Guru: Cahaya di Balik Layar Peradaban
Karya : Andi Akbar Muzfa
Di ufuk pagi yang berderu dengan mesin kota,
Langkahmu tegap membawa tas berisi rencana.
Bukan lagi kapur, namun semangat yang tak berpita,
Kau datang menyapa jiwa dengan cinta yang fana.
Di depan papan putih yang bersih berkilau,
Jemarimu menari, spidol menjadi saksi bisu.
Menyusun aksara agar batin kami tak lagi silau,
Oleh debu ketidaktahuan yang menyelimuti waktu.
Cahaya proyektor memancar ke sudut-sudut mata,
Menampilkan dunia yang luas dalam satu kedipan.
Kau ajarkan kami bukan sekadar menghafal kata,
Namun membedah makna di balik setiap peristiwa kehidupan.
Kau adalah navigator di tengah arus informasi,
Di mana kebenaran sering kali tertutup kabut semu.
Kau tuntun kami dengan nalar dan penuh dedikasi,
Agar kami tak tersesat saat mengejar ilmu.
Jari-jarimu yang lincah di atas papan ketik,
Meramu materi menjadi jembatan menuju masa depan.
Kau ingatkan kami bahwa hidup tak sekadar klik,
Namun tentang proses yang butuh ketabahan dan iman.
Engkau adalah penyaring di tengah bisingnya dunia,
Mengajarkan kami empati di balik layar-layar dingin.
Bahwa kemanusiaan adalah harta yang paling mulia,
Yang harus dijaga meski badai perubahan kian angin.
Mungkin kemejamu tampak rapi namun sederhana,
Menyembunyikan letih dari malam-malam yang panjang.
Saat kau siapkan naskah ilmu dengan cara yang bijaksana,
Agar esok pagi, masa depan kami tak lagi gersang.
Di saat tren viral datang dan pergi silih berganti,
Engkau tetap kokoh, menjadi akar yang paling dalam.
Membangun karakter dengan sabar yang tak terhenti,
Hingga nurani kami bersinar di tengah malam yang kelam.
Seringkali kau berjuang dalam sunyi yang tak terlihat,
Mengelola waktu antara administrasi dan hati.
Namun saat kau melihat kami mulai melangkah kuat,
Segala lelahmu luruh, berganti syukur yang abadi.
Terima kasih, wahai Guru, sang arsitek peradaban baru,
Engkau tak hanya memberi data, tapi memberi nyawa.
Memberi kami sayap untuk menembus langit biru,
Dan akar yang kuat agar kami tak mudah kecewa.
Namamu mungkin takkan tertulis di puncak mesin pencari,
Atau mendapat jutaan sanjungan di dunia yang maya.
Namun jejakmu abadi, terpatri indah di dalam diri,
Menjadi kompas abadi dalam setiap langkah kami yang jaya.
Tetaplah menjadi pelita di antara biner dan layar,
Engkaulah cahaya yang takkan pernah bisa terganti.
Baktimu tulus, pengabdianmu sungguhlah akbar,
Guru, engkaulah pemilik kemuliaan yang sejati.
Kategori : Puisi Lomba (Musikalisasi Puisi)
Tema : Puisi tentang Guru
Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang transformasi perjuangan seorang guru yang kini harus beradaptasi dengan cepatnya laju teknologi tanpa meninggalkan esensi dari pengabdian itu sendiri. Ia bukan lagi sosok yang bergelut dengan debu kapur yang menyesakkan, melainkan pribadi yang berdiri di hadapan layar berpendar dan papan putih yang bersih, mencoba menjembatani ilmu pengetahuan ke dalam pikiran generasi digital. Di balik kemudahan perangkat canggih yang ia gunakan, terdapat beban tanggung jawab yang besar untuk memastikan bahwa kecanggihan tersebut tidak membuat hubungan antara pemberi ilmu dan penerimanya menjadi kaku dan tanpa jiwa.
Rasa prihatin dan dilema sering kali menyergap sang guru saat ia menyadari bahwa dunia informasi yang luas bisa menjadi pedang bermata dua bagi anak-anak didiknya. Ia merasa tertantang melihat betapa mudahnya moral dan etika tergerus oleh arus informasi yang instan serta konten-konten yang tidak mendidik, sehingga ia memposisikan dirinya sebagai navigator yang harus sangat jeli. Konflik emosional ini menjadikannya sosok yang sering kali tetap terjaga di malam hari, bukan hanya untuk menyiapkan materi presentasi yang menarik, tetapi juga memikirkan cara agar murid-muridnya memiliki ketajaman nurani untuk membedakan mana kebenaran sejati dan mana yang sekadar viral.
Meskipun peralatan mengajarnya telah berganti menjadi lebih modern, dedikasi sang guru tetaplah bersifat klasik dan tak lekang oleh waktu, yaitu memberikan seluruh hatinya bagi kemajuan peradaban. Ia sering kali harus menelan kelelahannya sendiri saat berhadapan dengan tuntutan untuk selalu tampil inovatif dan menguasai berbagai platform baru di tengah keterbatasan waktu yang ia miliki. Baginya, setiap susunan slide presentasi dan setiap kalimat motivasi yang ia berikan adalah investasi jangka panjang untuk membangun karakter murid-muridnya agar tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga memiliki kedalaman empati di tengah dunia yang kian dingin dan mekanis.
Pada akhirnya, kisah ini menggambarkan keabadian peran seorang guru yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh kecerdasan buatan mana pun karena adanya sentuhan kasih sayang yang tulus. Ia menjadi mercusuar yang tetap teguh berdiri meski badai tren digital silih berganti, memastikan bahwa jejak ilmu yang ia tanamkan akan terus bersemi dalam setiap kesuksesan yang diraih oleh murid-muridnya di masa depan. Puisi ini adalah sebuah penghormatan bagi mereka yang tetap memilih untuk menjadi pelita di balik layar, mengukir sejarah dengan cara yang sunyi namun memiliki dampak yang sangat nyata bagi arah perjalanan hidup generasi masa depan.
Selasa, 06 Januari 2026
Guru: Cahaya di Balik Layar Peradaban
Novel Isekai Terbaru...
➤
Lapuza Episode 01
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
➤ Lapuza Episode 02
➤ Lapuza Episode 03
➤ Lapuza Episode 04
➤ Lapuza Episode 05
➤ Lapuza Episode 06
➤ Lapuza Episode 07
➤ Lapuza Episode 08
➤ Lapuza Episode 09
➤ Lapuza Episode 10
➤ Lapuza Episode 11
➤ Lapuza Episode 12 End
Nantikan keseruan kisahnya di Season 2 Berikutnya...
Artikel Terkait
Tulis Komentar FB Anda Disini...
.jpg)