Selasa, 06 Januari 2026

Guru Sang Penenun Cahaya Abadi

Guru Sang Penenun Cahaya Abadi
Karya : Andi Akbar Muzfa

Di lengang fajar yang masih berbalut sepi,
Langkahmu lirih membelah kabut yang kian luruh.
Kau bawa sekeranjang cahaya di dalam hati,
Untuk menyulut api di jiwa yang sedang rubuh.

Kau tegak berdiri di antara deretan mimpi,
Menjadi mercusuar di tengah badai ketidaktahuan.
Suaramu mengalun lembut bagai melodi suci,
Menuntun jemari kecil mengeja makna kehidupan.

Kapur putih di tanganmu adalah jemari takdir,
Melukis cakrawala di atas papan tulis yang tua.
Setiap huruf yang kau gores takkan pernah berakhir,
Menjelma lentera yang menerangi gelapnya dunia.

Kau adalah jembatan yang paling setia menanti,
Membiarkan punggungmu diinjak menuju masa depan.
Tak pernah kau harap balas atas kasih yang murni,
Hanya doa agar kami tak karam di tengah jalanan.

Betapa sering kau laksana lilin yang merana,
Membakar diri sendiri demi memberi kami warna.
Kau luruhkan lelah dalam diam yang paling bermakna,
Hingga kami tumbuh menjadi elang yang berkelana.

Bukan sekadar rumus atau angka yang kau tanamkan,
Namun benih nurani agar kami paham kemanusiaan.
Kau ajarkan kami cara berdiri di atas kejujuran,
Serta memeluk rendah hati di tengah keberhasilan.

Mungkin kemejamu mulai kusam dimakan masa,
Atau rambutmu memutih tertutup debu-debu ilmu.
Namun bagiku, engkau adalah pahlawan tanpa jasa,
Yang mengukir peradaban dengan penuh rasa rindu.

Di saat dunia sibuk mengejar harta dan takhta,
Engkau memilih menetap di pengabdian yang sunyi.
Menjahit harapan dari setiap air mata dan tawa,
Menjadi embun yang membasahi tanah yang gersang ini.

Seringkali kau terjaga di saat malam kian larut,
Mengoreksi masa depan kami dengan hati yang lembut.
Kau hapus keraguan yang di dalam dada kami berpaut,
Hingga rasa takut di jiwa perlahan mulai surut.

Terima kasih, wahai penenun cahaya di kegelapan,
Engkau adalah pelukis pertama di kanvas hidup kami.
Memberi sayap agar kami mampu menembus awan,
Dan tetap tegar saat badai datang menghujam bumi.

Namamu mungkin takkan terukir di tugu yang megah,
Atau tersiar di antara riuh rendahnya sanjungan.
Namun di setiap keberhasilan kami, kau selalu ada,
Menjadi akar yang kuat bagi setiap kemenangan.

Tetaplah menyala, wahai sang arsitek jiwa yang mulia,
Engkaulah abadi di dalam setiap langkah yang bermakna.
Hingga akhir waktu, baktimu akan selalu bertahta,
Menjadi sejarah indah yang takkan pernah sirna.


Kategori : Puisi Lomba (Musikalisasi Puisi)
Tema : Pengabdian Seorang Guru

Kisah di Balik Puisi
Puisi ini mengisahkan tentang sosok seorang guru yang dipandang bukan sekadar sebagai pemberi materi pelajaran, melainkan sebagai seorang seniman jiwa yang menenun masa depan dengan ketulusan yang luar biasa. Ia digambarkan sebagai pribadi yang rela menjadi jembatan bagi murid-muridnya, membiarkan dirinya menjadi pijakan agar generasi setelahnya dapat mencapai tempat yang lebih tinggi, tanpa pernah menuntut balas atau pengakuan. Keberadaannya adalah wujud nyata dari pengabdian yang sunyi, di mana ia bersedia memudarkan cahayanya sendiri demi memastikan nyala api harapan di dalam diri anak didiknya tetap berkobar terang.

Latar belakang emosional dari puisi ini berakar pada kekaguman terhadap daya tahan seorang guru dalam menghadapi berbagai perubahan zaman yang sering kali melupakan nilai-nilai kemanusiaan. Ada sebuah pergulatan batin tentang bagaimana seorang pendidik tetap memilih untuk menanamkan benih kejujuran dan nurani di tengah dunia yang kian kompetitif dan materialistis. Pengorbanannya yang tidak terlihat seperti waktu istirahat yang hilang demi memeriksa tugas murid atau kesabarannya dalam menghadapi kebebalan menjadi ruh utama yang membuat setiap bait dalam puisi ini terasa begitu menyentuh dan mendalam.

Lebih jauh lagi, puisi ini ingin menyoroti sisi kemanusiaan seorang guru yang sering kali terlupakan, seperti kemejanya yang mulai kusam atau rambutnya yang kian memutih karena beban pikiran mendidik bangsa. Namun, segala keterbatasan fisik tersebut tidak pernah menyurutkan langkahnya untuk terus menjadi mercusuar bagi mereka yang sedang mencari arah. Ia tidak memerlukan monumen megah untuk mengenang jasanya, karena baginya, keberhasilan seorang murid adalah monumen paling indah yang pernah ia bangun selama masa baktinya di dunia pendidikan.

Pada akhirnya, kisah ini adalah sebuah persembahan agung bagi setiap guru yang tetap setia pada jalan pengabdian meski namanya jarang disebut dalam kemegahan sejarah. Puisi ini merangkum rasa terima kasih yang tak terhingga atas setiap kuas ilmu yang telah digoreskan di kanvas kehidupan murid-muridnya. Melalui puisi ini, sosok guru ditegaskan sebagai figur abadi yang karyanya akan terus hidup dalam setiap langkah kesuksesan yang diambil oleh generasi masa depan, menjadikannya sebuah warisan cahaya yang takkan pernah padam oleh waktu.

Tulis Komentar FB Anda Disini...