Rabu, 07 Januari 2026

Sangkar Hitam Di Balik Lipstik Merah

Sangkar Hitam Di Balik Lipstik Merah
Karya : Andi Akbar Muzfa

Lampu kota mulai membasuh wajah yang lelah,
Di bawah sisa parfum yang mulai memudar anyir.
Ada sebentuk doa yang ia ucapkan dengan pasrah,
Di antara desah napas yang tak pernah berakhir.

Ia menatap cermin, mencari sisa dirinya yang lama,
Sebelum dunia mencatat namanya dalam tinta kelam.
Ingin ia lari, menanggalkan segala kasta dan nama,
Namun kaki-kaki gelap telah mengepung di balik malam.

Data dan angka telah mengunci seluruh pintunya,
Utang yang menjulang menjadi jeruji tanpa besi.
Setiap langkah pergi, ancaman selalu membayangi langkahnya,
Tentang atap yang hilang dan nyawa yang diintai benci.

Ia bukan sekadar raga yang dibeli oleh nafsu sesaat,
Ada rahasia yang ia simpan di balik dadanya yang sesak.
Setiap upaya untuk pulang selalu berujung pada sekat,
Di mana mata-mata hitam siap menghujamkan retak.

"Jangan seret mereka ke sini," bisiknya pada angin,
Saat seorang kawan datang mencari jalan yang sama.
Ia teguh berdiri di pintu, menghalau niat yang dingin,
Biar ia yang terbakar, asal yang lain tak ikut terlumat nama.

Kejujuran adalah satu-satunya harta yang ia jaga,
Meski dunia memandangnya dengan tatapan yang kotor.
Ia jujur pada luka, ia jujur pada setiap duka raga,
Di tengah lingkaran setan yang kian liar dan menyetor.

Rumah baginya hanyalah mimpi yang kian menjauh,
Sebuah tempat aman yang kini diganti dengan teror.
Setiap ia ingin berhenti, tubuhnya kembali rapuh,
Oleh ancaman kehilangan tempat bernaung dari kotor.

Orang-orang mengawasi dari balik bayangan gedung tinggi,
Mencatat setiap gerak, menghitung setiap tetes air mata.
Ia terpenjara dalam sistem yang tak kenal belas kasih lagi,
Menjadi sandera dari masa lalu yang penuh dengan sengketa.

Namun di kedalaman matanya, ada api yang tak kunjung padam,
Sebuah nilai kecil yang ia peluk lebih erat dari nyawa.
Ia menolak menyerah pada gelap yang kian menghantam,
Meski raganya hancur, jiwanya tetaplah milik sang pencipta.

Ia takkan membiarkan gadis lain menapak jalan berduri ini,
Cukuplah dia yang menjadi tumbal di altar yang hina.
Keberaniannya adalah diam yang menyimpan beribu buni,
Sebuah pemberontakan sunyi dari jiwa yang tetap terpana.

Setiap malam ia menuliskan janji di atas debu meja,
Bahwa suatu hari nanti, catatan hitam itu akan ia bakar.
Meski kini ia masih merangkak di antara paksaan kerja,
Hatinya tetaplah merdeka, meski nasibnya kian sukar.

Biarlah duniaku gelap, asal nuraniku tetaplah benderang,
Ucapnya lirih sebelum kembali mengenakan topengnya.
Seorang pejuang di jalan sunyi yang terus menerjang,
Menanti fajar yang mungkin akan menjemput kebebasannya.


Kategori : Musikalisasi Puisi Realita Sosial
Tema : Puisi Wanita Malam, Kupu-kupu Malam, Wanita Panggilan

Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang seorang wanita yang terjebak dalam lingkaran prostitusi dan memiliki keinginan kuat untuk berhenti, namun ia terbelenggu oleh sistem gelap yang sangat terorganisir. Identitasnya telah tercatat secara digital dalam jaringan yang kejam, lengkap dengan beban utang yang sengaja diciptakan untuk mengikatnya selamanya. Setiap kali ia mencoba mencari jalan keluar atau melarikan diri, ia selalu dihadapkan pada ancaman nyata, mulai dari kehilangan tempat tinggal hingga ancaman keselamatan nyawa oleh orang-orang yang terus mengawasinya dari balik bayangan.

Ketegangan hidup yang ia alami bukan hanya tentang fisik yang dipaksa bekerja, tetapi juga tentang tekanan mental saat menyadari bahwa ia tidak memiliki tempat aman untuk bersembunyi. Para penguasa di lingkaran gelap tersebut menggunakan rasa takutnya sebagai senjata utama, memastikan bahwa ia tetap menjadi mesin uang yang patuh di bawah pengawasan ketat. Kondisi ini membuatnya merasa seperti burung di dalam sangkar besi tanpa jeruji, di mana meskipun ia bisa melihat dunia luar, ia tidak pernah benar-benar bisa menyentuh kebebasan tanpa risiko kehancuran total.

Namun, di tengah kehinaan pekerjaan yang ia jalani, wanita ini tetap menjaga nilai-nilai kecil yang menjadi sisa martabat dalam jiwanya. Ia sangat jujur pada dirinya sendiri tentang betapa kotor dan pahitnya jalan hidup tersebut, dan dengan keteguhan hati yang luar biasa, ia menolak untuk menyeret orang lain masuk ke dunia yang sama. Baginya, penderitaan ini harus berhenti pada dirinya saja; ia menjadi benteng bagi wanita-wanita lain yang mencoba mendekati lingkaran tersebut, meskipun ia harus menanggung beban itu sendirian di bawah pengawasan yang mencekik.

Pada akhirnya, kisah ini adalah tentang sebuah perlawanan sunyi dari seorang manusia yang dianggap rendah oleh masyarakat, namun memiliki integritas moral yang sangat tinggi di dalam batinnya. Ia tetap memegang teguh kejujuran nurani di tengah lautan kebohongan dan eksploitasi yang ia hadapi setiap malam. Puisi ini merayakan keteguhan jiwanya yang tak pernah luntur, menggambarkan bahwa meski raga bisa dipenjara dan dikendalikan, ada bagian terdalam dari seorang manusia yang tidak akan pernah bisa dimiliki oleh sistem gelap mana pun.


Tulis Komentar FB Anda Disini...