Sabtu, 17 Januari 2026

LAPUZA Episode 8 - Pelatihan Keras dan Musuh Yang Lebih Keras

Judul Novel : Lapuza
  • Judul Alternatif : Lapuza Pengangguran dari tahun 2030, terjebak di Dunia Penyihir
  • Session : 1 (Negeri Penyihir)
  • Episode : 8
  • Tanggal Rilis : 15 Januari 2026
  • Penulis Novel : Andi Akbar Muzfa
  • Genre: Action & Adventure, Fantasy, Isekai
  • Elemen: Dark Fantasy, Psychological, Satirical Comedy, Mild Ecchi
  • Credit : Blogger Sulawesi
Sinopsis Singkat :
Berlatar pada tahun 2030, hidup Lapuza runtuh saat kecerdasan buatan sepenuhnya mengambil alih fungsi nalar manusia, menjadikan kemampuan berpikir manusia usang dan tak lagi dibutuhkan. Kariernya hancur, mimpinya sirna, dan identitasnya tergerus oleh dunia modern yang dingin serta mekanis. Ketika berada di titik terendah, sebuah kejadian tak terjelaskan menyeretnya ke Negeri Penyihir, sebuah dimensi asing yang berdiri di atas sihir kuno, artefak legendaris, dan pergolakan antara terang dan gelap. Terjebak di dunia penuh ancaman, Lapuza bertahan bukan hanya dengan sihir, melainkan dengan kecerdasan, strategi, dan nilai kemanusiaan yang ia bawa dari abad ke-21. Perjalanannya ditemani Putri Lalena yang ceria namun tulus, serta Miya Orina, panglima penyihir dingin yang menyimpan empati tersembunyi. Bersama mereka, Lapuza terperangkap dalam jalinan takdir, intrik, pengkhianatan, dan kesetiaan yang akan menentukan masa depan Negeri Penyihir.


Rahma Chan - Panglima Penyihir Kegelapan
Rahma Chan dikenal sebagai Panglima Penyihir Kegelapan (Penyihir Hitam Kavor), sekaligus mantan Wakil Kepala Dewan Istana Penyihir (Sri Rahayu) pada masa lalu, sosok jenius yang tenang namun menyimpan luka batin mendalam. Ia terobsesi pada efisiensi, meyakini bahwa sihir terbaik adalah yang bekerja tanpa sisa dan tanpa emosi berlebihan. Tubuhnya kecil seperti anak-anak, rapuh akibat bencana masa kecil yang merusak organ-organ vitalnya, meninggalkan bekas luka bakar merah di wajah kiri sebagai pengingat abadi. Rambut hijau pendeknya tersembunyi di bawah topi penyihir runcing berwarna hitam, sementara jubah sihir anak-anak bernuansa hijau hitam membungkusnya bersama tongkat sihir yang tingginya melebihi tubuhnya. Dalam pertempuran, Rahma memiliki kontrol sihir ekstrem yang stabil, efisiensi mana absolut, serta pola pertahanan nyaris sempurna, hingga akhirnya berhasil dipatahkan oleh Lapuza. Ketenangannya sering disalahartikan sebagai kelemahan, padahal itu disiplin dingin hasil penderitaan panjang.


EPISODE 8
Api, Tawa, dan Langit yang Retak

P1. Pagi Setelah Pemurnian

Pagi di puncak Gunung Nona tak lagi ramah.
Kabut menggantung rendah seperti tirai tebal yang lupa diangkat, sementara uap air panas masih mengepul dari celah-celah batu, memberi kesan seolah gunung itu sedang mendidih perlahan. Udara terasa berat, bukan karena dingin, melainkan karena sesuatu yang tak terlihat, seakan alam sendiri menunggu hasil dari apa yang akan terjadi hari ini.

Di tengah lapangan batu alami, Sri Rahayu berdiri tegak. Tongkatnya tertancap ke tanah, sikapnya kaku dan tenang, seperti patung tua yang hidup kembali. Tak ada senyum. Tak ada sapaan pagi.

“Pemurnian hanyalah pembuka,” ucapnya datar, suaranya menembus kabut.
“Jika tubuhmu tak kuat, kekuatanmu akan membunuhmu lebih dulu.”

Kata-kata itu jatuh berat.

Lapuza menelan ludah, bahunya refleks menegang.
“…Aku rindu latihan pakai kursi empuk dan kopi panas.”
“Yang paling ekstrem cuma begadang.”


Lalena yang berdiri santai di sampingnya memiringkan kepala, senyum cerahnya kontras dengan suasana muram.
“Anggap saja ini olahraga pagi.”

Ia mengangkat satu jari.
“Olahraga ekstrem.”

Jari kedua menyusul.
“Alternatif terbaik menuju alam baka.”

Lapuza menoleh lambat.
“…Kamu tahu kan, motivasi biasanya bikin orang semangat, bukan menulis wasiat.”

Sri Rahayu melirik sekilas, dingin.
“Kalau kau masih bisa bercanda, berarti latihan kemarin kurang keras.”

Lapuza langsung berdiri tegak.
“Tidak! Tidak! Sudah pas!”
“Ototku masih protes, bahkan yang tidak tahu tugasnya.”


Lalena tertawa kecil, mendekat sedikit terlalu dekat sembari menggoyangkan kedua gunung kembarnya yang empuk seperti biasa.
“Tenang saja. Kalau kamu pingsan...”

“Aku tahu,” potong Lapuza cepat.
“Kamu sembuhkan. Lalu teleport ke akhirat.”

“…Akurat!,” Lalena mengaku tanpa dosa.

Kabut bergerak perlahan saat Sri Rahayu mengangkat tongkatnya.

“Mulai pemanasan,” katanya singkat.

Lapuza menatap lereng berbatu di depannya, lalu menghela napas panjang.
“Di dunia asalku, ini disebut hari buruk.”
“Hari Ciong kata pedagang diduniaku.”

Lalena menepuk bahunya ringan.
“Tenang...”
“Di sini, ini disebut...”
“Ritual memanggil malaikat maut!.”


Kabut pun terbelah.

Dan pelatihan neraka resmi dimulai.

P2. Pelatihan Ekstrem ala Negeri Penyihir
Latihan dimulai tanpa basa-basi berlebih.
Tak ada hitungan.
Tak ada pemanasan manusiawi.

Sri Rahayu hanya mengetukkan tongkatnya sekali dan dunia langsung berubah menjadi medan siksaan resmi.

Lapuza dipaksa berlari menaiki lereng berbatu dengan batu sihir seberat dosa masa lalu di punggungnya. Belum sempat napasnya kembali normal, ia sudah disuruh memanjat tebing licin yang bahkan kambing gunung pun berpikir dua kali. Begitu kakinya menyentuh tanah lagi.

“Bentuk lingkaran sihir,” perintah Sri Rahayu dingin.
“Sekarang.”

“Ototku masih loading!”

Tak peduli.

Paru-paru Lapuza terasa terbakar.
Kakinya gemetar.
Tubuhnya yang bertahun-tahun hanya duduk, berpikir, dan menganggur di dunia 2030, akhirnya menagih semua hutang.

“Aku yakin!” teriak Lapuza terengah sambil tersungkur.
“Di duniaku ini sudah masuk kategori kejahatan kemanusiaan!”

Lalena duduk santai di atas batu besar, kaki diayun-ayun seperti sedang piknik.
“Tenang.”
“Kalau kakimu patah, aku bisa sembuhkan, lalu,...”
“Tubuhmu kuteleport ke Neraka Level dua!.”

“Aku sudah tahu itu....”  balas Lapuza ekspresi datar
“Lelucon monoton!.” 

Mendengar itu,
Lalena tersenyum manis, menggoyangkan belahan sempurna gunung kembarnya kekanan dan kekiri tanpa ragu.

Lapuza berusaha berdiri kembali dan berusaha memusatkan pikiran,
Lingkaran sihir muncul.

BOOM—!

Meledak kecil, menyisakan asap dan bau rambut hangus.

Lingkaran kedua muncul.
Miring.
Nyaris menyambar wajahnya sendiri.

“KENAPA SELALU AKU YANG KENA?!”

Sri Rahayu menghentakkan tongkat.
“Fokus!”
“Mantra bukan teriakan.”
“Ia perintah.”


Lapuza terengah, memejamkan mata, mencoba mengatur napas.
Logika.
Aliran.
Tekanan.

“Api Loppo Mallumpae…” gumamnya.

Lingkaran terbentuk.
Api menyembur,

TAK STABIL.

Semburan api menghantam batu, memantul, dan nyaris membakar Lalena.

“HEI!” Lalena meloncat panik.
“Itu hampir membakar pakaianku!”

Lapuza langsung panik.
“MAAF!”
“TARGETNYA BELUM UPDATE!”


Sri Rahayu menatap mereka datar.
“Kalau kau membakar pewaris tahta...”
“Latihanmu selesai.”
“Dengan eksekusi.”


Lapuza pucat.
“Siap gan…Aku akan fokus.”

Lalena mendekat sambil menyeringai, semakin dekat dan kembali memamerkan sepasang gunung kembarnya seperti ritual godaan biasanya.
“Tenang saja.”
“Kalau kulitku lecet dan terbakar....”
“Aku akan mengambil kulitmu sebagai perban.”


Ia mencondongkan wajah.
“Sensasi mengupas kulit itu berbeda loh.”

Lapuza yang sulit mengabaikan kemolekan tubuh Lalena berusaha mengalihkan konsentrasi.
“…Ternyata dimanapun lelaki berada, wanita tetap menjadi sumber dosa termanis.” Gumam Lapuza terus berusaha memejamkan mata dalam konsentrasi.

Lapuza kembali mengangkat kedua tangan dengan fokus.
Namun kali ini, saat mantra diucapkan lagi...

Api keluar.
Lebih lurus.
Lebih terkendali.

Tak sempurna.
Tapi nyata.
Semburan api yang mulai terbentuk presisi.

Sri Rahayu menyipitkan mata.
Pelan.
Nyaris tak terlihat.

Ia mengangguk sedikit puas.  

Dengan senyum haru,
Lalena yang menyaksikan itu, semakin yakin bahwa perjuangan mereka pasti akan membuahkan hasil.

Dan Lapuza, meski terengah, gemetar, dan hampir roboh,
tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya,
latihan ini tidak terasa sia-sia.

P3. Api yang Mulai Tunduk
Hari demi hari berlalu di puncak Gunung Nona.

Kabut pagi datang dan pergi.
Uap air panas terus mengepul dari celah batu.
Dan di tengah semuanya, Lapuza terus jatuh, bangkit, gagal, lalu mencoba lagi.

Kegagalan demi kegagalan.

Ada hari di mana lingkaran sihirnya hanya berputar seperti roda rusak.
Ada hari ketika api keluar terlalu kecil, terlalu besar, atau terlalu bengkok, seolah menertawakan usaha pemiliknya.

Namun perlahan… sesuatu berubah.

Lingkaran tak lagi bergetar liar.
Garisnya mulai tegas.
Api tak lagi menyebar tak tentu arah.

Hingga pada satu pagi,

“Api Loppo Mallumpae.”

Lingkaran muncul.
Stabil.

Semburan api meluncur lurus,
seperti pipa api,
menghantam batu sasaran dan menghancurkannya tanpa sisa.

Hening.

Asap mengepul pelan.

Sri Rahayu menatap hasil itu beberapa detik.
Lalu berkata singkat,

“Ulangi.”

Tak ada pujian.
Tak ada tepuk tangan.

Namun bagi Lapuza,
itu sudah lebih dari cukup.

Ia mengulanginya.
Dan lagi.
Dan lagi.

Setiap kali lebih baik.

Seminggu kemudian, matahari siang menyinari lapangan batu yang kini penuh bekas hangus.

Lapuza berdiri terengah, keringat mengalir, tangan gemetar.
Batu sasaran terakhir hancur bersih.

Sri Rahayu memejamkan mata.

“Cukup.”
“Kau lulus tahap pertama.”


Lapuza terdiam.
Lalu,

PLUK.

Ia jatuh terduduk telentang.

“…Aku masih hidup,” gumamnya lemah.
“Ini keajaiban tingkat dewa.”

Lalena langsung mendekat, menepuk tangan dengan semangat berlebihan.
“Selamat!”
“Nilai kelulusan anda....”


“Standar yang rendah,” sahut Lapuza.
“Tapi aku menerimanya.”

Sri Rahayu menoleh padanya.
“Jangan salah paham.”
“Ini bukan akhir.”
“Ini baru izin untuk melangkah.”


Lapuza mengangguk pelan, menatap tangannya sendiri.
Api kecil masih menyala di ujung jarinya,
tenang,
patuh.

Untuk pertama kalinya sejak tahun 2030,

ia tidak sekadar bertahan.
Ia mulai mengendalikan.

P4. Jalan Pulang yang Disengaja Berbahaya
Mereka berpamitan di kaki Gunung Nona.
Sri Rahayu kembali ke rumah kayunya yang sunyi, berdiri lama memandang punggung dua sosok yang menuruni jalur berbatu seolah tahu bahwa dunia tak akan memberi mereka banyak waktu lagi.

Lapuza dan Lalena memilih jalur darat.

Bukan jalur terdekat.
Bukan jalur aman.

Hutan kembali menyambut dengan taringnya.

Serigala raksasa bermata kusam muncul dari balik semak.
Lintah batu merayap dari tebing basah.
Makhluk bercangkang bertaring menyergap dari tanah.

Namun kali ini berbeda.

Lingkaran sihir muncul tanpa gemetar.

“Api Loppo Mallumpae.”

Semburan api lurus seperti pipa menyala, menghantam sasaran tepat di dada.
Makhluk itu roboh tanpa sempat mendekat.

Lalena duduk santai di atas batu tinggi, menopang dagu.
“Teknik: delapan.”
“Presisi: sembilan.”
“Ekspresi panik saat melihat belahan gunung kembar.”

“Sepuluh, aku tahu!”
potong Lapuza sambil terengah.
“Aku bertarung, bukan audisi bakat!”

Ia menghapus keringat, lalu mengerutkan kening.

“Ngomong-ngomong…”
“Kita sudah bisa sampai istana pakai teleport.”
“Kenapa kita masih jalan kaki, dihajar monster, dan hampir jadi santapan alam?”


Lalena tidak langsung menjawab.

Ia turun dari batu, berjalan ke tepi sungai kecil yang membelah hutan.
Airnya jernih, memantulkan langit yang anehnya terasa berat.

“Teleportasi itu seperti berteriak ke langit,” katanya akhirnya.
“Dan sekarang… langit sedang mendengarkan.”

Lapuza membeku.
“Dalam artian…?”

“Jejak mana teleport jarak jauh itu jelas.”
“Mudah dibaca.”
“Mudah diikuti.”


Ia menoleh pelan.
“Termasuk oleh Kavor.”

Angin berdesir.
Hutan seakan ikut diam.

“…Jadi kalau kita teleport...” gumam Lapuza.

“...mereka tahu persis kita di mana,” lanjut Lalena.
“Kapan kita tiba.”
“Dan berapa lama kita lengah.”


Lapuza menghela napas panjang.
“Oke.”
“Aku tarik kembali keluhanku soal jalan kaki.”
ucap Lapuza mengingat cara kerja Drone Pengintai didunia asalnya 2030.

Lalena tersenyum cerah, senyum yang terlalu cerah untuk situasi itu.
“Tenang saja.”
“Kalau darurat...”

“Kita teleport?”
tanya Lapuza cepat.

“...aku teleport,” jawab Lalena ringan.
“Bersama kamu.”
“Tapi cuma setengah badan kamu.”


“…Aku sudah curiga.” balas Lapuza datar

Masih dalam candaan hangat, tiba-tiba.
Bandit menghadang di ujung hutan.

Belasan orang, senjata karatan, senyum rakus.

Lapuza menatap mereka, lalu melirik Lalena.
“Aku boleh latihan?”

Lalena mengangguk antusias.
“Silakan.”
“Aku jadi wasit.”


Tak butuh waktu lama.

Api.
Hantaman.
Jeritan singkat.

Kurang dari 5 menit,
Saat debu mereda... tak satu pun bandit tersisa berdiri.

Perjalanan pulang berlanjut,
Hingga ujung hutan terlihat.

Namun saat mereka melangkah keluar,

Lapuza berhenti mendadak.

Asap hitam membumbung tinggi di kejauhan.

Bukan kabut.
Bukan awan.

Api.

Dari arah,
Istana Arcilune.

Lalena memucat.

“…Terlambat,” bisiknya.

Dan tanpa aba-aba lagi,
mereka berlari dan melesat menuju istana

P5. Asap di Langit Istana
Begitu mereka keluar dari batas hutan,

langit di atas Istana Arcilune telah berubah warna.

Asap hitam membumbung tinggi, menutup cahaya matahari.
Api menjilat menara-menara putih yang dulu bersinar anggun.
Ledakan sihir mengguncang tanah, disusul jeritan yang tidak sempat diselamatkan.

Lapuza berhenti sejenak.
Dada terasa sesak.

“…Tidak,” gumamnya.
Suara itu bukan penolakan, melainkan doa yang terlambat.

Lalena sudah lebih dulu berlari.
“LAPUZA, JANGAN DIAM!”

Mereka berlari menuruni lereng, memasuki kota yang kini bukan lagi istana,
melainkan medan perang.

Bangunan runtuh di kanan kiri.
Warga terjebak di balik reruntuhan, menangis, memanggil nama yang tak lagi menjawab.
Sihir putih dan hitam bertabrakan di udara, menciptakan gelombang panas yang membuat napas tersendat.

Lapuza menarik seorang anak kecil keluar dari puing.
Tangannya gemetar.

“Arah balai penyihir!” teriaknya.
“Ada pelindung di sana!”

“Aku… aku tidak bisa jalan!” tangis seorang wanita.

Lalena muncul di samping mereka dalam kilatan cahaya, mengangkat keduanya sekaligus.
“Pegang erat!”
“Kita teleport pendek!”


Mereka lenyap,
dan muncul beberapa puluh meter lebih aman.

Lapuza menoleh, napas terengah.
“Ini… ini bukan latihan.”

Lalena tidak menjawab.
Matanya tertuju ke pusat istana.

Di sana...

Ratu Rheana berdiri di tengah puing aula utama.
Jubahnya robek.
Darah mengalir dari pelipisnya.

Namun tongkat kerajaan di tangannya masih menyala terang.

“Jangan mundur!” teriaknya pada para penyihir istana.
“Ini tanah kita!”

Tiga penyihir hitam elit mengepungnya, serangan mereka datang bertubi-tubi.
Ratu menangkis satu, dua,
yang ketiga menghantam bahunya.

Ia terhuyung.
Namun tidak jatuh.

Lapuza merasa tenggorokannya tercekat.
“…Yang Mulia...”

Lalu,

Tawa bergema dari langit.

Rendah.
Dingin.
Menusuk tulang.

Api hitam berputar di udara saat sesosok melayang turun perlahan.

Rambut hitam pendek.
Tatapan kosong tanpa empati.

Nur Diana.

“Indah sekali,” katanya, suaranya menggema ke seluruh halaman istana.
“Negeri yang pura-pura suci… akhirnya terbakar.”

Ia mengangkat tangan.

Satu semburan api hitam jatuh ke pemukiman.
Jeritan pecah.

“BERHENTI!” teriak Lapuza tanpa sadar.

Nur Diana menoleh padanya.
Alisnya terangkat tipis.

“Oh?”
“Manusia aneh itu masih hidup.”


Senyum kecil muncul.
“Menarik.”

Ledakan lain mengguncang tanah.

Dari balik asap,

Miya Orina terlempar keras, tubuhnya menghantam puing tembok.
Darah mengalir dari punggung dan lengannya.

“MIYA!” teriak Lapuza.

Lalena sudah bergerak lebih cepat dari pikirannya sendiri.

Kilatan cahaya,
lenyap,
muncul kembali tepat di samping Miya.

Ia mengangkat tubuh panglima itu, tangan gemetar meski berusaha tenang.
“Miya… dengar aku.”
“Jangan tidur, jaga kesadaranmu.”


Miya membuka mata setengah.
“…Maaf,” bisiknya lemah.
“Aku… tak mampu bertahan lebih lama.”

“Diam,” kata Lalena, suaranya bergetar.
“Kau belum boleh minta maaf.”

Ia teleport lagi, membawa Miya ke balik pelindung darurat.

Lapuza berdiri di tengah kekacauan.
Api.
Jeritan.
Langit hitam.

Dan di atas sana,
Nur Diana menatapnya seperti seorang pemburu yang akhirnya menemukan mangsa.

“Dunia ini,” katanya pelan,
“akan berubah menjadi hitam, hitam sehitam nasib mereka yang lemah.”

Lapuza mengepalkan tangan.
Lingkaran sihir mulai terbentuk, bergetar, tapi tidak runtuh.

Untuk pertama kalinya,
rasa takutnya kalah oleh kemarahan.

Dan jauh di balik asap itu,

sesuatu yang lebih mengerikan
perlahan
mulai mendekat.

P6. Panglima yang Terlalu Kecil
Asap perlahan menipis, tersibak oleh angin panas yang berputar tak wajar.

Dari balik reruntuhan aula timur,
muncul sosok itu.

Tubuhnya kecil.
Terlalu kecil untuk disebut panglima.
Lebih mirip gadis sepuluh tahun, tinggi tak lebih dari dada orang dewasa.

Rambutnya hijau pendek berkilau.
Gaunnya sederhana.
Dan di tangannya,
sebuah tongkat sihir hitam, lebih tinggi dari tubuhnya sendiri.

Ia melangkah ringan.
Hampir berjingkat.

Senyum polos terlukis di wajahnya.

Namun saat tongkat itu menyentuh tanah,

DUUM.

Satu bangunan di belakangnya runtuh seketika, terbakar dari dalam, seolah fondasinya meledak oleh panas yang tak terlihat.
Jeritan berhenti mendadak.

Lapuza merinding.
Bukan karena apa yang ia lihat,
melainkan karena apa yang tak ia rasakan.

Tak ada fluktuasi.
Tak ada lonjakan mana.
Sihirnya… terlalu stabil.

Nama itu muncul di benaknya, berat seperti vonis.

Rahma Chan.
Panglima penyihir hitam Kavor.
Eksekutor kota.
Penghapus garis inti.

Lapuza menelan ludah.
“…Serius?”
“Yang ini bos terakhir?”


Lalena yang baru kembali setelah mengamankan Miya, berdiri kaku di sampingnya.
“Jangan…”
“Jangan tertipu.”


Rahma Chan berhenti beberapa langkah dari mereka.
Ia memiringkan kepala, menatap Lapuza dengan mata besar penuh rasa ingin tahu.

“Hmm?” katanya ringan.
“Mainan baru?”

Suaranya,
manis.
Seperti anak kecil yang menemukan boneka.

Api Hijau hitam menyala di ujung tongkatnya, membentuk lingkaran kecil yang berputar perlahan.
Tanah di bawahnya meleleh.

Lapuza refleks melangkah maju, lingkaran sihirnya terbentuk.
“Lalena, ini bagianku, kamu selamatkan yang lain...”

“Aku tahu,” potong Lalena cepat.
“Tapi kalau kamu mati, aku bakal marah.”

“Itu ancaman atau dukungan?”


“Dua-duanya.”
“Intinya kalau kamu bertahan dan masih hidup, kamu bisa melihat belahan gunung kembarku sepuasnya.” Jamin Lalena dengan tatapan genit sebagai penyemangat

Lapuza mematung antara terkejut dan semangat membara.

Rahma Chan tertawa kecil.
Tawa itu ringan,
namun membuat udara bergetar.

“Lucu,” katanya.
“Yang kuat biasanya gemetar.”
“Yang lemah biasanya berteriak.”


Ia mengangkat tongkatnya.

Langit kembali berdenyut.
Awan berputar seperti pusaran raksasa.

“Dan kau,” Rahma menatap Lapuza lurus,
“tidak melakukan keduanya.”

Lapuza mengencangkan rahang.
Api di lingkarannya bergetar, namun tidak pecah.

“…Aku hanya bosan,” katanya pelan.
“Bosan lihat orang mati hanya karena ego kekuasan dan manipulasi.”

Senyum Rahma melebar.
“Ah.”
“Mainan ini bisa bicara.”


Tongkatnya menghantam tanah.

DUAAAR...!

Gelombang panas menyapu halaman istana, melempar puing dan tubuh ke udara.
Lapuza menahan dengan perisai darurat, retak, tapi bertahan.

Lapuza sedikit terpental, nyaris jatuh, namun berhasil mendarat sambil terbatuk.
“OKE.”
“Dia bukan anak kecil.”
“Gunung kembarnya juga terlihat lumayan berisi.”

Lapuza menyeringai tegang.
“Syukurlah.”
“Aku hampir merasa bersalah.”


Rahma melayang perlahan ke udara, gaunnya berkibar.
Api berputar di sekelilingnya seperti kelopak bunga neraka.

“Kalau begitu,” katanya ceria,
“ayo main.”

Langit menggelap sepenuhnya.

Dan di bawah bayangan panglima yang terlalu kecil itu,
perang sesungguhnya
akhirnya
dimulai.

Baca Kelanjutan Episode 9 disini... 

Tulis Komentar FB Anda Disini...