Wanita Pemikul Nafas
Karya : Andi Akbar Muzfa
Alarm berdering memecah subuh yang masih kelabu,
Sebelum matahari terbit, tugasku sudah menunggu.
Menyiapkan bekal untuk generasi yang akan datang,
Sambil memikirkan obat untuk orang tua yang kian gamang.
Aku adalah jembatan di era yang serba bergegas ini,
Tempat bertumpu harapan yang tua dan mimpi yang dini.
Di pundak kiri ada masa lalu yang mulai rapuh,
Di pundak kanan ada masa depan yang harus tumbuh.
Di kantor, aku dituntut menjadi mesin yang tak kenal rasa,
Mengejar target dan tenggat waktu yang terus memaksa.
Tak boleh ada celah untuk emosi atau kata lelah,
Sebab profesionalisme di zaman ini tak memberi ruang salah.
Seringkali aku bertanya di depan cermin yang bisu,
Di mana letak perempuanku yang dulu penuh rindu?
Waktuku habis terbagi dalam potongan-potongan kecil,
Hingga untuk diriku sendiri, sisanya begitu kerdil.
Dunia memuja sosok "wanita super" yang serba bisa,
Yang tersenyum mengurus rumah usai bekerja luar biasa.
Mereka tak melihat keringat dingin di tengah malam sepi,
Saat aku menghitung sisa gaji yang tak cukup menutupi mimpi.
Tagihan datang bagai surat kaleng yang mencekik leher,
Harga kebutuhan melambung membuat nyali tercecer.
Aku harus pintar menari di atas tali tipis ekonomi modern,
Memastikan tak ada satu pun mulut yang kelaparan kemarin.
Kadang ingin berteriak di tengah kemacetan jalan pulang,
Melepaskan penat yang tak terwakili oleh kata yang hilang.
Namun aku menelannya kembali bersama sisa tenaga,
Sebab menjadi lemah di depan mereka adalah hal yang tak terjaga.
Ada mimpi-mimpi pribadi yang kububur dalam diam,
Ambisi masa muda yang perlahan mulai tenggelam.
Kugantikan dengan stabilitas bagi mereka yang kujaga,
Sebuah pengorbanan sunyi yang tak pernah tercatat di laga.
Namun, jangan kira aku ini korban yang tak berdaya,
Justru di dalam tekanan hebat ini, jiwaku menjadi kaya.
Aku belajar arti ketangguhan yang tak diajarkan di sekolah,
Tentang bagaimana tetap berdiri tegak meski seringkali kalah.
Jika suatu saat kau lihat mataku sedikit berair di sudut dapur,
Itu bukan tanda aku menyerah atau ingin kabur.
Itu hanya jeda singkat untuk membasuh debu jalanan,
Sebelum kembali memikul tanggung jawab yang tak berkesudahan.
Kita, para wanita penopang di garis depan zaman ini,
Bernilai bukan hanya dari materi yang berhasil kita beri.
Tapi dari besarnya hati yang terus mau mencoba bertahan,
Menyeimbangkan dunia yang seringkali memberi beban berlebihan.
Tarik napas dalam-dalam, wahai jiwa yang luar biasa tangguh,
Perjuanganmu hari ini adalah fondasi agar atap tak runtuh.
Kau adalah pilar yang menjaga kewarasan di tengah guncangan,
Dan di dalam lelahmu yang dalam, tersimpan kemuliaan perjuangan.
Kategori : Musikalisasi Puisi Perjuangan Hidup
Tema : Perjalanan Hidup, Realita Sosial, Puisi Perjuangan Hidup
Makassar : 2023
Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang realitas keras yang dihadapi banyak wanita di era modern yang terjepit dalam posisi "generasi sandwich". Tokoh utama dalam puisi ini bukan lagi berjuang melawan citra di media sosial, melainkan berjuang melawan tuntutan ekonomi dan tanggung jawab keluarga yang bertumpuk. Ia harus menjadi pengasuh bagi orang tuanya yang menua, menjadi ibu bagi anak-anaknya yang membutuhkan perhatian, dan sekaligus menjadi pekerja profesional yang dituntut berkinerja tinggi di kantor.
Narasi ini menyoroti konflik batin yang mendalam di mana sang wanita merasa kehilangan identitas pribadinya karena waktunya habis terbagi untuk mengurus orang lain. Ada kritik halus terhadap glorifikasi "superwoman" (wanita super) yang sering didengungkan masyarakat modern, yang seolah menuntut wanita untuk bisa melakukan segalanya dengan sempurna tanpa boleh mengeluh. Puisi ini membuka tirai panggung belakang kehidupan mereka momen-momen sunyi saat menghitung gaji yang pas-pasan, kecemasan akan tagihan yang membengkak, dan mimpi-mimpi pribadi yang terpaksa dikubur demi stabilitas keluarga.
Namun, di balik kelelahan yang luar biasa, kisah ini juga menekankan transformasi kekuatan. Tekanan hidup tidak membuat tokoh wanita ini menjadi korban, melainkan membentuknya menjadi sosok yang sangat tangguh dan kaya jiwa. Ia menyadari bahwa peranannya sebagai "jembatan" antar generasi dan "pilar" keluarga adalah sebuah bentuk perjuangan yang mulia, meskipun seringkali tidak dihargai atau terlihat oleh dunia luar.
Pada akhirnya, puisi ini adalah sebuah pengakuan jujur tentang beratnya beban ganda yang dipikul wanita bekerja di zaman sekarang. Ia menegaskan bahwa nilai seorang wanita tidak hanya diukur dari kesuksesan kariernya, tetapi dari ketahanan mentalnya dalam menyeimbangkan berbagai peran yang seringkali saling bertabrakan, menjaga agar "atap" kehidupan orang-orang yang dicintainya tidak runtuh.
Rabu, 14 Januari 2026
Wanita Pemikul Nafas
Tags
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
.jpg)