di bawah lampu kota yang kian bising.

Makan malamku seringkali hanya sepiring mi dalam kesunyian,
Menghitung sisa tabungan yang akan kukirimkan dengan ketulusan.
Biarlah perutku lapar, asal mereka di sana merasa kecukupan,
Itulah upah paling manis dari segala bentuk pengorbanan.

Aku belajar menelan pahitnya penghinaan dengan senyuman,
Menjadikan setiap cacian sebagai bensin bagi sebuah kemajuan.
Di zaman ini, kesuksesan seorang wanita bukan sekadar jabatan,
Tapi bagaimana ia menjaga nurani di tengah arus ketidakpastian.

Seringkali aku rindu pada masakan rumah yang hangat,
Pada pelukan yang tak pernah menuntutku untuk terlihat hebat.
Kota ini mengajarkanku bahwa hidup adalah tentang siasat,
Namun aku tak ingin kehilangan arah dan menjadi tersesat.

Aku melihat sesama wanita berjuang dengan beban yang sama,
Menyembunyikan letih di balik riasan yang tampak utama.
Kita adalah pejuang-pejuang sunyi yang jarang masuk dalam drama,
Yang tetap berdiri tegak meski badai kota datang menggema.

Jangan biarkan beton-beton ini mengeraskan hatimu yang suci,
Atau ambisi buta membuatmu melupakan siapa dirimu yang asli.
Kita berhak sukses, kita berhak mendaki hingga ke puncak tertinggi,
Tanpa harus mengorbankan nilai-nilai yang selama ini kita hargai.

Malam ini, biarlah rindu menjadi kawan dalam doa yang panjang,
Hingga fajar kembali memanggilku untuk kembali ke gelanggang.
Sebab aku adalah wanita yang datang untuk menjadi pemenang,
Membawa pulang kehormatan di tengah dunia yang penuh rintang.


Kategori : Musikalisasi Puisi Perjuangan Hidup
Tema : Perjalanan Hidup, Realita Sosial, Puisi Perjuangan Hidup
Makassar : 2022


Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita perantau yang mengadu nasib di kota besar, menghadapi benturan antara impian masa kecil dengan realitas urban yang seringkali dingin dan tanpa ampun. Narasi ini berfokus pada konflik batin seorang individu yang harus bertahan hidup sendirian di tengah lingkungan yang kompetitif, di mana identitas dirinya sebagai orang daerah yang jujur terus-menerus diuji oleh godaan untuk mengambil jalan pintas. Cerita ini menggambarkan bagaimana seorang wanita muda harus belajar menjadi mandiri secara paksa, mulai dari mengelola keuangan yang terbatas di kamar kos yang sempit hingga menghadapi diskriminasi di lingkungan kerja yang didominasi oleh kekuasaan dan ego.

Di balik kemewahan lampu-lampu kota, terdapat kisah tentang pengorbanan yang tak terlihat, seperti menahan lapar demi mengirimkan uang untuk keluarga di kampung halaman. Sang tokoh utama dalam puisi ini merepresentasikan ribuan wanita yang menjadi tulang punggung keluarga dari kejauhan, yang setiap harinya harus menelan rasa rindu dan kesepian demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi orang-orang tersayang. Ada sebuah beban moral yang berat untuk tetap tampil sukses di mata orang tua, meskipun sebenarnya ia sedang berdarah-darah mempertahankan prinsip dan integritasnya agar tidak hancur oleh budaya kota yang materialistis.

Kisah ini juga menyoroti tentang pentingnya menjaga "hati yang suci" di tengah belantara beton yang cenderung mengeraskan perasaan manusia. Konflik eksternal berupa persaingan kerja yang tidak sehat dan tekanan standar hidup perkotaan menjadi latar belakang bagi pertumbuhan karakternya. Ia menyadari bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang seberapa tinggi jabatan yang diraih atau seberapa mewah gaya hidup yang ditampilkan, melainkan tentang keberhasilannya pulang membawa kehormatan dan jati diri yang tetap utuh tanpa harus "menjual jiwa" pada sistem yang korup.

Pada akhirnya, narasi di balik bait-bait ini adalah tentang ketangguhan seorang wanita yang menolak untuk menjadi korban keadaan. Ia memilih untuk menjadikan setiap kesulitan sebagai batu pijakan untuk naik lebih tinggi, sembari tetap memegang teguh nilai-nilai moral yang diajarkan oleh keluarganya. Puisi ini ditutup dengan semangat kebangkitan, di mana sang perantau menyadari bahwa rumah bukan hanya tempat secara fisik, tetapi adalah nilai-nilai yang ia bawa di dalam dadanya ke mana pun ia melangkah, menjadikannya pemenang sejati di panggung kehidupan yang keras.

Tulis Komentar FB Anda Disini...